
Semenjak Shakila belajar di rumah Dipta. Dipta mulai yakin bahwa seiring dengan berjalannya waktu, cinta yang dulu telah hilang kini bersemi kembali.
Semakin sering mereka bertemu maka semakin intens hubungan yang mereka jalin. Meski masih sebatas guru pembimbing dan muridnya.
Pada dasarnya Shakila juga bukan anak yang bodoh. Dia lumayan cepat dalam menangkap setiap pelajaran yang diajarkan Dipta. Hanya saja dia suka kehilangan fokusnya kalau sudah terlalu lama belajar.
Sampai-sampai saking Shakila sudah kehilangan fokusnya. Ia hanya melamun sepanjang Dipta menjelaskan rumus subtitusi di pelajaran matematika.
Keysha yang sadar kalau Shakila sedang melamun lalu ia pun melambaikan tangannya di depan Keysha.
"La... Halo... La..."
"Eh iya kenapa Key?" Shakila pun terkesiap.
"Jangan melamun dong La. Kamu sudah capek?" tanya Keysha.
"Enggak. Belum," jawabnya singkat.
"Ya sudah sekarang coba Kila kerjakan lagi ya PR-nya. Nanti kalau masih belum ketemu jawabannya tanya saya lagi."
"Siap A," sahut Shakila. Ia pun melanjutkan tugasnya. Tak lama HP Shakila berbunyi. Ada telepon masuk sepertinya. Lalu ia meminta izin pada Dipta untuk mengangkat telponnya di luar rumah. Dipta pun mengizinkannya.
Kurang dari lima menit. Shakila masuk lagi ke dalam rumah. Keysha pun penasaran. Dia akhirnya bertanya pada Shakila.
"Siapa La?"
"Mang Cecep," jawabnya singkat.
"Kenapa?" Keysha masih terus bertanya.
"Dia bilang nggak bisa jemput soalnya nggak enak badan. Masuk angin katanya," jelas Shakila.
"Lha terus kamu nanti pulangnya gimana?" Tanya Keysha ikut prihatin.
"Jalan kaki aja."
Bu Asih pun mendengar percakapan mereka lalu ikutan nimbrung.
"Sudah malam La. Rumah kamu kan lumayan jauh kalau jalan kaki. Kamu nanti diantar Dipta saja ya? Naik motor!"
"Enggak usah Mamah Keysha. Saya berani kok jalan kaki sendiri lagian ini kan masih jam delapan. Masih banyak orang di jalan," tolak Shakila malu-malu. Karena pada dasarnya ia malu-malu tapi mau.
"Jangan ah La! Ibu malah khawatir kalau kamu pulang sendirian malam-malam. Dipta mau kok antar kamu, ya kan Dip?"
Dipta yang dari tadi namanya disebut malah jadi bingung sendiri. Karena ia belum pernah membonceng perempuan lain selain ibu dan adik-adiknya. Meski pernah sesekali membonceng Ceu Ipit. Itu pun karena nggak sengaja ketemu di jalan dan itupun Ceu Ipit yang teriak-teriak panggil Dipta dari seberang jalan. Ia minta nebeng sampai pasar.
"A Dipta sepertinya nggak mau Bu," tukas Shakila karena menunggu jawaban Dipta yang begitu lama.
__ADS_1
"Dip! Mau kan? Ibu khawatir soalnya!" tegas Bu Asih.
"Lha emang Ibu nggak khawatir kalau aku yang antar Shakila?" Dipta balik bertanya.
"Lha kenapa Ibu harus khawatir?" tanya Bu Asih bingung.
"Kalau seandainya ternyata aku yang culik Shakila gimana?!" ledek Dipta pada ibunya.
"Awas kamu ya! Jangan macam-macam sama anak orang!" ancam Bu Asih.
"Haha... Ibu...Ibu! Ya enggak lah. Aku bercanda Bu!"
"Ya sudah sana cepat antar Shakila pulang!" Bu Asih menyuruh Dipta dengan segera.
"Lha kan belajarnya juga belum selesai Bu!" tukas Dipta.
"Oh belum selesai ya? Hehe..." Bu Asih pun tertawa karena malu.
"Ya sudah La selesaikan satu soal itu saja dulu. Nanti saya antar pulang," sahut Dipta.
"Iya A."
Sekitar sepuluh menit sudah belalu. Kini Shakila bersiap-siap pulang diantar Dipta. Ia pun berpamitan pada Bu Asih dan Keysha juga Lusiana yang masih asik nonton televisi.
Dipta memarkir motornya dengan hati-hati karena ia juga saat ini sedang bermain hati. Degub jantungnya mulai tak stabil. Tarikan nafasnya mulai berat. Ia pun mempersilahkan Shakila naik ke motornya.
"Ayo La naik!"
"Udah La?" tanya Dipta memastikan.
