
Hanna langsung menuju kamar mandi ketika sampai di rumah. Longdress yang dia kenakan tampak kusut karena ulah Kuncoro semalam. Wajahnya yang biasa cerah tampak kuyu dengan tatapan kosong.
Hanna menyalakan Shower dengan kasar, air dingin mengalir dari ujung kepala, membasahi rambutnya juga longdress yang dia kenakan. Dinginnya air tidak bisa menghilangkan bayang-bayang kejahatan Kuncoro dari ingatannya.
Hanna mengusap seluruh tubuhnya dengan kasar seolah menyeka kotoran yang melekat dibadannya. Gerakannya semakin kasar karena kotoran yang ingin dia buang tidak akan bisa hilang karena yang kotor adalah dirinya.
Setelah merasa lelah, tubuh Hanna merosot, terduduk di bawah shower dengan mata merah. Air matanya keluar begitu saja bercampur dengan air dingin.
Selama ini dia berusaha menjadi perempuan yang kuat dan bersih supaya bisa bersanding dengan Parto. Apa yang telah dia pertahanan hancur dalam semalam. Sekuat apapun dia, tetap saja merasa sedih, merasa dipermainkan.
Parto merupakan tujuan hidupnya, dengan keadaannya sekarang mungkinkah Parto mau bersama dengannya?
Bila diingat-ingat, selama ini dia yang selalu mendekati Parto, menempel padanya, berusaha membuat Parto memperhatikan dirinya. Kemarin-kemarin dia masih memiliki kepercayaan diri, merasa paling pantas untuk Parto.
Sekarang keadaannya berbeda, dia sudah tidak bersih lagi, keadaan ini membuatnya frustrasi, kepalanya terasa berat.
Hanya menekuk lututnya dengan kedua tangan dilipat diatas lutut kemudian membenamkan wajahnya di atas tangan.
Rasa sesak, buntu, menyelimuti dada dan kepanya, seolah dia bisa meledak kapan saja.
satu jam lebih Hanna tidak beranjak dari tempatnya dengan air dingin tidak berhenti menguyur tubuh.
Menyiksa diri, kata itu yang lebih tepat untuk menggambarkan apa yang dia lakukan sekarang.
Hanna memiliki daya tahan tubuh yang kuat, diguyur air dingin lebih dari satu jam tidak membuatnya sakit, yang dia dapat hanya kedinginan, kulitnya yang putih menjadi pucat, ujung-ujung jarinya mulai keriput.
Rasa dingin yang menusuk membuat Hanna tidak tahan, dia bangkit perlahan, melepaskan bajunya yang basah lalu mengambil sabun untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, Hanna membungkus tubuhnya dengan handuk, baru kemudian keluar dan ganti baju.
Hanna melakukan rutinitasnya dengan linglung. Biasanya dia membutuhkan waktu kurang dari tiga menit untuk merapikan rambut, sekarang sepuluh menit berlalu dia belum selesai. Bagaimana tidak, dia duduk bengong di depan meja rias.
Dering notifikasi ponsel menyadarkan Hanna, dia melirik layar yang menyala, sebuah pesan masuk.
Hanna meraih ponselnya, dengan jari yang pucat dia menggeser layar, sebuah pesan dari Parto.
Tidak ada kata bimbang, Hanna langsung membuka pesan, dia selalu bersemangat kalau berhubungan dengan Parto.
Parto meminta Hanna datang ke taman kota. Hanna yang tadinya kacau menjadi senang, bertemu dengan pujaan hati merupakan suatu hal yang istimewa.
Sedetik kemudian timbul pergolakan di hati Hanna, dia merasa rendah diri tapi juga ingin bertemu dengan Parto.
Keinginan untuk bertemu dengan Parto lebih besar, Hanna memutuskan untuk pergi.
Hanna sedikit berdandan supaya terlihat lebih segar, mengenakan dress warna navy kesukaannya. Setelah merasa layak, dia keluar dari rumah, naik taxi menuju taman kota.
Didalam taxi, Hanna menyandarkan kepala di sandaran kursi sambil memejamkan mata. Dia mengabaikan padatnya lalu lintas, bahkan dia tidak menyadari supir taksi memperlihatkan dirinya dari kaca spion.
