
Jam lima masih dua jam lagi, Hanna masih memiliki waktu untuk melakukan persiapan guna menghadiri perjamuan. Meskipun enggan dia harus menuruti permintaan Kuncoroo. Dia tidak boleh menyerah begitu saja, hanya perlu bersabar sedikit.
Perusahaan butuh waktu untuk keluar dari masa krisis. Ketika perusahaan sudah stabil, dia tidak membutuhkan Kuncoro lagi. Saat dia memiliki kemampuan, dia akan membuang Kuncoro jauh-jauh.
Hanna tersenyum tipis, meskipun keinginannya untuk lepas dari Kuncoro masih jauh, setidaknya dia masih memiliki harapan.
Untuk saat ini, antara cinta dan keluarga, dia ditakdirkan untuk memilih salah satu. Dia tidak ingin menyerah terhadap Parto. Tapi saat ini orang tuanya membutuhkan bantuan.
Ketika dia menandatangani perjanjian dengan Kuncoro, sudah dipastikan bahwa waktunya bukan milik dia lagi.
Hanna turun dari ranjang menuju kamar mandi. Mengambil jubah mandi kemudian membersihkan diri.
Aroma lavender menyebar di udara ketika Hanna mandi. Aroma unik yang disukai Hanna sejak kecil. Hanna tidak ingat kenapa ia menyukai wangi bunga lavender.
Selesai mandi Hanna mengeringkan rambut dengan hairdryer. Untuk berdandan, dia tidak perlu ke salon karena dia bisa melakukan sendiri.
Hanna meletakkan hairdryer setelah rambutnya kering, kemudian mulai mengoles cream wajah, mengoles bedak kemudian memakai eyeliner. Hanna memiliki bibir merah alami jadi dia hanya mengoles lipbalm untuk menyempurnakan riasannya.
Hanna membuka almari pakaian, pilihannya tertuju pada gaun model empire waist dress warna hitam. Gaun itu cocok dengannya, memperlihatkan pinnganggya yang ramping. Bahan gaun halus dan jatuh, saat berjalan, bagian bawah gaun bergerak seiring langkahnya. Hanna menyempurnakan gaunnya dengan sepatu hak tinggi warna hitam. Tak lupa dia menenteng tas tangan LV hadiah ulang tahun dari ibunya yang belum pernah dia pakai.
Hanna memperhatikan dirinya di cermin, puas dengan penampilannya dia turun ke bawah.
Hanna melihat jam yang melingkar di tangannya, dia masih memiliki waktu setengah jam. Masih keburu untuk sampai ke kantor Kuncoro.
Supaya tidak terlambat, Hanna menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di perusahaan Sinar mas, kuncoro baru selesai memeriksa dokumen. Ia meletakkan dokumen terakhir di atas meja.
Dia melihat jam di tangan kirinya. Masih lima menit lagi.
Kuncoro membuka laci kemudian melirik map hitam didalamnya, ujung jari baru menyentuh map, terdengar suara pintu di buka. Secara reflek dia menutup laci lalu menguncinya. Kunci di masukkan ke saku jas.
Dia melihat orang yang berada di pintu. Memperhatikan dari orang itu masuk sampai berjalan menuju sofa, hingga orang itu duduk.
Saat masuk, Hanna sempat melihat jam dinding, jam lima kurang dua menit. Dia tidak telat jadi tidak ada alasan bagi Kuncoro untuk mengeluh.
Kuncoro memandang hanna yang duduk dengan tenang. Tidak ada senyum, tidak ada kemarahan. Seperti manekin, cantik tapi tidak memiliki rasa. Dia tau sikap dingin Hanna hanya ditujukan padanya. Ketika Hanya bersama dengan Parto, Hanna akan menjadi orang yang berbeda, lebih ekspresif dan lebih hidup.
" Kalau memberikan tugas wajib memberi tahu satu hari sebelumnya. " Hanna
Dari tadi dia mau protes, sudah dia pikirkan dalam perjalanan menuju kesini. Lain kali kalau seperti ini terus, pamerannya akan dirusak oleh Kuncoro.
__ADS_1
" Tidak bisa! " Kuncoro langsung menolak
" Kalau aku ada di luar kota tidak mungkin ditempuh dalam waktu dua jam! " Hanna memberikan alasan.
" Tidak diijinkan keluar kota tanpa sepengetahuanku! " Kuncoro
Dalam sebulan ini dia memiliki beberapa pertemuan yang harus dihadiri. Kalau biasanya dia akan datang sendiri. Sekarang situasinya berbeda, makanya dia membutuhkan Hanna.
" Kamu gila! Memangnya yang punya kepentingan kamu saja. Aku juga punya urusan sendiri. " Hanna marah. Kuncoro memang keterlaluan
" Hanya satu bulan " Kuncoro acuh tak acuh
Hanna membelalakkan matanya seolah tidak percaya dengan ucapan Kuncoro. Orang ini punya kepribadian yang mudah berubah. Sebentar bilang tidak boleh, sebentar boleh.
" Setelah satu bulan perjanjian batal? " Hanna bertanya seperti orang bodoh.
