Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
SARAPAN BERSAMA


__ADS_3

Keinginan Hanna untuk pergi sangat besar, dia tidak ingin satu ruangan dengan Kuncoro.


Dia memilih menunduk atau mengalihkan pandangan saat berhadapan dengan Kuncoro.


" Kerja keras ayahmu, kamu tidak mau tau?. Oh ia selama ini kamu hanya tertarik pada Parto saja. " Kuncoro dengan senyum sarkasme.


Hanna melotot, kata-kata Kuncoro menyentuh rasa sakit dihatinya. Benar, selama ini dia hanya tertarik dengan Parto, apa yang dia lakukan semua bertumpu pada Parto. Selama bertahun-tahun dia berusaha, dengan sabar menanti, dalam sekejap usahanya, penantiannya sia-sia. Ini semua karena Kuncoro , tidak sadarkah dia?


Mengenai perusahaan Munaf, dia memang tidak pernah bertanya. Ayahnya juga tidak memaksa. Kalau memang yang dikatakan Kuncoro benar, apa yang harus dilakukan.


Hanna diam saja. Jari-jarinya mengetuk meja secara perlahan.


" Menurut mu kenapa mereka menarik investasi? " Hanna.


" Banyak faktor. Mungkin ayahmu telah menyinggung orang yang lebih kuat. " Kuncoro


" Maksudnya? " pikiran Hanna blank mengenai dunia bisnis.


" Dengan perginya investor, perusahaan Munaf kehilangan dana, bila dibiarkan akan mengakibatkan krisis perusahaan, dengan begitu hanya ada dua pilihan, membiarkan perusahaan hancur atau menjual dengan harga rendah. " Kuncoro


" Dua-duanya bukan pilihan. " Hanna berkata pada dirinya sendiri.


Dari apa yang dikatakan Kuncoro dia mengerti keseriusan masalah perusahaan Munaf. Sekarang dia bisa apa untuk membantu ayahnya.


" Aku bisa membantu ayahmu. Tapi kamu juga harus membantu ku. " Kuncoro bersandar di kursi.


Hanna diam sambil berfikir, mulai curiga dengan niat baik Kuncoro.


" Selama aku bisa kenapa tidak. " Hanna


" Bantu aku memisahkan Stella dari kakakku! " Kuncoro


" Kamu gila?!" Hanna mengebrak meja. Mana bisa mengganggu orang yang sudah menikah, apalagi memisahkan mereka. Orang ini memang tidak waras.


" Kelangsungan perusahaan ayahmu ada di tangan mu. " Kuncoro melanjutkan


" Kamu yang merencanakan ini? " Hanna


Kuncoro mengeleng pelan. Dunia bisnis memang kadang kotor. Tapi untuk perusahaan keluarga Munaf dia tidak berniat mengganggu. Dia curiga ada yang bermain di baliknya, cuma belum pasti siapa orangnya.


" Kalau aku yang melakukan untuk apa memberitahu mu?!" Kuncoro mulai emosi


" Supaya aku mau membantu mu. " Hanna dengan suara ringan


" Jangan menganggap tinggi dirimu. Masih banyak yang bisa membantu ku" Kuncoro mencibir


" Kamu.... " Hanna tidak tau harus berkata apa.


" owh ada satu hal lagi. Tentang Parto, kamu belum membetitahunya? " Kuncoro melanjutkan


Deg.... Pertanyaan Kuncoro seperti pisau yang menusuk jantungnya. Dengan linglung Hanna menatap Kuncoro. Tangannya mengepal erat sampai kelihatan urat biru di punggung tangannya. Dasar tidak punya hati, batin Hanna sambil mengertakkan gigi.

__ADS_1


"Saya tidak bisa tinggal lagi. Silahkan anda cari orang lain " Hanna beranjak pergi.


Bagaimana bisa orang yang menghancurkannya berani menginjak harga dirinya. Dia memang terlalu lemah untuk menghadapi orang ini. Takut, kata itu lebih tepat untuknya.


