
Di kantor presdir Surya Mas group, Kuncoro duduk di kursi kerjanya, tangannya memegang dokumen, tatapannya liar melihat tulisan yang tercetak di atas kertas yang dia baca, namun tidak ada satupun yang masuk dalam fikirannya. Pikirannya kacau mengingat bercak darah di atas tempat tidurnya, ia telah merenggut kesucian perempuan milik teman dekatnya.
Tadi malam dia mabuk berat sehingga tidak memungkinkan mengendarai mobil sendiri, oleh karena itu dia menelphone Parto. Beberapa kali dia menghubungi Parto namun tidak diangkat sehingga dia meninggalkan pesan untuk Parto. Tadi pagi waktu dia cek di ponsel miliknya ternyata semalam dia mengirim pesan pada Hanna.
Kuncoro menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
Berulangkali dia menelphone Hanna namun tidak ada satupun panggilan yang diangkat. Dia tulus ingin minta maaf pada Hanna mengenai pebuatannya yang tidak senonoh.
Dia mengakui salah, pengaruh alkohol membuatnya kehilangan kontrol. Yang membuatnya menyesal adalah kenapa harus Hanna, perempuan yang paling dicintai oleh teman dekatnya, Parto.
Kuncoro melirik ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja, benda itu dingin Dan sunyi tidak ada pesan maupun panggilan balasan dari Hanna.
Tatapan Kuncoro membara melihat ponselnya, Ia presdir PT. Surya mas Group, baru kali ini di abaikan oleh seorang perempuan. Banyak perempuan berusaha keras dekat dengannya, tidak ada satupun yang manarik perhatiannya. Tapi Hanna, berkali kali ia menelphonenya, mengirim pesan namun tidak ada tangapan sama sekali.
Kuncoro melempar dokumen ke atas meja, lalu bersandar di kursinya. Jari-jarinya yang lentik mengetuk pegangan kursi, menandakan dia sedang berfikir keras.
" Tok ..tok.. tok.." pintu di ketok dari luar
" Masuk ! " suara berat kuncoro terdengar sampai luar ruangan.
Asisten Rey masuk ruangan membawa sejumlah dokumen di tangannya.
" Letakkan di meja ! " Kuncoro memerintah.
Asisten Rey meletakkan dokumen dimeja kerja Kuncoro kemudian mundur beberapa langkah. Ia mengamati ekspresi Kuncoro yang tampak suram, dia menyimpulkan suasana hati bosnya sedang buruk.
" Ada yang perlu disampaikan? "
Sebuah pertanyaan singkat namun aura yang dikeluarkan membuat suhu di ruangan menurun.
" Nona Stella ingin bertemu dengan anda dan sekarang menunggu di lobi. " Asisten Rey mengetahui bahwa Stella merupakan kesayangan bosnya, jadi dia meminta Stella untuk menunggu, kalau orang lain dia akan menyuruhnya pergi.
Kuncoro merespon dengan tenang, wajahnya yang suram berubah datar.
" Biarkan dia masuk! " perintah Kuncoro
Asisten Rey mengganguk kemudian dia keluar.
__ADS_1
Kuncoro menyimpan rasa cinta yang dalam pada Stella. Walaupun sudah sembilan tahun tidak bertemu dia masih mencintainya. Tapi sekarang wanita yang dicintainya hampir menjadi kakak iparnya. Dia marah, benci sekaligus frustrasi sehingga melampiaskan semua yang dia rasakan dengan minum minuman keras.
Kuncoro menyembunyikan rasa sakit dihatinya dengan senyum sarkasme. Pasangan yang tidak ingin dia akui sampai kapanpun. Luka yang ditorehkan Roy tadi malam ketika Roy secara pribadi memberitahunya tentang pernikahan Roy dan Stella masih berdarah, sekarang Stella menemuinya secara pribadi. Sama saja menaburkan garam pada lukanya.
Selama sembilan tahun, bukan waktu yang singkat. Selama sembilan tahun ia dedikasikan perasaannya pada seorang wanita, meskipun jarak memisahkan keduanya. Dihatinya hanya ada Stella, dia tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun.
Dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaan, bekerja keras, saat dia meraih kesuksesan baru dia ingin menemui Stella, memberikan posisi yang stabil untuknya di keluarga Hermawan.
Kuncoro menyadari posisinya di keluarga Hermawan, keadannya tidak baik, maka dia tidak ingin Stela mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan.
Saat ini kerja kerasnya, dedikasinya berujung sia-sia, yang dia dapatkan adalah sebuah torehan luka.
Kuncoro memejamkan mata sejenak untuk menetralisir desiran perih di dadanya, menyesakkan.
Ketika rasa tidak nyaman itu mereda, dia membuka matanya, tatapannya yang tajam menyembunyikan perasaannya. Pikirannya kembali pada dokumen yang masih ada di tangannya. Seberat apapun masalahnya, dia tetap harus bertanggung jawab pada seluruh karyawan yang bekerja di bawahnya.
Kuncoro sedang memeriksa dokumen ketika asisten Rey kembali dengan Stella dibelakangnya.
" Pak, nona Stella sudah datang. " Rey meberitahukan pada Kuncoro.
" Hem. " Kuncoro berdehem sebagai jawaban.
Sepeninggal Rey, suasana kantor terasa sepi, hanya suara detak jarum jam. Stella masih berdiri menghadap meja dimana Kuncoro sedang bekerja, dibelakangnya cahaya matahari menerobos masuk melalui dinding kaca. Sosoknya yang cantik menghalangi sinar matahari, menciptakan bayang yang menyejukkan kuncoro.
