
Pagi ini Dipta tidak sesibuk dulu waktu masih menjadi pelajar SMA. Dulu setiap bangun tidur, ia selalu terburu-buru bersiap-siap ke sekolah.
Biasanya ia bangun tidur pukul 05.00 WIB pagi dan langsung solat subuh di kamarnya. Kemudian ia bergegas pergi mandi yang biasanya satu kamar mandi itu menjadi rebutan sama adik-adiknya.
Dan yang paling pertama mengisi kamar mandi pastilah Keysha. Karena dia yang paling rajin bangun pagi-pagi dan membantu ibu menyiapkan sarapan pagi.
Setelah itu barulah Dipta yang mengisi kekosongan kamar mandi. Namun setiap baru saja masuk lima menit lalu, pasti ada saja yang gedor-gedor pintu kamar mandi dan orang itu tak lain dan tak bukan adalah Lusiana.
Dia orang yang paling sibuk mengganggu Dipta tiap pagi. Mereka berdua sering rebutan kamar mandi di pagi hari. Melihat itu ibu paling hanya senyum-senyum saja. Karena mereka berdua memang seperti kucing dan anjing. Kalau bertemu pasti berantem saling ejek.
Dipta paling kesel kalau belum selesai mandi tapi sudah di suruh keluar oleh Lusiana karena dia kebelet ingin buang hajat. Dipta pun mengalah dengan posisi sampo masih berada di rambutnya, ia pun keluar memakai handuk dan kulitnya masih lengket sama sabun yang belum bersih ia bilas.
Lusiana yang ditunggu Dipta malah anteng-anteng saja di dalam kamar mandi. Dia emang paling lelet diantara Dipta dan Keysha. Dia bisa berjam-jam di kamar mandi tapi belum tentu selesai mandinya. Entah apa saja yang ia lakukan di dalam.
Dia pun mengedor-gedor pintu kamar mandi yang pasti dibalas teriakan dari dalam "Sabar Aa! Belom kelar!"
Dipta hanya mendengus kesal. Ibu pun memintanya bersabar. Tak lama kemudian Lusiana keluar dengan tampang polosnya seolah-olah dia tak melakukan kesalahan.
Tapi pagi ini Dipta sudah terbebas dari drama rebutan kamar mandi dengan Lusiana. Dia lega sekali tidak ribut di pagi hari. Karena hampir selama Lusiana mulai bersekolah. Dialah si pembuat drama pagi hari.
Hari ini Dipta mulai dengan bangun tidur sesaat sebelum adzan subuh mengumandang. Malamnya ia memang sengaja tidur lebih awal. Ia sudah berniat untuk solat lima waktu di masjid jika ia sedang berada di rumah. Sama seperti yang ayahnya lakukan kalau sedang berada di rumah.
Ibunya sampai kaget karena ia pikir ada maling yang masuk ke dalam rumah. Karena bunyi pintu kamar mandi yang mengagetkannya.
"Haduh Aa! Ibu pikir ada maling. Aa ngapain sih pagi-pagi gini udah berisik?"
"Haha. Maaf Bu, ini pintu kamar mandi kan emang sudah rusak. Aa mau solat subuh ke masjid," sahutnya sambil terus memperbaiki posisi pintu supaya tertutup dengan rapat.
"Oh ya syukurlah. Semoga Aa istiqomah ya!" Doa seorang ibu untuk anaknya.
"Iya. Aamiin."
***
Ketika adzan berkumandang, Dipta pergi ke masjid. Sesampainya di masjid, ternyata sudah ada sekitar sepuluh jamaah yang sudah datang termasuk muadzin.
Ketika melepas alas kakinya, ia melihat seorang bapak yang usianya hampir sama dengan almarhum ayahnya. Ia pun melempar senyum ke arahnya. Ternyata bapak-bapak itu ayahnya Aryo teman sekelasnya di SMA kelas XII.
"Dipta!" tegur ayahnya Aryo.
"Iya Pak. Sehat Pak?" sapa Dipta balik bertanya.
"Alhamdulillah. Saya bangga sama kamu! Kata Aryo nilai UN kamu menjadi nilai tertinggi di sekolah ya!"
"Iya Pak alhamdulillah."
__ADS_1
"Rencananya mau lanjut kuliah dimana Dip?"
"Oh enggak Pak. Saya nggak kuliah."
"Lho kenapa?" tanya ayahnya Aryo bingung.
"Nggak apa-apa Pak," ucap Dipta berusaha menutupi alasannya. Meski begitu ayahnya Aryo paham kalau Dipta tidak ingin membagi kisahnya. Ia pun mengajak Dipta masuk ke dalam masjid.