Hanna membuka matanya setelah agak lama, dia memalingkan wajah melihat keluar melalui kaca samping. Alangkah terkejutnya dia setelah mengetahui bahwa jalan yang dia lalui berbeda dari jalan yang biasa dia lewati sebelumnya.
" Pak kita salah jalan. Saya mau ke taman kota! " Hanna tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya jadi dia panik.
Sopir taxi itu tersenyum melihat Hanna, tak lama kemudian matanya menyipit entah apa yang dia pikirkan.
" Kenapa diam saja. Ayo putar balik pak! " Hanna menegaskan ucapannya.
" Tidak usah buru-buru mengambil keputusan mbak. Ini juga jalan menuju taman kota. " Supir taxi
Hanna yang baru saja mengalami pelecehan menjadi khawatir, rasa takut menjalar dihatinya.
__ADS_1
" Berhenti! Turunkan saya disini! " Hanna memegang handle pintu, sekedar memperoleh rasa aman.
Supir taxi itu tersenyum dengan sikap Hanna, kemudian timbul sebuah keinginan. Dia menginjak pedal gas, kemudian taxi melaju dengan kencang.
Hanna semakin panik, tangannya yang tadinya memegang handle pintu bergerak sembarangan lalu menemukan tas selempang yang ada disampingnya.
Menggunakan tas, Hanna memukul kepada bagian belakang supir taxi.
" Berhenti! Cepat berhenti! " teriak Hanna.
Bukannya berhenti malah taxi melaju semakin kencang.
Hanna yang panik menambah kekuatan saat memukul supir taxi.
Supir taksi itu terganggu dengan tingkah Hanna. Pandangannya yang tadinya ke depan melirik Hanna sekilas, kemudian dia menginjak rem mendadak.
Mobil tiba-tiba berhenti, Hanna yang tidak siap kepalanya terbentur. Dia melihat supir taxi dengan marah dan mengangkat tasnya untuk memukul.
" Kita sudah sampai. " satu kalimat dari supir taxi menyadarkan Hanna, sepontan dia melihat keluar.
Hanna terkejut, tidak menyangka bahwa dia sudah sampai.
" Kamu mempermainkanku? " Hanna tidak percaya dengan sikap konyol supir taxi.
" Aku dapat info dari rekanku bahwa ada pohon tumbang di jalan Garuda menyebabkan kemacetan panjang. Jadi aku lewat jalur alternatif. " Supir taxi menjelaskan.
" Kalau anda mengatakannya dari awal, saya tidak akan salah paham kepada anda. " Hanna mundur, merapikan rambutnya yang berantakan karena sembarangan bergerak.
" Awalnya aku ingin memberitahumu tapi kamu kelihatan lelah jadi aku tidak menganggumu. " Supir taxi
Hanna tidak ingin meladeni supir taxi yang menurutnya agak aneh. Dia mengeluarkan uang dari tas lalu memberikan pada supir taxi.
Setelah uang diterima, Hanna turun dari taxi, begitupun dengan supir taxi. Bahkan supir taxi itu segera memutari mobil untuk mengejar Hanna.
Hanna berbalik setelah menutup pintu, baru dua langkah dia berpapasan dengan Mona.
" Hanna. " Panggil Mona
" Mbak ***********. " Suara sopir taxi membuat Hanna dan Mona menoleh.
" Untukmu! "..... " Tommy? " Mona dan Hanna berkata serempak
" Kamu..."
" Ngantiin paman." Sela Tommy.
Hanna meninggalkan Mona dan Tommy, dia tidak tertarik.
" Apa yang kamu lakukan sampai Hanna marah sama kamu? " Mona
" Tidak ada. Teman kamu imut. " jawab Tommy sambil berlalu.
Mona mengabaikan Tommy, kemudian menoleh pada Hanna yang berjalan ke arah kanan taman.
Postur ramping Hanna terlihat sederhana diantara kerumunan, namun Parto dapat mengenalinya dengan mudah. Hanna sering menempelinya sehingga Parto dapat merasakan keberadaan Hanna.
Dari kejauhan Hanna telah melihat Parto, dia mengunci pandangannya pada pria berambut coklat kehitaman yang juga sedang melihatnya.
