Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
PAMER KEMESRAAN


__ADS_3

Habis makan Hanna minta ditemani jalan-jalan. Sehari ini dia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Parto. Bersama dengan Parto seribu kali lipat lebih baik daripada di rumah sendirian.


Dia menyadari kebahagiannya ini semu, belum tentu esok hari dia merasakan kebahagiaan yang sama.


Dengan senyum mengembang, Hanna berjalan beriringan dengan Parto. Kemanapun Parto melangkah, dia akan mengikuti.


Parto membawa Hanna ke pusat perbelanjaan, Sekalian dia ingin membeli sesuatu untuk Hanna.


Disisi lain Hanna hanya ingin menghabiskan waktu bersama Parto, meskipun harus memutari pusat perbelanjaan berkali-kali dia rela. Meskipun capek biarlah capek, dengan begitu pas malamnya dia bisa langsung tertidur tanpa harus memikirkan hal-hal yang mengerikan.


Hanna berhenti di depan etalase toko yang memajang baju couple, kaos berwarna biru doker bergambar pasangan yang sedang naik motor vespa berboncengan. Dalam gambar, pasangan itu terlihat tertawa bahagia. Tulisan di baju cowok " i love you" dan tulisan di baju cewe "i love you too"


Hanna melirik baju couple itu. Harusnya ukuran baju itu pas buat dia dan Parto.


Hanna memiliki keinginan untuk membeli baju itu tapi dia ragu mengingat dulu Parto tidak pernah mau memakai baju kembaran.


Parto menoleh karena Hanna tidak berada disampingnya. Yang dilihat Parto diantara orang yang berlalulalang adalah Hanna berdiri tidak bergeming di dekat etalase tanpa mengganggu orang yang lewat.


" Hanna! Ayo! . " ajak Parto


Hanna tersadarkan, dia berjalan cepat menghampiri Parto, ia menyadari tindakannya barusan membuat Parto menunggu.


Dengan seulas senyum, Hanna menyambut tatapan tajam Parto. Pria cenderung tidak sabaran, apalagi kalau pergi ke pusat perbelanjaan, Hanna memahami hal ini dari cerita teman seangkatannya.


" Ayo! " Parto melangkah duluan.


Hanna mengikuti langkah Parto tanpa mempedulikan yang lain, asalkan tetap dekat dengan Parto.


Masuk ke toko, Parto menghampiri pelayan lalu meminta pelayan itu membungkus baju yang di pajang di etalase.


Keluar dari toko, Hanna tersenyum memandang parto dengan perasaan bahagia. Ia tidak menyangka Parto membeli baju couple yang ia inginkan, tindakan Parto diluar ekspektasi dan mampu membuatnya tersenyum sepanjang malam.


" Tampang mu jelek sekali. " ucapa Parto sambil mencubit hidung Hanna.


Yang diucapkan Parto adalah kebalikan dari penglihatannya. Dilihat dari sudut manapun Hanna tampak cantik, kulitnya bersih, hidungnya mancung, bibirnya penuh.


" Walaupun jelek ada yang menyatakan cinta padaku. " Hanna menimang paperbag di tangannya.


" Sudah berani bicara sekarang ?! " Parto mendekatkan wajahnya hampir menyentuh wajah Hanna. Karena sangat dekat sehingga dia bisa melihat mata jernih Hanna.


Hanna membelalakkan matanya, dia terkejut wajah tampan Parto berjarak tidak kurang dari 5 cm darinya. Kedekatan semacam ini membuat jantungnya berdegup kencang.


" Ti... dak berani bicara. " ucap Hanna terbata.


Parto tersenyum puas, ia menyadari kegugupan Hanna dari rona merah diwajahnya, membuatnya ingin terus menggoda Hanna. Untung saja ini di tempat umum, kalau tidak dia bisa kehilangan pengendalian diri.

__ADS_1


" Aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak ingin dicap jelek oleh orangtuamu. " Parto


Hanna mengangguk pelan menyetujui walaupun sebenarnya enggan berpisah. Dia masih ingin berdua dengan Parto, menghabiskan waktu bersama.


Wajah enggan terpancar jelas dari bibirnya yang manyun.


" Kita masih memiliki banyak waktu untuk bersama. Hentikan memasang wajah seperti itu, atau aku bener-bener menjadi penjahat karena membawa pergi anak orang. " Parto


Hanna menstabilkan bibirnya, dia tidak ingin Parto menjadi penjahat dimata orang tuanya. Dia harus menjaga supaya mereka tetap akur kalau tidak dia sendiri dalam posisi sulit.


" Harapanku kita bisa bersama selamanya. " Hanna


Hanna dan Parto saling mencintai, namun diantara mereka telah dipisahkan oleh satu hal yang mungkin tidak bisa di tolelir oleh Parto. Kenyataan bahwa dia telah kehilangan kesucian merupakan momok terbesar dalam hidupnya. Dia adalah korban kekerasan seksual oleh Kuncoro, teman dekat Parto.


Laki-laki bersih seperti Parto, tentu tidak akan menyukai barang kotor. Kebersamaannya dengan Parto saat ini hanya keegoisannya semata.


Ketika semuanya terbongkar, dia akan ditendang jauh, pada saat itu dia merupakan makhluk menyedihkan.


" Aku akan berusaha. Kamu hanya perlu berada disisisku, selebihnya biar aku yang mengurus. " Parto


" Benarkah? Kamu akan mempertahankanku walaupun aku sudah tidak perawan lagi? " Batin Hanna dengan melihat wajah Parto. Mana mungkin dia mengatakan hal itu secara langsung.


Parto melihat manik cokelat tua milik Hanna bergetar, dia tidak bisa mengartikan arti tatapan Hanna, karena dia merasa tidak ada dalam ucapannya.


