Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
22 MENGATAKAN FAKTA


__ADS_3

" Hanna pernah bercerita tentang asisten Rendy dari Bio tec? " tanya Kuncoro


Parto mengerutkan dahi, Bio tec terlalu tinggi untuk digapai oleh Hanna. Dia tidak percaya kalau Hanna mengenal Rendy dari Bio tec.


" Tidak pernah. " Parto berkata dengan tegas.


" Hanna tidak akan melakukan tindakan Kotor. Mendekati Rendy untuk membantu perusahaan Munaf, jauh dari kepribadian Hanna. " Parto memiliki keyakinan penuh pada Hanna.


Kuncoro melirik Parto sebentar, kemudian tersenyum penuh ejekan. Menurut Kuncoro keyakinan Parto pada Hanna terlalu berlebihan, sampai Parto tidak bisa membedakan mana yang benar dan salah.


" Di perjamuan aku melihat Rendy memeluk Hanna" Kuncoro memperagakan gerakan Rendy saat menolong Hanna.


" Bullshit! " Parto


Parto tidak percaya dengan perkataan Kuncoro yang merupakan provokasi untuknya.


" Harusnya aku merekam untukmu. " Kuncoro dengan ejekan disenyumnya.


Kesabaran Parto benar-benar diuji oleh Kuncoro. Dulu Kuncoro tidak pernah mengusik Hanna, tapi sekarang yang keluar dari mulut Kuncoro adalah merendahkan Hanna.


" Sebenarnya apa maumu? " Parto masih bersabar.


" Memberimu pencerahan. " Kuncoro


" Orang sepertimu yang perlu dibimbing. Kamu tidak sadar berapa banyak orang yang menderita karena ulahmu? " Parto


Kuncoro dan Parto berteman sejak mereka duduk di sekolah menengah pertama, meskipun tidak satu sekolah, mereka akrab satu sama lain. Kenakalan yang dilakukan Kuncoro, Parto mengetahui.


" Simpan kemarahanmu! Aku belum mengatakan semuanya. " Kuncoro tidak habis pikir kenapa Parto yang biasanya pintar menjadi bodoh saat berurusan dengan Hanna.


" Sebenarnya apa yang kamu inginkan? " Parto


" Sudah lama kita tidak bertemu. Kamu masih sama seperti dulu, naif. " Kuncoro menyindir Parto yang selalu membela orang yang dekat dengan dia, entah itu benar atau salah. Parto akan melindungi orang yang menurutnya penting.


" Kamu salah. Setiap orang mengalami perubahan secara fisik dan mental. Yang sulit diubah adalah sifat seseorang. " Parto mengenal sifat Kuncoro, Arogan dan tidak kenal ampun. Benar dan salah tergantung dari penilaiannya.


" Kamu terlalu lemah. " Kuncoro

__ADS_1


Parto menarik nafas panjang, sambil melihat sinis ke arah Kuncoro. Bukan masalah dibilang lemah, tapi karena Kuncoro sedang mencari masalah dengannya.


" Jangan pikir aku takut denganmu. Aku bersabar padamu karena kita berteman. " Parto


Kuncoro terkekeh pelan dengan misterius.


" Kamu seharusnya bersyukur karena aku mau bicara denganmu. Jadi jangan menganggap tinggi dirimu. " Kuncoro dengan angkuh.


" Petinggi PT. Sinar Mas datang menemuiku, mau berbicara denganku, Kamu tidak lebih rendah dariku. " Parto tidak pernah berfikir adanya batasan antara dia dan Kuncoro. Setiap orang memiliki kemampuan sendiri-sendiri, Kuncoro memiliki segalanya termasuk harta, ketenaran, kecerdasan dan keluarga. Hal yang tidak dimiliki Parto adalah tidak memiliki keluarga. Kecerdasan Parto seimbang dengan Kuncoro. Kalau dia memiliki keluarga pendukung seperti Kuncoro mungkin mereka menjadi rival abadi dalam bisnis.


" Ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu. " Kuncoro menghentikan tindakan menggoyang gelas, jari-jarinya yang ramping berhenti dengan menawan, serta sebuah senyum meremehkan muncul di bibirnya. Tidak ada rasa takut atau malu di hatinya untuk mengakui semua pada Parto. Kuncoro tidak bisa membohongi Parto terus menerus.


Dia tidak nyaman menyimpan rahasia dari Parto. Lebih baik mengaku di depan daripada Parto tau dari orang lain.


" Seberapa penting sampai kamu meluangkan waktu berhargamu? "


Parto mengerutkan dahi, kilatan tajam matanya mengarah pada Kuncoro.


