Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
KUNCORO DAN PARTO PERGI BERSAMA


__ADS_3

" Tidak boleh kemana-mana! Habis ini segera pulang! " Hanna berpesan


Hanna melepas gengaman tangan Parto dengan perasaan tidak rela.


Parto menyuruh Hanna segera masuk, lagipula cuaca mendung, berlama-lama diluar juga tidak bagus.


Setelah Hanna menghilang di balik pintu, Parto baru meninggalkan tempat itu. Dia menikmati malam dengan berjalan kaki.


Sebuah mobil berjalan pelan mengiringi jalannya, kemudian pengemudi membunyikan klakson.


Bunyi klakson membuat Parto menghentikan langkahnya, dia melihat mobil porce di dekatnya dengan pintu jendela bergerak turun secara perlahan. Parto melihat orang dibalik kemudi.


" Masuklah! " Kuncoro


Parto mendekati body mobil kemudian membuka pintu. Parto duduk di kursi ko pilot kemudian memasang sabuk pengaman.


Kuncoro jarang menemuinya semenjak dia pulang dari luar negeri. Ia jadi pengen tau hal apa yang membuat Kuncoro menemuinya.


" Kamu sengaja mencariku? " Parto membuka suara.


" Benar. Keberatan? " Kuncoro melirik parto. Pada awalnya Kuncoro berniat menemui Hanna di toko Diana Colection. Tapi dia melihat Hanna pergi bersama dengan Parto. Kuncoro sempat pulang, namun dia putar balik menuju rumah Hanna.


" Tidak juga." Parto membalas seperti biasa.


" Kita bermain-main sebentar. Kamu ada waktu? " Kuncoro mulai menjalankan mobilnya.


" boleh. Aku lagi senggang. " Parto


Sekarang jam sepuluh malam masih sore buat Parto daripada sendirian di rumah. Lagipula dia dan Kuncoro lama tidak bermain bersama.


Diluar udara dingin sehabis hujan tapi di dalam mobil terasa hangat.


Kuncoro menatap kedepan, menyalip mobil di depannya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia meluapkan emosinya yang ditahan dari tadi. Emosi karena Roy, juga emosi karena Hanna.


Hanna membuatnya marah dengan berhubungan dengan Roy. Roy membuatnya marah karena Stella.


Kuncoro mengendarai mobilnya semakin kencang.


Kebanyakan laki-laki menyukai tantangan, begitu juga dengan Parto, dia tidak masalah dengan cara mengemudi Kuncoro. Dia tidak memiliki mobil jadi tidak pernah naik mobil dengan kecepatan seperti sekarang.


Dia percaya pada kemampuan Kuncoro mengemudi, kecepatan ini masih dalam batas kontrolnya.


Di depan bar Astro, bar kelas atas, Kuncoro memarkirkan mobilnya.


Kuncoro membuka pintu mobil, kakinya yang jenjang menginjak tanah. Sepatu kulit buatan khusus menjadi alas kakinya, dia juga mengenakan setelan jas hitam, kesan dingin terpancar dari wajahnya


Penampilannya menunjukkan identitasnya. Outfitnya saja seharga ratusan juta.


Parto juga turun dari mobil. Dia memandang papan Nama bar. Kadang dia datang ke bar bersama dengan rekannya, hanya bar biasa bukan bar kelas Astro dengan minuman seharga mobil.


Dibandingkan dengan Kuncoro, penampilan Parto biasa saja. Celana jeans dipadukan kemeja putih dengan luaran jaket parka warna cokelat susu, memancarkan sosoknya yang hangat.

__ADS_1


Parto berjalan beriringan dengan Kuncoro. Keduanya sama-sama tampan, hanya penampilannya saja yang berbeda.


Melewati penjaga, Kuncoro mengeluarkan kartu VIP, seorang pelayan datang untuk mengantar ke ruangan khusus.


Ruangan yang mereka masuki seperti mengisolasi mereka dari bisingnya musik di luar. Tapi mereka bisa melihat situasi di luar dari dinding kaca.


