
Hanna berdiri linglung melihat Kuncoro yang sedang mabuk di bar. Beberapa botol bir tergeletak di meja. Kuncoro duduk di sofa, tangannya masih memegang sebotol bir, kepalanya menundukkan sehingga tidak terlihat wajahnya.
Kuncoro sendiri tidak menyadari kehadiran Hanna, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ada kerumitan dalam tatapan Hanna, ia tidak faham kenapa kuncoro menyuruh dia menjemputnya padahal ia bisa meminta Parto atau Stella.
" Aku antar kamu pulang! " suara Hanna mengema di antara bisingnya musik bar.
Kuncoro mendongak mencari asal suara. Ditatapnya Hanna yang berdiri di depannya. Hanna mengenakan long dress lengan panjang berwarna abu-abu. Rambutnya yang hitam di biarkan tergerai. Pandangan kuncoro kemudian terpaku pada wajah Hanna, bibir penuh merah muda, hidungnya mancung, alisnya tebal tapi rapi, bulu matanya panjang. Dia baru menyadari kalau Hanna cantik. Ada kerumitan di mata kuncoro kemudian ia mengalihkan pandangannya ke samping.
Disisi lain Hana tidak suka dengan cara kuncoro melihatnya, membuatnya tidak nyaman.
" Tunggu apalagi? " Hanna tidak sabar. Ia belum pernah berurusan dengan orang mabuk jadi ia tidak tau bagaimana memperlakukan Kuncoro. Yang ada di benaknya adalah mengantar Kuncoro sampai rumah.
Kuncoro berusaha berdiri tapi kepalanya terasa pusing. Dengan susah payah ia berdiri namun terduduk kembali. Karena tidak sabar Hanna mendekat, ia menarik lengan Kuncoro, menaruh dipundaknya kemudian ia berdiri pelan.
" Kelihatannya kamu ga gendut tapi kenapa kamu berat sekali? " gerutu hanna, ada ketidakpuasan di hatinya.
Hanna memapah Kuncoro keluar dari Bar menuju tempat parkir.
Di parkir bawah tanah, Hanna melihat semua mobil yang terparkir, kemudian ia mendekati mobil porche hitam. Hanna menyandarkan Kuncoro di bodi samping mobil
" Dimana kunci mobilmu? " tanya Hanna
Kuncoro merogoh saku celananya, namun ia tidak menemukan kunci, dengan linglung ia mencari ke saku yang lain
" Aish. Jangan salahkan aku" ucap Hanna dengan tidak sabar merogoh saku baju. Hanna mengeleng tidak menemukan kunci mobil di saku baju kemudian pindah di saku jaket, juga tidak ada, kemudian di saku celalana depan. Jari Hanna menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak disentuh membuat Kuncoro mengeliat pelan. Hanna tidak menyadari gerakkan abnormal Kuncoro. Setelah mendapat apa yang ia cari ia mengambilnya dengan kasar.
__ADS_1
"Tunggu sebentar aku segera mengantarmu pulang. " Hanna segera membuka pintu mobil. Setelah mendudukkan Kuncoro di kursi belakang, Hana mengemudikan mobil keluar dari lingkungan Bar menuju apartemen Kuncoro. Ia pernah diajak Parto ke apartemen Kuncoro sekali, ia masih ingat alamatnya.
Menyusuri jalan yang ia kenal, Hanna terdiam teringat dengan pria yang telah tinggal di dalam hatinya sejak ia duduk di bangku SMP. Seorang pria sederhana, ceria, sembrono, pekerja keras, namun ia tau dibalik penampilannya yang apa adanya dia seorang pria bertanggung jawab. Dia adalah Parto, pria yang ia sukai sejak lama. Parto adalah sahabat baik Kuncoro, dari parto pula ia mengenal Kuncoro hingga akhirnya mereka bertiga menjadi teman baik walaupun sebenarnya Hanna tidak menyukai beberapa sifat Kuncoro. Kuncoro adalah anak orang kaya makanya ia bersikap Arogan, keras kepala, dan bosy. Tidak lama setelah dia mengenal Kuncoro, Kuncoro menghilang seperti ditelan bumi.
Hanna tersenyum getir memandangi jalanan di depannya, terpancar kesedihan di matanya. Sebagai anak tunggal di keluarga Munaf sulit baginya untuk bersama dengan Parto yang statusnya orang biasa. Orang tuanya pasti akan mencarikan ia pasangan yang dianggap sepadan. Kalaupun ia menolak, orangtuanya pasti akan mempersulit Parto. Ia tidak ingin melihat orang yang di cintai menderita. Hanna merasa sesak di dadanya kemudian ia menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.
Sampai di apartemen, Hanna memarkir mobil di parkiran bawah tanah. Sebelum turun ia mengobrak abrik dasboar untuk mencari kartu, setelah ketemu dia simpan dalam tas.
Hanna turun duluan baru memapah Kuncoro ke apartemennya. Tubuh Hanna tidak bisa mengimbangi kuncoro yang tingginya seratus delapan puluh centimeter jadi ia ikut sempoyongan menahan beban. Dengan susah payah akhirnya ia sampai. Hanna membuka pintu dengan menggesek kartu yang ia ambil di dasboar mobil.
Hana membaringkan Kuncoro di kamarnya, namun karena beban terlalu berat membuat Hanna jatuh di atas badan Kuncoro. Situasi ini membuyarkan fikiran nya, untuk beberapa saat hanna tidak bergerak, matanya yang jernih menatap wajah Kuncoro yang hanya beberapa centi darinya.
Jantung kuncoro berdetak kencang. Ini kali pertama ia sangat dekat dengan Hanna dalam posisi ambigu. Gundukan lembut itu menyentuh dadanya. Ia yang mabuk kehilangan kontrol dirinya, timbul keinginan jahat untuk memiliki.
