Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
TUGAS PERTAMA


__ADS_3

" Selamat siang, Saya ingin bertemu dengan pak Kuncoro." Hanna


" Anda sudah membuat janji? " resepsionis memandang Hanna dengan tatapan memyelidik


" Dia menyuruhku untuk datang ke kantornya. " Hanna


Resepsionis itu memandang hanna dengan pandangan meremehkan, setahu dia pak bos tidak pernah terlibat dengan perempuan manapun. Sedangkan perempuan yang ada didepannya mengaku di suruh bos datang, takutnya perempuan di depannya ini hanya mencari alasan supaya bisa bertemu dengan bos. Kalau dia membiarkan masuk sembarangan orang maka dia yang akan dimarahi oleh pak bos.


" Siapa nama anda? " resepsionis


" Hanna. " Hanna dapat merasakan sikap tidak bersahabat dari resepsionis.


" Bisakah aku masuk sekarang? pak Kuncoro sedang menungguku. " lanjut Hanna melihat tidak ada tindakan dari resepsionis.


" Perusahaan tidak bisa membiarkan masuk sembarang orang. Kami harus mengkonfirmasi lebih dahulu. " resepsionis dengan nada jutek


Hanna menyadari kalau resepsionis ini sengaja mempersulit dirinya. Dia tidak pernah menyinggung orang ini kenapa orang ini sampai kurang kerjaan mengangunya.


Di depan resepsionis Hanna menelphone Kuncoro. Mengatakan padanya kalau ia sudah berada di lobi.


Tak lama kemudian seorang mengenakan jas hitam menghampiri Hanna. Orang itu bertubuh tinggi, rambutnya tertata rapi, Wajahnya terbilang tampan, hanya saja tidak ada senyum di wajahnya.


Ketika orang itu mendekat, resepsionis itu memberikan salam dengan sedikit membungkuk.


" Selamat siang pak Rey " resepsionis


Pak Rey mengabaikan resepsionis, ia melangkah mendekati Hanna.


" Nona Hanna, Pak Kuncoro menunggu anda di ruangannya. Silahkan ikuti saya! " asisten Rey dengan sopan


Resepsionis yang tadi meremehkan Hanna memandang Hanna dengan tidak percaya. Asisten Rey sendiri yang datang menjemputnya, untung saja dia belum memanggil satpam untuk mengusir perempuan itu.


" Panggil Hanna saja." jawab Hanna


Asisten Rey diam senak. Mana bisa memanggil nama saja sedangkan dia tamu bosnya.


" Aku lebih suka dipanggil nama saja" Hanna memaksa


" Baiklah. " Asisten Rey


Hanna mengikuti pak Rey. Di belakang asisten Rey ia naik lift menuju gedung teratas. Di depan sebuah pintu bertulis " ruang direktur ", asisten Rey berhenti mendadak. Hampir saja Hanna menabrak punggung Asisten Rey. Untung ia masih bisa mengerem langkahnya, walau sempat terhuyung.


Asisten Rey mengetuk pintu tiga kali kemudian terdengar suara dari dalam.


" Masuk! " suara maskulin berasal dari dalam ruangan.


Asisten Rey memberi jalan pada Hanna supaya dia masuk duluan. Kemudian dia menyusul setelah menutup pintu.


" Nona Hanna sudah datang pak. " asisten Rey


" Kamu boleh keluar! " Kuncoro tetap melanjutkan pekerjaannya. Ini merupakan dokumen ketiga yang di tangani olehnya. Dia serius dengan pekerjaannya sampai mengabaikan Hanna.


Hampir setengah jam Hanna berdiri menunggu Kuncoro menyelesaikan pekerjaannya. Kuncoro tadi bilang dia sibuk, dan ternyata memang benar. Karena terlalu sibuk sampai dia tidak dianggap.


Kuncoro menutup dokumen setelah merevisi beberapa hal yang dianggap salah.