Di bawah cahaya lampu temaram, Parto dan Kuncoro duduk bersebelahan.


Seorang pelayan membawa dua botol anggur dan dua gelas kosong. Diletakkan botol anggur dan gelas di meja. Dia menyempatkan melihat dua pelanggan di sofa. Banyak tamu yang pernah dilayani, mereka dari kalangan kelas atas dan tentu saja cakep-cakep, tapi tidak ada yang setampan dua orang ini.


Sayang sekali mereka tidak melirik padanya.


Kuncoro mengeluarkan uang lalu menaruh di atas meja. Dia menyuruh pelayan segera keluar setelah mengambil uang itu.


Nadanya tidak sabar, membuat pelayan takut dan segera meninggalkan ruangan.


Parto diam dengan sikap Kuncoro, dia tau dimana perlu ikut campur dan tidak.


Kuncoro membuka penutup botol kemudian menuangnya ke dalam gelas.


Jari-jarinya yang lentik memegang kaki gelas, mengankatnya kemudian diminum dalam sekali teguk.


Parto melihat Cara Kuncoro minum anggur, sama seperti minum air putih. Kalau dia mengikuti cara minum Kuncoro dipastikan bakal mabuk bersama. Bahaya kalau menyetir dalam keadaan mabuk.


Mereka berbincang tentang perkembangan bisnis saat ini. Tentang perusahaan keluarga Munaf tidak luput dari bahan pembicaraan. Apalagi Parto, ia selalu mengikuti perkembangan beritanya.


" Perusahaan keluarga Munaf kehilangan investor. Menurutmu bagaimana? " Kuncoro bertanya setelah menghabiskan anggur di gelas kedua.


" Aku curiga ada yang bermain di belakang ini. " Parto bersadar di sofa memikirkan peristiwa yang menimpa perusahaan Munaf.


" Kamu sudah tau Perusahaan Bio tec sekarang bekerja sama dengan perusahaan Munaf? " Parto melanjutkan


Kuncoro mengerutkan dahi. Setau dia perusahaan Bio tec bergerak di bidang teknologi dan realasted.


Dia belum pernah mendengar mereka merambah produksi pakaian jadi.


Kondisi perusahaan Munaf sedang dalam ambang kebangkrutan dan mereka menjalin kerjasama dalam kondisi seperti itu. Bisa dipastikan mereka punya tujuan tersendiri.


Menanggapi pertanyaan Parto, Kuncoro menggeleng pelan.


" Kamu berfikir keadaan perusahaan Munaf saat ini ada hubungannya dengan Bio tec? " Kuncoro


" Kemungkinan besar mengarah kesana. Yang jadi pertanyaan adalah tujuan mereka. Perusahaan sebenar Bio tec dengan aset ribuan triliunan bekerjasama dengan perusahaan seharga ratusan miliar apalagi perusahaan itu dalam keadaan krisis. " Parto


Kuncoro mengoyang gelas ditangannya dengan pelan. Dia teringat dengan kejadian di perjamuan. Perempuan kecil dipelukan Rendy, asisten pribadi dari CEO Bio tec. Adegan itu membuat kemarahannya muncul kembali.


" Mungkinkah mereka ingin memakan perusahaan Munaf? " Parto


" Belum tentu. Bisa jadi mereka membantu perusahaan Munaf melewati krisis. " Kuncoro masih menggoyangkan gelas di tangannya.


Dia berkata seperti itu juga ada dasarnya. Bio tec merupakan perusahaan besar, memiliki banyak koneksi. Memutus sumber dana perusahaan Munaf pun hal mudah bagi mereka. Tapi mereka malah bertindak sebaliknya.

__ADS_1


" Untuk mendapatkan jawaban tentang kasus perusahaan munaf tinggal bertanya pada investor yang pergi. " Kuncoro


Parto mendengarkan perkataan Kuncoro. Yang dikatakannya ada benarnya juga. Dunia bisnis memang rumit. Saling makan dan menjatuhkan merupakan hal biasa.