" Setelah satu bulan boleh keluar kota. " Kuncoro
Hanna menarik nafas panjang, ternyata ia dipermainkan oleh Kuncoro dengan kata-kata.
" Ketika aku punya kepentingan mendesak kamu tidak bisa menganguku. " Hanna
Tanpa disadari Hanna tersenyum. Pamerannya diadakan sekitar dua bulan lagi. Dia bisa tenang sekarang.
Setiap gerakan Hanna tidak luput dari pengamatan Kuncoro, termasuk ketika dia tersenyum.
Kuncoro duduk di kursi kerjanya seperti seekor singa yang sedang mengawasi mangsa.
" Kamu berteman dengan Parto sudah lama. Sedalam apa persahabatan kalian? " Hanna
Hanna sering mendengar Parto bercerita tentang Kuncoro. Dari cerita Parto seharusnya persahabatan mereka sangat dalam. Yang ditakutkannya adalah persahabatan itu hanya Parto yang merasakan.
" Kamu tidak perlu tahu! " Kuncoro
" Kamu berteman dengannya sekian lama, kenapa kamu bersikap seperti ini padaku? " Hanna setengah berteriak
Dia memiliki banyak keluhan pada Kuncoro. Kalaupun harus berdebat dengannya seharian dia juga sanggup.
" Kamu tidak pantas untuknya. " Kuncoro
Mendengar suara bass Kuncoro membuat Hanna diam. Disini siapa yang menjahati siapa. Kuncoro yang bersalah malah dia yang dilempari kotoran.
__ADS_1
Perasaan Hanna kacau, dia sensitif dengan nama Parto apalagi bila diucapkan oleh Kuncoro. Tangan Hanna mengepal sampai kelihatan urat biru di punggung tangan.
Dia tersenyum hambar dengan mata berkaca-kaca. Perasaan tidak berdaya dan marah karena dipermainkan berkecamuk di dada. Dia melihat ke lampu kristal di atasnya supaya air matanya tidak keluar. Tidak perlu dijelaskan dia juga sadar bahwa dia tidak pantas untuk Parto. Mengungkitnya sama saja menyiran air garam pada lukanya.
Hanna memandang Kuncoro, orang itu seperti batu besar yang tidak dapat ia gulingkan. Dia belum memiliki cara untuk menyingkirkannya.
" Di perjamuan nanti kakakku akan datang bersama dengan Stela. Tugasmu untuk memisahkan mereka. " Kuncoro
" Bagaimana caranya? " Hanna yang tadinya marah berubah bingung, dia belum pernah berurusan dengan hal demikian. Menjadi pelakor, tidak pernah terlintas dalam benaknya. Selama hidupnya hanya digunakan untuk memikirkan Parto, mana tahu dia urusan yang seperti ini.
" Sudah waktunya." Kuncoro beranjak dari kursi mengabaikan Hanna yang masih bingung.
Ia melewati Hanna yang masih duduk di sofa. Hanna menoleh pada sosok besar yang baru saja melewatinya. Dia membuang nafas kasar kemudian mengikutinya.
" Kamu naik mobilku! " kunco
Hanna menoleh ke kanan dimana mobilnya terparkir. Akan merepotkan bila harus bolak balik hanya untuk mengambil mobil.
" Rey akan mengantar mobilmu." Kuncoro
" Tidak perlu. Aku akan menyuruh orang mengambilnya. " Hanna
Kuncoro menganguk mengiyakan
Di sepanjang jalan menuju tempat perjamuan tidak ada yang membuka suara.
Kuncoro fokus saat menyetir. Fisualnya bagus tidak kalah dengan model papan atas. Tapi bukan itu poinnya, yang terlihat oleh Hanna adalah sikapnya yang suka merendahkan orang lain, dan permintaan yang tidak masuk akal.
Ditempat perjamuan.
Hotel starlight, tempat diadakan perjamuan. Tempat berkumpul kalangan atas. Kebanyakan yang hadir merupakan orang penting dan juga artis-artis kelas atas. Mereka melenggang di red karpet yang terbentang dari pintu masuk sampai hall dengan percaya diri.
Hanna tertegun, dia tidak menyangka bahwa perjamuannya semewah ini. Untung dia mendandani dirinya dengan baik kalau tidak dia sendiri yang malu.
Gedung pertemuan berlantai dua dengan gaya eropa, tampak elegan dengan pilar berlapis marmer. Halaman gedung luas dengan taman yang indah. Ada kolam air mancur dengan patung Hera di tengahnya.
" Tidak perlu gugup. Kamu hanya perlu mengikutiku. " Perintah Kuncoro.
Mereka berjalan bersebelahan menuju tempat perjamuan. Saat dia dan Kuncoro melewati red karpet, semua orang melihat ke arahnya. Ini kali pertama Hanna melewati red karpet. Meskipun dia pernah menghadiri perjamuan sebelumnya tapi tidak bisa dibandingkan dengan situasi saat ini. Kemewahan dan keramaian ini membuat Hanna gugup.
Disisi Lain, Kuncoro berjalan dengan acuh. Setiap langkah dan geraknya memancarkan keagungan. Semua orang memandangnya dengan kagum. Pimpinan Sinar Mas, generasi muda yang mampu mengebrak dunia bisnis tanah air.
__ADS_1