
Semenjak menerima hasil kelulusan beasiswanya, Dipta semakin hari semakin sibuk. Kini ia tengah menyiapkan mentalnya untuk mengikuti tes interview selanjutnya.
Ketika sedang membaca-baca di internet tentang berbagai pertanyaan yang kemungkinan akan keluar dalam interview beasiswa, Keysha pulang dari tes SBMPTN-nya dan langsung menghadap Dipta secara serius. Dipta pun bingung dengan apa yang dilakukan Keysha saat ini. Melihat Dipta seolah melihat sesuatu yang membingungkan. Dipta pun mempertanyakan tatapan adiknya itu.
"Kenapa sih Key? Kok pulang-pulang sikapnya gitu? Kamu nggak bisa jawab soalnya tadi ya? Terus mau menyalahkan Aa!" sahut Dipta yang merasa tak enak ditatap seperti orang yang melakukan kesalahan.
"Apa yang terjadi antara Shakila dan Aa?" tanya Keysha to the point.
"Emangnya kenapa?" tanya Dipta seolah tak mengerti jawaban Keysha padahal ia tau pasti Keysha akan mempertanyakan sikap Shakila setelah mendengar kelulusan Dipta.
"Shakila hanya diam tak bergeming mendengar Aa lulus beasiswa dan dia langsung tak berselera makan padahal awalnya dia sedang lagi lahap-lahapnya. Mie ayamnya bersisa tak dihabiskan!" jelas Keysha.
"Terus?" tanya Dipta meminta penjelasan lebih pada Keysha.
"Ya sudah dia cuma diam nggak ngomong apa-apa lagi setelah itu. Di perjalanan pulang, dia juga tak bicara sama sekali. Aku tanya dia kenapa, dia cuma bilang nggak apa-apa. Jadi sebenarnya ada apa sih A?" tanya Keysha makin penasaran.
"Kalau Aa cerita ke kamu tapi kamu janji ya jangan cerita ke ibu atau Lusiana," pinta Dipta pada Keysha. Keysha pun mengangguk tanda setuju. Dipta pun mulai menceritakan kejadian sebenarnya.
"Jadi Shakila itu nggak setuju kalau Aa kuliah ke Jakarta, dia inginnya Aa tetap disini bersama dengannya dan menikahinya setelah dia lulus dari SMA ini," kata Dipta lirih. Sejujurnya ia makin bingung bagaimana menghadapi Shakila dan memberikannya pengertian untuk tetap menunggunya.
"Apa Aa nggak salah? Dia benar minta nikah secepat itu?" tanya Keysha tak percaya karena yang ia tahu, Shakila itu punya cita-cita jadi seorang perawat atau kesehatan masyarakat, nggak mungkin ia mengorbankan cita-citanya hanya demi menikah di usia muda!
"Iya Key, Aa nggak salah dengar kok! Aa juga bingung kenapa dia jadi seperti itu? Aa pikir dia sudah nggak punya cita-cita lagi jadi ingin segera menikah," sahut Dipta.
"Terus sekarang bagaimana A? Aa sudah pasti akan kuliah ke Jakarta kan?" tanya Keysha lagi. Ia ikut pusing memikirkan hubungan kakaknya dengan sahabatnya itu.
"Aa nggak bisa ikuti maunya dia, Key. Aa tetap pada niat Aa dari awal yaitu berkuliah dan kalau sudah kerja baru Aa bisa lamar dan nikahi dia," sahut Dipta dengan nada yang dibuat setegar mungkin meski hatiya berat.
"Ya sudah semoga Shakila bisa mengerti," imbuh Keysha sambil menghembuskan nafasnya yang seolah berat. Karena ia ikut memikirkan nasib hubungan mereka.
***
__ADS_1
Malamnya selepas shalat isya, Shakila mengirimkan SMS pada Dipta.
[Assalamualaikum A, terima kasih traktirannya dan selamat sudah lulus menerima beasiswa.] Dipta membaca SMS tersebut dengan nafas yang berat seolah ia akan bermasalah lagi dengan Shakila malam ini.
[Waalaikumsalam. Iya terima kasih La. Kamu sudah memberikanku semangat.] Lagi-lagi Dipta menarik nafasnya yang berat. Hatinya berdegub kencang menunggu balasan dari Shakila.
[Semoga cita-citamu tercapai A.] Balas Keysha dengan singkat.
[Aamiin. Semoga cita-citamu juga tercapai ya La.] Balas Dipta tak banyak karena ia takut menjadi salah kalau terlalu banyak menjawab SMS-nya.
[Cita-citaku yang mana?] tanya Shakila memancing obrolan yang lebih panjang. Dipta langsung merasa stuck. Kena juga dia! Pikirnya.
[Cita-citamu jadi perawat atau kesehatan masyarakat kata Keysha.] Dipta merasa terjebak dengan pertanyaan Shakila.
[Keysha nggak tau banyak tentang aku!] balasnya ketus.
[Oh maaf kalau salah] jawab Dipta serba salah jadi dia lebih baik minta maaf saja.
