
Makin hari anak-anak yang bimbingan belajar dengan Dipta semakin banyak. Sampai-sampai rumahnya sudah tak menampung lagi tiap waktu belajar pun tiba. Maka dari itu mereka akhirnya Dipta bagi-bagi waktu dan harinya sesuai dengan jenjang kelasnya.
Bimbingan belajar Dipta tidak melakukan promosi sama sekali. Hanya saja orang-orang banyak yang mendengar dari mulut ke mulut. Kemudian banyak cerita juga kalau anak-anak yang belajar disana rata-rata mendapat ranking sepuluh besar di kelasnya.
Dipta juga tidak pernah sekalipun mematok bayaran untuk tiap anaknya. Niat ia dari awal memang hanya untuk membantu. Masalah ada yang memberinya uang tanda terima kasih itu belakangan.
Biasanya Dipta menerima kalau ada yang kasih ia amplop berisi uang bayaran tapi ia tidak pernah sekalipun meminta pada mereka. Bersyukurnya kebanyakan dari mereka sadar dan berinisiatif memberi Dipta uang bayaran.
Bahkan ada yang tiap sawahnya panen memberi Dipta beras sebagai ganti tidak bisa memberikannya uang bayaran tiap bulan. Itupun dia terima dengan senang hati.
Meski pernah suatu kali ia menolak pemberiannya, karena ia tau kalau keluarga itu juga pasti sangat membutuhkannya. Tapi mereka ngotot tetap ingin Dipta menerima pemberiannya.
Bimbingan belajar Dipta sudah aktif selama enam bulan belakangan. Mungkin disanalah Allah memberi jalan kemudahan baginya untuk tetap memberi ilmunya demi meraih keberkahan di dalamnya.
Penuhnya anak-anak yang belajar di rumah Dipta terdengar oleh tokoh masyarakat yang berada di daerah itu.
Beliau seorang ustadz yang baik hati dan selalu membantu sesamanya yang membutuhkan pertolongan.
Ustadz tersebut mendengar keluh kesah anaknya yang ikut bimbingan belajar di rumah Dipta.
"Abi, Alya suka belajar sama A Dipta tapi Alya nggak nyaman karena anak-anaknya sudah banyak dan rumah A Dipta jadi semakin sempit," keluh Alya pada abinya yang baru saja pulang dari masjid.
"Oh begitu ya. Atau Alya mau Abi daftarkan les di lembaga khusus aja ya? Yang punya kelas sendiri," tawar abinya.
"Nggak mau Bi. Alya sukanya belajar sama A Dipta," rengek anak usia sebelas tahun itu.
"Lha terus Abi harus bagaimana dong?" tanya abinya bingung. Tak lama istrinya datang dari arah dapur dan ikut dalam percakapan. Karena sebelumnya ia sudah mendengar semua percakapan mereka dari dapur.
"Bantu saja si Dipta Bi."
"Bantu bagaimana Mi?"
"Kita kan punya kontrakan kosong tuh di dekat rumah Dipta."
"Terus?" tanya Abinya bingung.
"Ya kita pinjamkan saja Dipta untuk membuka bimbingan belajar disana. Lagian Dipta itu anaknya baik, soleh, dan rajin lho solat lima waktu ke masjid," sahut istrinya bersemangat.
__ADS_1
"Iya juga ya! Dipta juga kan yatim," sahut sang ustadz kepada istrinya.
"Nah apalagi dia anak yatim. Sudah kewajiban kita untuk membantunya. Dulu waktu masih kecil kan Dipta ngajinya sama Umi, jadi Umi tau persis sifatnya. Meski agak usil sama temennya tapi dia anaknya baik tidak pernah melukai fisik temannya. Tata bahasanya dari kecil juga sudah bagus dan sopan," jelas istrinya panjang lebar.
"Oke deh Mi, temani Abi ke rumah Dipta sekarang ya?" pinta sang ustadz ke istrinya.
"Alya ikut ya Bi?" pinta Alya sambil tersenyum jenaka.
"Emang kamu mau ngapain ikut?" tanya abinya.
"Alya mau beli seblak ceker di Bu Asih. Hehe." Jawab Alya masih dengan senyum jenakanya.
"Ah kamu mah tukang jajan!" Abinya mencubit hidungnya dengan gemas.
"Boleh ya Abi?" pintanya lagi dengan memelas.
"Iya boleh. Kita jalan kaki saja ya!" sahut abinya.
"Oke," timpal istri dan anaknya kompak.
***
"Ustadz Irfan, kumaha damang?" tanya ibunya Dipta menanyakan kabar sang ustadz dan keluarganya.
"Alhamdulillah baik."