" Silahkan duduk! " Kuncoro menunjuk sofa kosong di depan meja kerjanya.

__ADS_1


Hanna memutar bola dengan diam, meskipun begitu ia menuruti perintah Kuncoro.


Kuncoro membuka laci meja, mengeluarkan map hitam kemudian beranjak dari kursi kerjanya. Kuncoro memutari meja kemudian menghampiri Hanna. Mereka duduk saling berhadapan.


Kuncoro bersandar di sofa dengan gaya elegan. Bagaikan seorang raja duduk di singgasana. Dia pantas dipanggil bos dilihat dari karakternya yang mendominasi.


" Aku menerima perjanjian yang kamu tawarkan Asalkan kamu berinvestasi pada perusahaan Munaf. " Hanna


Kuncoro tersenyum sarkasme, kemarin menolak dengan tegas dan sekarang datang memgantarkan diri.


Kuncoro meletakkan map ke hadapan Hanna dengan sekali gerakan.


Hanna memandang map hitam dihadapannya, hatinya terasa berat.


" Baca! Setelah itu tandatangan! " Kuncoro


Hanna membuka map dengan pelan. Setiap kalimat dibaca dengan teliti.


Poin pertama : pihak pertama akan melakukan investasi ke perusahaan munaf apabila pihak kedua bersedia menerima dan melaksanakan tugas dari pihak pertama dalam kondisi apapun.


Hanna menutup map lalu meletakkan dengan keras di atas meja.


Hanna seperti di lempar bom setelah membaca isi surat perjanjian. Dia bersandar di sofa dengan tangan dilipat di depan dada. Tatapannya jatuh pada wajah Kuncoro. Benar-benar kapitalis sejati.


Setiap poin yang ditulis menguntungkan pihak pertama.


" Aku mau semua poin dirubah " Hanna


" Sudah tidak ada waktu " Kuncoro dengan santai


" Mengetik dokumen satu jam juga selesai. Jangan banyak alasan! " Hanna seperti kucing kecil yang siap mencakar.


Kuncoro akan menghadiri meeting dengan klien setengah jam lagi. Dia tidak bisa berlama-lama mengurusi Hanna.


" Tanda tangan atau investasi gagal! " ancam Kuncoro


Hanna mengambil bolpoin, menambahkan poin di bawah.


Nb: Saling menghormati dalam bertindak dan berucap. Tidak saling ikut campur dalam urusan pribadi.


Setelah menulis poin terakhir Hanna membubuhkan tanda tangan di sudut kanan bawah sebagai pihak kedua.


Hanna tidak menyadari ada kilatan tajam melihat ke arahnya.


Kuncoro membaca tulisan tangan yang rapi. Dia tidak masalah dengan poin ini, dia masih bisa mentolelirnya. Kuncoro mengeluarkan bolpoin dari dalam sakunya, bolpoin emas berukir namanya. Jarinya yang lentik bergoyang diatas kertas. Hanna tidak menyukai Kuncoro, namun ia tidak melewatkan pemandangan di depannya ini. Dia menyukai keindahan dan estetika, dan Kuncoro merupakan pemandangan yang estetis sayang untuk dilewatkan. Bukan berarti dia menyukai Kuncoro, dia hanya menyukai sesuatu yang estetis.


" Kamu jangan mengingkari janji! " Hanna


" Surat perjanjian ini sah dimata hukum. Kamu bisa menuntutku sesuai hukum yang berlaku. " Kuncoro menandatangani surat perjanjian yang kedua .


Surat perjanjian itu dibuat dua lembar. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk Hanna.


Setelah dimasukkan ke dalam map, Kuncoro memegang map hitam itu ke dalam pangkuannya.


Dari awal Kuncoro sudah menebak kalau kedatangan Hanna tidak lepas dari investasi yang di tawarkannya kemarin. Perusahaan munaf membutuhkan investasi secepatnya, dia sangat yakin makanya surat perjanjian ini dia persiapan. Lagian dia punya rencana lain dengan surat perjanjian ini.