Parto bukanlah pebisnis, namun ia bekerja dan mendapatkan uang dari sini. Jadi sedikit banyak dia tau dunia yang digelutinya itu.


" Tidak mudah mencari informasi dari mereka. Apalagi hal itu bersifat rahasia. " Parto


Sebotol anggur di habiskan oleh Kuncoro. Sekarang ia bersandar di sofa, kepalanya agak pusing, namun ia dalam keadaan sadar.


" Bisa saja tergantung caranya. " Kuncoro menengadahkan wajahnya memandang langit-langit. Ada kilatan misterius di balik senyumannya. Dia punya gagasan sendiri untuk menangani masalah ini.


" Kamu dari tempat Hanna? " Kuncoro mengalihkan topik


" Mengantarnya pulang. " Parto sedikit tersenyum mengingat Hanna.


" Tadi aku ada urusan di jalan panjaitan. Ada sebuah toko yang akan dijual, aku diminta untuk mencari pembeli. Komisi yang didapat juga lumayan. " Jawab Parto


Dari penjualan toko, Parto mendapatkan komisi sekitar lima juta rupiah. Ketika dia datang ke sana tidak terfikir olehnya akan melihat Hanna keluar dari mobil yang dikendarai seorang pria.


Hujan turun rintik-rintik waktu dia keluar dari toko. Dia berteduh di depan toko. Menyalakan sebatang rokok untuk mengusir dingin. Pemandangan selanjutnya yang ia lihat adalah mobil sedan hitam berhenti di seberang jalan. Dia melihat Hanna turun dari mobil. Setelah Hanna turun, hujan deras turun, dia melihat Hanna berlari masuk toko Diana Colection.


Mobil yang mengantar Hanna juga tidak langsung pergi


" Kamu tau Hanna kenal Roy? " Kuncoro masih memandang langit-langit ruangan.


Parto mengerti bahwa Kuncoro membenci Roy. Dari dulu sejak Kuncoro duduk di bangku Sekolah menengah pertama dia membenci Roy. Tidak jelas apa masalahnya, Kuncoro tidak pernah bercerita dengannya.


Apalagi sekarang Roy akan menikah dengan Stella, kebenciannya semakin bertambah .


" Tau. Sebelum dia mengenalku, dia sudah kenal dengan Roy. " Parto ingat


Hanna pernah bercerita tentang Roy. Juga seorang bernama Aloysia. Dia baru tau bahwa Roy yang dimaksud oleh Hanna adalah kakak Kuncoro. Dia tau juga baru tadi setelah diberitahu oleh Hanna.


Kuncoro menoleh pada Parto. Dia pikir Parto merupakan pria pertama untuk Hanna tapi ternyata masih ada Roy.


" Kamu tidak keberatan? " Kuncoro menoleh pada Parto, menunggu jawaban darinya.


Parto merasa konyol dengan pertanyaan Kuncoro. Selama hubungan mereka dalam batas wajar tidak perlu dirisaukan. Dia bukan orang yang berpikiran sempit. Tapi dia juga bukan orang yang toleran terhadap kesalahan.


" Dia hanya mengenalnya lebih dulu, tidak berpacaran atau melakukan hubungan khusus. " Parto


Kuncoro menegakkan badannya, tangannya membuka penutup anggur kedua.


Kuncoro berpikir tentang dirinya, lalu hubungan seperti apa antara dia dan Hanna. One night stand?


Sebentar saja bersama dengan Hanna dia sering dibuat emosi dengan sikapnya.


Roy dan Rendy, dalam sebuah perjamuan saja Hanna bisa mengaet dua pria sekaligus, apalagi diluaran sana.


Dia tidak habis pikir kenapa Parto bisa bertahan dengan Hanna.

__ADS_1


" Hanna pernah bercerita tentang asisten Rendy dari Bio tec? " tanya Kuncoro


Parto mengerutkan dahi, Bio tec terlalu tinggi untuk digapai oleh Hanna. Dia tidak percaya kalau Hanna mengenal Rendy dari Bio tec.


__ADS_2