
Setelah melalui serangkaian tes dan harus menerima kenyataan ia tak lulus dalam pembuatan SIM A, kini Dipta datang lagi mencoba peruntungan kembali.
Ini merupakan kedatangannya yang ketiga kalinya setelah tes pertama dan kedua gagal. Kali ini ia lebih yakin karena sudah belajar dari kesalahan-kesalahan yang terjadi pada tes pertama dan kedua.
Pagi-pagi sekitar pukul 08.00, ia sudah datang ke kantor Satuan Penyelenggaraan Administrasi. Ia juga sudah mempersiapkan persyaratannya seperti fotokopi KTP dan surat keterangan sehat jasmani dan rohani yang sebelumnya ia minta dari puskesmas setempat.
Ia pun mengambil formulir dan mengisinya, karena ia sudah dua kali tidak lulus jadi ia tidak dikenakan biaya lagi dalam pengambilan formulir kemudian sekitar satu jam setelahnya ia pun dipanggil untuk mengikuti ujian teori. Ia pun dihadapi dengan sebuah komputer yang di layarnya sudah tertera pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan macam-macam lalu lintas di jalan raya.
Sekitar waktu satu jam, ia pun selesai. Kini ia sedang menunggu hasil ujian teori dengan rasa was-was. Beruntung ia akhirnya lulus ujian teori. Setelah itu ia mengikuti ujian praktek, ia pun menggunakan mobil yang sudah disediakan sebelumnya oleh petugas.
Ujian praktik meliputi tes tanjakan dan turunan, maju mundur, dan lain-lain. Tak menunggu waktu lama ia pun menerima hasil ujian. Alhamdulillah ia lulus. Kini ia sedang menunggu panggilan ke loket untuk melengkapi data seperti tanda tangan, sidik jari dan foto.
Sekitar satu jam kemudian, ia pun selesai melaksanakan serangkaian kelengkapan pembuatan SIM. Kini ia sedang menunggu namanya dipanggil dan mengambil SIM A miliknya.
Ketika sedang menunggu, Dipta sepertinya mulai bosan. Ia juga sangat haus dan lapar karena dari pagi belum minum ataupun makan. Ditahannya rasa haus dan laparnya itu demi menunggu SIM-nya jadi.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk disebelahnya dan memberikannya air botol mineral. "Minum dulu Dip," tegur si bapak tersebut. Dipta pun menoleh ke sebelah kirinya. Ternyata orang yang kini duduk disebelahnya adalah Pak Herman. Wali kelasnya saat ia duduk di bangku kelas XII dulu.
"Bapak! Ya Allah Pak Herman. Sehat Pak?" Dipta sangat terkejut bisa bertemu dengan Pak Herman disini. Bahkan ia sampai memeluk Pak Herman secara spontan.
"Alhamdulillah sehat Dip," Pak Herman juga membalas pelukan Dipta. "Kamu bikin SIM apa disini?" tanya Pak Herman lagi.
"Bikin SIM A Pak, soalnya saya butuh untuk jadi supir," jawab Dipta polos. Pak Herman pun mengeryitkan dahinya lalu bertanya, "Kamu mau jadi supir apa?"
"Supir pribadi ustadz saya Pak,"
"Memangnya selama ini kamu sibuk apa Dip?" tanya Pak Herman lagi karena masih penasaran.
"Saya bantu ibu jaga warung Pak sambil buka bimbingan belajar kecil-kecilan," sahut Dipta.
"Oh ya?! Hebat kamu bisa punya bimbingan belajar. Saya saja yang sudah jadi guru dua puluh tahun belum pernah punya bimbingan belajar. Haha," sahut Pak Herman sambil tertawa.
"Nggak besar kok Pak, lagian cuma anak-anak tetangga saja yang jadi muridnya," ucap Dipta sambil tersenyum.
"Lha terus sekarang kerjaanmu juga mau bertambah berarti ya? Jadi supir ustadzmu,"
"Iya Pak,"
__ADS_1
"Semoga hidupmu makin berkah ya Dip," doa Pak Herman tulus untuk Dipta.