" Apa aku mengganggu kamu bekerja? " Stella yang dari tadi diam tidak bisa bertahan dengan keheningan yang menyesakkan.
Kuncoro mendongak sedang tangannya menutup dokumen dan meletakkan pelan di atas meja. Tatapannya yang tajam menyapu sosok perempuan di depannya yang tampak hangat berselimut cahaya matahari di belakangnya.
Kuncoro menajamkan matanya, tampak galak diselimuti amarah, namun hatinya berkhianat, ada rasa bahagia melihat Stella berdiri di depannya. Sosoknya yang bermandikan cahaya matahari tampak hangat dan tidak berbahaya, dia mulai terkena.
" Dari awal, kedatanganmu mengangguku! " Kuncoro menegaskan kata menggangguku bukan menganggu pekerjaanku, tapi berbeda persepsi untuk Stella. Dari raut wajah cantiknya terpancar rasa tidak enak hati karena telah menganggu pekerjaan Kuncoro.
" Maaf. Aku berniat mengajakmu makan siang, sudah lama kita tidak bertemu. " Stella tersenyum canggung mengutarakan maksudnya.
" Jam makan siang masih lama. " Kuncoro dengan nada datar.
" Tidak masalah. Aku bisa menunggu. " Stella berkata sopan, namun dia menyesali ucapannya barusan. Dia dan Kuncoro tidak ada hubungan lagi kenapa dia masih menjaga perasaan Kuncoro. Dia ingin meralat ucapannya namun Kuncoro sudah lebih dahulu memerintahnya.
__ADS_1
" Duduklah! " Suara Kuncoro tegas tidak menginginkan penolakan.
Stella mundur, mendudukkan pantatnya di sofa, gerakannya sederhana namun lerlihat anggun. Stella melihat sekilas dekorasi ruang kerja Kuncoro ketika Kuncoro sedang sibuk dengan dokumennya. Ruangan ini lebih besar dari ruang kerja Roy, furnitur yang digunakan juga barang mewah. Stella terpesona dengan dekorasi ruangan ini, simple tapi elegan, dia menyukai hal-hal seperti ini.
Stella kembali pada akal sehatnya, sekarang bukan waktunya mengagumi tempat kerja Kuncoro, ada hal lain yang lebih penting yang ingin disampaikan pada Kuncoro.
Stella menunggu Kuncoro dengan sabar, dia tidak mengganggu Kuncoro, dia duduk dengan tenang, tidak menimbulkan suara sambil mengamati birunya langit melalui kaca.
Sesekali Kuncoro mengamati Stella, dia berharap Stella berbicara padanya, sekedar menanyakan apa yang dilakukannya selama ini, atau menanyakan kabarnya. Namun yang dia lihat adalah sikap tenang Stella, seolah keberadaannya tidak penting.
" Apakah Roy tahu kamu kesini? " Kuncoro
" Tidak. Aku sengaja menemuimu setelah mengetahui bahwa kamu bekerja disini. " Stella berkata berdasarkan apa yang dia rasakan, setelah mendapat informasi bahwa Kuncoro bekerja disini dia langsung membatalkan semua acaranya.
Kuncoro mengangguk, dia merasa senang dengan jawaban Stella, dia merasa Stella masih memikirkan dirinya.
" Sudah waktunya makan siang. Kamu yang tentukan tempatnya! " Kuncoro
" Be-be kafe. Kamu masih ingat tempat itu? " Stella
Kuncoro menatap tajam pada Stella dengan mengerutkan alis meski pada akhirnya mengangguk. Tempat favorit Stella dia tidak akan pernah lupa. Namun ada satu hal yang membuatnya tidak habis pikir, Stella sengaja mengingatkan dirinya dengan hal yang berhubungan dengan masa lalu mereka, mungkinkah Stella masih memiliki perasaan padanya.
" Kamu keberatan? Selama ini aku pengunjung tetap di Be-be kafe, Jadi lebih nyaman kalau makan disana. " Stella menangkap kehati-hatian Kuncoro makanya dia tidak ingin memaksa.
" Dimanapun tempatnya aku tidak masalah. " Kuncoro menginterupsi sikapnya.
Stella tersenyum manis, " Ayo berangkat! " Stella.
Kuncoro berjalan mengimbangi langkah Stela. Ketika mereka keluar kantor menjadi perhatian para pegawai. Stella tidak ambil pusing dengan tatapan penasaran dari mereka, dia ditakdirkan menjadi pusat perhatian jadi sudah terbiasa dengan hal seperti ini.
Sampai di parkir bawah tanah, Kuncoro membukakan pintu untuk Stella baru dia memutari mobil ke sisi setelahnya.
Tindakan sederhana namun membuat Stella tersenyum puas, dia merasa kembali ke masa sembilan tahun lalu dimana mereka masih sepasang kekasih.
" Pakai sabuk pengamannya" Kuncoro menyalakan mesin Mobil sedang matanya mengawasi Stella yang sedang memasang sabuk pengaman.
" Kamu masih perhatian seperti dulu. " Stella bergumam pelan.
__ADS_1
Sedetik kemudian Kuncoro menjalankan mobilnya tanpa merespon perkataan Stella. Terus terang Kuncoro masih peduli pada Stella terlepas dia akan menjadi kakak iparnya atau tidak. Perasaannya menjadi kabur pada Stella setelah berhadapan dengan orangnya langsung. Benci dan cinta menjadi satu, ketidakrelaannya pada Roy membuat Kuncoro ingin merebut kembali Stella dari Roy.
Keinginan gila mulai merasuki pikiran Kuncoro.