
Turun dari angkutan umum Parto baru merasa lapar. Dari tadi bersama dengan Hanna mampu membuatnya kenyang.
Di dekat gang masuk daerah rumah kontrakan yang ia sewa ada sebuah toko waralaba. Parto masuk membeli roti bungkus dan sebotol air mineral kemudian keluar mencari tempat duduk yang kosong di depan toko.
Parto duduk dengan asal di bangku dekat pintu. Kakinya yang panjang dijulurkan namun dia mengambil posisi supaya tidak mengganggu orang yang keluar masuk toko.
Dengan acuh Parto makan roti sambil mengamati orang yang lewat. Dengan mengamati mereka, setidaknya dia tidak merasa sendirian di dunia ini. Mereka manusia sama seperti dirinya, yang membedakan adalah nasipnya. Semua orang memiliki takdir sendiri-sendiri. Dia tidak akan membuang waktu dengan mengeluh ataupun membandingkan dirinya dengan orang lain. Dia adalah dia dan mereka adalah mereka.
Seorang laki-laki tampan duduk sendirian, di depan toko sambil makan mengundang mata orang untuk melihatnya, begitu juga dengan Lusy, salah satu staf toko tersebut.
Tanpa malu Lusy mengamati gerakan Parto. Lebih tepatnya sedang menilai sesuatu. Ia tidak takut ketahuan karena menurutnya tidak ada yang perlu di takuti, sesuai kepribadiannya lugas. Dia melihat Parto membuka layar ponselnya selanjutnya melihat Parto tersenyum sendiri.
Beberapa detik kemudian Lusy mengambil ponsel miliknya lalu mengirim pesan pada temannya
" Aku melihatnya buka ponsel kemudian tersenyum sendiri. " Lusy menepuk jidatnya pelan begitu melihat pesan yang diatulis. Kenapa ia mengetik apa yang dilihatnya dan mengirimnya ke Nicky. Dia ingin menghapus pesan yang telah dikirim mamun terlambat karena balasan dikirim dengan cepat.
" Kemungkinan besar dia lagi chat sama pacarnya" balas Nicky
" Selidiki!! " Lusy
" Apanya yang diselidiki? Orang yang sedang kamu lihat? oh ya kapan kamu punya pacar? " Nicky membalas perintah Lusy dengan rentetan pertanyaan.
" Tidak akan! Yang aku perintahkan padamu sebelumnya aku mau hasilnya dan segera kirim ke aku ! Atau.... " Lusy tidak melanjutkan kalimatnya namun orang di seberang sana dapat mengerti maksudnya.
Lusy meletakkan ponselnya dengan geram. Baru kali ini dia bertindak ceroboh gara-gara melihat Parto.
Lusy memanggil rekan kerjanya untuk mengantikannya karena ini sudah jam pulang kerja. Lusy membereskan barang-barangnya kemudian ia mendekati Parto. Lusy berdiri di samping Parto, samar-samar terpancar kesombongan dalam dirinya. Lusy diam tanpa mengatakan sesuatu, dia terbiasa disapa orang bukan dia yang menyapa.
Parto mendongak merasa ada yang menghalangi cahaya lampu. Ia melihat penampilan Lusy seperti biasanya, mengenakan seragan toko, baju hijau garis merah kuning di bagian dada. Badannya berisi dengan tinggi 175 cm, berparas cantik khas asia dengan rambut panjang.
" Sudah mau pulang? " Parto berbicara duluan melihat gelagat Lusy yang tidak ingin mengatakan sesuatu.
" Iya. " Lusy mengiyakan
__ADS_1
" Berhati-hatilah ini sudah malam. " Parto masih mempertahankan posisinya yang tadi, bersandar malas di kursi sambil mendongak, melihat ke arah Lusy yang juga sedang melihatnya sambil menunduk.
" Tentu. " Lusy dengan nada datar
" Suruh jemput pacarmu, aku tidak bisa mengantarmu. " Parto sebenarnya tidak tega membiarkan Lusy pulang sendirian. Tapi kemudian dia ingat dengan permintaan Hanna yang tidak masuk akal, Hanna meminta dirinya untuk tidak terlalu perhatian dengan perempuan lain.
" Tidak punya pacar. " balas Lusy
" Tidak percaya. " Parto dengan nada malas berdebat. Perempuan secantik Lusy tidak mungkin tidak memiliki pacar.
Lusy mengerutkan dahi. " Tidak percaya juga tidak apa-apa." lanjutnya dengan acuh.
Lusy mengenal Parto ketika pertama kali ia dipindahkan ke toko cabang tempat ia bekerja sekarang sekitar 6 bulan yang lalu. Parto merupakan orang pertama yang menjadi costomernya. Parto bertanya tentang beberapa hal sepele seperti menanyakan barang. Dia masih ingat waktu itu ia diminta mencari produk wanita, awalnya ia masih sabar memberi arahan letak produk tersebut.
Dengan berbagai alasan Parto minta dianterin ke tempat dimana produk itu di letakkan. Mau tidak mau dia menuruti kemauan Parto.