" Hubungi aku kalau berubah pikiran " seru Kuncoro


Hanna melangkah lebar meninggalkan ruangan itu. Berjalan setengah berlari menuju tempat parkir. Dia menghampiri mobil agiya miliknya. Dengan tarikan keras ia membuka pintu kemudian menutupnya dengan keras pula. Dia sudah tidak bisa menahan, tanpa disadari air mata turun dengan sendirinya.


Dia menghempaskan diri di kursi belakang kemudi, berusaha mengontrol emosi dengan memejamkan mata.


Hanna menjalankan mobilnya keluar dari restoran. Mobil berjalan pelan menyusuri jalan kota. Hanna tidak berniat pulang, dia dalam suasana hati yang buruk. Satu-satunya tempat yang dikunjungi ketika dalam keadaan seperti ini adalah galeri miliknya.


Hanya keheningan yang menyapa Hanna ketika membuka pintu. Kesunyian menciptakan kedingingan ke dalam hatinya. Dengan langkah pelan, Hanna naik ke lantai dua, tempat dimana dia memghabiskan waktu dan menyalurkan hobi.


Jari-jari Hanna menyentuh peralatan lukis yang ada di atas meja, sedang pandangannya menyapu seisi ruangan, kursi kayu yang biasa ia duduki ketika melukis, kain kanfas yang masih baru di sebelah kanan ruang, di sebelah kiri beberapa lukisan yang sudah jadi, kasur lipat di sisi belakang, kasur itu biasa digunakan untuk rebahan ketika ia merasa penat.


Hanna menyiapkan kain kanfas kemudian meletakkan di senderan bingkai. Dia mulai menuang cat minyak sambil duduk di kursi kayu.


Dia perlu beraktifitas untuk melupakan beban pikiran.


Hanna mulai menggoreskan kuasnya di atas kanvas, saat dia melukis semua fokusnya teralihkan. Hanna mengerakan tangannya pelan dan teliti, sesekali menunduk kemudian mendongak sampai beberapa helai rambut keluar dari ikatan bermain di wajahnya. Penampilannya ketika melukis sangat berantakan.


Hanna terlalu fokus sampai tidak tau ponselnya bergetar dari tadi.


Menjelang dini hari hanna meletakkan kuas meskipun lukisannya belum selesai. Badannya terasa lelah dan pegal.


Setelah menenggangkan badan, Hanna mengambil kasur lipat, membentang secara asal di tempat yang kosong kemudian merebahkan diri.Tak lama kemudian dia tertidur.


Hanna tidak tau, ketika ponselnya bergetar parto sudah berada di depan galeri.


Lama Parto berada di depan galeri sambil menelphone Hanna, sedang pandangannya tertuju pada jendela lantai dua yang masih terang. Parto yakin Hanna ada di dalam, apalagi mobilnya masih terparkir di depan galeri.


Sambil menelphone Hanna, Parto menyalakan sebatang rokok untuk mengusir dingin. Dia bersandar di badan mobil yang terparkir di depan galeri.


Sudah puluhan kali ia menelphone tapi tidak diangkat juga.


" Lagi ngapain? " tanya Parto pada udara malam, seolah sedang mengapa kekasihnya.


Jam tujuh pagi, hanna bangun. Ia mencuci muka dan sikat gigi. Di geleri ini memang di sediakan kamar mandi peribadi.


Selesai berbenah, Hanna berniat cari makan.


Hanna mengambil tas yang berisi ponsel dan dompet. Kunci mobil juga berada di dalam tas.


Hanna melewati tangga, turun ke lantai bawah. Begitu membuka pintu ia dihadapkan dengan kesibukan kota. Lalu lintas sangat padat di jam kerja seperti ini. Beberapa orang berjalan kaki nenuju tempat kerja.