"Terima kasih doanya Pak. Semoga Pak Herman senantiasa diberi kesehatan oleh Allah. Aamiin," Dipta pun berdoa untuk gurunya.
"Aamiin. Oh ya Dip, kamu masih berminat untuk kuliah nggak? Soalnya tahun ini SMA kita mulai dapat kuota beasiswa dari beberapa universitas negeri di Indonesia," ujar Pak Herman.
Dipta merasa beberapa hari ini seperti pucuk dicinta ulam pun tiba. Ia sedang berharap bisa menambahkan uang tabungannya untuk kuliah. Tak disangka Ustadz Irfan datang menawarkan pekerjaan padanya sebagai supir pribadinya terutama kalau ia mau pergi ceramah keluar kota. Kemudian hari ini tak disangka bertemu Pak Herman dan memberi informasi tentang beasiswa. Sungguh pertolongan Allah itu nyata bagi setiap hambanya yang beriman.
"Masih Pak, saya masih sangat ingin kuliah. Maka dari itu saat ini saya sedang berusaha supaya bisa terkumpul banyak uang untuk kuliah Pak," ujar Dipta semangat.
"Ya sudah semoga nanti ada informasi lagi ya Dip, biasanya sih enam bulan sebelum dibukanya pendaftaran kampus sudah ada informasi dan kalau sudah ada pasti akan saya hubungi kamu. Saya minta nomor HP kamu ya?" pinta Pak Herman sambil mengambil HP di sakunya. Dipta pun dengan segera memberikan nomor HP-nya, kemudian Pak Herman menelpon Dipta.
"Save ya nomor Bapak," katanya.
"Iya Pak," sahut Dipta.
Semoga ada jalan untuknya berkuliah, syukur-syukur bisa mendapatkan beasiswa jadi secara otomatis pengeluarannya tidak terlalu banyak.
***
Dipta sudah memiliki SIM A dan hal itu sudah disampaikannya pada Ustadz Irfan. Beliau pun meminta Dipta untuk mencoba membawa mobilnya ke kota sekalian mengantarnya ke salah satu toserba yang ada di tengah kota. Barulah kemudian esok lusa sebelum subuh, ia ditugaskan mengantarnya ke daerah Bogor. Karena beliau ada panggilan mengisi ceramah di kota hujan tersebut.
Sesampainya di rumah Ustadz Irfan, ia disambut baik oleh Ustadzah Mila, istrinya, juga Alya anak bungsunya. Ustadz Irfan masih berada di kamarnya sedang berganti baju.
Kini mereka hanya tinggal di rumah bertiga saja meski sebenarnya Ustadz Irfan memiliki empat orang anak.
Itu dikarenakan anaknya yang pertama, Aisya, sudah menikah sekitar enam bulan yang lalu dan dibawa suaminya ke Jakarta. Karena suaminya bekerja disana.
Kemudian yang kedua laki-laki, namanya Fajri, usianya dua tahun diatas Dipta. Kini, Fajri sedang berkuliah di salah satu universitas negeri di Jogyakarta.
Lalu yang ketiga Miya, ia masih SMA kelas 1. Tapi sejak lulus SD, sudah masuk ke pesantren di salah satu daerah di Jawa Timur. Ia juga jarang pulang. Pulangnya hanya libur lebaran dan libur semester saja.
Nah, tinggal si bungsu Alya yang masih kelas 6 SD. Jarak Alya dan Miya sangat jauh, itu dikarenakan Ustadzah Mila merasa sudah tidak mungkin lagi memiliki anak karena usianya sudah kepala empat saat itu. Tapi ternyata Allah berkata lain. Allah memberikan rejeki berupa anak di usia yang tidak lagi muda.
Ustadz Irfan pun selesai berganti baju, lalu ia mengajak istri dan anaknya untuk segera masuk ke dalam mobil. Tak lupa ia pun memberikan kunci mobilnya kepada Dipta.
Dipta pun membuka mobil dan mengambil posisi dibangku kemudi. Diikuti Ustadz Irfan yang duduk disebelah Dipta. Lalu Ustadzah Mila dan Alya duduk di bangku tengah.
