
Dipta masih terus memperhatikan Shakila dari tempat duduknya yang berjarak sekitar tiga meter. Shakila duduk membelakangi Dipta jadi ia tidak akan sadar kalau Dipta sedang berada di tempat yang sama.
Shakila dan teman laki-lakinya itu duduk bersebrangan. Mereka terlihat sangat akrab sekali. Sepertinya mereka sedang membicarakan hal yang seru karena Shakila sering kali tertawa mendengar cerita dari lawan bicaranya itu. Tak lama pesanan mereka datang. Mereka sama-sama memesan mie ayam.
Sementara Dipta masih terdiam di tempat duduknya dengan menahan amarah di dadanya. Sepertinya ia marah karena cemburu. Cemburu yang tak buta karena ia jelas-jelas melihat gadis pujaannya yang telah terikat janji untuk saling menjaga hati tapi mengingkarinya.
Dipta merasa bodoh. Ia merasa telah dipermainkan perasaannya oleh Shakila. Disaat ia benar-benar menyerahkan isi hatinya pada sesosok perempuan yang kini sedang berbahagia dengan laki-laki lain selain dirinya.
Bahkan Dipta benar-benar menjaga hatinya untuk Shakila meskipun ia sempat mengagumi Kiara kembali setelah perjumpaannya dengan Kiara di pasar beberapa waktu lalu, ia menahan kekagumannya pada Kiara karena cintanya yang mulai tumbuh untuk Shakila. Terlebih mereka masih bersaudara.
Makin lama rona wajah Dipta berubah memerah, ia juga terlihat gelisah dan tak nyaman seperti orang yang sedang kegerahan padahal ruangan food court itu sejuk karena full AC.
Melihat gelagat Dipta yang berubah drastis, Ustadz Irfan mencoba melihat ke arah yang sedang Dipta lihat. Ia juga penasaran, apa yang membuat Dipta mengacuhkannya karena beberapa kali mengajak Dipta berbicara tapi tak disambut olehnya. Setelah ia melihat apa yang Dipta lihat, ia merasa tidak ada yang aneh di seberang sana. Tak ada satupun orang yang ia kenal sedang berada di food court ini juga. Ia pun mencolek lengan Dipta.
"Dipta!"
"Oh iya kenapa Ustadz?" tanya Dipta dengan nada lumayan kaget karena ia sedang memperhatikan Shakila dan teman laki-lakinya itu.
"Kamu kenapa sih? Seperti melihat hantu saja!" tanya Ustadz Irfan bingung.
"Oh nggak apa-apa Ustadz. Nggak ada apa-apa kok," tukas Dipta mencoba meyakinkan Ustadz Irfan kalau ia baik-baik saja. Tak lama Ustadzah Mila dan Alya datang dan duduk di tempat duduk mereka masing-masing.
Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, makanan yang telah mereka pesan pun datang. Dipta masih saja gelisah dan Ustadz Irfan sadar akan hal itu.
"Makan dulu Dip!" perintah Ustadz Irfan sambil memberikan sepiring siomay dan segelas es teh pesanan Dipta.
"Iya Ustadz," jawab Dipta sambil menundukan kepalanya mencoba mengalihkan pandangannya pada Shakila yang sedang asik makan mie ayam bersama teman laki-lakinya itu. Kini giliran mereka menyantap makananannya masing-masing.
__ADS_1
Kira-kira lima belas menit kemudian, Shakila dan teman laki-lakinya beranjak dari tempat duduknya. Dipta secara spontan menundukan kepalanya supaya tidak terlihat Shakila dan benar Shakila masih tidak mengetahui keberadaan Dipta di food court itu.
Shakila dan teman laki-lakinya pun berjalan menuju eskalator berada. Terlihat jelas oleh Dipta kalau teman laki-lakinya itu memegang erat tas ransel yang Shakila kenakan seolah ia tak ingin Shakila terpisah darinya. Makin merah padam wajah Dipta melihatnya.
Rasanya ingin sekali saat itu ia menarik tangan Shakila dan memintanya menjelaskan apa yang sedang ia lakukan bersama laki-laki lain yang jelas bukan muhrimnya. Tapi hal itu tak mungkin terjadi karena Dipta sedang bersama dengan Ustadz Irfan dan keluarga. Ia tidak ingin mereka tau kalau Shakila adalah gadis pujaannya yang telah terikat janji dengannya.
Ia tarik nafas dalam-dalam lalu ia hembuskan pelan, pelan dan sangat pelan. Lalu pandangannya ia kembalikan pada beberapa potong siomay yang belum dimakannya. Ia pun memakan sisa siomay tersebut dan menghabiskannya meski sebenarnya ia sudah tidak berselera lagi untuk makan tapi demi menghargai pemberian Ustadz Irfan dengan terpaksa ia menghabiskannya.