Detik kemudian Parto mengabaikan apa yang dia lihat dengan mengandeng Hanna, menempatkan dia di sampingnya, sedangkan tatapannya melihat sekitar.


Parto tidak menghidar ketika Kuncoro hampir menabraknya. Ia sengaja melakukannya karena penasaran kenapa Kuncoro bisa seceroboh itu.


Kuncoro mundur selangkah ketika ada orang di depannya, dan orang itu adalah Parto.


Hanna yang menyadari kehadiran Kuncoro langsung sembunyi dibalik punggung Parto, jantungnya berdegub kencang serasa mau melompat. Ia mengeratkan genggaman tangannya yang di gandeng oleh Parto. Saat ini pikirannya jadi kacau.


" Perhatikan jalanmu jangan sampai menabrak orang! " Parto berbicara pada Kuncoro namun Fokusnya pada Hanna yang menggenggam tangannya dengan erat membuat jari-jarinya terasa kebas.


" Apa kamu melihat Stella? " Kuncoro


" Tidak. Dia menemuimu? " Parto mengenal Stella, wajar bila dia bertanya.


" Iya. Kami sempat bicara sebentar kemudian dia pergi. " Kuncoro


" Tidak usah mengejarnya lagi. Lagipula sekarang dia bukan milikmu. " ucapan Parto sarat akan peringatan


Kuncoro diam dengan wajah sedingin es, dia tidak ingin mengakui bahwa Stella menjadi milik orang lain.


" Kamu tidak perlu ikut campur tentang masalah pribadiku. " Kuncoro

__ADS_1


" Tapi aku peduli. " Parto berteman dengan Kuncoro sudah lama, mengenai bagaimana sikap keras kepalanya dia, kepribadiannya yang angkuh, arogan, mendominasi, Parto sangat paham.


" Aku tidak membutuhkan! " Kuncoro


Parto tersenyum meremehkan, dari dulu masih, sama, tidak menerima interupsi.


" Terserah kamu Saja. Ada hal yang lebih penting jadi aku tidak akan menemanimu


bermain petak umpet dengan Stella. " Parto menarik Hanna ke samping.


Hanna yang tidak ada persiapan dengan mudah dirangkul oleh Parto. Ia mendongak memandang wajah Parto tanpa berkedip karena terkejut.


Kuncoro melihat adegan itu dengan sangat jelas. Sangat menusuk mata. Sudah banyak kali Ia menghubungi Hanna namun tidak ada respon dan ternyata sedang berkencan dengan Parto. Ia tersenyum dingin.


" Kamu ingin pamer padaku? " Kuncoro melihat kedekatan diantara keduanya. Setahu dia Parto menjaga Hanna seperti menjaga harta langka meskipun tidak pernah ditunjukkan langsung pada Hanna. Temannya itu lebih memilih menyembunyikan perasaannya dengan alasan yang tidak dia mengerti.


" Sejak kapan kamu tertarik dengan apa yang aku lakukan? Atau jangan-jangan kepribadianmu sudah berubah? " Parto memasang wajah curiga pada Kuncoro.


Kuncoro tidak peduli dengan tatapan curiga Parto, juga tidak peduli dengan apa yang dia tuduhkan, dia lebih ingin tahu tentang Hanna, perempuan yang telah mengabaikan dirinya padahal dia ingin minta maaf.


" Dia" Kuncoro menunjuk pada Hanna


" Dari tadi bersamaku. " Parto merasa ada yang janggal ketika Kuncoro menanyakan tentang Hanna. Setahu dia, Kuncoro dan Hanna tidak akrab walaupun saling mengenal. Hanna tidak menyukai Kuncoro, Itu yang dikatakan Hanna saat pertama kali dia mengenalkan Hanna dengan Kuncoro. Sedangkan Kuncoro orangnya cuek dan tidak peduli.


Hanna diam saja tidak menanggapi Kuncoro. Ia takut Kuncoro mengatakan yang sebenarnya pada Parto.


Hanna memegang lengan Parto untuk menghilangkan ketakutannya.


Di mata Kuncoro, Hanna sedang bergelayut pada Parto. Memberi kesan perempuan centil.


" Kita pulang sekarang. " Hanna meminta pada Parto.


Parto mengangguk mengiyakan. Parto menyingkirkan pemikirannya tadi tentang Kuncoro, sekarang dia lebih pada menjaga perasaan Hanna yang tidak menyukai Kuncoro. Lain kali dia perlu bicara pada Hanna bahwa Kuncoro tidak semenyebalkan seperti yang terlihat.


" Aku akan mengantar Hanna pulang. " Parto memandang Hanna dengan kasih sayang.


Kuncoro yang biasanya tidak peduli mengerutkan kening melihat pemandangan di depannya.


" Stella mau menikah dengan Roy kamu tidak usah mencarinya lagi" Parto berkata pada Kuncoro setelah mengalihkan pandangannya dari Hanna.


Parto sudah menyadari hubungan Stella dengan Roy. Ketika Roy dan Stella bersama, Kuncoro masih berada di luar negeri. Salah Kuncoro sendiri karena ia memutus komunikasi dengannya sehingga ia tidak bisa memberitahu mengenai hubungan Stella dan Roy.


" Aku pergi dulu. " Parto menepuk pundak Kuncoro sebelum berlalu.


Dengan tempramen Kuncoro, Parto tau dia tidak akan melepaskan pacar lamanya dengan mudah. Hanya waktu yang akan membuktikan bahwa Stella memang tidak cocok dengannya.

__ADS_1


Parto dan Hanna meninggalkan pusat perbelanjaan dengan saling bergandengan. Dengan naik taxi, Parto mengantar Hanna pulang.


__ADS_2