CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Minta Dinikahi


__ADS_3

Dua bulan sudah Keysha menekuni usaha pesanan bolu pisangnya. Di awal-awal buka usaha ini, keluarga Ustadz Irfan lah yang paling rajin mempromosikan bolu pisang buatannya kepada seluruh kerabatnya. Sampai-sampai banyak pesanan datang melalui Ustadzah Mila yang disampaikan langsung ke Dipta.


Sejauh ini bolu pisang buatan Keysha yang dibantu oleh Lusiana tidak pernah mengecewakan pemesannya. Rasanya tetap terjamin, tidak berubah sedikitpun. Tak ada bumbu-bumbu yang dikurangi demi meraup keuntungan yang berlebih.


Dalam menjalani usaha ini, Keysha mendapat bantuan dari ibu dan Dipta terutama dalam hal promosi. Ibunya sangat gencar mempromosikan bolu pisang buatan anaknya kepada semua pembelinya. Dipta juga tak kalah gencarnya, ia pernah membagikan tester bolu pisang kepada seluruh anak bimbelnya dan dua potong bolu untuk mereka masing-masing bawa pulang dan dibagikan kepada orang tua mereka. Benar saja, sebagian dari mereka memesan bolu pisangnya. Kebanyakan untuk acara-acara tasyakuran di rumahnya atau sebagai buah tangan untuk mengunjungi sanak keluarga juga kerabatnya.


Keysha juga sangat terbantu dengan Lusiana, adik satu-satunya itu. Lusiana sangat bisa diandalkan terutama ketika Keysha mulai sibuk membagi waktunya untuk mempersiapkan UN. Lusiana sudah lihai dengan ritme kerja yang dilakukan Keysha jadi tidak ada kendala sedikitpun untuk mereka dalam berkolaborasi.


Keysha tidak menutup pesananannya meskipun ia harus mempersiapkan UN. Ia membagi waktunya dengan baik sehingga sampai pada saatnya ia melaksanakan UN, semua berjalan dengan lancar.


Sudah dua minggu yang lalu, ia melewati masa-masa menegangkan yaitu UN. Bersyukur, ia punya kakak yang sangat bisa membantunya ketika ia memiliki kesulitan dalam memahami pelajaran. Sampai ketika saat ini, ia juga tengah sibuk belajar soal-soal ujian SBMPTN. Dipta lah yang paling membantunya dalam menjawab soal-soal yang memiliki tingkat kesulitan yang lumayan itu.


Dipta memang tidak pernah sekalipun mengikuti ujian SBMPTN itu tapi ia sangat rajin mempelajari soal-soalnya dibuku yang sengaja dibelinya di toko buku, semenjak Keysha minta kuliah.


Ia mempelajari buku tersebut di waktu senggangnya saat menjaga warung ibunya. Saking seringnya belajar, materi-materi yang ada dibuku itu menjadi ngelotok di dalam otaknya. Jadi ia bisa dengan mudah mengajarkan Keysha.


***


Dalam satu bulan ke belakang, Dipta sedang sibuk-sibuknya mengurus persyaratan beasiswa yang akan diajukannya. Ia bolak balik mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) ke kelurahan. Kemudian, ia juga bolak balik ke sekolah bertemu dengan Pak Herman juga Pak Mahmud, karyawan TU sekolah, terkait dengan persyaratan apa saja yang belum dipenuhinya.


Lalu, ia juga sibuk mengambil foto rumahnya dari berbagai sisi. Foto itu dibutuhkan untuk membuktikan bahwa ia benar anak dari keluarga tidak mampu. Ia juga sibuk memfotokopi rapotnya dari kelas X sampai kelas XII, sebagai bukti kalau ia murid berprestasi karena ia selalu menduduki ranking pertama di kelasnya.