"Udah A," jawab Shakila dengan nada suara sedikit bergetar. Mungkin dia juga merasakan apa yang Dipta rasa.
Mereka pun tak lepas dari ledekan Keysha.
"Pegangan pinggang A Dipta, La! Takut jatuh kalau duduknya nggak santai gitu. Haha..."
"Eh jangan pegang pinggang La. Si Dipta mah anaknya geli kalau dipegang pinggangnya. Nanti bawa motornya malah jadi nggak stabil," sahut Bu Asih.
"Ya sudah pegang pundak saja!" ledek Keysha lagi.
"Ssssttt udah jangan dengerin Keysha, La!" tukas Dipta. Awalnya Shakila hanya senyum-senyum saja tapi setelah mendengar ledekan Keysha terus menerus. Ia pun membalas omongannya.
"Pegang-pegangannya nanti saja lah Key kalau sudah muhrim!"
JEGERRRR! Bunyi petir di malam hari dalam hati Dipta. Iya! Hanya ada di dalam hatinya. Mendengar kalimat yang dilontarkan Shakila membuat jantungnya berhenti secara sepersekian detik.
Ia merasa ini kode keras untuknya. Untuk bisa menjadikan Shakila muhrimnya suatu saat nanti. Sebaliknya, Shakila merasa puas sudah mengatakan isi hatinya meski lewat candaan.
__ADS_1
Seolah tak mendengar yang diucapkan Shakila, Dipta pun menarik gas motornya.
Di perjalanan tak banyak Dipta berbicara karena ia sangat gugup. Dan masih nervous mendengar ucapan Shakila tadi sesaat sebelum pulang. Tapi Shakila terus saja bertanya. Seperti saat ini.
"A Dipta!"
"Ya!"
"Aa punya pacar nggak?" tanya Shakila yang secara terang-terangan ingin tau status Dipta saat ini.
"Enggak!" jawabnya singkat, padat dan jelas.
"Emang benar ya, A Dipta nggak pernah pacaran?" tanya Shakila lagi karena ingin tau lebih lanjut.
"Benar!" Dipta masih menjawabnya sedikit.
"Kenapa?" tanya Shakila penasaran.
"Karena saya nggak mau pacaran."
"Lho kenapa nggak mau?" tanya Shakila bingung.
"Karena pacaran lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya."
"Tapi ada kok yang pacaran Islami," tukas Shakila seolah tak setuju dengan jalan pikiran Dipta.
Mendengar ada kata 'pacaran islami' Dipta pun langsung menghentikan motornya ke pinggir jalan. Shakila pun kaget kenapa motornya tiba-tiba berhenti?
"Lho kenapa berhenti A? A Dipta mau culik aku ya?" candanya menggoda Dipta. Tapi untung Dipta tak tergoda. Karena dia fokus ingin memperbaiki dua kata yang terlontar dari mulut Shakila sesaat sebelumnya.
"La, kalau ada pacaran islami maka nanti akan ada judi islami, narkoba islami, mencuri islami dan segala keburukan yang dikemas islami. Jadi yang namanya pacaran itu nggak ada yang islami karena tidak diajarkan dalam agama kita," jelas Dipta panjang lebar.
Shakila hanya diam mendengarkan Dipta tapi tak berapa lama ia mulai bertanya lagi.
"Tapi A Dipta pernah pacaran kan?" Shakila mengulang pertanyaannya lagi.
"Kan tadi di motor saya sudah bilang enggak pernah," jawabnya agak santai supaya tidak terlalu terbawa emosi mendengar Shakila mengucapkan pacaran islami.
"Terus Kiara itu siapanya A Dipta?" tanya Shakila tepat sasaran.
Dipta kaget bukan main. Kenapa ada nama Kiara disebut? Sejak kapan Shakira tau kalau Kiara pernah mengisi hatinya walau sesaat? Seingat Dipta, tak ada satu orang pun yang tau kalau ia pernah menyukai Kiara! Kiara hanya anak perempuan yang ia kagumi karena kesolehannya, kecantikannya, dan kecerdasannya. Hanya itu!
Ia tak sampai hati menjadikan Kiara pacarnya. Karena ia masih ingat betul bagaimana Pak Firman menjaga anak gadisnya dengan penuh kasih sayang.
Dan saat itu ia adalah murid kesayangan Pak Firman. Tak mungkin ia menyakiti perasaan Pak Firman dengan menjadikan Kiara pacarnya. Ia pasti tak akan rela jika cinta Kiara terbagi dengan lelaki lain selain dia, ayahnya!
Lain halnya kalau ia sudah mapan dan mengajak Kiara menikah. Karena demi meraih keridhoan Allah SWT, Pak Firman harus berbagi cinta dengan suami Kiara nantinya.
__ADS_1
Dan sekarang pertanyaannya adalah apakah Shakila mengenal Kiara? Sampai-sampai ia tau cerita tentang Dipta dan Kiara!
***