
Kepulangannya Dipta dari rumah Shakila diiringi dengan awan yang mulai menghitam lalu butir-butir air hujan mulai berjatuhan. Semakin lama, semakin deras, semakin mewakili perasaan Dipta saat ini.
Ia memilih untuk melanjutkan perjalanannya dan merasakan ada air hujan plus air mata yang masuk ke dalam mulutnya. Ia menangis menyesali kejadian yang telah terjadi di rumah Shakila. Ia tak bisa mengambil keputusan saat ini. Ia butuh hati yang jernih juga kepala yang dingin dalam memutuskan pilihan terberat bagi hidupnya.
Dipta masih mengendarai motornya dengan kecepatan rendah karena daya lihatnya menjadi lebih pendek karena terhalang air hujan yang jatuh tepat di wajahnya. Pikirannya nggak fokus dan masih memikirkan pilihan yang akan dia pilih untuk ke depannya.
Tiba-tiba ada suara klakson mobil mengagetkannya.
"Diinnn... Diinnn...."
Motor Dipta pun berhenti mendadak, ia hampir saja menabrak mobil yang sedang berpapasan dengannya. Beruntung laju motornya pelan sehingga ia mampu untuk mengendalikan motornya.
Sangat terkejut Dipta dibuatnya, akhirnya ia melanjutkan perjalanan dengan lebih hati-hati.
***
Malamnya Dipta masih terus memikirkan Shakila. Ia tak menyangka Shakila akan berbuat senekat itu. Apa tujuannya berpakaian seperti itu di depan Dipta? Lalu kenapa juga ia memaksa Dipta untuk memeluknya? Seandainya Dipta lupa diri, mungkin keperawanan Shakila sudah tergadaikan.
Semakin dipikir, semakin pusing kepala Dipta, ia lalu membuat secangkir kopi cafelatte panas dan duduk di warung dengan alasan ingin jaga warung.
Sebenarnya ada hal yang janggal di hati Dipta, kenapa kejadian di saat Dipta terjatuh menindih tubuh Shakila tepat sekali dengan datangnya orang tua Shakila? Karena seingat Dipta, ia tak mendengar ada bunyi klakson mobil dari luar. Setahu dia, kalau orang turun dari mobil mau masuk ke rumahnya biasanya membuka pagar dan langsung masuk memarkirkan mobilnya ke dalam. Atau membunyikan klakson memanggil orang yang berada di dalam rumah untuk membuka pintu pagar. Padahal posisi motor Dipta tak menghalangi masuknya mobil ke dalam rumah.
Memang sih, setelah Dipta keluar dari rumah Shakila mobil papahnya terparkir di sisi jalan depan pagar rumahnya. Atau mungkin papahnya terbiasa parkir di luar? Atau karena melihat ada motor, ia sengaja tidak langsung parkir ke dalam?
Ahhh! Semua pikiran ini membuat Dipta pusing. Karena ia masih merasa semua kejadian ini janggal! Tidak adanya Kang Cecep dan Teh Mela, mamang dan bibinya Shakila, di dalam rumah pun juga merupakan suatu yang janggal buat Dipta. Karena setahu Dipta, Teh Mela jarang ikut ke sawah. Atau memang tanpa sepengetahuan Dipta, Teh Mela sering ke sawah membantu suaminya.
Lama-lama ia hempaskan pikiran-pikiran tentang kejanggalan kejadian tadi sore. Kini ia memikirkan kembali tawaran papahnya Shakila untuk segera menikahi Shakila. Papahnya juga berjanji akan memberikan Dipta suatu usaha untuknya menjalankan pekerjaan.
Kalau dipikir-pikir, memang enak kalau jadi suami perempuan yang dicintai plus tak perlu repot cari kerja karena akan diberikan modal untuk usaha. Tapi Dipta bukan laki-laki yang seperti itu. Ia merasa tak ada harga dirinya jika ia akan menjalani kehidupan seperti itu. Meski ia berhasil menikahi gadis pujaannya.