Ia juga sibuk mengumpulkan bukti kalau ia juga siswa yang aktif di berbagai kegiatan extra kulikuler sekolah. Beruntung ia dulu memang sibuk di dua kegiatan sekolah yaitu rohis dan paskibraka. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua osis ketika duduk di kelas XI. Sungguh prestasi yang luar biasa untuk remaja laki-laki seusianya.


Saking sibuknya, ia terlupa kalau ada gadis manis yang sedang menunggunya. Gadis itu Shakila. Ia terus saja memperhatikan kesibukan Dipta di rumahnya. Dipta sudah tidak lagi sempat mengajarkannya saat ini karena deadline yang diberikan Pak Herman supaya semua sudah selesai lusa.


Dipta sebelumnya memang sudah minta maaf pada Shakila kalau ia dengan terpaksa tidak bisa memberikannya bimbingan belajar lagi menjelang ujian SBMPTN. Dipta minta maaf juga dari jauh-jauh hari kalau ia hanya bisa menemani Shakila belajar sampai UN saja. Dan sekarang UN sudah selesai jadi Dipta sudah tidak lagi mengajarkan Shakila.

__ADS_1


Kini gadis itu datang ke rumah untuk belajar persiapan SBMPTN bersama Keysha. Melihat kesibukan Dipta, Shakila jadi merasa terasing untuk Dipta. Tak ada lagi saling tatap dan tak ada lagi saling senyum. Dipta hanya menegurnya sebentar lalu pergi lagi entah kemana.


Kalau saja Shakila boleh jujur, sebenarnya ia tidak setuju kalau Dipta ingin berkuliah. Terlebih kuliahnya di luar kota. Karena sejatinya ia ingin Dipta terus bersamanya tanpa terpisah jarak. Karena ia sudah bosan menerima kenyataan bahwa semua orang yang ia sayang harus pergi terpisah dengannya oleh suatu keadaan. Seperti papah dan mamahnya juga dua kakak laki-lakinya. Ia membutuhkan sosok laki-laki yang selalu ada untuknya disaat kapanpun ia membutuhkannya.


Suatu hari Dipta pernah meminta doa pada Shakila yang saat itu sedang menunggu Keysha mengantar pesanan ke rumah saudaranya Ceu Ipit, teman ibunya. Shakila ke rumah Keysha karena mereka janjian untuk mengerjakan soal-soal SBMPTN.


"La," tegur Dipta dari pintu kamarnya.


"Iya A," sahutnya sambil mengambil posisi duduk di kursi tamu.


"Aa minta doanya ya supaya Aa bisa dapat beasiswa ini!" sahut Dipta masih dalam posisi berdiri di depan kamarnya.


"Iya A," jawab Shakila dengan senyum yang tak selebar biasanya. Seperti ada kejanggalan di sana.


"Terima kasih La. Oh iya, Keysha mungkin masih lama pulangnya. Soalnya dia baru pergi sepuluh menit yang lalu. Memang kalian janjian jam berapa?" tanya Dipta sambil menghampiri Shakila dan duduk di tempat biasa yang ia duduki, kursi yang hanya cukup untuk seorang saja.


"Jam dua sih A janjiannya. Aku yang kecepetan datangnya," sahut Shakila sambil tersenyum yang kali ini senyumnya lebih sumringah dari senyum sebelumnya.


"Iya. Kok tahu?!" sahut Shakila dengan tatapan genitnya.


"Kamu rencana mau kuliah dimana?" tanya Dipta sambil membuka toples berisi kue kering pemberian Teh Enun, janda yang Dipta sering kasih uang untuk ketiga anaknya yang masih kecil.


"Di Jakarta A sama kayak Keysha. Aku dengar Aa juga berencana ambil beasiswa di salah satu universitas negeri di sana?" tanya Shakila memancing obrolan yang sebenarnya ia juga sudah ketahui dari Keysha.


"Iya. Kamu ambil kampus yang sama dengan Aa kan? Dengan Keysha juga," tanya Dipta.


"Iya A. Tapi aku nggak berharap banyak," ucapnya menggantung.

__ADS_1


"Lho kenapa La?" tanya Dipta bingung.


