
Mendengar curahan hati Keysha yang ingin berkuliah membuat Dipta kembali merenungi nasib dirinya. Sudah hampir setahun lulus, ia masih belum bisa bekerja dimanapun. Bukan tidak mau tapi pekerjaan yang ia lamar tak ada yang menerimanya.
Pernah suatu kali ia melamar sebagai buruh pabrik karena tempat dimana ia tinggal dikelilingi oleh pabrik-pabrik besar seperti pabrik sepatu, pabrik kaos kaki, pabrik kerupuk, pabrik semen, dan masih banyak lagi pabrik-pabrik di daerah tempat tinggalnya.
Ketika melamar kerja di pabrik Dipta tak menyangka kalau ia harus memberikan sejumlah uang yang tidak sedikit untuknya sebagai syarat supaya ia bisa mendapatkan pekerjaan itu.
Karena saat itu ia tidak sedang pegang uang jadi ia mengurungkan niatnya untuk melanjutkan bekerja di pabrik tersebut.
Pada dasarnya bisa saja ia minta uang sama ibunya karena tabungan sisa santunan kematian ayahnya masih ada. Tapi ia malu memintanya. Ia juga tak tega kalau masih harus meminta-minta pada ibu. Kandaslah pekerjaan itu dengan sendirinya.
Sebenarnya sebelum ia membuka bimbingan belajar, ia juga pernah melamar menjadi karyawan di salah satu toserba terbesar di Kota Sukabumi. Tapi lagi-lagi, ia tidak diterima entah karena alasan apa. Ia juga tidak tau.
Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menjaga warung ibunya saja, mengingat ibunya tidak ada yang membantu karena Keysha dan Lusiana sibuk sekolah. Dari situlah beberapa tetangga yang melihat Dipta tak kunjung bekerja dan tau bahwa ia anak yang cerdas maka mulailah datang beberapa dari mereka meminta Dipta untuk membantu membimbing anak-anaknya dalam belajar.
Awalnya Dipta memang sering kedatangan anak tetangga yang minta tolong dibantu mengerjakan PR tapi hanya sebatas itu saja, tidak sampai membimbingnya betul-betul.
Akhirnya dia pun membuka bimbingan belajar, berawal dari niat hanya ingin membantu anak-anak tetangganya yang kesulitan dalam belajar oleh karena itu ia tidak memungut bayaran.
Meskipun begitu tetangga-tetangganya juga sadar diri dan berinisiatif memberi sedikit uang untuk Dipta setiap bulan sebagai tanda terima kasihnya. Tak banyak memang tapi lumayanlah untuk Dipta bisa menabung.
Tetangga-tetangganya juga bervariasi dalam memberikan uang tanda terima kasih untuk Dipta. Ada yang memberikan lima puluh ribu, ada juga yang seratus ribu, atau dua ratus ribu setiap bulannya. Ada juga yang hanya bisa memberikan beras setiap mereka habis panen. Tapi ada juga yang memberikan lima ratus ribu setiap bulannya. Dan yang memberikan Dipta uang bayaran paling besar itu Bu Sinta, mamahnya Shakila.
Awalnya Dipta sudah menolak amplop yang diserahkan Shakila di akhir bulan. Tapi Shakila memaksanya dan menyimpan amplopnya di kantong baju koko Dipta. Ia pun bergegas pergi naik motor bersama Kang Cecep, mamangnya.
Dan itu terus terjadi setiap akhir bulan. Selalu ada drama dimana Dipta menolak pembayaran dari Shakila, gadis manis pujaan hatinya. Tapi Shakila selalu berhasil memaksa Dipta menerimanya.
Uang-uang hasil dari bimbingan belajar tak pernah sekalipun Dipta pakai bahkan untuk keperluan pribadinya. Ia menyimpan uang hasil jerih payahnya itu di bank.
__ADS_1
Waktu itu, di bulan pertama ia mendapatkan bayaran dari anak-anak bimbingan belajarnya, ia berniat memberikan semua ke ibunya tapi ibunya menolak. Ibunya bilang "simpan saja untukmu A. Suatu saat kamu butuh tinggal kamu ambil uangmu itu." Tapi Dipta terus memaksa ibunya untuk menerimanya namun lagi-lagi ibunya menolak pemberiannya, sambil berkata, "ibu sudah punya warung A, alhamdulillah kebutuhan kita bisa tercukupi dari hasil penjualan di warung." Akhirnya Dipta mengalah. Ia pun menyimpan uang hasil jerih payahnya itu ke bank.
Kini setahun sudah Dipta menyimpan uang hasil mengajarnya di bank. Ia membuka buku rekening miliknya. Disana tercatat jumlah saldo sebesar delapan belas juta rupiah. Jumlah yang besar tentunya. Karena dari awal ia menabung tak pernah sekalipun ia menariknya lewat ATM.
Pendapatnya tiap bulan bisa mencapai satu juta lima ratus ribu rupiah. Maka tak heran saat ini ia bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.
