CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Bersiap Pindah


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang dinanti-nanti oleh Keysha karena pengumuman SBMPTN akan diumumkan tepat di jam 00.00 WIB tengah malam.


Keysha sengaja tidak tidur karena menunggu pengumuman yang akan dilihatnya secara online. Begitu masuk waktunya, Keysha langsung berselancar di internet mencari informasi akan kelulusannya.


Ia tampak gugup tapi beruntung ibunya juga kakak dan adiknya selalu mendukungnya. Mereka menemani Keysha bergadang malam ini.


Tak butuh waktu lama, akhirnya Keysha menemukan namanya tertera di pengumuman kelulusan. Ia pun langsung memeluk ibunya lalu sujud syukur.


"Selamat ya Key! Semoga cita-cita kamu tercapai. Aamiin." Bu Asih mendoakan anak keduanya itu. Dipta dan Lusiana pun ikut terharu mendengar kelulusan saudara kandungnya itu.


***


Satu bulan kemudian.


Dipta dan Keysha sedang mempersiapkan diri mereka untuk segera ke Jakarta. Hari ini mereka ingin mencari kontrakan terlebih dulu sebelum akhirnya mereka benar-benar pindahan.


Mereka berangkat setelah solat subuh dengan mengendarai motor. Motor peninggalan ayahnya itu. Meski motor jadul tapi mesinnya masih kuat untuk dibawa jalan jauh karena sebelumnya Dipta juga pernah nekat membawanya ke Jakarta untuk interview setelah namanya lolos seleksi beasiswa. Dan ternyata benar, motornya masih bandel mesinnya. Meskipun ia harus selalu berhenti untuk membuat mesin motornya tidak terlalu panas.


Keysha sudah mengetahui hubungan Dipta dan Shakila yang sedang dipending karena Dipta memutuskan untuk berkuliah dan tidak memilih menikahi Shakila secepatnya. Shakila pun berpesan padanya untuk menjaga kakaknya itu supaya tidak kecantol perempuan lain. Keysha akhirnya berjanji mengawasinya.


Perjalanan Dipta dan Keysha kurang lebih memakan waktu tiga jam karena mereka banyak berhenti untuk beristirahat. Saat ini pukul 07.30 WIB, mereka sudah sampai di daerah Ciputat.


Takdir Allah, Keysha dan Dipta keterima di universitas yang sama yaitu Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, meski berbeda jurusan. Sesampainya di Ciputat, mereka beristirahat sejenak di masjid seberang kampus. Masjid Fathulloh namanya.


Mereka berniat melaksanakan solat dhuha dahulu sebelum mencari kos-kosan atau kontrakan. Ketika Keysha sedang mengambil wudhu tiba-tiba ia melihat ada uang lima puluh ribu yang jatuh tepat setelah perempuan berkerudung merah melewatinya. Ia pun yakin kalau uang itu adalah milik perempuan berkerudung merah tersebut. Ia lalu menyelesaikan wudhunya kemudian mengambil uang itu dan memanggil si pemiliknya.


"Kak, maaf." Perempuan itu pun menoleh ke arahnya.


"Oh iya kenapa?" tanyanya bingung karena merasa tidak mengenal Keysha.


"Ini uang Kakak sepertinya jatuh dari kantong bajunya," jawab Keysha sambil menyerahkan uang berwarna biru itu. Ia pun mengecek isi kantongnya dan ternyata benar itu adalah uangnya.


"Ya Allah, makasih ya Kak!" ucapnya lembut dan terlihat senang karena uangnya masih menjadi miliknya dan berarti itu masih rejekinya.


"Jangan panggil saya kakak, panggil saja Keysha," sahut Keysha sambil mengenalkan dirinya.


"Oh iya makasih Keysha. Saya Kiara. Salam kenal," ucapnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan. Mereka pun saling melempar senyum lalu secara bersama-sama masuk ke dalam masjid mencari mukena yang tersedia di masjid itu. Lalu mereka melaksanakan solat dhuha bersebelahan. Setelah selesai, Kiara pun pamit duluan pada Keysha karena harus segera ke kampus.


