
Sebelum pulang dari masjid. Dipta duduk-duduk dulu di teras masjid. Tidak biasanya ia mengulur-ulur kepulangannya hanya untuk duduk dan berbincang dengan jamaah lain yang kebanyakan dari mereka adalah laki-laki dewasa yang sudah menikah atau yang sudah lanjut usia dan hanya sedikit pemudanya.
Sebenarnya ia tengah menata hatinya jika sampai ke rumah nanti, Shakila menyambutnya dari dalam rumah. Layaknya seorang istri yang menyambut suaminya pulang. Ups! Dipta mulai berkhayal jauh.
Buru-buru ia hapus khayalannya itu dan beristigfar berkali-kali dengan tujuan supaya setan tidak mengganggunya dan berbisik hal-hal yang tidak baik untuk ia lakukan.
Sungguh perasaan yang tak tentu seperti ini yang membuat Dipta menjadi serba salah dalam bergerak. Ia takut terlihat kikuk saat mengajarkan Shakila. Padahal ia butuh kebebasan saat mengajar. Kalau hatinya terikat seperti ini apa jadinya nanti.
Dilihatnya jam dinding besar di dalam masjid sudah menunjukkan pukul 18.25 WIB. Itu tandanya lima menit lagi Shakila akan sampai di rumahnya.
Ia pun tak ingin mengecewakan Shakila jika gadis manis itu harus menunggunya terlalu lama. Segera ia berjalan menuju tempat ia menaruh sendalnya.
***
Sesampainya di gang masuk rumahnya, dari kejauhan ia sudah melihat ada mamangnya Shakila memarkir motornya di depan rumahnya lalu setelah Shakila turun dari motornya. Ia segera putar balik dan menuju ke arah keluar gang.
"Kang!" sapa Dipta pada mamangnya Shakila.
"Eh Dipta. Itu neng Kila udah sampai rumah," sahutnya sambil menghentikan laju motornya.
"Oh iya Kang. Nanti di jemput lagi kan?" tanyanya basa-basi.
"Iya. Ya sudah permisi dulu ya." Mamangnya Shakila melanjutkan perjalanan pulangnya.
"Iya Kang." Dipta pun melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang tinggal lima puluh meter lagi.
Sesampainya di rumah. Dipta sudah menemukan Shakila sedang duduk di kursi tamunya bersama Keysha.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Shakila dan Keysha berbarengan.
"Baru banget sampai ya La?" tanya Dipta basa basi.
"Iya A. Tadi ketemu sama mamangku ya?"
__ADS_1
"Iya. Oh ya sudah solat kamu La?" tanya Dipta lagi tapi kali ini bukan basa basi karena Dipta tak ingin hanya karena terburu-buru ingin datang belajar dengannya Shakila menjadi tidak menyempatkan untuk solat.
"Sudah atuh A," jawab Shakila sambil tersenyum.
'Duh nggak usah sambil senyum juga atuh La! Senyum kamu itu mengganggu pikiran saya!' batin Dipta.
Dipta pun duduk di kursi yang cukup untuk satu orang. Sedangkan Shakila dan Keysha duduk di kursi panjang yang cukup untuk tiga orang dewasa.
"Ya sudah kita berdoa dulu ya!" Mereka pun membaca doa dalam hati. Entah kenapa Dipta tak pernah lepas dari berdoa sebelum melakukan segala aktifitas. Dia selalu merasa ada yang kurang jika tidak diawali dengan berdoa.
Mungkin itu juga karena didikan orang tua Dipta dari kecil yang selalu mengingatkan berdoa sebelum melakukan segala sesuatu jadi terbawa sampai Dipta sudah sebesar ini menjadi suatu kebiasaan baginya.
"Sekarang mau belajar apa dulu La?" tanya Dipta sedikit terbata-bata. Dia pun sadar suaranya agak tercekat. Akhirnya dia menarik nafas panjang tapi pelan supaya Keysha dan Shakila tidak menyadarinya.
"Yang ada PR-nya dulu aja A," jawab Shakila sambil menyodorkan buku paket fisika.
"Kalian satu kelas?" tanya Dipta pada Keysha dan Shakila.
"Enggak A. Keysha kelas XI IPA 2 kalau Kila XI IPA 1," jawab Keysha sambil mencari buku paket fisika yang masih berada di dalam tasnya.
"Ini Kak. Halaman berapa sih La?" tanya Keysha.
"Halaman 64 Key," jawab Shakila.
Mereka pun memulai pelajaran dengan serius. Dipta merasa sebenarnya Keysha saja sudah cukup untuk bisa membantu Kila belajar. Karena Keysha memang anak cerdas.
Jadi Dipta hanya membantu mereka kalau mereka mulai menemukan kesulitan. Sepanjang belajar, Shakila sudah tidak lagi menggodanya dengan tatapan mata yang membuat ia kikuk jadi Dipta agak santai saat ini.