Jika Dipta memilih mengambil beasiswa maka kemungkinan ia akan kehilangan Shakila jika Shakila sudah tak mampu lagi menunggunya lebih lama.
Dipta pun menyeruput kopinya dalam-dalam. Pikirannya kalut. Ia tak tahu harus bagaimana. Ia mencoba untuk beristigfar dalam hatinya. Berharap dengan mengingat Allah, ia mampu menenangkan hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB, saatnya ia menutup warungnya. Hatinya masih mencoba terus beristigfar, sampai tiba-tiba ia teringat Ustadz Irfan.
__ADS_1
Entah kenapa ia ingin sekali mencurahkan isi hatinya pada Ustadz Irfan yang sudah ia anggap ayah sendiri. Ia merasa tak sanggup memikirkan masalah ini sendirian. Meski awalnya ingin bercerita pada Keysha tapi diurungkannya karena ia khawatir Keysha jadi berubah sikapnya pada Shakila. Juga khawatir Keysha jadi tambah pikiran, karena adiknya itu mudah sekali memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak menjadi pikirannya.
Dipta pun langsung menghubungi Ustadz Irfan lewat SMS.
[Assalamualaikum Ustadz.] Sekitar lima menit kemudian Ustadz Irfan baru membalas SMS Dipta.
[Waalaikumsalam. Ada apa Dip?]
[Ada yang ingin saya bicarakan Ustadz. Kira-kira Ustadz ada waktu nggak ya?]
[In Shaa Allah bisa Dip besok pagi jam sepuluh datang ya ke rumah. Kalau saya boleh tau perihal apa?]
[Masalah hati Ustadz. Hehe...] Dipta pun menjawab jujur karena memang tentang hati yang akan banyak ia bicarakan nantinya.
[Wah... Berat nih! Hehe... Ya sudah besok ya!]
[Baik Ustadz terima kasih.]
***
Keesokan harinya, tepat pukul 10.00 WIB Dipta sudah sampai di rumah Ustadz Irfan. Seperti biasa, ia pun disambut Ustadzah Mila.
"Sehat Dip?" tanya Ustadz Irfan.
"Alhamdulillah Ustadz," jawab Dipta.
"Maksud saya hatimu sehat?" tanya Ustadz Irfan sambil tersenyum menggoda Dipta.
"Haha... Kalau hati sih sakit Ustadz," jawab Dipta sambil tertawa kecil.
"Haha... Kamu ganteng-ganteng bisa sakit hati juga rupanya," canda Ustadz Irfan lagi. Dipta tau persis gaya Ustadz Irfan. Beliau pandai menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dipta yakin, candaan Ustadz Irfan itu tak lebih supaya Dipta merasa nyaman bercerita dengannya.
"Terima kasih Ustadz pujiannya," sahut Dipta sambil tersenyum.
"Tapi tetep ya, saya lebih ganteng dari kamu. Haha... Itupun kata istri saya," candanya lagi. Dipta ikut tertawa menimpali candaan ustadznya.
__ADS_1
"Baiklah, sebenarnya ada apa Dip?" tanya Ustadz Irfan dengan nada lembut tetapi tetap terkesan tegas.
"Gini Ustadz, alhamdulillah saya dapat beasiswa Ustadz di salah satu universitas negeri di Jakarta tapi perempuan yang saya cintai meminta saya untuk menikahinya. Papahnya pun juga meminta saya menikahinya karena suatu kejadian." Dipta menghentikan ceritanya. Ia merasa malu dengan kejadian ini.
"Kalau boleh tau kejadian apa? Tapi sebelumnya saya ucapkan selamat ya Dip, kamu sudah lulus dapat beasiswa!"
