CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Tidak Pacaran


__ADS_3

Gadis cantik bernama Kiara pun tersenyum melihat bahwa yang sedang berada di depannya itu Dipta. Dia juga tak menyangka kalau ibu yang sedang ia tolong bawakan barang dagangannya itu ibunya Dipta.


"Eh Kiara!" sapa Dipta setengah kaget karena tak menyangka bertemu dengan Kiara setelah lebih dari hampir setahun lulus di SMA.


"Dipta," sapanya manis dan lembut. Kiara memang anak yang lembut. Tutur katanya selalu sopan meski sedang berbicara dengan teman seangkatannya.


Melihat pemandangan ini, Bu Asih menjadi bingung. Kenapa mereka bisa saling kenal?


"Lho kalian kenal satu sama lain?" tanya Bu Asih.


"Iya Bu. Kita satu sekolah," jawab Kiara sambil meletakan barang bawaan Bu Asih.


"Iya Bu benar!" sahut Dipta sambil senyum-senyum tersipu malu.


"Oh... Namanya siapa Neng?" tanya Bu Asih lagi.


"Kiara Bu."


"Namanya cantik secantik orangnya," sahut Bu Asih sambil tersenyum. Bu Asih pun melanjutkan percakapannya lagi.


"Terima kasih ya Neng Kiara sudah bantu Ibu bawa belanjaan yang banyak ini. Anak Ibu malah asik nongkrong di luar," sahut Bu Asih sambil menyindir Dipta.


"Lah Ibu kok malah curhat! Haha..." sahut Dipta tertawa.


"Haha... Ya habis kamu dipanggil nggak nengok-nengok! Melamun saja kerjanya! Untung ada Neng Kiara yang bantu Ibu," timpal Bu Asih sambil pura-pura menjewer telinga Dipta.


"Ah masa sih Bu? Nggak kedengeran Ibu panggil Dipta!" elak Dipta.


"Iya karena kamu lagi asik melamun," timpal Ibu.


"Oh ya, Kiara sendiri saja ke pasarnya?" tanya Dipta mengalihkan pembicaraan dengan ibunya.


"Iya Dip. Beli belanjaan titipan Ibu," jawab Kiara masih dengan nada yang lembut.


"Oh. Pak Firman gimana kabarnya Ra?" tanya Dipta lagi.


"Alhamdulillah baik Dip. Kamu nggak pernah ke sekolah lagi ya semenjak lulus?" tanya Kiara.


"Enggak Ra. Kangen juga aku diajar sama bapakmu! Salam ya Ra untuk Pak Firman."


"Iya nanti aku sampaikan salamnya! Ya sudah, saya pamit dulu ya Bu?" pamit Kiara kemudian.


"Oh iya. Sekali lagi terima kasih ya Neng Kiara!"


"Iya Bu.Sama-sama."


"Hati-hati ya Ra!" sahut Dipta menambahkan. Kiara pun hanya menoleh dan memberikan senyum termanisnya.


Dipta sempat terpesona lagi dengan senyum yang Kiara berikan sampai-sampai ia masih ikut tersenyum meskipun Kiara sudah pergi jauh.


"Eh senyum-senyum aja kamu tuh Dip!" sentak Bu Asih.

__ADS_1


"Hehe... Cantik ya Bu!" sahut Dipta sambil tertawa.


"Iya. Cantiknya kebangetan A!" Bu Asih setuju dengan Dipta.


"Dia itu mantan calon mantu Ibu!" ucap Dipta dengan percaya diri.


"Ah bisa aja kamu bohongnya! Mana mau dia sama kamu yang cungkring gini," ledek Bu Asih pada anaknya.


"Yah Ibu mah nggak percaya sama anak sendiri. Dia itu pernah suka banget Bu sama Aa tapi Aa tolak," sahut Dipta.


"Kenapa bisa gitu? Emang kamu nggak suka sama dia?" tanya Bu Asih penasaran.


"Suka juga Bu. Tapi dia anak guru matematika Dipta, Pak Firman. Pak Firman baik banget Bu sama Aa jadi Aa juga pikir lagi mau pacarin anaknya. Takut Aa malah merusak masa depan Kiara dengan pacaran," jelas Dipta.


"Ternyata anak Ibu baik juga ya!" kagum Bu Asih pada anaknya.


"Iya dong Bu. Hehe..."


"Jadi kamu nggak mau pacaran?" tanya Ibu Asih lagi.


"Enggak deh Bu. Kata guru agamaku. Pacaran itu lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Lagian dalam ajaran agama kita nggak ada pacaran kan Bu?"


