CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Tentang Kiara


__ADS_3

Dipta hanya terdiam mendengar pertanyaan Shakila tentang Kiara. Dipta juga bingung kepada Shakila. Seberapa banyak ia mengetahui kisah cinta dan kehidupan pribadi Dipta.


Apa mungkin dia mengetahui nama Kiara dari Keysha? Tapi seingat Dipta, Keysha tidak tau apa-apa tentang Kiara.


Melihat reaksi Dipta terdiam mendengar nama Kiara. Shakila pun menegurnya.


"Kenapa diam A? A Dipta bingung ya kenapa aku bisa tau tentang Kiara?" tanya Shakila.


"Ehm... Nggak juga. Lebih baik kita segera pulang!" Dipta mengalihkan pembicaraan.


"Nggak perlu A. Aku bisa pulang sendiri!" ketus Shakila. Dia mulai cemburu melihat reaksi Dipta yang terdiam mendengar nama Kiara ia sebut.


"Kamu kenapa La?" tanya Dipta menyadari ada yang tidak sedang baik-baik saja di dalam hati Shakila.


"Nggak apa-apa!" jawabnya singkat.


"Ya sudah. Mau kamu apa?" tanya Dipta.


"Aku mau A Dipta jujur tentang Kiara!" Shakila mulai terbawa emosi.


"Kiara itu teman sekelasku waktu kelas X dan ayahnya adalah guru favoritku, Pak Firman. Aku mengagumi Kiara seperti anak laki-laki normal lainnya. Tapi aku tidak pacaran dengannya. Hanya sebatas mengaguminya saja. Sudah cukup?" jelas Dipta.


"Dan asal A Dipta tau! Pak Firman itu adalah Om ku. Dia adik kandung ayahku. Jadi Kiara adalah adik sepupuku. Dan Kiara pernah cerita padaku kalau ia mencintai seseorang yang tinggal di daerah rumahku. Namanya Mahesa Pradipta dan setau aku cuma ada satu nama itu di desa ini yaitu A Dipta," jelas Shakila panjang lebar.


Mendengar penjelasan Shakila. Dipta lumayan kaget juga karena ia baru tau hal itu. Tapi ia masih merasa beruntung tidak pernah berpacaran dengan Kiara. Kalau seandainya ia jadi berpacaran dengan Kiara saat itu, pasti ia tak akan enak hati kalau Kiara tau kini ia mencintai Shakila. Sepupunya sekaligus cinta monyet masa kecilnya dan akan menjadi cinta masa kininya.


"Ya sudah La lagian aku dan Kiara kan nggak pernah pacaran dan kami tidak ada hubungan apa-apa sampai saat ini," sahutnya.

__ADS_1


"Ia tapi kalian saling mencintai!" sahut Shakila lagi.


"Aku sudah tak mencintai dia lagi La." Jujur Dipta pada Shakila.


"Terus siapa yang A Dipta cintai?" tanya Shakila yang kali ini nada suaranya sudah normal kembali. Tidak menggebu-gebu seperti tadi ketika membicarakan Kiara.


'Aku cinta kamu La! Tapi biar saja rasa ini ku simpan karena aku belum mampu untuk melakukan ta'aruf padamu,' batin Dipta.


"Belum ada La. Ya sudah kita pulang sekarang. Kasihan Kang Cecep dan Teh Mela takut mereka mengkhawatirkanmu yang sampai jam segini belum pulang," ajak Dipta pada Shakila.


"Iya baiklah." Shakila pun naik lagi ke motor Dipta. Dalam hatinya masih kacau karena ternyata Dipta belum mencintainya. Dan ia masih ingin terus menaklukannya.


***


Tiga hari kemudian, di hari Minggu pagi, Dipta pergi ke pasar bersama ibunya membeli sembako untuk di jual kembali karena stok sembakonya sudah banyak yang habis.


Ketika ibunya sedang mengantri untuk melakukan pembayaran di toko grosir sembako, Dipta memilih menunggu di luar karena sumpek sekali di toko itu. Sangat banyak pembelinya. Mungkin karena emang toko itu termasuk toko yang paling murah dibanding toko lain. Kemudian toko itu juga menjadi tempat para pedagang eceran seperti Bu Asih membeli barang dagangan.


