
" Mamamu punya no kakak. Besok kalau kamu sudah punya ponsel minta no kakak sama mama mu. " Hanna bertkata lembut pada Najwa kemudian pamit pergi.
" Kak Hanna! " panggil Najwa ketika Hanna berjalan belum jauh.
Hanna menghentikan langkahnya, berbalik melihat Najwa.
" Jangan lupa padaku! " Najwa
Hanna tersenyum sambil menganguk. Baru pertama bertemu banyak yang di inginkan. Anehnya ia tidak menolak sama sekali.
Di keluarganya ia tidak kekurangan suatu apapun, tapi ia kadang merasa sendiri. Melihat Najwa, ia seperti bercermin, apalagi Najwa memiliki mama yang super duper ngeselin, pasti hidupnya menderita.
" Sampai ketemu lagi. " Hanna melambai kemudian berbalik pergi.
Amora bersandar di kursi melihat interaksi keduanya, ia merasa diabaikan. Ia mengerutkan alis, sambil berfikir sebenarnya siapa yang tidak masuk akal. Dia yang membiarkan adanya kesalahpahaman atau Hanna yang menghakimi tanpa bertanya. Dan anak kecil ini sangat imut untuk menjadi bumbu penyedap.
" Sudah selesai? " Amora setelah Hanna tidak terlihat lagi
Najwa mengangguk, ia sudah selesai makan dari tadi masih ditanya juga.
" Kamu mau mama yang lain? " Amora
Najwa terkejut dengan pertanyaan Amora. Mana ada pikiran untuk menginginkan mama lain, ada yang mau mengadopsinya ia sudah bersyukur. Tentang kak Hanna, dia merasa suka, bukan berarti cocok menjadi mamanya. Baginya tidak ada yang mengalahkan kakak cantik, bersama dengannya, dia merasa dilindungi. Karena dia galak dan arogan maka tidak ada yang berani membulinya di masa depan.
" Kakak cantik yang terbaik. " Najwa tersenyum penuh keyakinan.
" Mamaku sudah tidak ada, aku selamanya akan mengikuti kakak cantik " Najwa
Amora diam mendengar ucapan Najwa. Anak sekecil ini menerima kepergian ibunya, meletakkan ibunya di sudut hati dan tidak akan terganti.
Sedetik kemudian Amora mengingat sesuatu. Najwa di besarkan di panti asuhan, bagaimana dia tau kalau ibunya sudah meninggal. Mungkinkah ibu Rose yang mengatakannya.
" Kamu pernah melihat mamamu? " Amora
Najwa menggeleng pelan.
" Ibu Rose pernah bercerita tentang ibu ketika aku berkunjung ke rumahnya. Aku juga melihat fotonya " Najwa
Amora mengerutkan kening, dia melewatkan hal ini. Kalau Najwa tidak ngomong, dia juga tidak tau.
" Mama mu cantik? " Amora
Najwa diam sejenak, dia tidak bisa bilang itu cantik atau tidak, soalnya foto yang dia lihat adalah foto ketika mamanya bersama teman-temannya ketika masih sekolah. Satu lagi, foto itu diambil dari jarak jauh jadi tidak terlalu jelas.
" Kelihatannya cantik. " Najwa
__ADS_1
" Kelihatannya?! " Amora mengulang kata Najwa. Dia mempertanyakan kata -kata Najwa
" Fotonya terlalu jauh jadi tidak jelas wajahnya. " Najwa menjelaskan, dia mulai terbiasa dengan sikap dan perilaku kakak cantik.
Amora tidak melanjutkan, kemudian mengajak Najwa pulang. Sudah pukul delapan malam ketika Amora keluar dari restoran. Dia mengendarai mobilnya dengan pelan.
Lampu penerangan berjajar rapi, cahayanya seperti sambung mengambung sepanjang jalan tiada terputus. Amora menatap tajam ke depan. Teringat cerita Najwa tentang ibunya, selembar foto tidak membuatnya mengenal ibunya. Dia bisa mencari tau foto ibu Najwa untuk hal yang lain.
Amora menoleh ke samping, Najwa sudah tertidur. Pantas saja suasana tenang, ternyata biang keributan sudah tertidur.
Pulang ke green garden, rumah singgah yang terletak di komplek hunian mewah di kota ini.
Seorang satpam membuka pintu gerbang ketika Amora tiba. Amora memarkir mobilnya di tempat parkir rumahnya.
Berjajar beberapa mobil di sana, seperti sebuah sorum. Amora membuka sabuk pengaman. Diliriknya Najwa yang masih tertidur pulas. Tangannya berhenti di udara, awalnya dia ingin membangunkan anak itu tapi tidak jadi.
Amora bersandar di kursi untuk waktu yang lama, entah apa yang sedang dipikirkan. Akhirnya ia keluar dari mobil. Derap langkahnya bergema di parkiran. Memutari mobil lalu membuka pintu, berdiri sebentar sambil memandang Najwa.
Amora membuka sabuk pengaman yang terpasang di badan Najwa kemudian mengangkat tubuh Najwa. Dia menggendong Najwa.
Melewati ruang tamu, naik ke lantai dua. Asisten rumah tangga yang melihat jadi tercengang. Nona mereka tidak pernah dekat dengan siapapun. Sekarang pulang membawa seorang anak. Dia memperlakukan anak itu penuh kasih.
Amora membuka pintu kamar tamu. Walaupun tidak ada yang menempati, kamar itu selalu dibersihkan. Amora membaringkan Najwa dengan hati-hati kemudian menyelimutinya. Mematikan lampu kamar lalu menyalahkan lampu tidur. Amora tidak langsung keluar, dia berdiri di dekat jendela. memandang pekatnya langit malam tanpa bintang dari kegelapan. Banyak hal dalam benaknya.
