CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)

CINTA LAMA BELUM KELAR (CLBK)
Murid Baru Dipta


__ADS_3

Bu Asih, ibunya Dipta membawa tamunya masuk ke dalam rumah. Tamunya tak lain dan tak bukan adalah Bu Sinta dan anaknya yang manis, Shakila.


"Silahkan duduk Mamah Shakila?" begitulah Bu Asih biasa memanggil Bu Sinta. Begitupun Bu Sinta, ia biasa memanggil Bu Asih, Mamah Keysha.


"Iya terima kasih. Oh iya ini ada sedikit oleh-oleh. Maaf ya Mamah Keysha cuma bawa sedikit," sahut Bu Sinta sambil menyerahkan plastik bertuliskan nama salah satu merek roti terkenal yang ada di Jakarta yang sampai saat ini belum buka cabang di kota Sukabumi.


"Padahal mah nggak usah repot-repot Mamah Shakila," ucap Bu Asih.


"Enggak apa-apa kan nggak sering-sering," ucapnya sambil tersenyum. Bu Sinta memang orang yang baik dan murah senyum.


Beliau semakin cantik dengan busana muslimah yang selalu dikenakannya kemana-mana. Bahkan kalau bertemu dengan beliau di warung sayur, pasti dandanannya selalu rapih dan wangi.


"Keyshanya mana Mamah Key?" tanya Shakila celingak-celinguk sambil mencari keberadaan Keysha dan kakaknya Dipta tentunya.


"Baru saja keluar La, pergi mengantar Lusiana ke pasar," jawab Bu Asih. Bu Asih pun melanjutkan pembicaraannya lagi.


"Sebentar ya saya buatkan minum dulu," izin Bu Asih pada tamunya.


"Nggak usah repot-repot," tukas Bu Sinta melarangnya.


"Enggak repot kok. Sebentar ya!" pinta Bu Asih pada tamunya.


"Kalau A Dipta kemana Mamah Keysha?" tanya Shakila to the point. Tak ada kecanggungan sedikitpun dari dirinya menanyakan Dipta.


"Dimana ya?! Sepertinya di kamar," sahut Bu Asih sambil berjalan ke dapur.


Mendengar namanya disebut Shakila, Dipta langsung berjinjit menuju kasurnya berpura-pura tidur. Padahal awalnya ia sedang berdiri di belakang pintu berusaha mendengarkan percakapan antara ibunya, Bu Sinta dan juga Shakila.


Sebisa mungkin Dipta sebenarnya ingin menghindar dari Shakila supaya ia terbebas dari rasa yang dulu pernah ada. Bukannya Dipta menolak apa yang ia rasa tetapi ia juga sebenarnya bingung dengan perasaan apa yang dimilikinya terhadap Shakila. Kalau dibilang ini cinta rasanya itu terlalu cepat karena bisa jadi ini hanya cinta sesaat karena cinta monyet zaman masih anak-anak dulu mengingatkannya kembali pada Shakila.


Sekitar kurang dari lima menit, Bu Asih pun keluar membawa dua cangkir teh manis dan dua toples berisi cemilan.


"Silahkan diminum," tawar Bu Asih sambil meletakkan cangkir itu secara bergantian ke atas meja tamu.


Bu Sinta dan Shakila pun mengambil cangkir teh tersebut dan meminum isinya sedikit demi sedikit. Setelah selesai Bu Sinta meminumnya. Ia membuka percakapannya kembali.


"Kira-kira Dipta sedang apa ya Bu?" tanya Bu Sinta sambil melihat ke arah pintu kamar yang tertutup.


"Oh sebentar ya, saya samper dulu," jawab Bu Asih sambil beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Maaf ya Mamah Keysha jadi mengganggu Dipta. Soalnya kami memang ada perlu sama Dipta," tukas Bu Sinta merasa tak enak hati karena telah mengganggu Dipta dengan kedatangannya.


"Nggak apa-apa kok Mamah Shakila. Sebentar ya!" Bu Asih pun masuk ke kamar anaknya dengan mendorong pintunya perlahan.


Ketika dibuka pintunya terlihat Dipta sedang berbaring dan menutup matanya. Tapi Bu Asih tau ada yang janggal sama Dipta karena nggak biasa-biasanya ia tidur siang. Karena Dipta emang paling nggak bisa tidur siang dari masih kecil.


Bu Asih pun mencolek pinggang anak laki-lakinya itu. Dipta pun kegelian dan nggak bisa pura-pura tidur lagi. Kelemahan Dipta memang berada dipinggangnya. Ia paling geli kalau ada yang menyentuh pinggangnya. Dia nggak akan kegelian kalau dia benar-benar sudah terlelap.


"Anak Ibu mulai bohongin Ibu ya?" bisik ibunya.


"Ssttt Ibu. Bilang aja aku tidur," bisik Dipta.


"Nggak boleh bohong A. Temui saja sana! Nggak ada salahnya kan? Lagian kita juga kan nggak tau maksud kedatangan mereka kesini." Ibunya tak setuju dengan Dipta jika ia diminta untuk berbohong.


Dipta pun mengikuti saran ibunya. Ia beranjak dari tidurnya dan mengacak rambutnya seolah-olah baru bangun tidur. Mereka pun keluar dari kamar satu per satu.


