
Suara adzan magrib telah bekumandang dari lima menit yang lalu. Beberapa warga segera berdatangan menuju masjid. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki yang sadar akan kewajibannya melakukan solat berjamaah di masjid.
Seperti halnya Dipta, ia telah sadar akan kewajibannya melaksanakan solat fardhu berjamaah di masjid, kecuali jika ada uzur.
Dipta memasuki masjid dan segera mengisi shaf yang kosong. Kurang lebih sekitar lima menit, mereka melaksanakan solat magrib berjamaah. Seperti biasa setelah selesai solat mereka membaca doa bersama-sama yang masih dipimpin oleh imam solat magrib.
Entah kenapa saat melaksanakan solat magrib, ia merasa lebih tenang hatinya setelah siang tadi hatinya terluka dan marah. Amarah telah merajainya sepanjang siang ini. Hatinya gelisah seolah tak ada ketenangan setelah melihat gadis pujaan hatinya pergi bersama laki-laki lain.
Dipta merasa telah berbuat salah selama ini, mungkin ia lupa bahwa kebahagiaan itu kita yang ciptakan, mungkin ia juga telah bersandar kepada makhluk untuk memberikannya kebahagiaan. Ia lupa bahwa Allah lah satu-satunya tempat bersandar karena jika kita bersandar pada makhluknya yang ada kita hanya akan kecewa dan sakit hati bila apa yang kita inginkan tidak kita dapatkan darinya.
Saat ini dalam doanya, ia meminta untuk diberi ketenangan hati. Semoga api cemburu dan amarah tak merajainya lagi seperti siang tadi.
Ia pun pulang dengan perasaan tenang. Sesampainya di rumah, tak seperti biasa, Shakila belum datang padahal biasanya ia selalu tepat waktu dan selalu ia yang sampai lebih dulu dari pada Dipta.
Dipta mulai berpikir yang macam-macam lagi tentang Shakila. Ia mengira kalau Shakila belum pulang dan masih bersama teman laki-lakinya itu, Adit namanya.
Ia pun melihat Keysha yang sudah bersiap dengan buku-buku di hadapannya. Dipta pun bertanya pada Keysha. "Shakila tumben belum datang?"
"Iya, biasanya jam segini udah sampai," sahut Keysha sambil menulis catatan di buku tulisnya.
"Dia masih belum pulang kali Key. Mungkin masih jalan-jalan sama Adit, menghabiskan waktu bersama," tukas Dipta sambil mengambil posisi duduk di kursi yang cukup untuk satu orang yang biasa ia tempati kalau sedang mengajarkan Shakila. "Oh ya kamu jangan bahas tentang Adit duluan ya! Biar dia saja yang cerita lebih dulu," Dipta menambahkan.
__ADS_1
Tak lama suara motor Kang Cecep, mamangnya Shakila, terdengar dari luar. Benar saja, Shakila baru datang. Ia pun tak lupa salim pada Bu Asih calon ibu mertuanya itu. Selepas itu, ia masuk ke dalam dan melihat Dipta juga Keysha sudah berada di posisi mereka masing-masing yang bersiap untuk belajar. Karena merasa tak enak sudah datang terlambat, ia pun meminta maaf. "Maaf ya A Dipta, aku telat."
"Iya nggak apa-apa, kamu mungkin masih capek habis pulang jalan-jalan," ketus Dipta tanpa melihat Shakila sebagai lawan bicaranya. Mendengar kalimat Dipta dan nada suara yang tak enak di dengar juga pandangan matanya yang tak menatap ia sedikitpun, membuat Shakila merasa ada yang janggal dengan perubahan sikap Dipta tapi ia tak berani bertanya karena ia juga tidak tau apa permasalahannya. Ia pun duduk di samping Keysha yang bersikap dingin juga terhadapnya. Entah kenapa mereka seperti kompakan untuk membuat Shakila tak nyaman malam ini.
"Oh ya La, besok kamu belajar sama Keysha dulu saja karena saya harus mengantar Ustadz Irfan ke Bogor," tukas Dipta masih dengan posisi tidak menghadap Shakila dan tak memandangnya sedikitpun. Shakila hanya menjawab iya. Tapi hatinya bertanya-tanya, sejak kapan Dipta jadi asistennya Ustadz Irfan? Shakila tak mengetahui kalau Dipta bisa mengendarai mobil jadi ia berpikir kalau Dipta menjadi asisten Ustadz Irfan.
