CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Tawaran Kerja


__ADS_3

Semenjak Keysha membahas tentang kuliah, Dipta menjadi bersemangat lagi dalam mencari informasi dari berbagai sumber di dunia maya. Kali ini ia bulat tekadnya untuk berkuliah dibandingkan tahun lalu ketika ia lulus SMA.


Dulu ketika lulus, ia masih limbung. Seolah tak punya pegangan, tak ada pandangan, tak ada bimbingan, dan tak ada yang mengerti itu semua.


Rasanya ingin sekali ia mencurahkan perasaannya pada Pak Herman wali kelasnya tapi ketika bertemu lidahnya menjadi kelu dan tak membicarakan apapun selain Pak Herman memintanya untuk mengambil jalur undangan yang diterimanya.


Saat itu ia belum berfikir lebih bijak lagi sehingga ia merasa tak akan mampu menjalankannya. Padahal Allah selalu bersama hambanya.


Kini telah ia sadari bahwasanya Allah yang kuasa atas segalanya. Buktinya sampai saat ini sepeninggalan ayahnya, ia dan keluarganya masih bisa makan, masih bisa hidup dengan layak dan semua itu didapatkan melalui usaha yang lebih keras lagi dari sebelumnya ketika ayahnya masih hidup. Sungguh benar adanya bahwa proses tidak akan pernah mengkhianati hasil. Dan hasilnya adalah Dipta bisa punya tabungan yang cukup untuk melanjutkan kuliah. Kemudian roda perekonomian keluarganya pun meningkat setelah memiliki warung.


Terbukalah mata hatinya bahwa rejeki itu dari Allah. Sudah ada Allah yang mengaturnya. Setiap makhluk punya rejekinya masing-masing bahkan laba-laba pun yang kerjanya terlihat hanya diam di sarangnya menunggu mangsa yang akhirnya ada saja serangga yang terjebak di sarangnya dan menjadi mangsanya.


Memang laba-laba terlihat seperti malas karena dia hanya menunggu mangsa datang ke sarangnya padahal tanpa kita ketahui sebelumnya ia telah berusaha keras dan rela harus terjatuh berkali-kali dalam membuat sarang dari ujung sana ke ujung sini. Sungguh sekali lagi proses tak akan menghianati hasil.


Dipta pun terus berseluncur di dunia maya. Ia mencari informasi tentang perkuliahan. Setelah hampir satu jam membaca tentang seluk beluk dunia perkuliahan, kampus yang menjanjikan, serta jurusan apa saja yang dibutuhkan saat ini di dunia kerja dan berapa biaya semester yang harus dibayarkan tiap enam bulan sekali juga berapa besar biaya pendaftaran uang pangkal tiap universitas. Ketika sedang asik-asiknya mencari informasi tiba-tiba ibu memanggilnya. Saat ini pukul 11.00 siang.


"Aa...," panggil ibu ke dalam kamar. Dipta pun menoleh ke arah ibu. "Itu ada Ustadz Irfan." Dipta langsung beranjak dari posisi tidurnya dan memakai celana panjang yang berada di balik pintu. Ia merasa tak sopan jika menemui Ustadz Irfan hanya dengan memakai celana pendek. Setelah selesai, ia segera keluar dari kamarnya.


"Assalamualaikum Ustadz," sapa Dipta sambil menyalimi dan mencium tangannya.


"Waalaikumsalam. Lagi apa Dip?" tanya Ustadz Irfan sambil memperbaiki posisi duduknya.


"Lagi baca-baca saja Ustadz," jawab Dipta.

__ADS_1


"Wah kalau begitu kedatangan saya mengganggu ya?" sahut Ustadz Irfan sambil tersenyum.


"Oh engga Ustadz. Ada apa ya Ustadz sampai datang kesini? Padahal kalau Ustadz butuh saya, telepon saja nanti saya yang ke rumah Ustadz. Jadi Ustadz tak perlu repot-repot kesini," ujar Dipta.


"Nggak apa-apa Dip, lagian saya tadi dari rumah Umi Maryam jadi sekalian saja kesini karena satu arah." Umi Maryam adalah kakak dari ustadz Irfan. Beliau memanggilnya umi karena membahasakan anak-anaknya supaya mereka terbiasa memanggil umi kepada kakak sulung ayahnya itu.


Tak lama ibu keluar dan membawakan secangkir teh manis dan beberapa potongan kue bolu pisang yang kemarin dibuat oleh Keysha. "Silahkan diminum Ustadz dan dicicipi bolunya," tawar Bu Asih pada Ustadz Irfan.


"Terima kasih Bu Asih," sahut Ustadz Irfan sambil mengambil cangkir teh dan meminumnya, lalu ia melihat bolu dan mengambilnya satu potong. Beliau memang sangat menghormati pemberian tuan rumah. Apapun yang disuguhkan pasti diminum dan dimakannya meski tidak banyak. Hanya sebagai syarat ia dalam menghormati pemberian tuan rumah.