Dengan langkah pasti, Hanna mendekati Parto, langkahnya berhenti setelah berjarak satu meter.
__ADS_1
Takut dan gugup, itu yang dirasakan Hanna. Takut kalau Parto akan meninggalkannya.
" Sudah lama menunggu? " Hanna menekan kekacauan dalam dirinya.
" Tidak juga. " Parto
" Taxi yang aku tumpangi jalannya muter karena ada pohon tumbang. Jadi agak lama. " Hanna
" Aku tahu. " Parto
" Tahu apa? " Hanna mengartikan ucapan Parto dengan peristiwa yang dia alami. Parto merupakan teman Kuncoro, bisa jadi Kuncoro sudah memberitahukan semuanya pada Parto.
" Ada pohon tumbang. " Jawaban Parto membuat Hanna bernafas lega.
" oh " Hanna membulatkan bibirnya.
" Hanna, ada yang ingin aku sampaikan padamu. " Parto
Hanna melihat Parto dengan manik bergetar, tangannya meremas bajunya, jantungnya serasa mau copot, ketakutannya mencapai puncak sampai dia tidak bisa betkata-kata.
" Aku mengetahu sebuah kebenaran. " Parto tidak melanjutkan ucapannya karena tatapannya tertuju pada wajah Hanna yang berubah pucat.
" Katakan! " Hanna menahan ketakutan dalam dirinya, namun dia tidak bisa lari dari kenyataan.
" Kebenaran bahwa aku tidak akan membiarkammu menunggu lagi. " Parto
" Maksud kamu? " Hanna
" Sudah saatnya bagiku untuk mengakhiri penantianmu. " Parto
" Katakan dengan jelas! " Hanna seperti hampir gila dengan ucapan Parto. Kalau memang sudah tidak ingin berhubungan dengan dirinya, kalau itu memang keinginan Parto, dia akan memenuhinya. Dia tidak mememenuhi syarat untuk bertahan, meskipun dia harus menggunakan seumur hidup untuk melupakan Parto.
" Tidak perlu lagi mengejarku? Tidak perlu lagi mencari tahu waktu luangku! Tidak usah mencari alasan untuk bertemu denganku! Mulai sekarang hentikan tindakan konyolmu! " Parto berkata datar.
Hanna mengangguk pasrah, rasanya lebih berat, lebih menyakitkan mendengar langsung penolakan dari Parto. Apalagi ini baru pertama kalinya ia mendengar Parto berkata kasar padanya meskipun dengan suara pelan.
" Simpan tenagamu. Mulai sekarang aku akan melakukan semuanya untukmu. " Parto
" Maksudmu? " Hanna yang tadinya terpuruk berubah menjadi bingung.
" Jadilah pacarku! " Parto
Hanna yang bingung menjadi tidak percaya, beberapa saat kemudian dia bahagia sampai menangis.
Takdir memang mempermainkannya, penantiannya selama bertahun-tahun membuahkan hasil tapi disatu sisi dia mendapat kemalangan.
" Kamu mengatakan semuanya dengan percaya diri. Memangnya aku mau menjadi pacarmu setelah kamu menghancurkan harga diriku? " Hanna
Parto menggeleng pelan, " Bukankah yang aku katakan semuanya benar? " Parto
" Aku mencintaimu dengan jujur. Tidak ada yang ditutupi. Tidak perlu malu, baik dan buruk aku menerima. " Parto
Hanna tersentuh dengan ucapan Parto. Baik dan buruk Parto menerima, kalimat ini merupakan obat mujarab baginya. Dia menyetujui permintaan Parto, dia mau menjadi pacar Parto.
Dengan sebuah anggukan maka dia sah menjadi pacar Parto.
Parto melebarkan tangannya, membawa Hanna dalam pelukannya.
Hanna menangis bahagia bercampur sedih, dia menyadari kebahagiaannnya seperti permen kapas, tidak akan bertahan lama.
__ADS_1
Parto memiliki perasaan yang sensitif, dia dapat merasakan kebahagiaan Hanna. Bukankah Hanna menangis berlebihan untuk sebuah kebahagiaan.