Hanna menghampiri mobil agya yang ia parkir di depan galeri setelah mengunci pintu.


Ketika akan membuka pintu ia melihat debu rokok berceceran di bawah mobil. Hanna mengerutkan alis kemudian mengedarkan pandangannya kemudian mengabaikannya.


Hanna mencari kunci mobil di dalam tas, tanpa sengaja dia melihat beberapa notifikasi panggilan di layar ponselnya.

__ADS_1


Semua panggilan dari Parto, termasuk sebuah pesan yang menanyakan apakah dia ada di dalam galeri.


Sekali lagi Hanna mengedarkan pandangan ke sekitar, berharap dapat melihat Parto. Hanna berjalan ke sisi jalan namun ia tidak menemukan sosok yang dicari. Karena Parto memang sudah meninggalkan tempat itu saat subuh.


Hanna menelphone balik Parto saat ia berada di dalam mobil. Dering ketiga telephone di angkat.


" Hanna?... " suara serak Parto terdengar di telinga Hanna.


Parto masih tidur ketika telephone berdering. Ia sampai rumah subuh, baru bisa tidur sebentar dibangunkan oleh dering telephone.


" Tadi malam kamu datang ke galeri? " Hanna


" hemm" Parto mengiyakan.


Hanna diam sebentar, menimbang sesuatu.


" Maaf aku tidak tau. " Hanna merasa bersalah karena mengabaikan panggilan dari parto.


" Kamu masih di galeri? " Parto


" Iya. Sekarang mau beli sarapan. Aku sekalian beli untuk kamu." Hanna


Parto bangun, duduk di tepi ranjang sambil mengelus pelipisnya.


Setelah beberapa patah kata, telephone di putus.


Hanna mengendarai mobil untuk membeli sarapan. Dia membeli dua porsi makan udang asam manis, makanan kesukaan Parto dan juga dia.


Sampai di depan rumah sewa yang ditinggali Parto, Hanna turun membawa dua bungkusan. Dia mengetuk pintu, tak lama kemudian pintu terbuka.


Hanna memandang Parto berdiri di belakang pintu, rambutnya sedikit berantakan masih mepakai baju tidur abu-abu, kelihatan kalau dia baru bangun tidur.


Hanna mengangkat bungkusan ditangannya kemudian menggoyangkan di depan Parto dengan senyuman.


" Cuci muka, sikat gigi kemudian sarapan. " Hanna menerobos masuk melewati Parto.


Parto mengikuti Hanna, dengan patuh berjalan menuju kamar mandi. Sebelum masuk, dia menoleh pada Hanna yang sedang mengambil alat makan.


Hanna melirik Parto saat masuk kamar mandi, setelah itu dia menyusun sarapan di meja. Dalam ruangan itu hanya ada satu set meja kursi, biasanya digunakan untuk menerima tamu dan juga untuk makan.


Hanna menunggu Parto dengan sabar, sesekali dia melirik pintu kamar mandi yang tertutup rapat.


Selesai berbernah, Parto menghampiri Hanna yang sudah siap di kursi.


" Ayo makan ! Sini ! " suara manis Hanna sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya.


Parto tidak mengikuti instruksi Hanna, dia malah menarik kursi lain meletakkan berseberangan dengan Hanna duduk. Dengan begini ia bisa memandang Hanna, melihat setiap gerakannya, ekspresi wajahnya, semuanya.


Hanna mengerucutkan bibirnya karena menganggap Parto mengabaikannya.


" Jangan cemberut. Ayo makan! " Parto mengambil nasi lalu diletakkan di depan Hanna. Tidak lupa mengupas udang lalu di letakkan di atas nasi.

__ADS_1


Gerakan sederhana namun memancarkan kasih sayang yang dalam. Membuat hati Hanna tersentuh. Dia merasa menjadi orang paling beruntung di dunia. Tanpa disadari ia tersenyum penuh kebahagiaan.


__ADS_2