
Kuncoro mengencangkan alisnya, memancarkan kemarahan. Dia memang meminta Hanna memisahkan Roy dan Stella. Tapi melihat kedekatan Roy dan Hanna dia tidak suka.
" Jauhi Roy! " Kuncoro
Sekarang yang bisa dilakukan Hanna adalah mengalah.
" Baiklah. Aku bisa menjauhi kak Roy tapi kamu juga harus menjauhi Stella. " Hanna
Ada beberapa pertimbangan ketika dia menyetujui permintaan Kuncoro. Tidak ada pengaruh buat dia dan Kak Roy ketika saling menjauhi. Tapi buat Kuncoro itu hal sulit, Stella adalah duri dalam hatinya ketika duri itu disentuh akan terasa sakit. Seandainya Kuncoro menyetujui permintaannya itu lebih baik buat kak Roy.
Hubungan dua saudara ini rumit, apalagi ditambah cinta segitiga. Dia berfikir apakah kak Roy buta sampai mau menikahi wanita yang merupakan kekasih adiknya.
" Kamu tidak berhak ikut campur urusan pribadiku! " Kuncoro mengatakannya dengan tegas.
Hanna akhirnya tidak dapat menahan tawanya. Dia sudah menduga jawaban Kuncoro. Pembicaraan ini kalau diteruskan tidak ada habisnya, dan orang yang akan kalah adalah dia. Sebelum benar-benar rugi mending dia pergi secepatnya.
" Baiklah. Kamu urusi masalahmu, aku tidak akan ikut campur. Dan aku urusi masalahku kamu juga jangan ikut campur. " Hanna berjalan melewati Kuncoro. Kali ini dia sudah terlambat jam makan siang.
" Tunggu! " suara Kuncoro keras membuat orang yang lewat melihat padanya.
Hanna menghentikan langkahnya kemudian berbalik melihat Kuncoro.
" Ingat Jauhi Roy! " Kuncoro sudah hilang kesabaran menghadapi Hanna. Auranya gelap terlihat galak, menakutkan.
Hanna menanggapi dengan senyum datar sambil mengangguk. Dia tidak mengatakan apa-apa karena percuma.
Kuncoro melihat Hanna memasuki restoran kemudian naik tangga ke lantai dua. Setelah Hanna tidak kelihatan dia baru masuk.
Di lantai dua meja 6, hidangan yang dipesan oleh Amora sudah datang. Satu meja penuh hidangan. Najwa memandangi makanan tanpa berkedip. Makanan ini terlalu banyak untuk mereka bertiga termasuk Kak Hanna.
" Ayo makan! " Amora menyuruh Najwa yang sedang bengong melihat hidangan di meja.
" Kita tunggu sebentar lagi. Lima menit saja. Siapa tahu kak Hanna segera sampai " Najwa bersikukuh
" Terserah kamu saja." Amora mengambil cumi lalu memakannya sambil melihat pada Najwa. Ia sengaja menggoda Najwa dengan makan duluan.
Belum selesai mengunyah, Hanna sudah berdiri di sebelah mereka.
" Maaf aku terlambat. Tadi ada masalah di bawah. " Hanna meminta maaf dengan tulus.
" Tidak apa - apa " Najwa tersenyum ceria. Tidak masalah kak Hanna terlambat, toh dia juga menganggur.
Najwa mempersilakan Hanna duduk di sampingnya.
Hanna mengikuti permintaan Najwa. Sebelum duduk ia menyapa Amora dan dibalas dengan anggukan kecil.
Orang angkuh, kesan yang diberikan oleh Amora pada Hanna.
" Aku kira kakak tidak akan datang. Padahal aku sudah merencanakannya dengan baik. Walaupun ada sedikit kendala. " Najwa berkata pada Hanna sambil sekali melirik pada Amora.
Amora makan dengan pelan, dia menyadari lirikan Najwa. Namun sikapnya yang dingin dan cuek tidak terganggu dengan adanya dua orang yang ada didepannya.
" Kakak sudah berjanji, jadi sebisa mungkin kakak akan menepati. " Hanna
__ADS_1
Keduanya berbicara akrab meskipun baru dua kali bertemu.
Amora biasanya tidak makan banyak. Ketika mereka asyik mengobrol ia sudah menyelesaikan makannya.
" Cepat makan! " Amora menyela pembicaraan keduanya sambil mengelap mulutnya menggunakan kain sutra.
