
Amora memesan dua gelas minuman dingin.
Amora dan Najwa duduk berhadapan. Bererapa hari tinggal bersama dengannya, Najwa kelihatan lebih bersih daripada waktu pertama datang.
CEO Bio Tec memiliki waktu sangat berharga, sekarang harus menunggu orang. Dan orang yang ditunggu sedang dalam perjalanan ketika Amora sudah sampai tujuan. Kalau bukan karena Najwa dia tidak akan mau.
Penampilan Amora memang mencolok, gaun merah ketat dengan wajah full make up, bibir merah merona. Rambut panjang dibiarkan tergerai. Sosoknya seperti seorang Ratu, mendominasi dan gahar.
Orang besar mudah dikenali. Apalagi orang-orang dalam lingkungan bisnis, sekali lihat, mereka bisa mengenali Amora.
Direktur PT HomeKwang, Ferdinan baru keluar dari ruangan VIP bersama seorang wanita. Dia merasa beruntung karena bisa bertemu dengan CEO Bio tec disini. Biasanya bila ingin bertemu dengannya harus membuat janji, tidak sembarang orang bisa membuat janji dengannya. Apalagi perusahaan kelas menengah seperti dirinya.
Dia tahu perusahaan Bio tec bekerja sama dengan perusahaan Munaf. Berita ini sudah menyebar luas. Karena kerja sama ini harga saham keluarga Munaf meningkat. Kalau dia bisa mendekati CEO Bio tec, dia bisa menjadi supliyer bahan baku.
Karena fokus dengan Amora, ia tidak mempedulikan keberadaan wanita yang dibawanya. Ketika Ferdinan berjalan ke arah Amora, wanita itu tidak senang.
Ferdinan mendekati Amora kemudian menyapanya.
Amora yang sedang duduk santai melihat Ferdinan. Tatapannya selalu tajam ketika menatap lawan bicaranya.
Timbul sedikit rasa takut di hati Ferdinan ketika dilihat seperti itu. Apalagi Amora tidak membalas ketika dia menyapa.
Wanita yang bersama dengan Ferdinan semakin tidak suka dengan Amora. Gara-gara wanita ini dia diabaikan oleh Ferdinan. Bahkan ketika Ferdinan menyapa dia bersikap acuh tak acuh padanya.
" Bisakah kita bicara sebentar? " tuan Ferdinan
" Silakan. " Amora menunjuk kursi kosong di samping Najwa.
Amora hanya memberikan satu tempat duduk untuk Ferdinan.
" Saya mau menawarkan bahan baku untuk produk pakaian jadi. Kwalitas produk kami adalah yang terbaik di negara ini. " tuan Ferdinan menjelaskan tujuannya. Dia hanya diberi sedikit waktu jadi dia gunakan waktu itu semaksimal mungkin.
" Mengenai bahan baku, itu wewenang perusahaan Munaf. Kamu salah mencari orang " Amora
Ferdinan mengerti maksud dari Amora. Tujuannya menemui Amora adalah untuk merekomendasikan perusahaannya pada tuan munaf. Walaupun nanti dia akan bicara langsung dengan tuan Munaf. Peluang kerjasama ini akan lebih besar bila Amora ikut berbicara.
__ADS_1
" Saya minta bantuan anda untuk merekomendasikan pada tuan Munaf" Ferdinan.
" Saya tahu barang dengan kwalitas bagus dan barang dengan kualitas buruk. Bila memang memenuhi syarat saya akan mengambil. " Amora memperjelas
Tuan Ferdinan menganguk. Dia tidak bisa memaksa lagi. Pemilik Bio tec sudah berbicara. Intinya hanya barang kualitas bagus yang memenuhi syarat. Dengan begitu dia merasa yakin dengan produk miliknya.
Bio tec tidak menghalangi, tinggal mengatur waktu untuk bertemu dengan tuan munaf.
Setelah selesai Tuan Ferdinan beranjak kemudian pamit pergi.
Najwa dari tadi diam mendengar, dia tidak begitu mengerti tentang percakapan orang dewasa. Yang dia tau kakak cantik merupakan orang hebat. Buktinya dia duduk diam saja ada orang yang menghampiri dan berbicara sopan padanya.
Najwa melihat Amora tanpa berkedip.
Tindakan Najwa tertangkap oleh mata Amora. Tatapan itu dia sangat hafal, mengingatkan dia pada peristiwa yang sudah lama berlalu.
" Tidak perlu melihatku seperti itu. Aku tau kamu mengagumiku. " Amora berkata acuh tak acuh sambil membuang muka. Sedut bibirnya dinaikkan membentuk senyuman. Kemudian ia membasahi bibirnya dengan menjilat, seolah dia sedang memikirkan sesuatu. Sedetik kemudian ekspresi wajahnya kembali seperti semula, dingin.
Najwa diam saja, mau mengakui tapi malu. Mau menggeleng, pada kenyataannya dia memang mengagumi kakak cantik.
" Dia datang atau tidak, kita tetap makan. " Amora
Najwa menggeleng pelan. Dalam hati kecilnya ia tidak enak kalau tidak menunggu tamu, apalagi kalau sampai makam duluan.