Tak lama Keysha pun keluar dari masjid dan mencari Dipta di tempat jamaah laki-laki. Didapatinya Dipta sedang memakai sepatu.


"A sudah selesai?" tanya Keysha menghampiri Dipta.


"Sudah, yuk!" Dipta pun berdiri dan berjalan di sisi kanan Keysha. Mereka pun berjalan untuk mencari kontrakan.

__ADS_1


"A, tadi aku kenalan sama perempuan. Cantik deh." Keysha membuka obrolan membicarakan perempuan yang ia temuinya tadi.


"Terus kamu naksir gitu?" ledek Dipta.


"Ealahhhh A! Yang bener aja sih. Masa aku jeruk makan jeruk. Hmm tapi kayaknya kalau aku laki-laki pasti naksir sih. Soalnya cewek tadi udah cantik, lembut lagi suaranya." Keysha seolah teringat akan suara lembutnya.


"Kenapa bisa kenalan?" tanya Dipta heran karena menurutnya perempuan biasanya agak gengsi kalau memulai perkenalan dengan jenisnya sendiri.


"Tadi uangnya jatuh terus aku ambil dan kasih lagi ke dia," jawab Keysha sambil memperbaiki posisi tasnya yang agak melorot.


"Pantesan suaranya lembut. Karena kamu selamatkan uangnya," canda Dipta.


"Ih si Aa mah! Ngaco aja," tukas Keysha.


"Emang namanya siapa?" tanya Dipta lagi. Diam-diam ternyata ia penasaran juga dengan perempuan yang Keysha ceritakan.


"Kiara," jawab Keysha singkat.


"HAH? KIARA?" Dipta kaget setengah berteriak.


"Ih apa-apaan sih A? Berisik tau! Nggak usah teriak-teriak gitu, biasa aja kali. Kayak yang kenal aja." Keysha kaget beneran dengan reaksi Dipta.


"Kayaknya aku kenal Key," Dipta semangat.


"Ya tetap di hati lah Key. Cuma masalahnya kayaknya Kiara yang kamu maksud itu adalah orang yang Aa kenal. Anaknya putih kan? bola matanya cokelat, hidungnya mancung dan warna bibirnya semu pink gitu." Dipta berusaha meyakinkan dirinya kalau yang kenalan dengan Keysha tadi benar Kiara, mantan calon pacarnya yang juga sepupu Shakila.


"Iya A bener! Kok Aa bisa tahu? Tapi nggak sedetail itu juga kali jelasin ciri-cirinya," Keysha bingung sendiri.


"Kan Aa bilang kalau Aa kayak kenal." Dipta menjawab dengan cuek. Mereka pun terus berjalan menyusuri perkampungan sambil mencari-cari tulisan kontrakan kosong. Motornya sengaja ditinggal di parkiran untuk beristirahat supaya nggak kecapean.


"Emang Kiara tuh siapa?" tanya Keysha penasaran.


"Mantan calon pacar!" jawabnya percaya diri.


"Oalahhhh bohong pasti Aa mah! Mana mungkin cewek cantik gitu mau sama Aa," ledek Keysha nggak percaya.


"Yee dia nggak percaya! Aa nggak bohong. Kiara itu dulu suka sama Aa dan Aa juga suka sama dia tapi berhubung ayahnya itu guru Aa jadi Aa nggak tega mau pacarinnya, takut mengecewakan ayahnya. Untung kita bener nggak jadian. Soalnya ternyata Kiara itu sepupunya Shakila." Dipta menjelaskan dengan detail.


"Duniamu sempit kali A," sahut Keysha. Tak sengaja sambil berbicara satu sama lain, mereka membaca ada kontrakan yang bertuliskan kosong. Dipta pun mengajak Keysha untuk mengecek kebenarannya.


Mereka lalu mengetok pintu rumah yang lebih besar diantara rumah yang lain, mereka rasa itu rumah pemilik si empunya kontrakan. Tak lupa mereka pun mengucapkan salam. Sekitar tiga menit kemudian, ibu-ibu berkerudung hijau pun keluar membuka pintu.