"Silahkan duduk Pak Ustad dan Bu Ustadzah," sahut ibunya Dipta sambil mempersilahkan mereka duduk.
"Iya Bu terima kasih." Merekapun duduk di kursi tamu.
"Neng Alya mana ya? Tadi sepertinya ikut," tanya ibunya Dipta.
"Itu nunggu di warung Bu Asih katanya mau jajan seblak ceker," jawab uminya Alya.
"Tapi nanti saja ya Bu dibikinnya karena ada yang mau saya bicarakan dengan Ibu dan Dipta." Mendengar ada yang hendak dibicarakan Dipta menjadi bingung dan khawatir. Jangan-jangan Ustadz Irfan mau komplain karena nilai Alya tidak naik-naik.
"Oh iya. Ada apa ya Ustadz?" Tanya Bu Asih.
__ADS_1
"Pertama-tama saya mau berterima kasih pada Dipta sudah mau mengajarkan Alya, putri kami dalam belajar pelajaran umumnya. Alhamdulillah ada peningkatan di beberapa nilai akademiknya. Kemudian yang kedua, saya ingin Dipta menerima tawaran saya," jelas Pak Ustadz panjang lebar.
"Tawaran apa ya Pak Ustadz?" tanya Dipta bingung.
"Saya ingin Dipta gunakan kontrakan saya yang kosong disebelah rumah Ceu Ipit untuk dijadikan kelas Dipta mengajar. Karena menurut cerita Alya. Anak-anak yang Dipta bimbing sudah banyak. Jadi sepertinya saya ambil kesimpulan kalau Dipta butuh tempat yang lebih luas untuk menampung mereka. Bagaimana?"
Mendengar kebaikan Ustadz Irfan menawarkan kontrakannya untuk Dipta mengajar seolah-olah mendapatkan hujan di musim panas. Karena kalau Dipta boleh jujur, rumahnya memang tak layak untuk dijadikan tempat bimbingan belajar karena terlalu sempit.
"Ini serius Pak Ustadz?"
"Iya atuh Dipta. Masa saya bercanda. Emangnya saya keliatan sedang bercanda ya?" canda ustadz Irfan padanya.
"Hehe... Enggak kok Ustadz," tawa Dipta malu.
"Gimana Dipta?" kali ini Ustadzah Mila yang bertanya.
"Terus bayar sewanya bagaimana Ustadz?" tanya Bu Asih dengan polosnya.
"Nggak usah Bu Asih. Itu saya hanya meminjamkan bukan menyewakan," jawab Ustadz Irfan sambil tersenyum.
"Dipta terima ya Pak Ustadz dan Bu Ustadzah kebaikannya. Semoga Allah selalu memberikan keberkahan pada Ibu dan Bapak Ustadz. Aamiin," sahut Dipta dengan mata berkaca-kaca. Entah kenapa dia merasa orang-orang sangat baik padanya. Dia pun jadi teringat Pak Herman wali kelasnya dulu yang dengan sungguh-sungguh ingin membiayai setengahnya bayaran kuliah Dipta. Kini guru mengajinya saat ia kecil yang dengan baik hati meminjamkan kontrakannya.
Ustadz Irfan pun langsung mengambil kunci dari sakunya dan memberikannya pada Dipta. Tak lama kemudian mereka pun pulang setelah meminum secangkir teh manis yang disuguhkan oleh Keysha dan meninggalkan Alya yang masih menunggu pesanannya.
Disaat sedang senang-senangnya menerima kebaikan ustadz Irfan, tiba-tiba lima belas menit kemudian datang lagi tamu dua orang. Seorang ibu dan anak perempuannya yang manis.
"Assalamualaikum Mamah Keysha." Salam ibu itu ramah.
"Waalaikumsalam. Eh Mamah Shakila. Kapan datang dari Jakarta? Ayo masuk-masuk."
Mendengar nama Shakila disebut jantung Dipta langsung berdegub tak beraturan. Ia sedang berada di kamarnya menyimpan kunci kontrakan. Jadi ia sangat jelas mendengar nama Shakila disebut oleh ibunya.
Ada perlu apa Shakila bersama ibunya kesini? Entah kenapa semenjak kejadian siang itu ketika Shakila membicarakan kisah masa kecilnya membuat Dipta jadi malu sendiri mengingatnya.
Dipta sendiri bingung kenapa emosinya selalu tak stabil jika bertemu dengan Shakila?
Tatapan mata gadis itu menusuk ke jantungnya yang terdalam!
__ADS_1
Akankah Shakila melakukan hal yang sama seperti saat ia makan siang di rumahnya beberapa bulan yang lalu?
***