"Iya A kamu betul. Mudah-mudah kamu istiqomah ya! Kamu juga harus ingat kalau kamu punya dua adik perempuan. Jangan sampai mereka dinodai oleh lawan jenis hanya karena mengatasnamakan cinta," jelas Bu Asih mengkhawatirkan anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa.


"Doain ya Bu supaya anak-anak Ibu bisa jaga diri dengan baik," pinta Dipta.


"Iya. Aamiin," sahut Bu Asih sambil memberikan barang belanjaan pada Dipta. Tiba-tiba Bu Asih teringat dengan Shakila.


"Iya Bu, Aa sadar akan perasaan Shakila," ucap Dipta sambil mengikuti langkah kaki ibunya.


"Terus apa yang kamu rasakan padanya?" tanya Bu Asih sambil sesekali berhenti menyimpan kardus dan mengangkatnya kembali.


"Aa juga suka sih Bu sama Shakila tapi..."


"Tapi apa A?"


"Tapi kan Ibu tau sendiri. Aa nggak bisa pacaran. Jadi cukup Aa simpan saja perasaan Aa untuknya. Kalau waktunya sudah tepat nanti akan Aa sampaikan kalau Aa mencintainya."


"Maksudnya tepat tuh kapan A?" tanya Bu Asih menegaskan.


"Ya kalau Aa sudah kerja Bu dan dia juga sudah lulus sekolah."


"Oh begitu. Ya sudah semoga ada jodohnya."


"Aamiin. Makasih Bu doanya!"


"Iya."


Mereka pun sampai ke tempat parkiran dimana motornya terparkir disana. Lalu mereka merapihkan barang bawaannya dan meletakkan beberapa di bagasi motor. Kemudian sebagian lagi di gantungan motor. Sisanya dipegang oleh Bu Asih. Mereka pun bergegas pulang ke rumah.


***

__ADS_1


Keesokan harinya. Seperti biasa Shakila datang ba'da magrib. Kali ini dia diantar Mang Cecep sampai depan rumahnya Dipta.


"Mang Cecep udah sembuh La?" tanya Dipta ketika Shakila sudah di dalam rumah. Sebenarnya Dipta hanya basa-basi saja padahal ia sudah tau yang sebenarnya.


"Sudah A. Oh ya A, sekarang belajar bahasa Inggris saja ya A soalnya besok mau ulangan bahasa Inggris," sahut Shakila biasa saja. Berarti Kang Cecep nggak cerita kalau bertemu dengan Dipta di pasar kemarin.


"Iya La. Kita latihan dari LKS saja. Menjawab soal-soal yang belum. Sekalian nanti kamu tulis kosakata yang kamu belum tau."


"Oke A."


Keysha pun ikut membuka buku LKS dan membuka percakapan dengan Shakila.


"La, aku ulangannya lusa. Nanti bocorin soalnya ya? Hehe...," pinta Keysha pada Shakila.


"Siap Key. Tapi nanti bocorin soal matematika juga ya? Soalnya kamu duluan kan yang ulangan," Shakila balik meminta.


"Oke La."


"Huss kalian ini pada curang ya!" sentak Dipta bercanda.


"Emang A Dipta dulu nggak gitu?" tanya Shakila.


"Enggak lah. Saya kan pintar! Hehe...," canda Dipta.


Tak terasa satu setengah jam telah berlalu. Kini saatnya Shakila pulang dari rumah Dipta.


"Di jemput nggak La?" tanya Bu Asih dari dalam warung.


"Dijemput Bu. Mang Cecepnya sudah saya telpon," jawab Shakila sambil berjalan ke arah Bu Asih dan menyalami tangannya.


"Syukur deh kalau sudah sembuh." Tak lama motor Kang Cecep sampai di depan rumah Dipta. Shakila dan mamangnya pun berpamitan.


Ketika membereskan ruang tamu yang masih berantakan sama buku-buku Keysha, Dipta menemukan sebuah folder.


"Key, ini foldernya!" teriak Dipta.


"Folder? Aku nggak punya folder A!" jawabnya dari dapur.


"Lha ini folder siapa?" Dipta pun membuka folder itu dan menemukan ada nama Shakila disana.


"Punya Shakila kali A?" tanya Keysha.


"Oh iya benar ini punya Shakila." Dipta pun iseng membuka isi foldernya. Dan ternyata isi foldernya membuat Dipta terkejut! Ia tak sangka kalau selama ini Shakila seperti ini.


Dipta terus membuka lembar demi lembar isi folder Shakila. Dan semakin kesini Dipta menemukan yang selama ini tak pernah ia ketahui sebelumnya.


Apa isi folder itu sebenarnya?


Sampai-sampai membuat Dipta kaget dan tidak menyangka apa yang telah disimpan oleh Shakila selama ini.


***

__ADS_1


__ADS_2