"Waalaikumsalam. Cari siapa ya?" tanyanya ramah.

__ADS_1


"Maaf Bu kami mau tanya, siapa pemilik kontrakan yang kosong itu?" tanya Dipta sopan.


"Kebetulan saya Dek, apa kalian berminat?" tanyanya.


"Iya Bu. Bisa bicara lebih lanjut?" tanya Dipta lagi karena merasa tertarik dengan kontrakannya yang terlihat asri juga bangunannya yang terlihat seperti masih baru.


"Kalau begitu silahkan duduk Dek," ibu itupun mempersilahkan Keysha dan Dipta untuk duduk di kursi tamunya yang berada di teras rumah.


Dipta dan Keysha merasa beruntung karena mereka tak butuh waktu lama untuk mencari kontrakan kosong. Mereka juga merasa jalannya mudah sekali. Apa mungkin kemudahan ini didapatkan karena mereka solat dhuha dulu sebelumnya? Hanya Allah yang tahu.


"Kalau boleh tahu, hubungan kalian itu apa?" tanya ibu si pemilik kontrakan.


"Kami kakak beradik Bu," jawab Dipta.


"Boleh saya lihat KTP-nya? Mohon maaf ya Dek sebelumnya, karena saya harus teliti menerima siapa saja yang akan ngontrak. Saya nggak mau tempat kontrakan saya dijadikan tempat yang tidak baik oleh penghuninya." Dipta dan Keysha pun mengangguk lalu dengan segera mereka mengeluarkan KTP dari dompet masing-masing. Lalu mereka menyerahkannya pada si ibu.


Si ibu pemilik kontrakan pun dengan teliti membaca alamat pada KTP mereka berdua dan ternyata memang benar kalau mereka kakak beradik karena alamat mereka sama.


"Bagaimana Bu?" tanya Dipta.


"Baiklah saya sudah percaya kalau kalian kakak beradik." Si ibu pun mengembalikan KTP mereka.


"Berapa biaya sewa kontrakan perbulannya Bu?" tanya Dipta to the point.


"Tujuh ratus ribu perbulannya Dek. Dan ada beberapa persyaratan sebelum menempati kontrakan saya," tegas si ibu.


"Persyaratannya apa saja Bu?" tanya Keysha kali ini.


"Jika ada yang bertamu lalu menginap wajib lapor saya, lalu dilarang menimbulkan kebisingan, yang paling penting jangan pernah jadikan kontrakan saya itu tempat mesum ya! atau kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan hukum agama," jelasnya lagi.


"Kalau untuk berdagang boleh nggak Bu?" tanya Dipta ragu karena dia memang niat kuliah sambil berdagang untuk menghidupi kebutuhan sehari-hari mereka.


"Berdagang? Memang kalian mau dagang apa?" tanya si ibu heran karena selama ini yang ngontrak di tempat dia nggak pernah ada yang meminta izin untuk berdagang.


"Kami ingin jualan seblak Bu untuk biaya hidup kami di sini," sahut Dipta.


"Memangnya orang tua kalian tidak bisa mengirim uang bulanan untuk kehidupan kalian di sini?" tanya si ibu bingung. Dipta dan Keysha pun saling tatap. Ada raut kesedihan di wajah mereka.


"Enggak Bu. Ayah kami sudah meninggal. Ibu kami juga hanya seorang pedagang seblak dan buka toko sembako kecil-kecilan," jawab Keysha sambil tertunduk sedih. Melihat kedua anak yatim ini, si ibu pun jadi merasa bersalah telah menanyakan hal demikian. Sampai akhirnya ia pun mengizinkan mereka berjualan dengan syarat tetap jaga kebersihan.


Alangkah senangnya Dipta dan Keysha akhirnya bisa mendapatkan izin untuk tinggal dan berjualan di sini. Mereka berharap kehidupan mereka akan selalu lancar diperantauan.


***

__ADS_1


__ADS_2