Dia membawa Parto ke rak paling ujung. Setelah mengambil barang, Parto menyuruhnya tidak kemana-mana. Parto ke kasir untuk membayar barang lalu kembali dengan cepat. Dengan ekspresi datar Parto menyerahkan pembalut ke tangannya lalu dia keluar dengan cepat.
Lusy menimang pembalut ditangannya lalu ia ingat saat ini adalah periode menstruasinya, lalu ia cepat berlari ke kamar mandi. "Astaga" mengingat tadi ia mondar-mandir membuatnya malu.
Lucy memandang Parto dengan hati geram, Semua orang yang bertemu dengannya akan menyanjungnya, mereka berfikir bagaimana caranya supaya dia tidak marah. Satu lagi yang membuatnya jengkel, pria ini bersikap acuh padanya.
" Tidak ada yang ingin kamu katakan? " Lusy menekan amarah di hatinya.
Parto menarik nafas panjang, ada banyak hal yang ada di fikirkannya. Biasanya sebelum dia pulang ke rumah kontrakan, dia akan menarik Lusy untuk mendengarkan ia bercerita,namun kali ini ia sedang malas bercerita apalagi sudah diperingatkan oleh sang pacar.
" Cepatlah pulang. " akhirnya Parto hanya menyuruh Lusy pergi supaya tidak menganggunya.
Lusy mengangguk pelan dengan ekspresi datar.
" See you " Lusy berbalik badan dengan sikap acuh tak acuh. Dia mengerutkan alis ketika sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya. Mobil itu menghalangi motor miliknya.
Seorang turun dari mobil, badannya tegap dengan kepala plontos. Pria itu mendekati Lusy
__ADS_1
" Nona Lusy, silahkan ikut saya, tuan Darren meminta saya untuk menjemput anda." pria plontos itu berada tidak jauh dari tempat Lusy berdiri.
Lusy menatap pria itu dengan pandangan tajam. Dia tidak suka ada orang yang mengganggu jalannya. Apalagi dia tidak bisa mengeluarkan motornya karena terhalang oleh mobil si plontos.
" Aku akan menemuinya lain kali. Minggirkan mobilmu! " Lusy tidak menutupi kekesalan hatinya. Dia memandang sinis si plontos.
Lusy tidak menyangka kalau Darren kurang kerjaan sampai menyuruh orang untuk menjemput dirinya.
Si plontos melihat ketidaksenangan Lusy dari raut wajahnya. Namun perintah telah diberikan maka dia harus melaksanakan.
Lusy tidak beranjak dari tempatnya, tanpa takut sedikitpun dia memandang si plontos, dia sedang menimbang tindakan apa yang akan dilakukanya.
" Tuan Darren meminta supaya anda menemuinya sekarang. " si plontos maju, mengulurkan tangannya untuk meraih Lusy . Dia datang baik-baik dan bicara baik-baik pada Lusy namun Lusy tidak meresponnya sama sekali. Dia hanya berkewajiban membawa Lusy kehadapan Tuan Darren, untuk urusan selanjutnya tidak ada hubungannya dengan dia.
Tapi si plontos meremehkan Lusy, gadis itu menghindari tangannya dengan cepat, bahkan dia tidak dapat memyentuh kulitnya.
Sekali lagi si plontos mengulurkan tangannya dengan kecepatan penuh untuk menarik Lusy. Lagi-lagi Lusy mampu menhindarinya, bahkan Lusy sempat memukul punggung tangan si plontos. Gerakan Lusy terlihat ringan namun saat memyentuh tangannya, si plontos merasa kesakitan.
" Pulanglah dan beritahu tuanmu, cepat atau lambat aku akan menemuinya! " Lusy berkata datar namun syarat akan amarah. Darren sudah berani terang-terangan mengincar dirinya, membuatnya ingin menghancurkan wajah Darren dan membuangnya ke neraka.
Darren telah memprofokasinya, dia tidak akan tinggal diam. Sudah cukup menahan diri selama enam bulan di kota ini, saatnya dia kembali ke asalnya.
" Tuan Darren akan kembali pagi ini, dia ingin membawa anda pulang bersama. " si plontos memang berperawakan garang, meskipun dia berkata lembut tetap saja tidak mengurangi kegarangannya.
" Aku sudah mengatakannya dua kali bahwa aku akan menemui Darren sendiri. Jangan paksa aku atau Kamu akan menyesal? " ucap yang hanya bisa didengar olehnya dan si plontos.
Si plontos tidak mendengarkan omongan Lusy, dia tidak ingin tuannya kecewa dengan kegagalan tugasnya. Apalagi hanya membawa seorang perempuan.
Lusy mundur untuk menghindari orang itu.
Tindakan Lusy tertangkap mata Parto.
Adegan dari mobil itu berhenti menghalangi motor Lusy sampai lucy beberapa kali menghindar, Parto melihatnya.
__ADS_1
Parto ingin Lusy berteriak padanya dan meminta tolong padanya mengingat wajah sombong Lusy barusan.