CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Dipta Lulus SMA


__ADS_3

Tepat di seratus hari meninggalnya ayah Dipta, Dipta lulus dari sekolahnya. Selama wisuda siswa siswi sekolahnya berlangsung, tak henti-hentinya Dipta dan ibunya menangis tapi tangisannya hanya di dalam hati. Sesak nafasnya terdengar sesaat setelah melihat teman-temannya yang lain datang bersama ayah dan ibunya. Lagi-lagi tangisan mereka tetap tertanam dalam hati.


Keramaian orang membuat mereka tak leluasa meluapkan tangisannya. Ketika yang lain sedang bersuka cita dalam merayakan kelulusannya. Itu berbanding terbalik dengan Dipta. Ia justru tengah bersedih.


Bukan berarti ia tak senang kalau ia lulus hanya saja ia dan ibunya teringat janji ayahnya dulu pada Dipta ketika ayahnya masih hidup.


"Aa sekolah yang benar ya! Kamu anak laki ayah satu-satunya," ucap ayahnya Dipta sambil mengelus rambut anaknya yang lurus.


"Iya Ayah," angguk Dipta.


"Memangnya cita-cita Aa jadi apa?" tanya ayahnya.


"Maunya sih jadi akuntan Yah," sahut Dipta.


"Terus kalau mau jadi akuntan nanti ambil jurusan apa A? Maaf ya Ayah nggak ngerti yang kayak begituan. Ayah kan sekolahnya nggak tinggi."


"Ambil jurusan akutansi Yah."


"Oh kalau ambil jurusan akutansi adanya di kampus mana A?" tanya ayahnya lagi.


"Dipta mau ambil kuliah di Bandung atau Jakarta saja Yah. Kan nggak jauh dari Sukabumi."


"Oh begitu ya. Ya sudah doakan Ayah ya supaya panjang umur dan bisa membiayai kamu dan adik-adikmu sampai sarjana," sahut ayahnya.


"Sipp Ayah."


"Aamiin." Ibu pun ikut mengamini.


Terlintas kembali percakapan ayahnya saat itu. Masih teringat jelas senyum semangat ayahnya yang sangat ingin anak-anaknya sekolah tinggi sampai jadi sarjana.


Tapi kini janji hanyalah janji. Ayahnya sudah tiada. Ibunya juga hanya membuka warung seblak kecil-kecilan yang kini membuka warung sembako juga. Penghasilan ibunya hanya cukup untuk membiayai sekolah Dipta dan adik-adiknya juga untuk kebutuhan sehari-hari.

__ADS_1


Dipta tidak menyesali kepergian ayahnya yang begitu cepat dan tiba-tiba karena ia yakin Allah lebih sayang pada ayahnya. Dan Allah pasti akan terus memberikan yang terbaik pada hambanya meski tanpa diminta. Selama hambanya masih beriman padanya.


Menghadiri acara wisuda itu terasa lama sekali untuk Dipta dan ibunya. Karena raga mereka ada disana tapi tidak dengan jiwa, hati, dan pikirannya.


Semua pikirannya masih teringat dengan ayahnya. Melihat raut wajah mereka yang lesu dan tak bersemangat, Pak Herman menghampiri Dipta dan ibunya.


Pak Herman sepertinya tau apa yang sedang dipikirkan oleh Dipta dan ibunya.


"Assalamualaikum Dipta."


"Waalaikumsalam. Eh Pak Herman," sahut Dipta sambil menyalami tangan Pak Herman.


Ibunya pun menoleh ke arah Pak Herman dan berdiri ikut menyalaminya.


"Gimana kabarnya Bu?"


"Alhamdulillah baik Pak."


"Selamat ya Bu. Dipta mendapatkan nilai UN tertinggi di angkatannya."


"Rencananya Dipta mau ambil kuliah dimana Bu? Soalnya ada undangan dari universitas negeri di Jakarta untuk Dipta. Karena nilai rapot Dipta kurvanya selalu naik dari kelas X sampai kelas XII. Kemudian nilai UN Dipta juga tinggi," jelas Pak Herman.


Dipta dan ibunya hanya saling melirik satu sama lain dan terdiam juga tidak memberikan respon apa-apa. Melihat itu Pak Herman mengajak Dipta dan ibunya keluar aula lalu pergi ke tempat yang tidak terlalu bising karena suara musik paduan suara sangat menggema di seluruh ruang aula.