Kini Shakila dan teman laki-lakinya sudah menghilang dari pandangannya. Entah hendak kemana lagi mereka pergi? pulangkah atau pergi lagi ke tempat lain menghabiskan sisa waktu bersama.
***
Sesampainya Dipta di rumah, ia sudah disambut oleh anak-anak bimbingannya. Ia datang bersama Alya karena kelas bimbingan Alya juga dimulai setelah ashar. Dipta sudah melaksanakan solat ashar di masjid, kebetulan letak masjid dan rumah Ustadz Irfan berdampingan.
Kira-kira sudah hampir satu setengah jam berlalu. Kini Dipta menyelesaikan bimbingan anak-anaknya dengan segera. Waktu telah menunjukan pukul 17.30 WIB, ia pun segera mengunci pintu kontrakan dan bergegas pulang.
Sebenarnya sepulangnya dari mengantar Ustadz Irfan, ia ingin segera bercerita tentang pertemuannya dengan Shakila juga teman laki-lakinya kepada Keysha tapi ia tak enak kalau harus membuat anak-anak bimbingannya menunggu terlalu lama.
"Key," sapa Dipta.
"Kenapa A?" tanya Keysha sambil memberikan bungkusan plastik pada pembelinya.
"Tadi Aa ketemu Shakila di toserba dan dia berduaan sama laki-laki!" bisik Dipta. Ia berbisik karena takut kedengaran oleh ibu dan Lusiana.
"Ah salah lihat kali A," Keysha meragukan cerita Dipta.
"Benar! Aa nggak salah. Tas sekolahnya warna ungu motif bunga sakura kan?" Dipta berkata yakin.
__ADS_1
"Iya benar A. Tadi sih aku emang nggak pulang bareng Shakila karena aku ada kerja kelompok di sekolah. Jadi aku nggak tau juga dia pulang bareng siapa! Emangnya ciri-ciri laki-lakinya seperti apa A?" tanya Keysha mulai mempercayai cerita Dipta.
"Dia pakai seragam putih abu-abu juga terus rambutnya lurus jatuh, matanya agak sipit, hidungnya mancung, bibirnya tipis gitu, tingginya jauh lebih tinggi dari Shakila dan tasnya warna hitam polos!" Dipta menjelaskan dengan sangat detail.
"Aa benar-benar perhatiin laki-lakinya ya?" tanya Keysha.
"Ya iya lah Key, dia duduknya searah jarum jam kok sama Aa, jadi gimana kamu tahu nggak laki-laki itu siapa?" tanya Dipta penasaran.
"Kalau dari ciri-cirinya...," Keysha pun terdiam. Ia mencoba berpikir membayangkan ciri-ciri yang telah disebutkan Dipta. Tiba-tiba ia ingat satu nama dan menambahkan salah satu ciri yang ada.
"Anaknya kurus tinggi ya A?"
"Iya!" jawab Dipta cepat.
"Kalau senyum ada lesung pipitnya?" tanya Keysha lagi mempertegas ciri-ciri teman lelakinya Shakila.
"Iya benar Key! Siapa dia?" telisik Dipta makin penasaran. Mendengar jawaban Dipta, Keysha semakin yakin kalau yang jalan bersama Shakila adalah Adit. Laki-laki yang suka sama Shakila dari awal mereka masuk SMA. Laki-laki yang selalu menyempatkan diri ke kelas Shakila hanya untuk memberikan air minum botolan atau cokelat putih kesukaan Shakila atau roti panggang stroberi yang ada di kantin sekolah.
Adit memang selalu mendekati Shakila tanpa kenal nyerah. Ia bahkan rela menunggu Shakila hujan-hujanan di sekolah hanya untuk memberikannya kado ulang tahun berisi boneka beruang putih yang lucu.
Adit memang satu-satunya laki-laki di sekolah yang selalu ingin bersama Shakila. Tapi selama ini yang Keysha tau, Shakila hanya menganggapnya teman tak lebih dari itu. Berkali-kali Adit menyatakan cintanya, berkali-kali pula Shakila menolak cintanya.
Shakila memang bukan anak yang judes kalau ia tak suka karena meskipun menolak cinta Adit tapi Shakila tetap menganggapnya teman dan tidak menjauhinya sama sekali atau bersikap judes dan kasar.
Shakila tidak ingin menyakiti hati Adit meskipun ia tau kalau Adit mengidam-idamkannya. Shakila tetap baik terhadapnya.
Kini entah dari mana Keysha harus menceritakan tentang Adit kepada Dipta? Haruskah Dipta mengetahui semuanya tentang Adit dan Shakila?
__ADS_1
Sungguh berat posisi Keysha saat ini karena disatu sisi ia tak ingin membuat Dipta kecewa tapi di sisi lain ia juga tak ingin Shakila jadi bermasalah dengan Dipta. Sejujurnya ia sebenarnya tidak suka kalau Shakila terus meladeni Adit karena ia tahu kalau Dipta akan sakit hati dibuatnya.
***