Saat ini Dipta sedang memutar otaknya supaya bisa mengumpulkan banyak uang untuk kuliah Keysha nanti. Tapi ia sedang galau. Dia ingin mencari pekerjaan lagi atau terus bertahan dengan bimbingan belajarnya saja? ia pun menemui Keysha untuk dimintai pendapatnya.
"Key, lagi apa?" tanya Dipta di pintu dapur. Keysha yang lagi masak tiba-tiba terhenti karena kaget melihat Dipta yang hanya kelihatan kepalanya saja.
"Aduh Aa! Kalau nongol tuh seluruh badan atuh! Jangan cuma kepalanya doang. Keysha takut tau!" Semprot Keysha pada kakak semata wayangnya itu.
"Hehe... Iya maaf," kata Dipta sambil nyengir-nyengir kuda.
"Ada apa sih A?" tanya Keysha sambil melanjutkan pekerjaannya lagi yang sebentar lagi mau selesai.
"Saran dong? Aa perlu cari kerja lagi nggak?" tanya Dipta yang kini posisi badannya sudah utuh berada di dapur.
"Untuk tabungan kamu kuliah," jawab Dipta dengan semangat. Sebaliknya, Keysha malah menjadi diam seketika. Ia tak menyangka kalau kakaknya benar-benar ingin mengusahakannya untuk kuliah nantinya sedangkan kakaknya sendiripun tidak berkuliah. Wajah Keysha seketika lesu. Ia menahan haru tangis air matanya. Dalam hatinya ia bersyukur memiliki kakak seperti Dipta.
"Key, kok malah diam sih?" tanya Dipta sambil menyikut lengan Keysha.
"Nggak usah pikirin aku deh A. Aa mah sekarang nabung aja untuk kuliah Aa," jawab Keysha mengikhlaskan cita-citanya berkuliah demi kakaknya. Mendengar jawaban Keysha, Dipta semakin bingung dibuatnya, ia merasa telah salah menjawab seperti itu pada Keysha.
"Lho kok kamu gitu Key? Aa kan pengin liat kamu kuliah," sahut Dipta lembut.
"Tapi masa aku kuliah sedangkan Aa enggak. Aku nggak mau begitu A. Mana tega aku membiarkan tabungan Aa terpakai hanya untuk biaya kuliahku sedangkan Aa sendiri tak pernah memakainya sekalipun," jelas Keysha panjang lebar. Ia pun mengatakan itu sambil menahan tangis.
__ADS_1
"Lha terus mau kamu gimana?" tanya Dipta ingin tau sebenarnya apa yang diinginkan Keysha.
"Maunya aku kalau aku kuliah, Aa juga. Kalau Aa enggak kuliah ya sudah aku juga enggak," jawab Keysha yang pada akhirnya menangis juga karena sudah tak bisa menahannya. Melihat adiknya menangis, hati Dipta ikut menangis. Ia tak menyangka ternyata adiknya memikirkan nasibnya juga.
"Ya sudah nanti Aa pikirkan lagi. Sekarang tolong jawab dulu pertanyaan Aa di awal tadi. Baiknya Aa cari pekerjaan lagi atau enggak?" tanya Dipta lagi.
"Sebaiknya nggak usah dulu A soalnya Aa kan nemenin ibu di rumah jadi ibu bisa ada yang bantuin jaga warung, terus anak-anak bimbel Aa kan juga udah banyak. Kalau Aa kerja khawatirnya mereka terlantar A. Kalau Aa kerjanya yang nggak full time mungkin bisa tapi kan kalau jadi karyawan pasti pulangnya sore. Otomatis Aa nggak akan punya waktu lagi untuk ngajar bimbel." Saran Keysha yang sepertinya matang betul pemikirannya. Karena ia memang anak yang dewasa.
"Iya juga sih." Dipta mengangguk-angguk pertanda setuju dengan saran Keysha.
"Kecuali Aa mau jadi tukang ojeg," tukas Keysha sambil mematikan kompornya.
"Tukang ojeg?!" Dipta bingung.
"Iya emang kenapa?" tanya Keysha.
"Ya nggak kenapa-kenapa juga sih. Cuma motor peninggalan ayah kan udah butut Key. Mana ada yang mau naik ojeg yang motornya butut begini!" Dipta merasa heran.
"Ada kok yang mau!" sahut Keysha yakin.
"Siapa?"
"Shakila. Ia pasti mau banget ngojeg sama Aa. Haha..." Canda Keysha meledek Dipta supaya suasana yang awalnya sedih menjadi senang lagi.
"Kalau Shakila mah jangan ditanya. Dia sudah cinta mati sama Aa jadi mau naik motor butut juga senang aja. Haha..."
Mereka pun terlupa dengan kisah sedih yang mereka alami. Belum bisa berkuliah bukan berarti harus kehilangan senyum dan tawa. Mereka sudah terlalu terbiasa hidup susah. Tapi semua itu tak membuatnya berhenti bersyukur.
__ADS_1
Tempaan hidup sudah membentuk mereka menjadi pribadi yang kuat dan tidak cengeng. Semoga ada jalan bagi mereka untuk menggapai cita-citanya setinggi langit.
***