"Oh Dipta lagi tidur ya? Maaf ya sudah mengganggu." Bu Sinta lagi-lagi tak enak hati melihat raut wajah Dipta yang seperti bangun tidur.


"Enggak apa-apa Bu. Maaf ya Bu sudah lama menunggu. Ada perlu apa ya Bu?" sahut Dipta sambil mengambil posisi duduknya di kursi yang hanya untuk satu orang.


Mata bulat Shakila dari awal Dipta keluar kamar tak pernah lepas sedikitpun tatapannya terhadap Dipta. Dipta sadar ia sedang ditatap oleh Shakila. Dia pun hanya berkata dalam hatinya 'Tatapan matanya selalu saja membuatku kikuk!'


"Titip? Maksudnya bagaimana Bu?" tanya Dipta bingung menangkap arah pembicaraan Bu Sinta yang hendak dibawa kemana.


"Maksudnya titip untuk membantunya belajar. Ibu dengar dari Shakila kalau kamu membuka bimbingan belajar di rumah dan Shakila bilang ia ingin sekali belajar sama Dipta," jelas Bu Sinta.


"Haduh gimana ya Bu?! Saya belum pernah mengajar anak SMA. Saya belum berani karena materinya susah," tolak Dipta secara halus. Tapi sebenarnya yang membebankan dia bukanlah materinya tapi intensitas pertemuannya dengan Shakila.


Tak terbayangkan olehnya kalau harus menarik nafas panjang ketika sedang mengajar Shakila. Karena emosinya yang tak stabil pasti rasa sesak di dadanya akan muncul begitu saja dan secara otomatis ia akan lebih sering menarik nafas panjang untuk membuatnya lebih rileks.


"Tapi Keysha bilang ia tiap malam pasti mengerjakan PR dibantu A Dipta!" sergah Shakila.


'Duh si Keysha kenapa sih yang kayak gitu aja pakai cerita-cerita segala ke temennya.' Dipta berbicara dalam hatinya.


"Oh iya tapi itu juga karena usaha Keysha sih La, saya hanya membantu yang dia nggak bisa saja," sanggah Dipta.


"Tapi saya nggak sepintar Keysha, A. Saya janji akan belajar dengan sungguh-sungguh." Nada suara Shakila mulai dibuat manja.


Mendengar permohonan Shakila, Dipta menjadi tidak tega sendiri mendengarnya. Ia pun mengiyakan permintaan Shakila.

__ADS_1


"Baiklah. Semoga saya bisa membantu kamu dengan maksimal ya La." Setuju Dipta pada akhirnya.


"Terima kasih ya Dipta!" Bu Sinta merasa lega karena akhirnya Dipta mau menerima anaknya untuk belajar dalam bimbingannya.


Meskipun sebenarnya Bu Sinta juga tidak mengerti kenapa Shakila begitu ngotot minta berhenti dari les bimbingan belajarnya yang sudah berjalan dari awal dia masuk SMA dan meminta pindah ke tempat les Dipta yang ruangan untuk belajarnya saja hanya di dalam rumah. Tapi demi anak bungsu kesayangannya, ia menyetujui permintaannya.


"Waktu belajarnya kapan ya A?" tanya Shakila bersemangat.


"Kalau bisa sih jangan habis ashar soalnya kalau habis ashar sudah penuh dengan anak-anak SD dan SMP." Jawab Dipta sambil memikirkan kapan sebaiknya Shakila bisa belajar dengannya.


"Kalau habis magrib bisa nggak A?" tanya Shakila.


"Hmm... Bisa sih tapi paling nunggu saya pulang dari masjid dulu. Jadi jam setengah tujuh mungkin kamu baru bisa datang." Dipta mulai cair dalam suasana.


"Ya sudah boleh A. Kalau begitu kita deal ya?" Shakila meminta kepastian.


"Eh belom lah. Kan Mamah juga mau tau kira-kira bayarannya berapa?" tukas Bu Sinta pada Shakila.


"Enggak usah bayar Bu, saya hanya niat bantu saja," sahut Dipta. Bu Asih pun menambahkan.


"Iya nggak usah. Anggap saja kerja kelompok bareng Keysha."


"Ah jangan gitu dong! Saya nggak enak kalau seperti itu," sergah Bu Sinta.


"Saya nggak pasang tarif Bu. Jadi ya terserah Bu Sinta aja," sahut Dipta.


"Baiklah kalau begitu. Sekali lagi terima kasih ya Dipta."


"Iya Bu sama-sama."


Di dalam lubuk hatinya yang terdalam Dipta masih ragu dengan keputusan yang diambilnya. Sebenarnya kalau boleh memilih, ia lebih baik memilih untuk menolak permintaan Shakila dan ibunya. Karena ia mulai khawatir kalau ia benar-benar akan jatuh cinta pada gadis manis itu.


Sedangkan ia memilih untuk tidak akan pernah berpacaran. Ia ingin suatu saat nanti ia bisa melalui proses ta'aruf untuk bisa meminang gadis pujaan hatinya dan jika cocok satu sama lain barulah dia melangkah ke jenjang berikutnya yaitu menikah.


Apa yang harus ia lakukan jika suatu saat nanti ia tergoda untuk berpacaran?


Tak pernah terlintas sedikitpun di benaknya untuk berpacaran sebelum menikah.


***

__ADS_1


__ADS_2