" Tidak boleh. Harus menunggu. Apa perlu kita menelphonnya? " Najwa
Amora melambaikan tangan untuk memanggil pelayanan. Dia sudah lapar dan Najwa juga belum makan. Dari pagi anak itu menempel padanya sampai lupa makan. Kalau anak itu kelaparan, itu merupakan kelalaiannya.
Amora memesan beberapa makanan untuk dirinya dan Najwa.
Di luar restoran seafood, Hanna memarkir mobilnya di samping mobil sport merah. Ia sempat melihat mobil itu, mobil mewah dengan harga fantastis. Ia menggeleng pelan merasa belum punya kemampuan untuk membeli barang mewah seperti itu.
Sambil berjalan Hanna membuka tas untuk menyimpan kunci mobilnya, tapi pengait tasnya sulit untuk dibuka. Hanna menunduk,melihat serius pada tanya, sedang jari-jarinya yang ramping berusaha menari pengait.
" Harusnya aku membawa tas yang lain ", gerutu Hanna. Hanna lupa kalau tas yang dia bawa pengaitnya kadang macet. Ia menyukai tas ini karena dipilih oleh Parto sewaktu mereka berlibur ke Jogja. Sudah enam tahun tas itu menemani dirinya. Bukan barang mewah tapi barang penting baginya.
__ADS_1
Dengan susah payah akhirnya pengait terbuka. Baru mau memasukkan kunci, Hanna menabrak punggung seseorang sampai mental mundur selangkah.
" Maaf aku tidak sengaja. " ucap Hanna sambil mendongak. Ia terpaku sejenak karena yang menyambutnya adalah tatapan dingin.
Dunia ini memang sempit, batin Hanna kecut.
" Benarkah? Tapi aku merasa sebaliknya, SEDANG MENCARI PERHATIAN!? " Suara Kuncoro tidak keras juga tidak pelan. Orang yang lewat juga bisa mendengar. Mereka yang tidak tahu pasti mengira Hanna sengaja menabrak Kuncoro untuk menarik perhatian.
Muka Hanna memerah menahan kesal juga malu. Setiap kali bertemu dengan Kuncoro suasana hatinya berubah buruk.
" Kalau aku melihat mu sejak awal, aku akan menunggumu masuk duluan baru aku lewat. " Hanna kesal setengah mati, Kuncoro memiliki kepercayaan diri di atas rata-rata sampai tuduhannya tidak masuk akal. Hanna buru-buru karena takut Najwa menunggu terlalu lama sampai dia tidak memperhatikan keadaan sekitar.
" Kamu berniat menghidar dariku karena masih berhutang padaku?! " Kuncoro balik bertanya dengan nada suara yang dalam dengan kemarahan yang samar mengingat Hanna pergi dengan Roy saat perjamuan.
Hanna menggeleng pelan, dia tidak percaya Kuncoro bisa mengatakan hutang. Dia tidak pernah meminjam apapun dari Kuncoro.
" Jangan memfitnah orang! " Hanna
Kuncoro memandang Hanna tanpa berkedip. Hanna juga melihatnya dengan keras kepala. Dia tidak akan mengakui hal yang tidak dilakukannya.
" Meninggalkan pasangan di perjamuan dan pergi dengan pria lain. Kamu berhutang penjelasan padaku!" Kuncoro
Hanna membelalakkan matanya. Kata-kata pergi dengan pria lain tidak enak di dengar. Apalagi diucapkan di depan umum, akan membuat orang salah faham. Dan lagi dia dan Kuncoro tidak memiliki hubungan Apapun jadi terserah dia mau pergi dengan siapa.
Benar saja, orang yang lewat melihat Hanna dengan tatapan berbeda, seolah dia seorang perempuan ******.
Hanna tertawa pelan, ia seperti sedang melihat lelucon.
" Aku mencarimu! Aku mengirim pesan padamu! Karena kamu tidak membalas makanya aku meninggalkanmu! " Hanna menjelaskan
Kuncoro mengerutkan alis. Pada waktu itu Stella meminjam ponselnya untuk menghubungi Roy. Ponsel Stella mati kehabisan baterai. Kemudian seorang rekan mengajak bicara sehingga dia lupa meminta ponsel yang dibawa oleh Stella. Ketika ponsel itu dikembalikan ia tidak memeriksa pesan. Dan sepertinya tidak ada pesan selain dari Roy. Mungkinkah Hanna membohongi dirinya?
" Omong kosong. Jangan dekati Roy atau kamu mau perusahaan munaf hancur! " Kuncoro dengan nada ketus
" Kamu...! Kamu yang minta aku memisahkan kakakmu dan Stella. Setelah bangun tidur kamu lupa? " Hanna memandang Kuncoro dengan kesal. Lagi - lagi mengancam dengan cara yang sama. Saat ini yang dia inginkan adalah menjadi orang kuat secara finansial sehingga tidak ditindas orang seenaknya. Dan satu hal lagi, dia ingin merasakan bahagia bisa menindas orang di depannya ini.
__ADS_1