
Saat ini sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB di masjid daerah Bogor tempat Ustadz Irfan memberikan ceramah. Masjid ini adalah masjid kedua tempat beliau berdakwah. Sebelumnya ia sudah lebih dulu berdakwah di masjid yang berada sekitar kurang lebih tiga kilometer dari masjid yang saat ini sedang ia kunjungi.
Dipta menunggu Ustadz Irfan dari luar masjid. Ia duduk di teras masjid sambil menyeruput es cincau segar yang berjualan di halaman masjid. Sambil sesekali ia membuka HP-nya dan berharap ada SMS lagi dari Shakila.
Sebenarnya ia juga ingin SMS duluan tapi ia bingung harus SMS apa karena SMS Shakila yang semalam saja belum ia balas. Bukan karena nggak mau balas tapi bingung harus balas apa.
Ia hanya khawatir menjadi terbawa emosi jika tadi malam ia lanjut berbalas SMS dengan Shakila. Tapi saat ini sepertinya emosinya sudah mulai stabil. Ia pun mencoba SMS Shakila.
Tapi ketika hendak mengetik SMS untuk Shakila tiba-tiba ada SMS masuk. Ketika dilihat ternyata itu SMS dari Shakila. Pas banget. Ia pun langsung membuka dan membaca isi SMS-nya.
[Assalamualaikum A Dipta, maafin Shakila ya? Keysha sudah ceritakan semuanya tentang A Dipta. Jujur, aku emang pergi sama Adit ke toserba tapi itu pun karena aku terpaksa karena nggak punya teman bareng untuk pulang. Keysha kerja kelompok. Aku takut pulang sendiri. Sudah gitu Mang Cecep nggak bisa jemput. Nah, Adit datang menawarkan aku tumpangan jadi aku ikut dan dia minta aku temani makan sebelum pulang. Aku nggak enak mau menolaknya A karena aku sudah numpang dibonceng sama dia. Aku dan Adit hanya teman biasa. Tidak ada yang spesial diantara kami. Hanya A Dipta satu-satunya laki-laki yang aku harapkan jadi suamiku kelak. Ku mohon maafkan aku?]
Membaca SMS Shakila, ternyata masih ada cemburu di dalam hati Dipta. Ia merasa harusnya Shakila bisa dengan tegas menolak ajakan Adit. Lalu apa susahnya cari teman yang pulangnya searah dengannya. Kemudian, bisa saja dia naik ojeg kalau takut naik angkot sendirian. Dipta berkutat dengan pikirannya sendiri.
Sebenarnya ia sudah memaafkan Shakila hanya saja rasa cemburunya belum juga hilang meski Shakila bilang hanya dialah satu-satunya laki-laki yang diharapkannya.
Ia pun membalas SMS Shakila,
[Sudah aku maafkan. Tolong untuk tidak mengulanginya lagi. Biar bagaimana pun dia bukan muhrim untukmu. Aku saja menjagamu untuk tidak kusentuh sebelum menjadi muhrimku maka kamu juga harus menjaga dirimu dari lawan jenismu. Kalau bukan kamu yang jaga siapa lagi.] Balas Dipta.
[Terima kasih sudah memaafkan aku tapi ada yang harus A Dipta ketahui. Aku tidak bersentuhan dengan Adit sama sekali. Jadi aku cukup tau bagaimana harus menjaga diriku sendiri.] Shakila mulai tersinggung dengan SMS Dipta.
__ADS_1
[Syukurlah kalau kamu tau. Maafkan aku juga yang tidak bisa mencintaimu seperti yang kamu mau.] Tulis Dipta sambil sesekali melihat ke atas. Karena sepertinya air matanya hampir memenuhi matanya.
[Maksudnya seperti yang aku mau itu apa A?] tanya Shakila yang kali ini ingin mengetahui apa yang dimaksud Dipta.
[Seperti orang-orang pacaran lainnya.]
[Aku nggak pernah menuntut itu pada A Dipta lagian komitmen ini kan sudah kita setujui bersama. Aku nggak apa-apa kalau harus menjalani hubungan yang tanpa status seperti ini.] Tak terasa air mata Shakila mengucur dengan derasnya. Ia tak menyangka akan berlanjut seperti ini. Ia hanya minta maaf dan berpikir semua akan baik-baik saja tapi ternyata tidak.