***
Sepulangnya Dipta dari masjid. Ia langsung membuka warung sembako ibunya dan merapihkan yang masih berantakan serta mengeluarkan rencengan kerupuk, snack, kopi, susu, sampo, detergent cair dan pewangi pakaian.
Tetiba ada seorang ibu datang ke warungnya mengagetkan Dipta.
"WOY DIPTA!" teriaknya.
"Ah si Eceu bikin saya kaget aja! Saya kirain teh kuntilanak! Ada apa Ceu?"
"Hahaha... Ah kamu mah ganteng-ganteng penakut!" ledek si eceu itu tertawa terbahak-bahak.
"Lah siapa yang nggak kaget Eceu. Eceunya datang-datang langsung teriak gitu! Udah gitu Eceu kesininya masih pakai mukena putih gitu," tukas Dipta. Si eceu ini memang sudah dekat dengan keluarga Dipta karena dia memang sering main ke warung ibunya Dipta hanya sekedar ngobrol-ngobrol atau dia ngegosipin tetangga yang lain. Jadi Dipta sudah tak sungkan lagi kepadanya.
"Dip, Eceu beli telor dong seperempat aja! Mau masak buat sarapan telornya habis."
"Iya."
Dipta pun menimbang telor empat butir untuk menjadi seperempat kilogram. Di simpanlah telur itu di kantong plastik kresek yang kecil.
"Ini Ceu," kata Dipta sambil menyerahkan kresek telornya.
"Berapa Dip?"
"Rp. 7.000,- Ceu Ipit."
Si eceu pun menyerahkan uang Rp. 10.000,- kemudian Dipta mengambil kembaliannya di kotak uang warungnya.
"Nih Ceu. Nuhun nya Ceu!"
"Oh iya Dip, anak Eceu si Gilang mau naik kelas IX tahun ini. Eceu minta tolong anak Eceu les sama kamu ya?" pintanya.
"Boleh Ceu Ipit."
"Bayarnya berapa Dip?"
"Nggak usah Ceu, saya ikhlas!"
__ADS_1
"Eh jangan gitu Dip. Ilmu kan mahal harganya."
"Ya sudah Rp. 1.000.000,- deh sebulan. Hahaha," ujar Dipta tertawa.
"Yah Dipta tega banget sama Eceu! Jangan segitu atuh," sanggah si eceu mencoba menawar.
"Lah pan Eceu yang bilang ilmu itu mahal. Haha," tukas Dipta masih dengan tawanya.
"Iya sih. Haha. Ya sudah pokoknya nanti Eceu kasih uang ngajarnya ya! Nggak boleh di tolak kalau dikit," kelakar si Eceu.
"Oke Ceu Ipit. Lah emang si Gilangnya mau Ceu? Saya nggak mau ah kalau Gilang belajar ke saya karena diancam Eceu!"
"Enggak diancam lah Dip. Dia sendiri yang minta. Katanya si Ilman jadi masuk rangking sepuluh besar di kelas setelah belajar sama kamu!"
"Oh iya alhamdulillah. Itu juga karena Ilmannya rajin Ceu. Bukan karena saya sepenuhnya," ucap Dipta merendah.
"Oh gitu ya. Ya sudah nanti si Gilang saya suruh lebih rajin lagi," ucap si eceu bersemangat.
"Iya Ceu suruh datang aja anaknya habis solat ashar ya Ceu."
"Oke Dip. Nuhun!"
"Sami Ceu!"
Si Ceu Ipit pun pergi meninggalkan warungnya Dipta. Tak lama ibunya Dipta keluar menemui Dipta.
"Siapa sih A? Pagi-pagi udah rame?" tanya ibu masih dengan memakai mukena dan Al Qur'an ditangannya.
"Biasa itu Ceu Ipit, kawan karibnya Ibu," jawab Dipta meledek ibunya.
"Ah kamu bisa aja! Biar begitu baik itu dia orangnya. Cuma heboh aja. Emang dia ada perlu apa?" sahut ibunya membela Ceu Ipit kawan karibnya.
"Beli telor terus minta Dipta ajarin anaknya, Gilang. Soalnya sekarang sudah naik kelas IX SMP," jawab Dipta sambil merapihkan sisa uang yang ada di dalam kotak.
"Syukurlah A. Ilmu kamu jadi berkah nantinya."
"Iya Bu. Aamiin."
Disaat teman-temannya yang lain sibuk mencari kampus dan disaat itu pula Dipta sibuk membantu ibunya menjaga warung.
Di samping itu pula ia juga sibuk mengajarkan anak-anak tetangga yang bimbingan belajar di rumahnya. Rumah Dipta semakin terasa sempit terutama setiap habis asar, rumahnya selalu dipenuhi anak-anak yang belajar.
Mungkin di sinilah hari baru seorang Dipta bermula.
***
__ADS_1