Melihat Shakila dengan kebingungannya, Keysha jadi tidak tega juga, ia pun merasa tak enak juga telah bersikap dingin pada Shakila. Nggak lama, Keysha mengubah sikapnya menjadi lebih hangat seperti biasanya.
Selama pembelajaran berlangsung, Shakila terus memutar otaknya, mengingat-ingat perlakuan apa yang telah ia buat sehingga sikap Dipta menjadi seperti ini. Ia hanya telat sepuluh menit saja tapi kenapa Dipta menjadi semarah ini?
Ketika Dipta izin ke kamar mandi, Shakila pun bertanya pada Keysha.
"A Dipta kenapa ya Key? Kok aku telat datang saja, dia jadi judes gitu? Padahal baru hari ini aku telat," tanya Shakila bisik-bisik.
"Nggak dari mana-mana! Tadi telat karena nunggu Mang Cecepnya lama soalnya dia makan dulu tadi," jawab Shakila jujur. Keterlambatannya memang karena Mang Cecep yang baru sempat makan setelah solat magrib. Dipta kembali, mereka pun berhenti berbicara.
Suasana belajar pun menjadi sangat tidak nyaman. Bukan Dipta dan Shakila saja yang merasa seperti itu, Keysha pun juga ikut tak nyaman. Waktu belajar menjadi terasa begitu lama dari biasanya. Ketiganya ingin sekali selesai secepatnya. Karena tak tahan dengan sikap dingin Dipta, akhirnya Shakila izin menyudahi kegiatan belajar mengajar. Dipta pun tak melarangnya.
"Ya sudah kalau sudah capek pulang saja. Lain kali kalau capek nggak usah belajar dulu La," ucap Dipta dengan nada yang dibuat datar sedatar-datarnya karena menahan emosinya yang takut meledak tiba-tiba padahal tadi ketika solat magrib, ia sudah merasa tenang tapi ketika melihat Shakila, emosinya berubah lagi.
"Ya sudah aku pamit!" Shakila pun keluar tanpa mengucapkan salam. Tapi ia masih menghargai Bu Asih yang sedang berada di dalam warungnya. Ia pun pamit dan menyalami tangan Bu Asih.
__ADS_1
"Pamit ya Bu. Assalamualaikum,"
"Lho kok nggak dijemput Kang Cecep?" tanya Bu Asih.
"Sudah di jalan Bu, paling nanti ketemu di jalan. Assalamualaikum," jawabnya sambil bergegas pergi. Sebenarnya ia belum menelpon Mang Cecep karena ia sudah nggak betah kalau harus berlama-lama di rumah Dipta dengan perlakuannya yang tidak mengenakan seperti tadi.
Melihat Shakila sudah pergi, Dipta pun membantu Keysha membereskan alat tulisnya. Keysha yang merasa tak enak pada Shakila jadi bingung sendiri harus bagaimana tapi menurutnya sikap Dipta tadi memang sangat tidak nyaman dilihat. Ia pun memberanikan diri bertanya pada Dipta.
"Kenapa Aa bersikap seperti itu?"
"Lho emang ada apa dengan sikapku?" Dipta balik bertanya.
"Sikap Aa itu dingin banget ke Shakila bahkan menatapnya saja pun Aa tak ingin," sahut Keysha. "Dia itu bingung karena dia merasa cuma gara-gara terlambat datang tapi sikap Aa seperti itu," lanjut Keysha.
"Ya habisnya Aa masih belum menerima perlakuan dia di belakang Aa, Key!" jawab Dipta tegas.
"Ya bilang dong A ke dia. Dia kan nggak tau, dia taunya Aa marah karena keterlambatannya," sahut Keysha.
Dipta pun menyadari kesalahannya. Ia sudah membuat Shakila seperti orang yang bersalah padahal ia nggak sadar apa salahnya yang sebenarnya.
Dipta pun meminta tolong pada Keysha supaya besok jika Shakila bertanya tentang sikap Dipta, jawablah dengan jujur dan ceritakan apa yang sudah dilihat Dipta siang itu.
__ADS_1
***