CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Terjebak


__ADS_3

Dipta masih terdiam tak membalas sapaan Shakila. Ia masih terus menarik nafasnya dan mengeluarkannya secara perlahan tapi pasti. Sebagai laki-laki normal, ia suka melihat tubuh Shakila yang separuhnya terbuka. Tapi dengan segera ia sadar bahwa ia akan berdosa kalau terus melihat dan memperhatikan tiap lekuk tubuh Shakila. Ia pun langsung mendundukkan kepalanya dan berkata, "kerudung kamu mana La?"


"Ada," jawab Shakila singkat sambil menggulung-gulung ujung rambutnya. Shakila sadar betul kalau Dipta mengagumi keindahan tubuhnya.


"Ini pesanannya La," lanjut Dipta sambil menyerahkan kantong plastik berisi dua kardus bolu pisang yang masih hangat sehangat tatapan Shakila padanya saat ini. Shakila pun mengambil pesanannya lalu mempersilahkan Dipta masuk ke dalam rumah.


"Masuk dulu A. Aku ambil uangnya dulu," sahut Shakila masih dengan nada suara yang dibuat manja.


"Enggak usah. Aku di sini saja," ucap Dipta. Tanpa menghiraukan ucapan Dipta, Shakila langsung meraih tangan Dipta dan membawanya masuk ke dalam. Dan entah kenapa Dipta menurut saja.


"Duduk dulu A," pinta Shakila. Dipta pun duduk di kursi ruang tamu Shakila. Ia pun pamit masuk ke dalam mengambil uang. Tak berapa lama, ia pun keluar menemui Dipta.


"Berapa A?" tanya Shakila basa-basi.


"Seratus ribu La," jawab Dipta singkat. Hatinya masih berdegub kencang. Rasanya ia ingin segera pergi dari rumah Shakila. Shakila pun memberikan uang seratus ribu. Dipta mengambil uangnya sambil beranjak dari tempat duduknya. Tapi dengan cepat Shakila memeluk pinggang Dipta dan menahannya pergi. Dipta langsung merasa risih, ia kaget dengan apa yang sedang dilakukan Shakila. Ia juga mencoba melepas pelukan Shakila yang melingkar di pinggangnya. Tapi ia tak berhasil karena pelukan Shakila begitu erat menahan tubuhnya.


"Tolong lepas La, ingat kita belum muhrim!" tukas Dipta dengan nada cukup tinggi.


"Sebentar saja sayang! Aku mohon," pinta Shakila sambil mendengakkan kepalanya ke atas menatap Dipta yang lebih tinggi darinya.


"Apa yang membuatmu begini La? Melepas jilbabmu dan berpakaian seperti ini di hadapanku?" tanya Dipta sambil terus menahan tangan Shakila yang semakin erat memeluk Dipta.


"Karena aku akan jadi istrimu A! Jadi Aa nikmati saja dulu," sahut Shakila dengan nada suara yang manja.


Dipta benar-benar tak habis pikir dengan Shakila, kenapa dia bisa senekat ini?


Tak lama Shakila pun menarik tubuh Dipta dan Shakila berjalan mundur ke belakang dan terjatuh di kursi tamunya. Sampai-sampai posisi Dipta saat ini seperti sedang menindih tubuh Shakila. Dan tanpa Dipta sadari ternyata ada yang sedang memergokinya di depan pintu rumah Shakila.

__ADS_1


"Apa yang sedang kalian LAKUKAN?" tanya seorang laki-laki di depan pintu rumah Shakila dengan nada tinggi setengah berteriak. Dipta pun menoleh ke arah suara sambil melepaskan pelukan Shakila. Ternyata suara itu adalah suara papahnya Shakila yang baru saja datang dari Jakarta dan di sampingnya ada Bu Sinta, mamahnya Shakila, yang berdiri mematung melihat kejadian yang menimpa putrinya.


Mendengar suara papahnya, Shakila pun langsung memperbaiki posisinya yang tadi sedang dalam posisi setengah tidur menjadi posisi duduk yang sempurna.


Dipta yang sedang berdiri berhadapan dengan papahnya Shakila, sedang berusaha mengucapkan sesuatu tapi saking paniknya, tak bisa ia ucapkan apa-apa. Lalu papahnya Shakila menghampiri Dipta dan mengambil tindakan ingin menampar Dipta tapi Shakila bergerak lebih cepat karena tau apa yang akan dilakukan papahnya. Shakila segera berdiri mengambil posisi di depan Dipta, bermaksud ingin menahan papahnya untuk tidak menampar Dipta.


"Jangan Papah! Jangan tampar A Dipta! Shakila cinta sama dia," teriak Shakila sambil menangis.


"Kalau dia sayang, dia nggak akan kurang ajar sama kamu!" teriak papahnya lagi. Mamahnya pun segera bertindak menghampiri suaminya dan merangkulnya berusaha menenangkan. Dipta pun berusaha angkat bicara.


"Maaf Pak, semua tidak seperti yang Bapak lihat! Saya tidak bermaksud melakukan apa-apa kepada Shakila. Semua hanya kecelakaan, saya terjatuh dan menimpa tubuh Shakila," jelas Dipta sambil berusaha menutupi kegugupannya.