Shakila benar-benar serius belajar. Dia memperhatikan Dipta sama seperti dia memperhatikan Keysha. Dipta jadi merasa tak enak hati. Jangan-jangan ia hanya kegeeran menyalah artikan sikap Shakila selama ini.
Disaat Shakila dan Keysha sedang sibuk mengerjakan soal. Dipta memperhatikan wajah Shakila dengan seksama. Gadis ini benar-benar manis. Tak bosan ia memandangnya. Semakin lama ia semakin terpana dengan Shakila. Tapi tepukan Keysha pada dirinya telah membuat Dipta tersadar dari lamunannya.
"Eh si Aa disuruh ngajarin Shakila malah melamun! Itu tuh Shakila tanya rumus selanjutnya!" sentak Keysha mengejutkannya.
"Ih kamu! Siapa juga yang melamun. Gimana La?" tanya Dipta agak gelagepan.
__ADS_1
"Yang ini A. Harusnya pakai rumus yang ini atau yang ini?" tanya Shakila sambil menunjuk rumus-rumus dibukunya.
Dipta pun agak mendekat ke Shakila sampai-sampai wajah mereka hampir bertemu karena Shakila juga mengubah posisi badannya untuk menjadi lebih dekat dengan Dipta.
Dag! Dig! Dug! Dag! Dig! Dug! Begitulah kira-kira bunyi hati Dipta saat wajahnya hampir bertemu dengan wajahnya Shakila. Begitupun Shakila, rona wajahnya berubah menjadi lebih merah secara tiba-tiba.
Melihat ada yang tak beres antara kakaknya dan Shakila, Keysha pun berdehem.
"Ehem... Ehem... Masih mau belajar nggak nih?" tanya Keysha sambil melirik Dipta dan Shakila.
"Ya iya lah Key!" sahut Dipta sambil menjauhkan wajahnya dari hadapan Shakila.
Shakila pun ikut memperbaiki posisinya. Rasanya seperti ada petir yang menyambar di waktu magrib. Petir yang biasanya membawa hujan tapi kali ini bukan hujan yang dibawanya melainkan sebuah rasa yang terdalam yaitu cinta.
Rupanya seperti ini rasanya jatuh cinta. Ini yang Dipta rasakan kedua kalinya setelah rasa yang telah lama terkubur. Rasa cinta masa kecilnya. Cinta yang tumbuh entah darimana awalnya bermula. Kini cinta itu kembali dengan bentuk yang berbeda tapi rasanya tetap sama.
Shakila gadis manis itu telah membuatnya menemukan peti cinta yang telah lama tersimpan. Memang benar adanya kalau selama ini Dipta tak pernah merasakan jatuh cinta yang utuh pada siapapun kecuali Shakila.
Pernah ada yang mencintainya. Teman sekelasnya waktu SMA kelas X. Kiara namanya. Gadis cantik bermata jeli dan berbulu mata lentik. Hidungnya kecil dan mancung. Bibirnya pun mungil. Berkulit bersih, putih merona seperti kulit Dipta. Rambutnya? Entah seperti apa karena gadis itu juga berkerudung sama seperti Shakila.
Dipta sempat merasa terbersit juga untuk membalas cintanya Kiara tapi tak sampai jatuh cinta karena ia menemukan bahwa ternyata Kiara anak guru matematikanya di kelas X.
Rasanya tak berani Dipta mendekati Kiara lebih jauh. Ia khawatir mengkhianati gurunya. Karena ia tau persis Pak Firman sangat menjaga anak gadisnya itu.
Ia tak mau melukai siapapun termasuk Kiara dan Pak Firman maka ia tak berani melanjutkan rasa cinta yang mulai terbersit menjadi cinta yang lebih dalam lagi. Cinta yang utuh seperti rasa cintanya pada Shakila saat masih SD dulu.
Sejak saat itu Dipta berjanji tidak akan pernah pacaran. Karena ia tau betapa berharganya anak gadis dimata orang tuanya. Orang tuanya menjaga mereka dengan segenap kasihnya dan jangan sampai ia justru merusak anak gadis orang hanya untuk kepuasan semata.
Ketambah lagi, saat ia dijelaskan oleh guru agama Islamnya, Pak Yusuf, beliau mengatakan bahwa tak ada baiknya berpacaran. Karena hanya akan menjerumuskan kita kepada maksiat yang kita pun senang menjalaninya.
Pak Yusuf menyarankan untuk dekati anak gadis orang dengan ta'aruf jika seorang laki-laki itu sudah merasa mampu untuk menikah.
Itulah yang selalu terngiang-ngiang di telinga Dipta. Ia memang anak yang baik.
***
__ADS_1