Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
DATANG KEPERUSAHAAN MUNAF


__ADS_3

Di ruang makan tempat Parto tinggal, Hanna sedang menikmati sarapanya dengan nikmat.


" Tidak pulang semalaman, malah berada di galeri. Kamu sedang ada masalah? " Parto bersandar dikursi mengamati Hanna dengan saksama.


Hanna yang mau memasukkan makanan ke dalam mulut terhenti, matanya berkedip memandang Parto yang sedang melihat kepadanya. Dia sempat tertegun, berfikir kalau Parto bisa membaca pikiran.


" Pameran lukisan akan diadakan sebentar lagi. Kebetulan ada inspirasi jadi aku datang ke galeri untuk melukis " kilah Hanna


Yang dikatakan Hanna tidak salah, hanya saja bagian dimana dia sedang menenangkan fikiran karena ada masalah dengan Kuncoro tidak disebutkan.


Cepat atau lambat masalah dia dengan Kuncoro pasti akan diketahui oleh Parto. Sebelum hal itu terjadi, dia ingin menikmati kebahagiaan ini walaupun sesaat.


" Kalau ada masalah katakan padaku. " Parto berharap Hanna bisa menceritakan kisahnya.


Hanna menjawab dengan senyum. Mengatakan masalahnya pada Parto sama saja bunuh diri. Dia belum rela berpisah dari Parto jadi masalahnya biar dia yang simpan.


" Kesiapan pameran, sudah sejauh mana? " Parto merasa Hanna belum ingin berbagi masalah dengannya, ada sedikit kekecewaan dihatinya namun dia bisa berasabar sampai Hanna bisa terbuka.


" Aku sudah membuat kesepakatan dengan penyelenggara acara. Untuk yang lainnya aku dibantu oleh Lisa." Hanna mengatakan garis besaranya saja.


Sebagian besar lukisan yang akan dipamerkan sudah di kemas tinggal beberapa yang belum. Mengenai gedung juga sudah ditentukan. Undangan, promosi dan lainnya sudah diatur dengan baik oleh Lisa. Persiapan pameran mencapai delapan puluh persen.


" Datanglah saat pameran nanti! " Lanjut Hanna


" Kirimkan alamat dan waktunya. " jawab Parto


Hanna mengangguk pasti, dia jadi tidak sabar menunggu sampai hari H, walaupun bukan pameran tunggal, tapi lima puluh persen karya yang ditampilkan merupakan karyanya. Kalau pameran ini sukses maka namanya akan terkenal.


Hanna merasa sarapan pagi ini sangat menyenangkan, Hanna menghabiskan makanannya sampai tidak tersisa.

__ADS_1


Parto juga sudah selesai, dia membereskan piring dan sendok lalu di bawa ke wastafel untuk dicuci. Gerakannya terlihat alami karena dia sering melakukan pekerjaan itu.


Meskipun Hanna pernah melihat Parto mencuci piring, dia tetap terkesima, menurutnya pria yang mau mencuci piring itu keren, lebih keren dari pria yang jago beladiri.


" Aku akan siap-siap lalu pergi ke kantor. Habis dari sini kamu langsung pulang dan istirahat. " Parto


Hanna mengiyakan, lagipula ia ingin berbicara dengan ayahnya. Perkataan Kuncoro tentang situasi buruk yang menimpa perusahaan Munaf masih bermain diingatnya. Di depan Kuncoro dia berkata tidak peduli tapi sebenarnya ia mengkhawatirkan orangtuanya.


Selesai sarapan, Hanna duduk di depan TV sambil menunggu Parto bebenah. Sekarang lagi musim acara reality show. Dia tidak begitu tertarik dengan acara seperti itu. Hanna mengambil remot lalu mengganti saluran tv.


Saluran bisnis menampilkan berita tentang perusahaan munaf. Saham keluarga munaf anjlok hampir mencapai titik terendah. Keadaan ini bila berlanjut akan menyebabkan kebangkrutan. Karyawan mulai minta pesangon sebelum perusahaan ini benar-benar bangkrut. ...


" Ayo berangkat! " Parto mengambil tas kerja sambil memanggil Hanna.


Hanna mematikan TV kemudian menghampiri Parto. Saat ini pikirannya melayang pada perusahaan Munaf, wajah ayah dan ibunya terbayang di peluk mata. Walaupun jarang berkomunikaai, sebagai anak ia mencemaskan orangtuanya.


Parto membuka sabuk pengaman, dia berpesan supaya Hanna menghubungi kalau sudah sampai rumah.