[Baiklah kalau kamu masih mau bertahan untukku. Aku pun akan selalu bertahan untukmu. Maafkan aku yang sudah cemburu. Aku masih sayang kamu.] Dipta pun luluh juga hatinya melihat ada keseriusan mendalam di hati Shakila. Selama ini Shakila memang tidak menuntut apa-apa pada Dipta. Ia hanya berspekulasi saja kalau Shakila ingin Dipta seperti orang-orang yang sedang pacaran. Mengantar jemput dia, mengajaknya makan, menghubunginya tiap waktu, menghabiskan waktu bersama berdua saja dan hal lain yang dilakukan kebanyakan orang dalam berpacaran. Ternyata Shakila benar-benar menerima Dipta apa adanya. Itulah yang saat ini ada di pikiran Dipta.
Shakila pun akhirnya juga luluh setelah membaca SMS Dipta yang bilang kalau ia masih sayang Shakila.
[Aku juga sayang kamu calon suamiku.] Dipta jadi senyum-senyum lagi membaca SMS dari Shakila. Perempuan ini memang paling bisa membuat Dipta tersenyum.
"Ah enggak Ustadz. Cuma baca SMS dari teman saja." Dipta tidak berbohong karena Shakila memang hanya teman.
"Teman tapi ngarep ya?" canda Ustadz Irfan.
"Ah Ustadz bisa saja!" sahut Dipta yang tak bisa menutupi rona merah di pipinya yang putih.
"Ya sudah kita pulang sekarang!" ajak Ustadz Irfan sambil memakai sandal miliknya.
__ADS_1
"Baik Ustadz," Dipta pun bergegas berdiri dan memakai sendalnya juga sambil membalas SMS Shakila.
[Terima kasih Shakila. Sudah dulu ya. Aa mau jalan pulang. Assalamualaikum.] Tak lama Shakila membalas SMS Dipta.
[Waalaikumsalam hati-hati ya A.]
***
Hubungan Dipta dan Shakila sudah berjalan kurang lebih hampir dua tahun. Kini Shakila dan Keysha sebentar lagi di bulan April akan melaksanakan UN.
Di sekolah, Keysha mulai memikirkan nasibnya lagi untuk berkuliah. Tapi kali ini ia tidak memaksakan karena ia ingin kuliah jika Dipta juga kuliah.
Ia juga tidak tahu sudah berapa banyak tabungan Dipta untuk berkuliah nanti yang ia tahu Dipta sangat rajin menabung. Uang hasil bimbelnya semua ditabung, lalu uang gajinya jadi supir Ustadz Irfan juga setengahnya ditabung, setengahnya lagi untuk memberikan ongkos sekolah Keysha dan Lusiana.
Setahu Keysha, Dipta juga sering memberi sedikit uang untuk anak tetangganya yang masih kecil sudah jadi yatim. Tak banyak memang tapi rutin. Keysha sendiri tahu dari tetangganya itu, bukan dari Dipta.
Suatu hari Keysha lewat di depan rumah Teh Enun, tetangganya yang suaminya meninggal saat tiga anaknya masih kecil-kecil. Teh Enun memanggilnya dan memintanya untuk masuk dulu ke dalam rumahnya.
Setelah Keysha masuk, ternyata Teh Enun memberikannya dua toples sedang yang berisi kue nastar. Ia bilang titip untuk A Dipta karena uang dari A Dipta sudah bisa Teh Enun kumpulkan untuk menjadi modal jualan kue-kue kering.
Keysha menerima pemberiannya dengan bingung karena selama ini Keysha tidak tahu kalau Dipta sebaik itu pada tetangganya. Ia pun lalu pulang dan tak lupa berterima kasih.
__ADS_1
Dipta memang sosok kakak yang baik untuk Keysha. Semoga saat ia sampai dirumah nanti, Dipta tidak sedang sibuk sehingga Keysha bisa membicarakan kelanjutan nasibnya dan nasib Dipta untuk berkuliah.
***