Keduanya secara bersamaan menoleh pada Amora, ekspresi wajahnya datar, tidak tampak dia marah atau tidak.
" Waktu ku sangat berharga. Cepat selesaikan makan kalian! " Amora melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Bukannya ia tidak menyukai keakraban mereka berdua, Amora tidak terbiasa membuang waktu.
" Kamu sama anak sendiri masih perhitungan? " Hanna merasa tidak senang. Ini bukan lomba, makan saja dibatasi waktu.
" Najwa. " Amora
" Aku makan sekarang. " Najwa menunjukkan senyum di bibirnya ketika Amora memanggil namanya. Dia mengerti kesibukan Amora jadi Najwa tidak protes. Najwa mengambil sendok dan garpu kemudian mulai makan dengan tenang. Sedikit demi sedikit ia mulai meniru tindakan Amora.
Hanna juga mulai makan, ia tidak menyia-nyiakan makanan. Dia bukan orang yang pemilih, asalkan enak dia akan memakannya.
" Kemarin aku melihat anda di perjamuan. Aku baru tau kalau anda adalah pimpinan tertinggi Bio tec. " Hanna sambil makan
Dia baru tahu ada perusahaan bernama Bio tec. Dia tahu dari orang yang bicara di belakang setelah kejadian di tangga ketika Rendy menolongnya.
Amora mengerutkan alis. Namanya sangat terkenal di dunia bisnis melebihi artis internasional. Dan perempuan ini bahkan tidak tau bahwa ada perusahaan bernama Bio tec. Dia jadi tidak yakin kalau Hanna hidup dan tinggal di dunia yang sama dengannya.
" Dulu waktu aku seumuran kamu, aku mampu membuat perusahaan Bio tec menjadi perusahaan taraf internasional " ucap Amora acuh tak acuh
" Memangnya anda tahu berapa usia saya? " Hanna
" Kamu.... " Hanna menghentikan makannya karena terkejut, dia sempat terbengong sebentar. Di perjamuan Amora sama sekali tidak meliriknya. Pada kenyataannya Amora mengetahui dirinya, tidak tahu seberapa banyak yang diketahui oleh Amora. Padahal latar belakangnya hanya sedikit orang yang tahu. Itupun hanya orang-orang terdekatnya.
" Kamu menyelidiki aku?! " Hanna melotot memandang Amora. Dia merasa tidak pernah menyinggung orang tapi ada saja orang yang mencari urusan dengannya.
" Iya. " Amora tidak menutupi
" Untuk apa? " Hanna kehilangan nafsu makan. Keinginan untuk menghabiskan makanan hilang begitu saja.
Amora tertawa pelan.
" Saya tidak akan mengatakannya. " Amora dengan ekspresi datar.
Tindakannya seperti melempar umpan kemudian menarik dan mengulur sampai ikan lemas kemudian dia menyiapkan jala untuk menangkapnya.
" Orang tertinggi di perusahaan Bio tec tertarik dengan saya, itu menandakan bahwa saya orang penting. " Hanna menggertakkan gigi ketika bicara. Semakin dipikirkan dia semakin tidak mengerti kenapa Amora menyelidiki dirinya.
" Tertarik. Karena aku tertarik denganmu " Amora menyeringai memperlihatkan gigi taringnya yang menawan. Jelas-jelas ia sangat cantik tapi malah terlihat menakutkan.
" Apanya yang menarik dari kak Hanna? " Najwa menimpali dengan ekspresi bingung khas anak-anak. Dia bisa mengerti bahasa orang dewasa tapi pemahamannya terhadap sesuatu masalah masih kurang.
Amora tersenyum pada Najwa. Anak ini, Amora mengedipkan matanya secara natural. Dia tidak bisa menjelaskan sekarang dan tidak berniat menjelaskan. Najwa yang peka memgerti maksud Amora, menyuruhnya untuk diam, tentu saja Najwa menurut.
Hanna begidik mendengar jawaban Amora. Kata tertarik membuatnya tidak nyaman.
__ADS_1
Tertarik palamu, batin Hanna dalam hati.
" Jangan berfikir yang aneh-aneh. Saya masih normal. " Amora melanjutkan
Hanna yang tadinya mengumpat dalam hati memandang Amora tidak percaya. Amora seperti bisa membaca pikirannya.
