
Dipta masih tak menyangka kalau Shakila ingin menikah dengannya secepat ini. Sesudah obrolannya bersama Shakila kemarin, ia terus membayangkan bagaimana jadinya jika ia menyetujui permintaan Shakila? Dan bagaimana jadinya jika sebaliknya, ia menolak permintaan Shakila. Jujur, ia tak sanggup kalau harus kehilangan gadis manis pujaannya itu karena Shakila lah yang telah membuat ia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya dan karena dia lah kini hidup Dipta lebih berwarna dan bersemangat. Saking semangatnya sampai-sampai ia sudah punya tabungan khusus untuk menikahi Shakila.
Tapi kini semua tidak berjalan sesuai rencananya. Sungguh manusia hanya bisa berusaha tapi tetap Allah yang menentukan. Dipta sama sekali belum bisa menerima keinginan Shakila untuk menikah. Ia masih ingin kuliah dan kerja dulu. Ia tak mau jika nantinya ia menikahi Shakila dalam keadaan ekonomi yang jauh dari kata stabil. Ia tak ingin menikah dengannya hanya untuk membuat hidupnya susah. Memang, rejeki itu sudah ada Allah yang atur tapi bukan berarti kita sebagai hambanya tidak berusaha menjemput rejeki tersebut.
Minggu-minggu ini Dipta memang sedang dalam keadaan harap-harap cemas karena Senin lusa pengumuman beasiswa yang diajukannya akan diumumkan di website kampus yang telah dipilihnya. Apa jadinya jika ia gagal? Maka dari itu dari awal mula ia tengah menyiapkan mental siap kalah dan siap menang. Jika kalah ia tidak akan berputus asa dan jika menang ia tidak akan sombong. Jauh dari lubuk hatinya yang terdalam selalu terselip doa, "Ya Allah, semoga beasiswa ini menjadi milik hamba. Aamiin."
***
Hari yang dinanti pun tiba, dari tadi malam sebenarnya tangannya gatal banget mau berselancar di dunia maya. Ia ingin melihat pengumuman itu malan ini juga karena menurut keterangan Pak Herman, wali kelasnya dulu, pengumuman bisa diakses setelah jam 00.00 WIB yang artinya tengah malam.
Tapi ia urungkan itu karena ia merasa ternyata mentalnya yang telah dibangun dari awal untuk siap menang dan siap kalah belum bisa dibuktikannya. Ia masih harus membangun mentalnya lebih kuat lagi. Jadilah malam itu ia paksakan untuk tidur meski ia sama sekali tak bisa tidur. Sampai pukul 01.00 WIB pagi barulah ia merasa telah mengantuk berat dan pergi tidur setelah melaksanakan shalat sunnah tahajud, hajat dan witir. Ia masih belum mencari informasi tentang kelulusannya.
Pagi menjelang adzan subuh berkumandang, Dipta masih terlelap tidur. Baru kali ini ia belum bangun ketika adzan subuh telah memanggil. Melihat anak sulungnya masih terlelap, ibunya pun segera membangunkan Dipta. Ia juga merasa heran karena baru kali ini Dipta terlambat bangun subuh.
Ketika dibangunkan ibunya, ia langsung bergegas karena sadar adzan subuh sudah berkumandang. Ia pun pergi ke kamar mandi mengambil wudhu lalu setelah itu kembali ke kamar mengambil baju koko yang digantungkan dibalik pintu kamarnya dan mengambil sarung juga peci yang ada di pojokan kasurnya. Setelah rapih berpakaian, ia segera berangkat ke masjid.
***
Sekitar 30 menit Dipta melaksanakan shalat subuh di masjid, ia pun segera pulang karena ingin membuka HP-nya untuk mencari pengumuman tentang kelulusannya.
Sesampainya di rumah, ia langsung ke kamar dan mencari HP-nya. Ia pun duduk bersandar dikasurnya. Tak lupa ia membaca basmalah sebelum mencari info tersebut. Beruntung, sinyal HP-nya cukup kuat pagi itu jadi ia tak perlu menunggu waktu lama untuk membuka website kampus tujuannya.
Netra matanya langsung tertuju pada sebuah kolom yang berisi nomor, nama dan fakultas juga jurusan yang dituju. Ia terus mencari namanya satu persatu dari kolom atas sampai ke bawah, ia terus mencari dengan seksama. Sampai pada nomor 45, ia melihat ada namanya tertulis jelas disana dengan pilihan fakultas dan jurusan yang dituju. Membaca namanya ada disana, ia masih bergeming, ia takut kalau yang dilihatnya salah, ia pun mencubit tangannya, khawatir ini cuma mimpi tapi kenyataannya benar! Namanya benar-benar tertulis disana dan itu berarti ia lulus dan menerima beasiswa tersebut!
__ADS_1
Ketika sadar, ia langsung sujud syukur kepada Allah, doanya telah dikabulkan oleh-Nya. Setelah itu ia langsung beranjak menuju kamar ibunya. Ketika itu ibunya sedang melantunkan ayat-ayat suci Al Qur'an dan langsung berhenti seketika saat anak sulungnya memeluknya erat.