"Kita duduk disini saja dulu ya? Karena ada yang hendak saya bicarakan," pinta Pak Herman. Ada sedikit kepedulian Pak Herman terhadap Dipta karena beliau tau masalah Dipta ragu hendak berkuliah atau tidak pasti karena uang mengingat ayahnya sang tulang punggung keluarga telah tiada.


"Baik Pak," sahut ibunya Dipta sambil duduk di kursi yang terletak di pinggir taman aula sekolah. Dipta pun ikut duduk di tengah-tengah Pak Herman dan ibunya.


"Dipta dan Ibu. Sekiranya saya lancang, saya minta maaf tapi ada hal yang harus saya tanyakan? Kira-kira apa yang membuat Dipta berat untuk mengambil jalur undangan?" tanya Pak Herman hati-hati.


"Ehm... Bapak sendiri pun tau kalau ayahnya Dipta sudah meninggal. Jadi saya rasa Bapak pasti mengerti keberatan kami ada dimana," sahut ibunya Dipta menahan perih di hatinya.

__ADS_1


"Di keuangan ya Bu?" tanya Pak Herman memastikan.


"Iya Pak. Karena Dipta juga punya dua adik yang masih sekolah. Jujur sebenarnya saya ingin sekali mengkuliahkan anak laki-laki saya yang cerdas ini. Tapi saya khawatir tidak bisa membiayainya," jelas ibunya Dipta.


Dipta pun melanjutkan cerita ibunya.


"Sebenarnya Ibu sudah meminta saya untuk menerima jalur undangan itu Pak. Karena uang Ayah masih ada dua puluh juta lagi. Ibu ingin memakai uang itu untuk kuliah saya. Tapi saya nggak bisa terima Pak. Kasihan adik-adik saya, saya khawatir mereka jadi tidak melanjutkan sekolah gara-gara uangnya dipakai untuk saya berkuliah." Dipta menambahkan.


"Baiklah kalau memang itu masalahnya. Jika Dipta dan Ibu tidak keberatan. Saya mau izin kepada Ibu untuk membantu Dipta membayar setengah uang semesternya. Bagaimana?" tawar Pak Herman.


Mendengar ketulusan Pak Herman ingin membantu Dipta membuat Dipta dan ibunya menjadi terharu. Ternyata masih ada orang baik di dunia ini. Mereka sampai tak bisa berkata apa-apa mendengar niat baik Pak Herman.


Meski sejujurnya kalaupun Pak Herman membantu setengahnya, mereka pun tak akan mampu membayar setengahnya. Ketambah lagi kampusnya berada di Jakarta.


Secara otomatis Dipta harus ngekos disana. Belum lagi ongkos untuk kehidupan Dipta sehari-hari. Banyak yang bilang ibukota itu memang kejam. Meski begitu, banyak yang berhasil menjadi perantau disana tapi tak sedikit pula yang gagal dan luntang-lantung di jalanan ibukota.


"Bagaimana Dipta atau Ibu? Mau terima bantuan saya?" pertanyaan Pak Herman membuyarkan lamunan Dipta tentang ibukota.


"Kalau saya bagaimana Dipta aja Pak," sahut ibunya menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Dipta. Dipta pun melihat ibunya lirih. Lalu berkata.


"Sebelumnya terima kasih Pak sudah berniat baik terhadap saya. Bukannya saya tidak menghormati Bapak tapi sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran Bapak."


"Kenapa Dipta? Kamu anak cerdas! Sayang kalau kamu tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi." Pak Herman menanyakan alasannya lagi.


"Saya ingin kerja saja, Pak! Cari tambahan uang untuk Ibu dan adik-adik saya. Kalau ada uang lebih nanti saya akan lanjutkan ke jenjang perkuliahan dengan mengikuti kelas karyawan," tekad Dipta bulat.


"Kamu yakin?" tanya Pak Herman lagi.


"In Shaa Allah yakin Pak!"


"Ya sudah. Saya doakan kedepannya kamu akan jadi orang yang sukses!" Ucap Pak Herman sambil menepuk-nepuk bahu Dipta.

__ADS_1


"Terima kasih Pak doanya."


***


__ADS_2