" Aku bisa menarik investasi kapan saja jadi jaga sikapmu! " Kuncoro

__ADS_1


" Kamu juga jaga kelakuan. " Hanna


Kuncoro melebarkan mata, memelototi Hanna. Perkataan Hanna mengingatkannya pada malam beberapa waktu lalu.


" Yang ingin kukatakan sudah kukatakan. " Hanna


Hanna Keluar dari kantor Kuncoro setelah urusanya selesai.


Dia belum bisa mengurus perusahaan saat ini. Untuk mencegah kebangkrutan dia hanya bisa mencari investor.


Hanna menelphone ibunya sambil berkendara. Dia ingin memberikan kabar baik ini pada ibunya.


Telepon terhubung.


" Hanna? " nyonya munaf


" Ma, Aku sudah dapat investor baru. Mama siapkan dokumennya. Nanti kalau pihak sana menghubungi, mama sudah ada persiapan. " Hanna bicara dengan satu tarikan nafas.


Setelah menyelesaikan panggilan, Hanna menyalakan mesin mobil dan kembali ke rumah.


Semalam dia tidur hanya sebentar, capek badan juga capek pikiran. Dibenaknya sudah terbayang ranjang kamarnya. Dia hanya ingin istirahat sebentar saja untuk mengurangi penat.


Sampai di rumah Hanna langsung menuju kamarnya.


Ia menjatuhkan badannya di atas ranjang sampai badannya mental beberapa kali. Tidak butuh waktu lama Hanna sudah mulai tertidur.


Menjelang sore dia dibangunkan oleh suara dering ponsel. Tangannya meraba-raba ke samping. Kesadarannya belum sepenuhnya pulih. Setengah terpejam dia mengangkat panggilan.


" Hallo " Suara malas dan serak saat berbicara


" Kamu sangat santai sampai jam segini masih tidur? Perusahaan Munaf dalam keadaan krisis tapi kamu malah bermalas-malasan! "


Hanna menjauhkan ponsel dari telinganya. Belum sepenuhnya bangun sudah kena omelan membuatnya sakit kepala.


Hanna melihat ponselnya, dilayar terpampang nama Kuncoro. Hanna mengelus pelipisnya dengan pelan. Benar saja, orang yang akan mengatainya tanpa mengerti keadaan hanya Kuncoro.


" Apakah tuan Kuncoro mengangur sampai sempat mengurusi urusan orang? " Hanna


Dia sampai rumah sudah lewat makan siang. Dari waktu dia tidur sampai sekarang berarti tiga jam. Dari kemarin sampai sore ini jumlah jam tidurnya lima jam. Apanya yang santai? Apanya yang menganggur?


" Nanti malam kamu temani aku menghadiri acara. Ini tugas pertamamu! " Kuncoro


" Lain kali saja. Nanti aku.... "


" Investasi juga lain kali " Sela Kuncoro sebelum Hanna menyelesaikan ucapannya.


"......." Hanna kesal sampai tidak tau mau berkata apa. Investasi itu sangat penting untuk perusahaan, dia tidak bisa mengabaikannya. Dan orang ini selalu mengungkit kelemahannya, membuat Hanna tidak memiliki kesan baik terhadap Kuncoro.


Hanna bangun dari tidurnya. Kantuknya menghilang begitu saja. kemudian dia duduk bersila.


" Baiklah " Hanna mengalah


Tadinya dia akan melakukan pertemuan dengan Lisa untuk membahas tentang pameran miliknya. Sekarang dia harus mengatur waktu lagi. Berperang dengan waktu sangat menyebalkan.


" Jam lima sampai di kantor! " Kuncoro


" Oke. " jawab Hanna dengan malas

__ADS_1


Telepon langsung terputus. Hanna memandang ponsel miliknya dengan mengerucutkan bibirnya.


__ADS_2