"Iya Ustadz terima kasih ucapannya. Tapi kejadian itulah yang membuat saya harus memilih antara mengambil beasiswa atau menikahi perempuan yang saya cintai," ia terdiam sebentar lalu melanjutkan kalimatnya lagi, "kejadian dimana orang tuanya memergoki saya menindih tubuh anaknya. Padahal kejadian yang sebenarnya adalah saya terjatuh karena perempuan ini memaksa saya memeluk tubuhnya lalu saya menolak dan yang terjadi saya malah terjatuh di atas tubuhnya, Ustadz." Dipta mulai berkaca-kaca menceritakan detil kejadiannya.
"Pertanyaan saya, kejadian itu terjadi dimana?" tanya Ustadz Irfan hati-hati.
"Di rumahnya Ustadz, saya baru kali itu masuk ke rumahnya karena saya dimintai tolong oleh Keysha untuk mengantar bolu pisang pesanannya," jawab Dipta sambil menunduk malu.
"Terus hubungan kamu dengan perempuan itu berarti pacaran ya?" tanya Ustadz Irfan mencoba menerka-nerka cerita yang belum lengkap.
"Tidak Ustadz. Kami tidak pacaran tapi kami saling mengatakan bahwa kami saling mencintai. Saya pun memintanya untuk tidak menjalani hubungan ini dengan pacaran. Tapi kami saling berjanji untuk menjaga hati masing-masing sampai tiba saatnya, saya akan datang menikahinya. Itu janji saya padanya Ustadz," jelas Dipta.
"Kamu berjanji menikahi? Sudahkah kamu solat istikharah sebelum kamu berjanji demikian?" Pertanyaan Ustadz Irfan nyaris membuat jantung Dipta seperti terhunus pedang panjang. Kini ia menyadari kesalahannya. Ia tidak melibatkan Allah di dalamnya padahal menikah adalah suatu hal yang sakral bukan untuk permainan semata.
"Tidak Ustadz, maksudnya belum," Dipta makin memunduk malu karena menyadari kesalahannya.
"Mungkin itulah sebabnya kejadian ini bisa terjadi Dip tapi Allah lebih mengetahui segalanya," sahut Ustadz Irfan.
"Jadi saya harus bagaimana Ustadz?" tanya Dipta lagi.
"Solat istikharah saja dulu ya Dip, In Shaa Allah pasti Allah kasih kamu petunjuk jalan mana yang terbaik untukmu," saran Ustadz Irfan.
"Oh begitu ya Ustadz?! Ya sudah nanti akan saya lakukan," sahut Dipta.
"Kalau boleh tahu, siapa perempuan yang kamu cintai itu Dip?" tanya Ustadz Irfan penasaran.
"Shakila, Ustadz. Anaknya Pak Bili dan Bu Sinta."
Ustadz Irfan pun terdiam seketika. Ia mengingat-ingat wajah perempuan yang bernama Shakila. Sampai ia teringat suatu hal bahwa ia juga pernah dulu sekali mengajarkan Shakila mengaji di masjid. Waktu Shakila masih kecil. Ia juga terus mengingat-ingat kalau rasa-rasanya ia juga pernah bertemu Shakila beberapa hari yang lalu di lapangan merdeka ketika ia sedang berolahraga bersama istri dan anaknya tapi saat itu Shakila tak melihatnya karena ia sedang asik menyandarkan kepalanya di bahu seorang laki-laki yang ia ingat sekali bahwa laki-laki itu bukan Dipta!
Shakila tampak begitu mesra dengan laki-laki tersebut tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Istrinya, Ustadzah Mila, juga menyadari ada Shakila disana. Sampai-sampai mereka berdua saling bertatapan dan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Shakila dan laki-laki yang bersamanya.
__ADS_1
Kini, Ustadz Irfan yang shock mendengar nama Shakila disebut, mengingat ia pernah melihatnya bermesraan dengan laki-laki lain. Haruskah ia menyampaikan cerita ini pada Dipta?
***