CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Keputusan Dipta


__ADS_3

Di malam yang sunyi, sesunyi hati Dipta saat ini, hanya suara-suara jangkrik yang begitu ramai menghiasi suasana malam ini. Dipta terbangun dari tidurnya, tepat pukul 02.00 WIB pagi dini hari, Dipta segera mengambil wudhu ke kamar mandi, malam ini adalah malam ke tujuh ia melaksanakan solat istikhoroh untuk mendapatkan petunjuk tentang pilihan yang harus diambilnya saat ini. Ambil beasiswa atau lepaskan demi menikahi Shakila.


Dari hari ke hari, malam ke malam, Dipta semakin yakin dengan apa yang akan dipilihnya. Semakin luas petunjuk yang diberikan Allah untuknya dan semakin mantap pula ia memilih pilihannya itu, juga tak ada keraguan lagi di dalamnya.


Di dalam solat istikhorohnya yang ke tujuh ini, ia pun mulai bisa mengambil keputusan. Pagi menjelang siang, ia kembali menemui Ustadz Irfan, ia ingin membicarakan kembali keputusan yang telah diambilnya kepada guru kepercayaannya tersebut.


Dipta menemui Ustadz Irfan di rumahnya.


"Bagaimana Dipta?" tanya Ustadz Irfan membuka percakapan. Sejatinya ia sangat tahu apa yang hendak dibicarakan Dipta padanya.


"In Shaa Allah saya sudah yakin atas pilihan saya, Ustadz. Tak ada keraguan lagi di dalamnya," jawab Dipta dengan tatapan mata yang tegas setegas perasaannya saat ini.


"Baiklah kalau kamu sudah merasa yakin. Kini saatnya kamu temui Shakila juga orang tuanya, katakanlah pada mereka tentang pilihanmu. Semoga mereka menerima hasil keputusanmu," ujar Ustadz Irfan memberi keyakinan dan membangun kepercayaan diri Dipta.


Dipta pun mengangguk menyetujui saran Ustadz Irfan. Ia segera mengambil HP-nya dan menghubungi Shakila lewat telepon. Tak butuh waktu lama, Shakila mengangkat telepon dari Dipta. Ketika terdengar suara perempuan di balik telepon, Ustadz Irfan menepuk bahu Dipta untuk memberikan kekuatannya lagi.


"Hallo... Assalamualaikum A Dipta."


"Waalaikumasalam. Shakila, saya mau datang ke rumah kamu ingin bertemu dengan orang tuamu juga, bisa?" tanya Dipta penuh kepercayaan diri.


"Kapan A?" tanya Shakila dengan hati yang masih dirundung kebingungan. Ia sedang menerka-nerka kira-kira apa yang akan Dipta bicarakan pada orang tuanya.


"Kira-kira orang tuamu ada rencana pulang ke sukabumi nggak besok Minggu?" tanya Dipta yang menyadari bahwa orang tuanya Shakila belum tentu sedang berada di rumahnya di Sukabumi.


"Sabtu siang ini, papah dan mamahku sampai di rumah," sahut Shakila.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, sampaikan pada orang tuamu kalau saya mau datang sore ini bisa nggak?" tanya Dipta lagi.


"Oke A nanti aku hubungi orang tuaku dulu. Kalau aku sudah dapat kabar, aku akan hubungi Aa lagi," jawab Shakila. Tapi tak berapa lama, Shakila melanjutkan pembicaraannya kembali.


"Kalau boleh tau, apa yang mau Aa bicarakan pada orang tuaku?" tanya Shakila penasaran. Ia sedang merasa nasib cintanya sedang dipertaruhkan oleh pilihan Dipta. Hanya ada dua pilihannya, merelakan Dipta pergi berkuliah di ibukota atau justru sebaliknya, Dipta memilih menikahinya dan tidak mengambil beasiswa tersebut.


"Kamu akan tahu nanti La saat aku sudah bertemu dengan orang tuamu," ujar Dipta yang kali ini agak lesu. Karena terbersit di hatinya tak tega dengan Shakila, ia tak tahu pilihannya nanti akan membuat Shakila senang atau sebaliknya.


"Oh gitu," jawab Shakila yang nada suaranya berubah menjadi tidak bersemangat.


"Apapun pilihanku nanti, kamu harus tetap yakin kalau aku sayang kamu, La!" Dipta mencoba meyakinkan Shakila bahwa rasa cintanya tak luntur sedikitpun meski akhir-akhir ini hubungan mereka tidak sedang baik-baik saja setelah kejadian itu.


"Aku pun begitu sayang A Dipta," sahut Shakila yang nada suaranya tidak berubah sedikitpun. Masih ada keraguan di hatinya kalau pilihan Dipta nanti bukanlah yang diinginkannya.


Melihat Dipta meneteskan air matanya, Ustadz Irfan ikut merasa pilu karena merasakan apa yang dirasakan Dipta. Ia tak menyangka selembut itu hati Dipta, seorang anak laki-laki yang telah yatim saat ia masih SMA. Anak laki-laki soleh yang belum pernah ia temui sebelumnya. Betapa beruntungnya Shakila bisa mendapatkan cintanya yang tulus.


