
Stella telah melakukan reserfasi sebelumnya, dia pelanggan tetap sehingga mendapatkan pelayanan khusus.
Ketika Stella dan Kuncoro sampai, seorang pelayan yang mengenali Stella langsung menyambut dengan ramah.
Pelayan itu membawa Stella ke ruang pribadi di lantai atas, biasanya orang membutuhkan waktu tiga hari sebelumnya untuk reserfasi tapi Stella melakukannya kurang dari tiga puluh menit.
Yang dimaksud dengan ruang pribadi merupakan ruangan berukuran sedang dengan jendela kaca besar untuk menonjolkan viu perkotaan dari lantai lima.
Pelayan laki-laki sudah terbiasa melayani pelanggan khusus, dia ingin menarik kursi untuk Stella namun tidak jadi karena Kuncoro lebih dulu menarik kursi untuk Stella.
Pelayan berdiri canggung tapi tetap tersenyum. Setelah Kuncoro dan Stella duduk, pelayan menghampiri mereka, menyodorkan daftar menu, berbicara ramah meski terdapat tanda tanya besar di matanya saat melihat Stella.
" Silakan pilih menunya. " Pelayan menyiapkan buku note dan bolpoin dari saku, kemudian menunggu dengan sabar.
Kuncoro memilih beberapa menu untuk dirinya sekalian memesan makanan kesukaan Stella. Stella menyukai udang jadi Kuncoro memesan beberapa macam menu yang ada udangnya. Stella menyukai minuman segar, makanya dia pilih jus Stroberi.
Setelah memcatat semuanya, pelayan itu meninggalkan Stella dan Kuncoro berdua.
Sepeninggal pelayan, Kuncoro melihat Stella yang duduk dihadapannya.
Meja makan bulat tertutup kain sutra putih dengan rangkaian bunga segar diatasnya menjadi jarak diantara Kuncoro dan Stella.
Hanya satu meter, Kuncoro bisa meraih Stella, memeluknya, namun dia menahan diri supaya tidak bersikap implusif.
Disisi lain, Stella mengerutkan alisnya, ia tidak menyangka Kuncoro masih mengingat semua yang ia suka. Tindakan dan perhatian Kuncoro masih sama seperti dulu. Yang berubah adalah Kuncoro yang sekarang lebih dewasa, tindakannya lebih tenang dan wajahnya lebih tampan.
Sejauh ini dia menikmati kebaikan Kuncoro. Perasaan diperhatikan membuatnya nyaman berada di dekat Kuncoro.
" Bagaimana kabarmu? " Kuncoro
" Kamu sendiri bagaimana? " Stella balik bertanya.
" Seperti yang kamu lihat, aku tidak berubah. " Kuncoro tidak merubah citra dirinya di depan Stella. Untuk hal ini dia berkata jujur bahwa perasaannya pada Stella tidak berubah.
Stella bukan tidak mengerti maksud Kuncoro tapi dia pura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
Tujuan dia menemui Kuncoro memang untuk hal ini, membuat jarak yang jelas antara dirinya dan Kuncoro mengingat statusnya sekarang merupakan kakak ipar dari Kuncoro.
Ibarat nasi sudah menjadi bubur, tidak mungkin bisa kembali lagi.
" Kenapa kamu meninggalkanku waktu itu? " Stella berkata dengan nada datar namun syarat akan keluhan, tatapannya menunjukkan ketidakberdayaan.
" Aku ada sedikit kesulitan waktu itu sampai tidak sempat menemuimu. Tapi sebelum aku pergi aku mengirim pesan padamu untuk menungguku. " jawab Kuncoro mengingat kembali peristiwa sembilan tahun lalu. Namun dia tidak bisa menjelaskan pada Stella sekarang. Sisi lain dalam kehidupannya, dia belum bisa mempercayakan pada orang lain. Mengenai cintanya pada Stella dia tidak dapat berbohong pada dirinya sendiri.
Stella mengamati wajah Kuncoro, dia dapat melihat cinta dari sorot matanya. Kemudian timbul penyesalan kenapa dia tidak menunggu sampai Kuncoro kembali.
" Aku menerima pesan mu." Stella mengunci tatapannya pada manik hitam Kuncoro. Stella enggan melepaskan Kuncoro, sampai Kuncoro merasakan keputusasannya waktu itu.
" Kamu tau aku hampir gila karena mu? " Stella dengan nada lebih tinggi.
Kuncoro diam memandang wajah sedih Stella, ia ingin menenangkannya namun dia menguntungkan niatnya mengingat Stella akan menjadi kakak iparnya. Rasa simpati itu berubah, membuatnya ingin marah.
Stella mnarik nafas dalam-dalam untuk menstabilkan emosinya
" Aku menunggumu selama sembilan tahun. " ucapnya pelan namun masih dapat di dengar oleh Kuncoro
" Lalu?! " Kuncoro tidak habis pikir, kalau memang Stella menunggunya kenapa sekarang malah menikah dengan kakaknya. Dia bukan anak kecil yang gampang dibodohi. Meskipun dia bodoh karena cinta, sudah tahu dihianati tapi tidak bisa melepaskan.
" Sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Ada kalanya aku merasa putus asa ketika aku tidak bisa menemukanmu padahal aku sudah berusaha keras. Suatu hari ketika aku merasa tertekan, aku pergi ke klub. Aku tidak tau berapa banyak aku minum sampai membuatku mabuk. Ketika aku bangun aku sudah bersama Roy. " Stella sudah tidak dapat menahan air matanya.
Kuncoro diam mendengarkan cerita Stella dengan perasaan yang rumit. Stella merupakan perempuan biasa, menangung beban untuknya selama sembilan tahun dan akhirnya ia tidak dapat menahan kemalangan.
" Roy berbaik hati bertanggung jawab pada ku. Aku.... " Stella menghentikan kata-katanya, namun air matanya tidak dapat dihentikan.
" Apa yang harus aku lakukan? Sedangkan kamu tidak ada kabar sedikitpun. " Stella menundukkan kepalanya.
" Aku tidak tau Roy adalah kakak mu. Maafkan aku. " Stella mengangkat wajah memandangi Kuncoro.
Kuncoro tidak mengatakan adapun, dia hanya mengamati Stella. Melihatnya menangis, melihatnya putus asa, melihatnya sedih.
" Aku sudah tidak pantas untuk mu. Mulai sekarang kita putuskan ikatan di masa lalu. Maafkan aku. " Stella mengucapkan maaf untuk yang kedua kalinya. Apa yang ingin disampaikan sudah dia katakan, setidaknya dia sudah mengatakan kebenaran, terlepas Kuncoro memaafkan dirinya atau tidak itu tergantung pada Kuncoro.
__ADS_1
Stella sudah tidak dapat menahan lagi untuk satu ruangan berdua dengan Kuncoro, akhirnya ia berdiri, mengambil langkah lebar menuju pintu.
Sebelum Stella meraih gagang pintu, sosok tinggi berdiri dihadapannya, menghalangi jalannya.
Kuncoro memeluk Stella dengan erat, sudah lama dia merindukan perempuan ini. Dengan bodohnya dia menyukai interaksi dengan Stella meskipun dia tahu telah melakukan perbuatan yang salah.
Stella ingin membalas pelukan Kuncoro namun dia tahan, dia mengeratkan kepalan tangan di kedua sisinya supaya tidak sembarangan bergerak.
Stella dapat mendengar detak jatung pria di hadapannya, dia merasakan rindu.
" Tinggalkan Roy. Menikahlah dengan ku! " Kuncoro berkata dengan tegas.
Stella semakin tidak dapat menahan gejolak dihatinya, bahunya bergetar menahan tangis, memperlihatkan kerapuhan. Seandainya ia tidak terikat kontrak dengan Roy, ia akan menyetujui permintaan Kuncoro.
" Lepaskanlah aku! "Stella meronta di pelukan Kuncoro
Semakin Stella meronta maka Kuncoro semakin mengeratkan pelukannya. Dia telah berbuat salah pada Stella, membuatnya depresi hingga berujung pada hal yang di luar kendali.
Sekali lagi Stella meronta. Akhirnya Kuncoro melepaskannya dengan enggan.
" Aku tidak bisa meninggalkan Roy saat ini. " ucap Stella
" Dia sudah berbaik hati pada ku. Aku tidak bisa mengabaikannya. " lanjut Stella dengan penampilan lemah.
Kuncoro menarik nafas dalam. Ia tau Stella keras kepala dalam pendapatnya. Alasan Stella juga masuk akal. Tapi rasa bersalah dan cintanya lebih tidak masuk akal.
" Kembalilah padaku bila Roy berbuat tidak baik padamu ! " Kuncoro berkata sungguh-sungguh sambil memegang kedua pundak Stella.
Stella mengeleng kemudian menggangguk, dia tampak binggung dengan kebenaran ucapan Kuncoro.
Kuncoro tidak lagi menghalangi Stella. Ia masih berdiam diri di dekat pintu ketika Stella meninggalkannya. Keberadaan Stella merupakan racun dalam hidupnya, dan racun ini sudah mengalir dalam darahnya.
Kuncoro berjalan perlahan menuju dinding kaca, tatapannya menerawang ke birunya langit. pertarungan dalam dirinya membuatnya termangu untuk beberapa saat. Dia tersadar ketika pelayan membuka pintu mengantarkan makanan yang telah dipesan.
Seolah tersadarkan, Kuncoro beranjak dari tempatnya. Sekarang ia sudah tidak ada nafau makan. Dia meninggalkan uang cash diatasi meja untuk membayar tagihan, kemudian melangkah lebar meninggalakan tempat itu untuk mengejar Stella.
__ADS_1
Kuncoro telah melewatkan belasan menit untuk merenung menyebabkan dia kehilangan jejak Stela. Namun dia tidak menyerah, dia menyusuri trotoar berharap dapat menemukan Stella. Tatapannya liar ke kanan dan ke kiri, bahkan sesekali dia memutar badan mengedarkan pandangan sejauh yang dia bisa, memeriksa semua sudut namun yang dicari belum juga ketemu.
Langkah kaki Kuncoro berhenti di depan pusat perbelanjaan, setelah menimbang ia memutuskan untuk masuk. Disepanjang koridor depan pusat perbelanjaan, Kuncoro mengedarkan pandangan mencari sosok Stella.