"Alhamdulillah Bu, Aa lolos beasiswa!" ucapnya agak terbata-bata karena emosi di hatinya yang telah membuncah. Mendengar ucapan anaknya, Bu Asih tak bisa berkata apa-apa, ia hanya bisa membalas pelukan Dipta lebih erat lagi sambil menangis tanda haru dan bahagia. Melihat ibu dan kakaknya berpelukan diatas sajadah, Keysha dan Lusiana yang baru selesai shalat ikut memeluk mereka berdua. Ada air mata bahagia dari keempat insan itu. Sungguh sebuah proses tidak akan pernah menghianati hasil.
***
Seminggu setelah pengumuman kelulusan Dipta, Shakila masih belum mengetahuinya. Dipta meminta Keysha untuk tidak mengabarinya sebelum mereka bertemu muka. Dan hari ini Keysha juga Shakila mengikuti ujian SBMPTN yang dilaksanakan di salah satu SMA ternama di kota Sukabumi yang tak lain dan tak bukan adalah SMA Dipta dahulu.
Shakila dan Keysha tidak berada dalam satu ruang ujian yang sama. Shakila berada di lantai satu persis samping ruang guru lalu Keysha berada di lantai dua samping ruang UKS. Mereka sudah berjanji untuk pulang bersama nanti.
Setelah kurang lebih dua jam mereka menyelesaikan soalnya, bel pun berdering menandakan waktu dalam mengerjakan sudah habis. Keysha pun segera keluar dari kelasnya dan menuruni anak tangga dengan hati-hati karena ia harus berdesakan dengan yang lain.
Shakila juga sudah terlihat sedang menunggu Keysha di depan ruang kelasnya. Keysha pun menghampiri Shakila sambil merangkul tangannya yang lembut dan berbulu halus.
"Gimana tadi La? Bisa?" tanya Keysha membuka percakapan.
"Ya sudah lupakan saja. Sekarang kita makan mie ayam yuk La?" ajak Keysha sambil membawa tangan Shakila untuk mengikuti langkahnya.
"Dimana?" tanya Shakila.
"Di depan gerbang sebelah kanan paling ujung, kata A Dipta mie ayamnya enak banget, mie nya kecil-kecil dan tipis gitu nggak besar-besar dan rasanya mantap!" ujar Keysha seolah sedang berpromosi.
"Boleh deh!" sahut Shakila. Mereka pun segera menuju ke tempat tukang mie ayam dan gerobaknya berada. Dipta bilang harus main cepet-cepetan kalau beli mie ayam karena kalau nggak cepet, kita susah dapat duduknya. Maka dari itu Keysha berjalan dengan sangat lincah, sampai-sampai Shakila bingung dengan sikap Keysha yang seperti terburu-buru.
__ADS_1
"Key, santai dong jalannya!" tukas Shakila.
"Enggak bisa La nanti kita nggak dapat duduk lho," jawab Keysha masih dengan gerakan yang terburu-burunya.
Sesampainya disana ternyata benar saja, hanya tersisa tiga bangku, beruntung mereka masih dapat jatah duduk. Mereka pun langsung menempati tempat duduknya lalu pesan mie ayam dari tempat duduknya berada.
"Sorry ya La, kamu sudah aku ajak buru-buru soalnya A Dipta bilang makan di mie ayam sini sering rebutan tempat duduk kalau kalah cepat datangnya," bisik Keysha.
"Oalah pantes tadi kamu bilang gitu, aku sampai bingung melihat kamu yang kayak orang kelaperan. Haha..." canda Shakila. Tak lama pesanan mereka pun datang berikut dua gelas teh tawar yang diberikan cuma-cuma juga dua mangkok plastik kecil berisi kerupuk pangsit yang kecil-kecil. Tak perlu menunggu aba-aba, mereka langsung menyantap mie ayam tersebut. Suasana menjadi hening karena mereka masih asik dengan makanannya. Setelah kira-kira sudah tinggal sedikit lagi hampir habis. Shakila bertanya pada Keysha.
"Key, kamu ngajak aku makan disini berarti kamu yang traktir ya?" ledek Shakila.
"Wah kamu kok tahu saja kalau mau ditraktir!" sahut Keysha. Shakila memasang raut wajah bingung karena ia tak menyangka tebakannya benar.
"Lho benar ya?!" imbuh Shakila tak percaya.
"Iya tapi ini bukan aku yang traktir melainkan A Dipta," jawab Keysha masih dengan mulut yang agak penuh dengan mie.
"Tumben! Ada apa?" Shakila mulai merasa tidak enak. Ia merasa ada sesuatu dibalik ini semua.
"A Dipta lulus beasiswa jadi ia ingin merayakannya dengan mentraktir kamu! Kata A Dipta terima kasih dukungannya selama ini," sahut Keysha bersemangat tapi tidak dengan Shakila. Ada kepingan yang hancur dalam hatinya. Kalau boleh jujur, selama ini ia mendoakan supaya Dipta tidak lulus beasiswa tersebut dengan maksud supaya Dipta bisa terus bersamanya!
Shakila secara seketika sudah tidak enak lagi menyantap makanannya. Ia sedih. Ia kecewa. Ia tak suka mendengar kelulusan Dipta! Baginya Dipta hijrah untuk berkuliah di ibukota adalah mimpi buruk baginya. Ia hanya ingin Dipta tetap di sini, di kota ini. Ia ingin segera dinikahi oleh Dipta.
__ADS_1
Namun semua tidak sesuai keinginannya. Ia terpuruk hari ini, saat ini dan detik ini juga!
***