Seketika sekelebat bayangan Shakila hadir lagi dalam ingatan Ustadz Irfan. Ia yakin yang dilihatnya di lapang merdeka saat itu benar Shakila. Dan lagi-lagi ia pun ingat laki-laki tempat Shakila bermanja itu bukan Dipta yang saat ini sedang menangisi nasib cintanya.


Melihat kesedihan Dipta, Ustadz Irfan merasa tak perlu memberitahukan perihal ini. Karena ini akan memperumit masalah Dipta dan Shakila. Semoga pilihan Dipta nanti tak salah karena sampai saat ini Ustadz Irfan juga tidak tahu apa hasil dari solat istikhoroh yang dilakukan Dipta. Ia pun juga tak ingin bertanya jika Dipta tak beri tahu.


***


Sore itu sesuai janjinya, Dipta ingin bertemu dengan orang tua Shakila dan mereka pun mempersilahkan Dipta untuk datang berkunjung dan membicarakan maksud kedatangannya.


Dipta datang tepat pada waktunya yaitu ba'da ashar. Orang tua Shakila sudah menunggunya di ruang tamu, begitupun Shakila sudah bersiap-siap menyambut kedatangan kekasih hatinya.

__ADS_1


Kali ini pakaian Shakila kembali memakai kerudung dan baju muslimah seperti biasa Dipta bertemu dengannya. Ia terlihat sangat manis dengan kerudung ungu dan gamis bernuansa ungu dan pink. Tak lupa ia membubuhkan lipgloss pada bibirnya.


Dipta pun mengucapkan salam dari depan pintu rumah Shakila, tak lama Shakila membuka pintu dan menyambut kedatangannya. Melihat Shakila yang manis jelita dengan balutan baju muslimah juga kerudung di kepalanya membuat Dipta jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada perempuan manis itu. Dipta pun senyum pada Shakila yang saat itu juga tersenyum padanya.


Tampilan Dipta kali ini juga lebih rapih, ia memakai celana jeans hitam dan kemeja abu-abu. Tampak casual penampilannya. Shakila pun tak kalah terpesonanya dengan tampilan Dipta.


Shakila pun mempersilahkan Dipta masuk. Sesampainya di dalam, Dipta langsung menyalami orang tua Shakila yang sudah duduk di kursi tamunya. Mereka pun mempersilahkan Dipta duduk. Papahnya Shakila langsung membuka percakapan mereka pada inti pertemuan.


"Baiklah. Dipta, saya dengar dari Shakila kalau kamu ingin bicara pada kami tentang hubungan kalian," tukas Pak Bili.


"Iya Pak, betul. Saya sudah solat istikhoroh untuk menentukan pilihan saya. In Shaa Allah saya sudah yakin dengan pilihan yang akan saya pilih." Dipta memupuk kepercayaan dirinya.


"Jadi bagaimana? Kamu terima tawaran saya?" tanya Pak Bili penasaran.


"Dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada Bapak dan Ibu, juga tidak mengurangi rasa sayang saya pada Shakila, saya mohon maaf, saya tidak bisa meneriwa tawaran Bapak. Saya harus berkuliah. Mohon maaf sekali lagi, terutama pada Shakila. Tapi ada yang perlu Shakila ketahui, sayang saya padanya tak akan pernah berubah, saya harap Shakila bisa menunggu saya lulus dan kerja. Tapi jika ditengah jalan, Shakila merasa tak sanggup menunggu saya, maka semua pilihan ada ditangan Shakila. Saya tak akan memaksakan kehendak Shakila jika ingin lepas dari saya." Dipta mengemukakan inti kedatangannya dengan cukup jelas. Ditatapnya wajah Shakila dalam-dalam, ia harus menerima kenyataan pahit ini. Shakila tak kuasa menahan tangis, ia pun pergi begitu saja meninggalkan Dipta juga orang tuanya di ruang tamu, ia pergi ke kamarnya dan menutup pintu. Melihat putri kesayangannya menangis karena terluka, Bu Sinta segera menghampiri Shakila ke kamarnya.


"Kamu sudah lihat sendiri kan bagaimana kondisi Shakila mendengar pilihanmu yang tak diharapkannya? Dia begitu mencintaimu, sampai-sampai tak ada keinginannya mengejar cita-citanya lagi menjadi tenaga kesehatan, ia hanya bercita-cita jadi istrimu. Tapi apa daya kamu telah memilih. Doakan saja Shakila akan baik-baik saja tanpamu." Pak Bili berusaha tegar menerima pilihan Dipta. Tapi tak berapa lama Bu Sinta keluar dan ikut berbicara pada Dipta.


"Dipta, maafkan Shakila, dia tak terbiasa mengalami penolakan seperti ini tapi dia berharap bisa menunggumu sampai kamu lulus dan mempunyai pekerjaan," sahut Bu Sinta menyampaikan isi hati Shakila.


"Baiklah. Ibu, Bapak juga Shakila bisa pegang janji saya. Saya akan kembali pada Shakila jika saya sudah lulus dan bekerja. Saya tidak akan mengkhianati cintanya," janji Dipta dengan penuh kepercayaan dirinya.


Akankah semua berjalan baik-baik saja? Apakah Dipta benar-benar bisa menunaikan janjinya? Apakah Shakila sanggup menantinya?


***

__ADS_1


__ADS_2