CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Perjanjian Cinta


__ADS_3

Dipta masih belum membalas satu pun SMS dari Shakila. Ia bingung harus bagaimana. Di satu sisi ia tidak ingin berpacaran tapi di sisi lain ia mencintai Shakila dan kasihan padanya karena telah digantungkan cintanya dari kecil mula.


Begitupun Shakila, kali ini ia tidak akan melepaskan Dipta lagi dalam genggamannya. Sudah cukup lama baginya menunggu kesempatan ini datang. Ia tak akan menyia-yiakan kesempatan ini.


Dipta harus tau apa yang ia rasakan selama ini dan ia merasa Dipta harus bertanggung jawab dalam hal ini.


Dipta pun akhirnya membalas SMS Shakila.


[La, kamu tau kan kalau aku nggak bisa pacaran?]


[Kenapa baru balas? Iya aku tau! Terus kenapa A?]


[Maaf. Karena aku harus pikirkan ini matang-matang sebelum membalas SMS kamu. Jadi aku nggak bisa pacari kamu. Maaf La.]


[Kan aku sudah SMS tadi. Aku bilang kalau Aa nggak mau pacaran ya sudah jadikan aku ISTRI Aa!]


[Tapi perjalanan kita masih panjang La. Terutama kamu. Kamu masih kelas 2 SMA. Dan aku juga belum kerja!]


[Aku nggak masalah kok seandainya nanti aku harus kuliah setelah jadi istri Aa. Pertanyaanku cuma satu A, tolong jawab sejujur-jujurnya! Masihkah Aa menyayangiku seperti saat dulu ketika Aa masih SD?]


Dipta terdiam lagi. Haruskah ia jujur pada Shakila? Tak lama Shakila SMS lagi.


[Aa tolong jawab jujur!]


[Aku sayang kamu La!] Dipta pun akhirnya memilih untuk jujur.


[Sungguh?] tanya Shakila menegaskan lagi.


[Sungguh La! Aku sayang kamu semenjak kamu hadir lagi dikehidupanku. Tapi aku tak ingin kita pacaran. Aku tak mau terjerumus oleh itu. Karena pacaran hanya akan membawa hal yang tidak baik untuk kita.]


[Jadi?]


[Cukuplah untuk kita saling mengetahui kalau kita saling mencintai. Jaga hatimu untukku. Begitu pula aku. Aku akan jaga hatiku untukmu. Begitu pula pandanganku. Akan ku jaga mata ini melihat perempuan lain selain dirimu. Melihatmu pun akan ku jaga semampu aku sebelum kita menjadi muhrim. Tunggulah aku dan sabarlah. Suatu saat aku akan datang, melamarmu dan menikahimu.]


[Apa Aa serius?]


[Iya aku serius. Sepanjang kamu bersabar menjalani hubungan tanpa status ini.]

__ADS_1


[Baik A. In Shaa Allah aku bisa! Terima kasih A Dipta sudah menyayangiku seperti aku menyayangimu. Aku akan menunggumu hingga waktunya tiba.]


[Terima kasih La. Sudah mau mengerti aku! Percayalah ini yang terbaik untuk kita!]


[Iya A sama-sama! Aku percaya A!]


[Ya sudah kamu tidur ini sudah larut malam. Takut subuhmu kesiangan.]


[Oke calon imamku!]


[Semoga kita berjodoh.]


[Aamiin]


'Phuhhhh! Pecah juga telornya! Rasanya hatiku ini senang bukan main. Akhirnya bisa menyatakan cinta pada Shakila. Untung Shakila setuju dengan perjanjian cintaku.' Batin Dipta lega.


Malam ini Shakila dan Dipta sama-sama tidur dengan membawa hati yang berbunga-bunga! Mereka menutup matanya tapi bibirnya masih tersenyum mengingat manisnya kejadian tadi.


Kejadian dimana mereka sama-sama berjanji untuk saling menjaga hati demi masa depan yang akan mereka raih kelak.


Bagi mereka tak ada malam seindah malam ini. Malam yang cerah meski tanpa bintang!


***


Tapi belum terlambat baginya untuk solat berjamaah di masjid. Ia pun segera berwudhu dan mengganti baju dengan koko putih peninggalan ayahnya. Koko yang sering ayahnya pakai kalau ke masjid.


Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk sampai ke masjid. Beruntung ia tak ketinggalan rokaat pertama. Karena sesampainya ia di masjid. Sang imam baru saja mengintruksikan makmumnya untuk merapatkan shafnya.