Ia terlihat sendirian sambil membawa plastik berisi buah semangka dan melon di tangannya. Ia pun berjalan menyebrangi jalan raya dan kini berhadapan dengan Dipta meski tersisa jarak satu setengah meter antara mereka. Dipta pun menyapa Kang Cecep.


"Kang Cecep!"


"Hai! Sugan teh saha?" (Kirain siapa?) Kang Cecep tersentak.


"Sendiri Kang?" tanya Dipta.


"Iya. Lah kamu sendiri juga?" Kang Cecep balik bertanya.

__ADS_1


"Enggak. Berdua sama Ibu. Oh ya Kang Cecep sudah mendingan?" tanya Dipta menanyakan kabar Kang Cecep karena setau ia, Kang Cecep tiga hari ini sakit jadi nggak bisa antar jemput Shakila. Otomatis Dipta lah yang antar Shakila kalau pulang. Tapi kalau berangkat Shakila mengaku jalan kaki dari rumahnya.


Namun mendengar pertanyaan Dipta, Kang Cecep malah heran!


"Mendingan? Lah siapa yang sakit Dip?"


"Kang Cecep!" sahut Dipta menegaskan.


"Alhamdulillah saya sehat-sehat saja," jawab Kang Cecep polos.


"Lha terus...," Dipta memotong pembicaraannya. Dia mulai bingung, disini Kang Cecep yang bohong atau Shakila?


"Terus kenapa Dip?" tanya Kang Cecep lebih bingung karena ia merasa sehat-sehat saja selama hampir sebulan ini.


"Ah nggak apa-apa Kang! Saya kira Kang Cecep sakit soalnya Shakila tiap berangkat nggak diantar Kang Cecep terus pulangnya juga nggak dijemput." Dipta berbohong karena sesungguhnya Shakila lah yang berkata kalau mamangnya sakit.


"Oh itu! Neng Kilanya sendiri yang nggak mau diantar sampai depan rumah jadi saya cuma antar sampai warung Ceu Upi. Terus pulangnya juga nggak mau dijemput katanya kamu yang nawarin dia buat diantar pulang," jelas Kang Cecep panjang lebar.


Dari penjelasan Kang Cecep, akhirnya Dipta mengambil kesimpulan kalau Shakila yang telah berbohong. Untuk apa sebenarnya kebohongan itu dia buat?


Apa ini semua dia lakukan demi menjadi lebih dekat lagi dengan Dipta dan bisa menarik hatinya. Padahal tanpa ia lakukan kebohongan. Dipta sudah merasa jatuh cinta padanya.


'Berarti Shakila berbohong demi bisa dekat denganku dan bisa diantar pulang olehku. Pantas saja, dia selalu punya cara untuk berlama-lama denganku di motor. Misalnya seperti dua hari lalu, diperjalanan pulang ke rumahnya, ia minta mampir ke mini market terdekat dengan alasan ingin membeli kebutuhannya dan saat itu aku tidak ingin turun dari motor tapi dia memaksaku untuk ikut dengannya. Sampai akhirnya aku menuruti keinginannya. Dia membelikanku cokelat batangan tiga buah. Satu untukku dan dua lagi untuk Keysha dan Lusiana. Ia juga membelikan ibuku martabak manis yang berada di depan mini market. Lalu baru kemarin di motor, ia menanyakan tipe perempuan yang aku sukai dan aku jawab solehah dan baik hati yang sebenarnya dialah yang ku maksud. Sekarang aku baru menyadari, Shakila benar-benar sudah menunjukkan rasa cintanya padaku. Dan aku pun mencintainya! Tapi untuk saat ini aku belum bisa melakukan ta'aruf dengannya. Karena ia masih kelas dua SMA dan aku juga masih belum bekerja. Rasanya masih jauh untukku berhubungan lebih dekat dengannya. Semoga saja ada jodohnya.' Batin Dipta setelah Kang Cecep pergi pamit dari hadapannya.


Tak lama ibu keluar dari toko grosir bersama anak perempuan yang membantu ibunya membawa barang-barang belanjaannya yang tidak sedikit.


Anak perempuan yang cantik, berkulit putih bersih merona, berhidung kecil dan mancung, bermata cokelat dan berbibir tipis. Siapa lagi kalau bukan Kiara?

__ADS_1


Iya! Dia Kiara!


***


__ADS_2