Mamahnya Shakila masih menahan suaminya supaya emosinya lebih tenang. Lalu, ia pun mengambil alih situasi.


"Dipta duduk dulu ya, ada yang perlu kita bicarakan dengan kepala dingin," imbuh mamahnya Shakila. Dipta pun mengangguk dan menuruti permintaan mamahnya Shakila. Sedangkan Shakila mengikuti Dipta dan duduk di sampingnya. Begitupun papah dan mamahnya Shakila, mereka ikut duduk di kursi seberang. Papahnya Shakila pun angkat bicara.


"Kemana Mang Cecep dan Bi Mela?" tanya papahnya Shakila dengan nada tegas. Terlihat sekali kalau ia masih menahan amarahnya.


"Nama kamu Dipta kan? Yang membimbing Shakila belajar?" tanya papahnya Shakila sambil menunjuk Dipta.


"Iya Pak," jawab Dipta singkat. Dihatinya, ia masih merasa tak tenang. Ia menyesal telah mengantarkan pesanan Shakila ke rumahnya.


"Kalian pacaran?" tanyanya lagi.


"Tidak Pak tapi ...," Dipta menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa?" tanya papahnya Shakila dengan nada menyentak.

__ADS_1


"Tapi kami berdua saling mencintai," jawab Dipta jujur.


"Kamu lucu! Mana ada saling cinta terus nggak pacaran tapi tindih-tindihan di kursi tamu saya!" bentak papahnya Shakila.


"Kami memang tak berpacaran Pak tapi hati kami saling mengikat janji satu sama lain dan sekali lagi saya tegaskan kalau tindih-tindihan itu kecelakan," Dipta masih saja menyebut itu kecelakaan meski sebenarnya itu adalah kesengajaan yang dibuat Shakila tapi Dipta tak tega berbicara yang sebenarnya karena ia masih punya hati nurani dan kasihan pada Shakila, takut ia jadi dimarahi papahnya.


"Oke! Kita setujui kalau itu hanya kecelakaan. Tapi satu pertanyaan saya...," papahnya Shakila terdiam sesaat. Lalu melanjutkan kalimatnya lagi, "janji apa yang mengikat kalian satu sama lain?"


Mendengar pertanyaan tersebut Dipta langsung menoleh pada Shakila yang masih terus menunduk dan terlihat sekali kalau ia sedang dalam ketakutan. Kakinya tak berhenti bergoyang seolah menahan pipis. Melihat keadaan Shakila yang sedang dalam ketakukan, ia pun berusaha menjawab pertanyaan tersebut seorang diri.


"Kami berjanji untuk saling menjaga hati sampai tiba waktunya saya akan menikahinya," sahut Dipta lantang. Kali ini Dipta sudah muncul rasa percaya dirinya menghadapi papahnya Shakila.


"Kapan kamu akan menikahi anak saya?" tanya papahnya Shakila penasaran. Begitupun mamahnya, terlihat sekali ekspresi yang sedang terkejut diraut wajahnya.


"Nanti kalau saya selesai kuliah dan bekerja," sahut Dipta mantap.


"Bagaimana kalau saya minta sekarang juga! Setelah Shakila lulus SMA ini?" pinta papahnya Shakila serius. Mendengar permintaan itu, Dipta yang tadinya sudah muncul percaya dirinya, kini ia menciut lagi. Ia masih belum siap jika pernikahan itu terjadi secepat ini.


"Maaf Pak. Kenapa harus secepat ini? Kasih saya waktu lima tahun, saya akan kembali menunaikan janji saya," janji Dipta dengan sepenuh keyakinannya.


"Harus segera! Karena kamu sudah menindih anak saya! Saya nggak yakin kalau kamu jujur dan bilang itu hanya kecelakaan. Saya juga yakin kalau sebelum-sebelumnya kalian telah melakukan hal yang sama beberapa kali. Jadi saya minta pertanggungjawaban kamu secepatnya," jelas papahnya Shakila.


"Tapi saya belum kerja. Mau saya kasih makan apa Shakila kalau saya belum berpenghasilan tetap?" tanya Dipta yang mulai berani lagi menyampaikan pendapatnya.


"Kamu nggak perlu kerja, saya akan kasih kamu usaha di rumah ini dan kamu tugasnya tinggal menjalankan usaha saya itu, bagaimana?" tawar papahnya Shakila dengan penuh keyakinan.


Mendengar tawaran tersebut, Dipta hanya diam bergeming, seketika pikirannya terbang melesat mengingat betapa bahagianya ibu juga adik-adiknya mendengar ia mendapatkan beasiswa. Lalu betapa terharunya ia mendapatkan kesempatan berkuliah dengan gratis di jurusan yang ia minati sedari SMA. Jika ia menyetujui tawaran papahnya Shakila, bagaimana nasib beasiswanya nanti? Bagaimana nasib Keysha yang sudah ngebet ingin kuliah? Bagaimana dengan cita-citanya? Bagaimana dengan perasaan ibunya yang sangat ingin anaknya berkuliah? Bagaimana perasaan Pak Herman dan Pak Mahmud yang membantunya mendapatkan beasiswa itu dengan penuh perjuangan?

__ADS_1


Kalau ia menolak tawarannya, akankah ia masih bisa bersama dengan Shakila, gadis manis pujaan hatinya?


***


__ADS_2