Dipta pun bersegera masuk ke dalam barisan makmum. Setelah kurang lebih lima menit solat pun selesai dan ditutup dengan doa. Yang menjadi imam kali ini adalah ayahnya Alya, Pak Ustadz Irfan yang meminjamkan Dipta kontrakannya untuk dijadikan tempat les anak-anak murid Dipta.


Selesai berdoa, para jamaah membuat lingkaran dan bersalaman mengitari jamaah yang lain. Ketika Dipta bersalaman dengan Pak Ustadz, tiba-tiba beliau mendekatkan mulutnya ke kuping Dipta membisikkan 'pulang dari masjid jangan kemana-mana dulu ya. Ada yang mau saya bicarakan.' Dipta pun mengangguk pertanda setuju. Ia pun kembali bersalaman mengitari jamaah yang lain.


Keluar dari pintu masjid, Dipta langsung duduk bersila di teras masjid menunggu kedatangan Pak Ustadz. Tak berselang lama, beliau pun datang menepuk pundak Dipta.


"Dipta!" sapanya.


"Ya Ustadz. Ada apa ya Tadz?" tanya Dipta penasaran karena seperti ada yang penting yang ingin dibicarakan.

__ADS_1


"Gimana kabar ibumu dan adik-adikmu?" tanya Ustadz Irfan mengawali pembicaraan. Beliau memang orang yang dilematis tidak terlalu biasa untuk bersifat to the point.


"Alhamdulillah baik Ustadz," jawabnya singkat.


"Bimbingan belajarmu gimana? Lancar?" tanyanya lagi.


"Alhamdulilah selama hampir setahun ini lancar Ustadz," Dipta masih tidak mengerti apa yang kira-kira hendak dibicarakan oleh Ustadz Irfan.


"Syukurlah. Oh ya Dip, saya perhatikan selama ini kenapa ya kamu solat isya di masjidnya hanya hari minggu malam senin? Tapi solat subuh, magrib, zuhur dan asar rutin. Ada apa ya?" tanya Ustadz Irfan mulai masuk pada inti obrolan.


"Oh iya Pak. Itu karena setiap habis magrib saya masih ada murid lagi sampai jam delapan malam. Jadi solat isyanya di rumah. Kecuali minggu malam senin karena bimbelnya libur tiap minggu."


"Oh begitu. Pantas saja ya kamu nggak bisa solat isya di masjid. Memangnya ada berapa anak yang les setiap habis magrib?" tanyanya lagi.


"Hanya satu sih Ustadz."


"Siapa kalau boleh tau?"


"Shakila anaknya Bu Sinta."


"Oh Shakila. Rasanya saya pernah melihat kalian naik motor malam-malam," telisik Ustadz Irfan.


"Iya Pak. Waktu itu saya mengantarnya pulang karena Kang Cecep, mamangnya Shakila nggak bisa jemput."


"Oh begitu. Maaf ya saya pikir kalian berpacaran. Makanya saya kira kamu nggak pernah solat isya di masjid karena tiap malam kamu apel ke rumahnya," canda Ustadz Irfan.


"Ah enggak kok Pak. Kami nggak pacaran!" elak Dipta gugup.


"Syukurlah kalau gitu. Ya sudah saya pamit ya. Salam untuk ibu dan adik-adikmu," sahut Ustadz Irfan sambil beranjak meninggalkan Dipta.


Dipta pun mengiringi langkahnya di belakang Ustadz Irfan. Sejujurnya dia kaget juga mendengar prasangka Ustadz Irfan terhadapnya. Untung apa yang ia katakan tadi benar. Ia tidak berbohong. Ia memang tidak berpacaran.


Jika saja Ustadz Irfan tau kalau ia berpacaran pasti jelek sudah Dipta dimatanya. Karena Ustadz Irfan kalau sedang mengisi pengajian di remaja masjid pasti isinya hindari zina! Zina yang mengatasnamakan cinta yaitu pacaran!


Sering kali beliau memotivasi remaja masjid untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar. Terutama yang berhubungan dengan pacaran. Ada juga beberapa senior Dipta di remaja masjid menikah dengan perempuan yang aktif menjadi remaja masjid juga tanpa pacaran alias lewat ta'aruf dan perantaranya yaitu beliau.


Akankah Dipta meminta bantuan beliau terkait dengan rasa cintanya pada Shakila?

__ADS_1


***


__ADS_2