Hanna mengiyakan. Setelah Parto memasuki lobi, Hanna meninggalkan tempat itu. Ia mengendara dengan kecepatan stabil menuju kediaman keluarga munaf.


Gerbang bercat putih tampak mencolok. Hanna memasuki kediaman keluarga munaf. Para maid yang melihat kedatangan Hanna merasa terkejut, biasanya dalam satu minggu ini nona mereka pulang ke rumah lebih dari dua kali.


Tidak tahu ada masalah apa namun cukup membuat mereka penasaran, tapi mereka tidak berani terlalu ikut campur .


Hanna naik ke lantai dua menuju ruang kerja ayahnya. Ketika berada di ruang kerja ayahnya yang didapati ruangan yang dingin tidak ada tanda bahwa ayahnya datang ke sana.


Hanna mendekati meja kerja ayahnya. Ia berdiri di sana agak lama memandang foto dalam figura, foto dirinya bersama ayah dan ibunya. Foto itu diambil ketika ia masih kecil. Seingatnya, tidak ada lagi foto bersama setelah itu. Ia merenung sejenak, memandangi foto itu, seperti ada lanjutkan cerita yang hilang yang tidak ia temukan. Hanya sesaat pemikiran itu hadir, kemudian ia ingat tujuannya datang ke ruang kerja ayahnya.


Hanna keluar dari ruang kerja ayahnya menuju kamarnya untuk membersihkan diri. Ia perlu mandi dan berganti pakaian. Setelah itu ia akan ke perusahaan munaf untuk menemui ayahnya.

__ADS_1


Selesai berbenah Hanna keluar lagi. Pelayan yang melihatnya geleng kepala pelan, merasa tuan besar mereka terlalu memanjakan nona besar. Tuan besar mereka bekerja keras belakangan ini tidak tau masalah apa yang sedang terjadi tapi tidak memberitahukan pada nona besar.


Sampai di perusahaan Munaf, Hanna memarkir mobil di ruang bawah tanah. Kemudian masuk melewati lobi, mengabaikan tatapan karyawan yang tertuju padanya. Ada yang melihat dengan penasaran ada pula yang mencemooh, ada juga yang melihat dengan tatapan iri.


Hanna bertemu dengan sekretaris ayahnnya di depan ruang kantor.


" Direktur Munaf ada di dalam? " Hanna


" Direktur sedang keluar. Dia tidak berpesan apapun ketika pergi. " sekretaris Sellena


Walaupun begitu, Hanna tetap masuk ruangan. Sekretaris juga tidak menghentikan karena Hanna merupakan putri tunggal pemilik perusahaan.


Sambil menunggu, Hanna duduk di sofa, ia bersandar disofa. Waktu berjalan terasa lama, Hanna tidak sabar menunggu. Hanna mengeluarkan ponsel dari dalam tas kemudian membuka daftar kontak kemudian menggeser layar kebawah, setelah menemukan nama orang yang dituju, hanna menekan panggil. Tak lama kemudian telepon tersambung.


" Hallo ma. Mama ada dimana?...... Mama tau papa ada di mana?...... Baiklah aku kesana." Hanna menutup panggilan kemudian berdiri sambil menyimpan ponsel ke dalam tas.


Keluar dari kantor ayahnya, Hanna menuju ruang kantor ibunya.


Nyonya Munaf sedang merapikan dokumen ketika pintu dibuka dari luar tanpa ada ketukan. Ketegasan diwajahnya terukir secara alami di usianya yang setengah abad. Nyonya Munaf memang seorang pebisnis, dia mengelola perusahaan Munaf bersama dengan suaminya. Meskipun perusahaan Munaf merupakan warisan dari keluarga suaminya namun dia merupakan satu pemegang saham terbesar kedua setelah tuan Munaf.


Nyonya Munaf sedikit terkejut melihat kedatangan Hanna. Diantara ketegasannya tersirat kelembutan untuk Hanna.


" Mencari papamu ada apa? " nyonya munaf


" Masalah perusahaan sudah masuk berita. Baik papa maupun mama tidak ada yang memberitahuku." Hanna


" Bukannya kamu sedang fokus dengan pameran lukisan? " Nyonya Munaf mengerutkan kening. Anaknya tidak pernah mau terlibat dengan urusan perusahaan sekarang tiba-tiba peduli dengan perusahaan.


Hanna tidak pernah mengetahui bisnis, manamungkin bisa membantu.

__ADS_1


__ADS_2