[In Shaa Allah kamu akan jadi istriku, La. Ku mohon tunggu aku ya?] pinta Dipta.
[Sampai kapan?] tanya Shakila.
[Sampai Aa dapat kerjaan dan bisa menafkahi kamu] jawab Dipta serius. Ia berusaha meyakinkan Shakila.
[Bagaimana kalau di tengah jalan Aa bertemu perempuan yang lebih baik dari aku? Lalu meninggalkanku dan berpaling pada yang lain?] Shakila menceritakan kekhawatirannya.
[Pegang janji saya! Saya nggak akan menduakanmu. Percayalah, tunggu saya, saya akan datang melamarmu saat saya sudah lulus dan mendapatkan kerja!] Dipta terus meyakinkan Shakila.
[Oke A. Aku akan menunggumu semampuku.] Begitulah kira-kira balasan dari Shakila. Agak sedikit melegakan untuk Dipta.
***
__ADS_1
Seminggu kemudian, Shakila memesan dua bolu pisang pada Keysha. Katanya untuk menyuguhkan cemilan buat orang tuanya yang akan datang dua hari lagi.
Hari itu pun tiba, Keysha sedang sibuk-sibuknya membuat bolu pesanan untuk nanti sore. Ada lima pesanan bolu pisang menanti dibuatnya. Kebetulan yang memesan adalah Ceu Ipit karena sore ini mau ada arisan keluarga di rumahnya. Ceu Ipit pesan tiga loyang dan yang dua loyangnya lagi keluarganya Aryo, teman SMA-nya Dipta, untuk suguhan tamu ayahnya yang akan datang berkunjung ke rumahnya sore ini.
Jadi pesanan Shakila belum sempat diantarnya karena Keysha dan Lusiana masih berjibaku menyiapkan pesanan yang lain. Akhirnya Keysha pun meminta tolong pada Dipta untuk membawa pesanan Shakila ke rumahnya.
Awalnya Dipta menolak permintaan Keysha karena ia canggung kalau harus ke rumah Shakila sendirian. Tapi Keysha terus memohon. Sampai akhirnya Dipta menyetujui permintaannya.
Keysha pun membalas SMS Shakila dan bilang secepatnya akan diantar A Dipta. Ia juga minta maaf pada Shakila tidak bisa mengantarkan pesanannya sendiri karena ia sedang sibuk menyiapkan pesanan yang akan datang.
Shakila memang sudah menanyakan pesanannya sedari tadi karena orang tuanya sudah ada di perjalanan pulang. Maksudnya pesanannya sudah tersedia sebelum orang tuanya sampai.
Dipta pun berganti celana panjang dan segera membawa dua bolu pisang pesanan Shakila. Lalu menyalakan mesin motornya. Bolu pesanannya di gantung di stang motornya dengan satu plastik berukuran besar yang memuat ukuran dua bolu pisang.
Jujur saja, hati Dipta berdegub dengan sangat cepat. Ada rasa rindu di dalam hatinya. Karena sudah hampir dua minggu semenjak Shakila memintanya menikahinya, mereka sudah tak pernah bertemu. Kali ini mereka harus bertemu oleh hal yang tak direncanakan sebelumnya.
Sesampainya di rumah Shakila, ia langsung memarkirkan motor peninggalan ayahnya itu di depan rumah Shakila. Ia pun masuk ke dalam gerbang rumahnya yang setinggi dadanya. Teras rumah Shakila lumayan luas jadi ia harus berjalan sekitar sepuluh langkah untuk mencapai pintu rumahnya. Lalu ia pun mengetuk pintu rumahnya.
"Tok... tok... tok..."
"Assalamualaikum," Dipta mengucapkan salam. Tak menunggu waktu lama, Shakila pun membuka pintu rumahnya. Ketika pintunya terbuka, alangkah kagetnya Dipta melihat Shakila yang tidak seperti biasanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya melihat Shakila saat ini. Shakila yang berbeda dari biasanya.
Laki-laki mana yang tak berdegub secepat ini jantungnya jika melihat gadis pujaannya berpakaian sangat seksi. Shakila berpakaian tidak seperti yang sering Dipta lihat, memakai kerudung dan berbaju muslimah menutup auratnya.
Kini Shakila hanya memakai rok mini yang panjangnya hanya sedikit lebih panjang dari celana dalamnya. Lalu kaos super ketat yang menonjolkan bagian atasnya dengan lengan pendek seketiak juga kerah berbentuk V dengan belahan bagian atas yang terlihat.
Laki-laki normal pasti akan surprise banget mendapatkan pemandangan gratis seperti ini. Shakila berhasil membuat Dipta terperangah. Ia juga berhasil membuatnya kikuk. Kali ini nafas Dipta mulai tak teratur. Ia sedang menata hati dan pikirannya tentang pemandangan indah yang ia lihat, yang seharusnya ia dapatkan nanti setelah menikahinya.
Apa yang harus Dipta lakukan melihat Shakila yang sangat menarik ini? Yang mampu membuat degub jantung juga tarikan nafas yang tak beraturan.
***
__ADS_1