"Bolunya enak Bu Asih. Bikin sendiri?" tanya Ustadz Irfan setelah menghabiskan satu potong bolu pisang.


"Iya Ustadz. Ini yang bikin Keysha dan Lusiana, saya nggak ikut-ikutan," jawab Bu Asih sambil tersenyum.


"Wah ternyata mereka berbakat bikin kue ya, kalau mau pesan bisa Bu?" tanya Ustadz Irfan. Bu Asih dan Dipta bingung, mereka saling melihat satu sama lain.


"Tapi ini enak Bu, rasa pisangnya terasa banget. Terus bolunya juga nggak bantet," ujar Ustadz Irfan sambil menunjuk bolu yang tersisa di piring.


"Ya sudah Ustadz nanti kami buatkan, kira-kira butuh berapa loyang Ustadz?" tanya Bu Asih ragu karena ia khawatir gagal.


"Dua saja cukup Bu. Ini uang untuk DP-nya dulu nanti kekurangannya belakangan ya," ujar Ustadz Irfan sambil mengeluarkan uang lima puluh ribu rupiah dari sakunya. Tapi dengan sigap Dipta menolak uang pemberian Ustadz Irfan.


"Maaf Ustadz, uangnya simpan saja. In Shaa Allah akan kami buat untuk Ustadz."

__ADS_1


"Lho kok uangnya ditolak Dip?" tanya Ustadz Irfan heran.


"Maaf ya ustadz, kami niat membantu saja jadi nggak usah bayar. Ustadz selama ini sudah banyak membantu kami. Izinkan kali ini kami membalas kebaikan Ustadz?" pinta Dipta dengan nada sedikit memohon karena ia merasa Ustadz Irfan itu sudah terlalu sering membantunya. Mulai dari kepengurusan jenazah ayahnya, membantu mencari kuburan untuk memakamkan ayahnya, pembacaan tahlil khusus untuk almarhum ayahnya di masjid meski tanpa Dipta pinta, pemberian kontrakan gratis untuk dijadikan tempatnya mengajar anak-anak bimbelnya, dan sewaktu kecil Dipta juga adik-adiknya belajar mengaji dengan Ustad Irfan dan Ustadzah Mila, istrinya, sampai mereka bisa membaca Al Qur'an dengan lancar.


"Ya sudah kalau begitu terima kasih ya Dip," ucap Ustadz Irfan.


"Iya Ustadz sama-sama. Kira-kira untuk kapan Ustadz?" tanya Dipta lagi. Ia merasa lega akhirnya Ustadz Irfan menerima bantuannya.


"Untuk malam jum'at minggu depan Dip," jawab Ustadz Irfan.


"Baik Ustadz nanti kami siapkan," sahut Dipta. Bu Asih pun ikut mengangguk menyetujui tindakan Dipta. Tak lama ada pembeli yang datang ke warung Bu Asih, ia pun meminta izin pada Ustadz Irfan untuk meninggalkannya ke warung. Sekarang Ustadz Irfan hanya tinggal berdua saja dengan Dipta. Mereka pun melanjutkan obrolannya.


"Oh ya Dip, sebenarnya saya kesini mau tanya, gara-gara makan bolu enak hampir saja saya lupa," tukas Ustadz Irfan sambil tersenyum. Ia pun melanjutkan pembicaraannya lagi, "Kamu bisa bawa mobil kan ya?" tanya Ustadz Irfan.


"Bisa Ustadz tapi saya belum punya SIM A," jawab Dipta jujur.


"Ya sudah nanti bikin SIM A ya. Soalnya saya mau minta tolong kamu untuk menyupiri saya kalau saya ada panggilan ceramah ke daerah-daerah yang agak jauh,"


"Oh iya bisa Ustadz. Memangnya selama ini siapa yang jadi supirnya Ustadz?"


"Selama ini saya bawa sendiri. Makin kesini makin berasa capek, mungkin faktor usia. Haha...," jelas Ustadz Irfan sambil tertawa kecil.


"Baik Ustadz In Shaa Allah saya bisa," jawab Dipta menegaskan. Beberapa bulan sebelum ayahnya meninggal, ia sempat diajari oleh ayahnya bawa mobil. Waktu itu ayahnya sengaja menyewa mobil temannya untuk Dipta belajar. Sampai kurang dari sebulan akhirnya ia pun lancar bawa mobil sendiri. Hanya saja usianya waktu itu masih lima belas tahun. Jadi belum bisa baginya memiliki SIM.

__ADS_1


Dulu Dipta memang tidak dapat pekerjaan di tempat-tempat yang ia lamar tapi kini pekerjaan itu datang sendiri menghampirinya. Ia yakin semua ini terjadi karena campur tangan Allah. Semakin bersyukurlah ia karena merasa hidupnya kini dipermudah oleh Allah setelah melewati masa-masa sulit selepas kepergian ayahnya.


***


__ADS_2