Tangan Kuncoro memeluk pinggang ramping Hanna kemudian membalik tubuhnya. Kuncoro menekan Hanna di bawah tubuhnya
" Bajingan! Lepaskan Aku! " rengek Hanna
Tidak menghiraukan perlawanan Hanna Kuncoro mencium bibir merah muda, bibir Hanna dingin dan lembut rasanya enak dan manis, membuatnya ketagihan dan tidak ingin melepaskannya.
Tubuh Hanna menegang, ia mencengkeram kemeja Kuncoro dengan keras, meluapkan kekesalan dan keputusasaan di hatinya.
Tangan kuncoro menjarah setiap inchi tubuhnya, tidak memberikan kesempatan untuk melawan. Ia melampiaskan keinginannya menerobos masuk bagian intim membuat Hanna tersentak kesakitan.
Hanna menangis dalam diam, seluruh tubuhnya terasa sakit, harga dirinya terluka. Hanna memejamkan matanya, ia sangat lelah kemudian kesadarannya menghilang.
Hari berikutnya hanna terbangun karena cahaya matahari menenyentuh wajahnya. Badannya terasa sakit, terutama bagian intimnya. Bayangan kejadian semalam bermunculan di benaknya. Ia merapikan dirinya kemudian turun dari ranjang, gerakannya perlahan namun pasti. Ia meninggalkan kamar yang asing baginya tanpa menoleh sedikitpun. Ia ingin melupakan semuanya, anggap saja ia sedang tidak beruntung. Hanna menghentikan taxi untuk pulang, ia perlu menenangkan diri.
__ADS_1
Di apartemen, Kuncoro baru saja kembali dari membeli sarapan. Ia membuka pintu kamarnya namun tidak ada siapa-siapa disana. Kemudian ia menuju kamar mandi, siapa tau Hanna sedang membersihkan diri. Kuncoro berdiri didepan pintu tapi tidak terdengar suara gerakan. Ia takut terjadi sesuatu Pada Hanna, tanpa pikir panjang ia membuka pintu namun yang didapati adalah ruangan kosong.
Kuncoro mengerutkan kening, dia yakin bahwa Hanna sudah pergi. Dengan kejadian semalan seharusnya gadis itu menuntutnya tapi ia malah ditinggalkan.
" Pergi kemana kamu? " batinnya
Kuncoro menelphone Hanna. Puluhan kali Kuncoro melakukan panggilan namun tidak terhubung. Ia mengusap kasar wajahnya karena kesal kemudian ia melempar ponsellnya di ranjang. Ponsell itu memantul di kasur tepat di samping noda merah, seperti bunga yang sedang mekar. Kuncoro tau ini pertama kali untuk Hanna. Muncul perasaan yang rumit di hatinya, antara perasaan bersalah dan kepuasan.
Namun di satu sisi, hatinya sudah ada yang mengisi, dia adalah Stella. dua belas tahun hubungannya dengan Stella.Selama itu pula ia tidak pernah menjalin hubungan dengan gadis lain. Paras cantik, senyum manis membuat kuncoro tak bisa berpaling darinya. Namun kabar yang ia terima kemarin malam membuatnya frustasi. Orang yang ia cinta menikah dengan kakaknya. Belum sempat ia meminta penjelasan dari Stella sekarang ia terjebak dengan Hanna. Sedangkan ia tau posisi Hanna di hati Parto, orang yang spesial. Kalau Parto mengetahui kejadian ini, sudah pasti Parto mengajaknya bertarung mati-matian.
Kuncoro menyalakan sebatang rokok. Dihisap rokok dalam-dalam kemudian memuntahkan asap putih ke udara, seperti ia ingin menghilangkan gelisah di hatinya. Beberapa batang putung rokok berserakan dilantai.
Kuncoro tetaplah Kuncoro yang mendominasi. Ia meninggalkan kamarnya yang berbau tembakau.Ia menelphone asistennya untuk menanyakan jadwal hari ini. Tidak ada metting penting di pagi hari tapi dia memiliki pertemuan di siang hari, sehingga dia memiliki waktu untuk merenungi perbuatannya setidaknya sampai siang hari.
Nasi telah menjadi bubur, artinya yang telah terjadi tidak bisa diulang kembali. kesalahannya pada Hanna, dia akan memberikan kompensasi. Untuk yang lain dia tidak bisa memberikan, terutama pernikahan.
Di balkon kamarnya, Kuncoro mengambil bungkus rokok dari saku bajunya, kemudian jarinya yang ramping mencari rokok didalamnya, ternyata sudah kosong, rokoknya sudah habis.
Kuncoro membuang bungkus rokok ke dalam tempat sampah kemudian dia berbalik, mengambil jubah mandi kemudian ke kamar mandi.
Air dingin membasahi rambut Kuncoro, menganak sungai melewati seluruh kulitnya. Setelah melewati malam yang menyenangkan, sekarang dia merasakan kesegaran.
Kuncoro membalut tubuhnya dengan jubah mandi setelah selesai. Dia keluar dari kamar mandi dengan rambut masih basah, masih ada tetesan air dari rambutnya ketika dia masuk ruang ganti.
Kuncoro berdiri di depan cermin kemudian mengeringkan rambutnya dengan hairdriyer. Tidak ada sepuluh menit rambutnya sudah kering. Kemudian dia mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja putih, menyemprotkan parfum ke pergelangan tangan kemudian memakai jam tangan patekphilips. Aura pemimpin keluar dari tubuhnya.
Kuncoro keluar dari apartemen menuju ke kantor.
__ADS_1