Hanna meletakkan peralatan makannya sampai menimbulkan bunyi. Membuat keributan di meja makan di tempat umum merupakan hal tidak sopan, tapi Hanna tidak dapat menahan emosinya.
" Kita tidak bisa berteman. " Hanna hendak beranjak tapi bajunya di tarik oleh Najwa.
" Kak Hanna tidak ingin berteman denganku? " Najwa memandang Hanna dengan sedih. Baru dapat teman baru langsung hilang.
Hanna terdiam melihat penampilan Najwa, bagaimana mungkin ia tidak ingin berteman dengan Najwa, anak ini imut dan pengertian. Sayangnya ibu dari anak ini adalah iblis wanita.
" Najwa anak baik. Kakak harus pergi sekarang. " Hanna tidak menjawab pertanyaan Najwa. Dia tidak ingin membuat seorang anak mengkhianati ibunya.
" Kak Hana.. kakak cantik juga baik hanya sedikit agak galak. " Najwa menjelaskan.
Di kota ini Najwa hanya mengenal dua orang ini, kalau mereka bermusuhan dia akan repot. Jadi ia berusaha membuat mereka akur.
" Kakak cantik? " Hanna mengulangi ucapan Najwa menjadi pertanyaan dan di jawab dengan anggukan oleh Najwa.
Hanna mengerutkan alis, berarti dia salah sangka. Tapi kenapa Amora tidak membantah ketika dia marah saat menuduh Amora tidak memperhatikan Najwa.
" Aku tinggal di panti asuhan sejak bayi kemudian kakak cantik mengadopsi aku. Kakak cantik bukan mamaku. " Najwa menjelaskan.
Hanna mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia duduk kembali dan mengelus punggung tangan Najwa yang digunakan untuk menarik bajunya.
" Lain kali kalau Najwa butuh sesuatu bisa bilang pada kakak. " Hanna jadi tidak tega meninggalkan Najwa.
" Aku senang kak Hanna baik padaku. Aku juga senang bisa bersama kakak cantik. Kalian berdua jangan bertengkar. Kalau kalian bertengkar itu membuatku bingung. " Najwa bermanja di depan Hanna.
Perkataan Najwa barusan membuat susah Hanna. Menyuruhnya tidak bertengkar dengan Amora sedangkan dia tidak menyukai tindakan Amora padanya. Manamungkin Hanna tidak memperhitungkan tindakan Amora.
Hanna hanya tersenyum pada Najwa.
" Lain kali kakak akan mengajakmu jalan-jalan. Untuk saat ini kakak ada urusan sehingga harus segera pergi " Hanna membujuk Najwa sekaligus mengalihkan pembicaraan.
" Janji! " Najwa mengangkat jari kelingkingnya.
Hanna tersenyum melihat Najwa, dulu waktu ia seumuran dengan Najwa juga sering melakukan hal yang sama ketika membuat janji.
Hanna mengikuti gerakan Najwa, mengangkat tangannya kemudian mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Najwa.
" Kak Hanna sudah mengikat janji tidak boleh mengingkari" Najwa serius
" Iya. "
Hanna dan Najwa tertawa bersama.
Amora melihat dua orang didepannya dengan diam. Dia selalu punya pemikiran sendiri tentang sikap seseorang. Untuk Hanna dia akan mengabaikan sementara ini. Sedang Najwa, anak ini sepertinya punya takdir dengannya.
Amora mengangkat gelasnya kemudian menggoyangkan dengan pelan. Ia melihat minuman di dalam gelas yang bergerak mengiringi gerakan tangannya. Dia selalu punya kontrol terhadap sesuatu masalah. Dan tentang Hanna, tinggal menunggu waktu saja.
__ADS_1
Amora meneguk minumannya dengan malas sambil melirik Hanna yang sedang berbicara pada Najwa. Hanya sebentar kemudian dia mengalihkan pandangannya ke sekitar. Beberapa pengujung yang datang dan beberapa pengunjung yang pergi, tertangkap oleh penglihatannya.
" Anak pintar, kakak pergi dulu. Nanti kakak akan menghubungi kamu. " Hanna beranjak dari kursi. Sebelum pergi Hanna melihat Najwa mengedipkan matanya beberapa kali, tindakan Najwa menyadarkannya bahwa Najwa tidak memiliki ponsel. Apakah dia akan menelphone Amora saat ingin bicara dengan Najwa. Hanna menarik nafas panjang merasa tidak punya solusi.