__ADS_1
Mereka pun segera pergi menuju ke pusat kota. Kota Sukabumi masih bersahabat dengan yang namanya kemacetan. Hanya di jam-jam tertentu saja itupun bukanlah macet yang susah terurai. Melainkan hanya padat merayap.
Kota Sukabumi masih sejuk meskipun mataharinya menyengat tetapi anginnya semilir membawa kesejukan. Masyarakatnya pun ramah, sebagian dari mereka tidak sungkan untuk tersenyum bahkan bersalaman meskipun terhadap orang yang tidak dikenalnya.
Jalanan pusat kota memang sedang lengang karena para pekerja belum pulang dari tempatnya bekerja.
Sekitar 20 menit kemudian, mereka pun sampai di salah satu toserba terbesar di Kota Sukabumi. Dipta diminta mengiringi Ustadz Irfan dan keluarga masuk ke dalam toserba tersebut. Meski awalnya Dipta menolak untuk ikut tapi Ustadz Irfan memaksanya dengan alasan ia butuh bantuannya nanti.
Dipta kira Ustadz Irfan ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari seperti beras, telor, sabun, sampo atau keperluan dapur lainnya tapi ternyata tidak. Karena mereka ternyata lebih sering belanja kebutuhan sehari-hari di warung tetangga. Kecuali jika yang dicari itu tidak ada di warung tetangga, barulah ia membeli di toserba atau mini market terdekat.
Ternyata mereka memang tidak ingin belanja melainkan hanya pergi makan siang. Mereka menuju lantai 3 dimana food court berada.
Mereka pun mencari tempat duduk di no smoking area. Mereka meminta Dipta memilih menu makanan dan minuman apa yang diinginkannya. Dipta menolak dengan alasan sudah makan. Tetapi lagi-lagi Ustadz Irfan memaksanya.
"Makanlah Dip, masa kita makan kamu enggak. Nanti orang-orang liatnya judes ke saya, dikira saya dzolim nggak kasih makan kamu. Haha...," canda Ustadz Irfan.
"Baiklah Ustadz, saya pesen siomay saja sama teh manis," sahut Dipta sambil tersenyum mendengar candaan Ustadz Irfan.
"Nah gitu dong. Ya sudah tunggu ya, istri saya pesan dulu," sahut Ustadz Irfan sambil meminta istrinya beranjak pergi memesan pesanan makanan mereka.
Kemudian Dipta pun mengedarkan pandangannya ke sekililing food court. Banyak sekali pengunjung yang masih memakai baju seragam SMP ataupun SMA. Ia pun kemudian memperhatikan seorang siswi SMA yang dilihatnya dari belakang. Ia seperti mengenalnya.
Siswi SMA itu berkerudung putih dan memakai tas ransel berwarna ungu muda bercorak bunga sakura. Awalnya ia seorang diri, kemudian datang seorang laki-laki yang berseragam SMA juga, membawakannya sebotol minuman teh yang terlihat dingin.
Dipta sungguh penasaran dengan sesosok perempuan itu. Siapakah dia?
Tak lama perempuan itu menoleh ke arah samping kanannya dan jelaslah terlihat bahwa dia adalah SHAKILA!
Dipta menyipitkan matanya untuk meyakinkan bahwa yang dilihatnya itu adalah Shakila dan benar, ia memang Shakila.
Untuk apa Shakila datang ke sini dengan laki-laki yang jelas-jelas bukan muhrimnya? Apakah ia berdusta dan bermain di belakang Dipta.
Dipta merasa kecewa. Ia pikir Shakila benar anak yang baik. Ia tak menyangka kalau Shakila ternyata berani berjalan berdua dengan laki-laki.
Dipta bimbang, apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia menemui Shakila saat ini juga? Atau ia harus menunggu sampai nanti malam ia bertemu dengan Shakila?
Sungguh amarahnya tidak terbendung lagi! Rasa cemburu membakar dadanya!
__ADS_1
***