***
Hanna keluar dari restauran setelah berpisah dari Najwa. Niat awalnya ingin bertemu dengan Parto tapi tidak jadi karena Parto ada kerja lembur sampai malam.
Sampai Parkiran, Hanna bertemu dengan orang yang paling tidak ingin ditemuinya. Hanna memutar jalan pura-pura tidak melihat. Dia merasa dunia tak selebar daun kelor, kemanapun dia pergi tidak sengaja bertemu dengan Kuncoro.
Kuncoro merupakan momok, monster, virus, yang harus dihindari. Kehadiran Kuncoro menyisakan ketakutan di hatinya.
Kuncoro baru saja selesai meeting dengan klien, dalam perjalanan ke sini dia bertemu dengan Stella bersama dengan kakaknya, membuat suasana hatinya menjadi buruk. Sekarang dia bertemu Hanna tapi diabaikan, suasana hatinya yang buruk berubah menjadi kemarahan.
" Berhenti! " Teriakan Kuncoro mampu membuat Hanna kandungan, namun Hanna pura-pura tidak mendengar, dia mempercepat jalannya.
Sialnya, sebuah tangan besar menarik lengannya. Dia menoleh memandang tangan yang memegang lengannya, api amarah menyerang hatinya bercampur rasa jijik.
Dengan tangan satunya dia menepis tangan Kuncoro tapi sayang tenaga Kuncoro lebih besar, jadi sia-sia saja dia membuang tenaga.
Hanna menghentikan tindakannya karena Kuncoro sama sekali tidak terpengaruh. Dia mengumpulkan semua keberanian yang dimiliki untuk melihat Kuncoro. Iris matanya bergetar memancarkan kemarahan.
" Ikut denganku ada yang ingin aku katakan! " Kuncoro mengabaikan penolakan Hanna kemudian menariknya ke ruang VIP.
" Aku bisa jalan sendiri. Lepaskan!" sekali lagi Hanna menepis tanggan Kuncoro.
__ADS_1
" Tidak akan! "
Setelah tiba di ruang VIP Kuncoro baru melepaskan genggamannya.
" Duduk! " Kuncoro melihat keraguan dalam diri Hanna. Dia berdiri di belakang pintu, menunggu sampai Hanna mau duduk, lebih tepatnya dia berjaga supaya Hanna tidak kabur.
Setelah melihat Hanna duduk, Kumcoro ikut duduk di depan Hanna.
" Mau bicara apa? Katakan sekarang! " Hanna mengelus lengannya yang tadi dicengkeran oleh Kuncoro.
" Kenapa? Ingin segera bertemu dengan Parto? " Kuncoro
" Bukan urusanmu! " Hanna paling tidak suka ada orang yang ikut campur urusan pribadinya.
" Mau pesan apa? " Kuncoro mengalihkan percakapan. Melihat penolakan Hanna membuatnya tidak senang dan mengaitkan dengan Parto. Dia sendiri merasa ada yang salah dengan pertanyaan tadi.
Hanna mengerutkan dahi, bukannya tadi Kuncoro melihatnya keluar restoran, harusnya Kuncoro tahu bahwa dia sudah makan.
" Tidak ada. " Hanna sambil menatap ke arah lain
Kuncoro meletakkan daftar menu dengan keras di atas meja. Dia menarik nafas dalam kemudian tidak berkata lagi. Dia memanggil pelayanan untuk memesan makanan.
Setelah pelayan pergi dengan daftar pesanan, baik Hanna maupun Kuncoro tidak ada yang membuka suara, keduanya diam untuk waktu lama.
Hanna merasakan tekanan di ruangan ini sangat besar, rasanya ingin segera keluar.
Hingga pesanan disajikan tidak ada yang membuka mulut.
Kuncoro mulai makan dengan pelan, tidak terpengaruh ada dan tidaknya Hanna.
Entah mengapa selera makannya meningkat saat ini. Saat hidangan sudah habis dia baru membuka mulut.
" Setiap hari hanya bermain-main? " Kuncoro melihat Hanna dengan pandangan santai.
" Maksudnya? " Hanna semakin tidak mengerti dengan arah pembicaraan Kuncoro.
" Kelontang kelantung ga jelas. Pernahkah kamu berfikir tentang orang tua mu? " Kuncoro
" Bicara pada intinya saja " Hanna melihat Kuncoro dengan tanda tanya besar di kepalanya. Apanya yang klontang-klantung ga jelas? Asal Kuncoro tahu, sekarang dia lagi fokus dengan pameran lukisan, ia baru saja bertemu dengan penyelenggara acara untuk membahas semua permasalahan. Jadi tuduhan Kuncoro bahwa dia pengangguran sama sekali tidak benar.
" Ayahmu kehilangan investor. Untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan dibutuhkan investor baru. Tapi mengingat kondisi perusahaan Munaf saat ini, sangat sulit mendapatkan investor. " Kuncoro menjelaskan pada Hanna dengan bahasa yang paling sederhana supaya Hanna paham.
" Terimakasih sudah memberitahu saya. Soal perusahaan biar ayah ku yang tangani. " Hanna tidak ingin bicara terlalu lama dengan Kuncoro, makanya dia tidak bertanya lebih banyak. Tentang masalah perusahaan dia akan bicara dengan ayahnya sendiri.
Kuncoro tersenyum sarkasme. " Kamu pikir mencari investor semudah bembalikkan telapak tangan? " Kuncoro memandang Hanna dengan serius.
__ADS_1
Namun kembalikannya, Hanna tidak menganggap serius perkataan Kuncoro.