"Sebenarnya aku ingin segera Aa nikahi aku selepas aku lulus SMA," ucap Shakila lirih. Tak terasa air mata jatuh dari pelupuk matanya. Sungguh keinginan itu tak terbendung lagi. Ia ingin sekali menikah dengan Dipta sesegera mungkin. Ia tak ingin Dipta melanjutkan niatnya untuk berkuliah. Ia hanya ingin Dipta selalu ada untuknya.


"Tapi La...," Dipta menggantung kalimatnya. Sebenarnya ia tak mengerti dengan jalan pikiran Shakila. Apa yang membuatnya nekat secepat itu memutuskan menikah setelah lulus SMA? Tak punya kah ia cita-cita yang harus diraih sebelum ia menikah?


"Tapi apa A?" tanya Shakila masih dalam posisi menundukan wajahnya, ia malu pada Lusiana yang baru saja pulang dari sekolah dan melihatnya menangis. Lusiana hanya bersalaman mencium tangan Shakila dan Dipta tanpa bertanya apa yang sedang terjadi pada mereka.


"Tapi saya harus kerja La supaya saya bisa menikahimu. Saat ini saya sedang berjuang meraih cita-cita saya dan itu untukmu juga, saya bahkan sudah menabung sedikit untuk bisa menikahimu," sahut Dipta meyakinkan Shakila.


"Aku tidak butuh uangmu A! Aku butuh kamu dan aku nggak ingin kita terpisah hanya karena kamu ingin mengejar cita-citamu. Paling tidak nikahi aku dulu lalu aku ikut denganmu pergi ke Jakarta," sahut Shakila yang kali ini emosinya sudah tidak tertahan lagi.


"Maaf La, saya nggak bisa menikahimu secepat ini, banyak yang harus saya pertimbangkan, tapi yakinlah kalau saya pasti melamarmu jika sudah bekerja nanti. Semoga saja kita bertiga lulus di kampus yang sama," tukas Dipta masih terus meyakini Shakila.


"Kampus yang sama? Kenapa meski kampus itu yang Aa pilih dari sekian banyak kampus yang ada di Indonesia?" pertanyaan Shakila kali ini menambah kebingungan baru bagi Dipta. Kenapa sekarang jadi membahas pilihan kampus Dipta?


"Karena Jakarta itu dekat dengan Sukabumi dan dari dulu saya memang sudah bercita-cita ingin kuliah disana," jawab Dipta jujur.


"Dan ada alasan yang lebih kuat lagi yaitu...," Shakila menggantung kalimatnya.


"Yaitu apa?" tanya Dipta makin nggak ngerti arah pembicaraan Shakila.


"Yaitu karena KIARA! Karena dia kuliah disana! Dan Aa akan menjemput cintanya disana!" Shakila meledak. Emosinya memuncak setelah menyebut nama Kiara, sepupunya yang paling cantik, yang pernah dicintai Dipta meski hanya sesaat.


Shakila berpikir apa jadinya jika ia tak lulus kuliah disana lalu Dipta bisa kembali jatuh cinta dengan Kiara. Atau banyak sekali perempuan cantik di Jakarta sana yang mungkin akan membuat Dipta melupakan dirinya. Karena Alasan itulah ia ingin Dipta menikahinya sesegera mungkin. Ia takut kalau mereka tak berjodoh karena godaan perempuan lain di dunia kampusnya Dipta nanti.


Dipta kaget juga mendengar nama Kiara disebut. Shakila masih cemburu dengannya. Padahal Dipta tak pernah tau kabar Kiara lagi. Justru ia baru tau dari Shakila kalau Kiara juga sudah berkuliah disana.

__ADS_1


Jujur saja, Dipta belum memikirkan untuk menikahi Shakila secepat ini. Masih banyak jalan yang harus ia raih sebelum menikahi gadis pujaannya itu. Dipta merasa di posisi yang membingungkan saat ini!


***


__ADS_2