" Hanna datang ke perjamuan bersama denganku. " Kuncoro


" Tidak mungkin ?! "Parto menatap tajam pada Kuncoro. Hanna tidak menyukai Kuncoro tahu betul tentang hal ini, mustahil Hanna pergi dengan Kecuali ada paksaan.


Disisi lain dalam pemahaman Pasti, dia tahu jelas kalau Kuncoro selalu mengatakan yang sebenarnya. Dia marah dengan Kuncoro, dengan jelas dia mengatakan pada Kuncoro bahwa Hanna adalah pacarnya. Namun yang dilakukan oleh Kuncoro di belakangnya adalah mendekati Hanna.


" Aku akan mengatakan padamu sebuah kebenaran. " Kuncoro memegang bahu Parto


Parto menepis tangan Kuncoro dengan kasar. Tangannya sudah mengepal, menekan kemarahan yang ada di hatinya.


Dalam diam Parto menunggu Kuncoro melanjutkan ucapannya.


" Hari pertama aku kembali dari luar negeri aku berniat datang keapartemen Stella. Aku sudah membayangkan dia akan senang dengan kedatanganku. Tapi Sebelum aku sampai ke apartemen Stella aku bertemu dengan Roy. Dia memperlihatkan undangan pernikahannya dengan Stella." Kuncoro berhenti sejenak. Perasaan sakit saat dikhianati menusuk hatinya.


" Terus? " Parto tidak sabar dengan cerita Kuncoro yang terkesan bertele-tele. Dia hanya ingin tahu tentang Hanna bukan tentang Roy dan Stella. Mengenai Roy dan Stela, seiring berjalannya waktu, Kuncoro akan lupa dengan sendirinya.


" Kamu beneran ingin tahu? " Kuncoro


Parto tidak menjawab pertanyaan Kuncoro, sudah jelas dia menunggu tapi Kuncoro masih bertanya juga.

__ADS_1


" Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu. " Kuncoro sudah mulai mabuk.


" Aku pergi ke bar setelah berpisah dengan Roy. Aku menelphonemu berkali-kali tapi tidak tersambung. Apakah kamu sempat memeriksa panggilan telepon di ponselmu? " Kuncoro


Parto mengiyakan, sewaktu Kuncoro menelphhone dirinya, ponselnya mati kehabisan baterai. Dia dalam perjalanan pulang dari perjalanan tugas di luar provinsi. Ketika sampai rumah sudah dinihari, dia mengisi baterai ponsel kemudian tertidur. Paginya dia pergi bekerja dan baru sempat melihat log panggilan waktu makan siang.


" Kamu tidak mengangkat telephoneku maka aku mengirim pesan padamu untuk datang menjemputku. Tapi ternyata aku salah kirim. Aku mengirim pesan pada Hanna. " Kuncoro dalam keadaan mabuk saat itu sehingga dia tidak sadar bahwa pacar Parto yang dia kirim pesan.


Parto mengeraskan wajahnya mendengar nama Hanna disebut. Dia menatap tajam pada Kuncoro.


" Bodoh.! " Parto mengatai Kuncoro


" Aku mabuk berat saat itu. Tidak sepenuhnya salahku. " Kuncoro bergumam


Parto mengeratkan kepalan tangannya sambil mengertakkan gigi. Pikirannya melayang pada hal wajah Hanna, belakangan ini Hanna sering melamun, terkadang dia juga tampak sedih. Apakah semua berhubungan dengan Kuncoro?


" Bicara yang jelas! " Parto mulai berfikir yang aneh.


" Hanna mengatarku pulang ke rumah. Dan malam itu, hari pertama aku tiba di indonesia. " Kuncororo


Bagi Parto, cerita Kuncoro bagai panah yang menghujam jantungnya hingga berdarah. Luka di hatinya terlalu dalam.


" Pada malam itu aku melakukan itu pada Hamba. " Kuncoro menyadari dia yang memaksa Hanna. Masih terngiang makian yang keluar dari mulut Hanna.


Parto kehilangan kendali, dia melayangkan tinjunya ke wajah Kuncoro, namun Kuncoro berhasil mengelak.


Kepala Kuncoro pusing karena alkohol meskipun dia masih bisa berdiri dengan seimbang. kalau sekarang ia berkelahi dengan Parto, bisa dipastikan dia yang kalah. Apalagi Parto dalam keadaan sadar, dia bukan tandingannya.


Kuncoro bukan orang yang mudah ditindas, dia membalas pukulan Parto. Sebuah pukulan mengarah ke wajah parto, namun Parto bisa mengelak.


Parto melayangkan pukulan kedua, pukulan itu mendarat mulus di wajah Kuncoro bagian kiri, membuat kepalanya yang sudah pusing tambah pusing.


Keduanya saling adu jotos. Parto sakit hati karena Kuncoro menghianati dirinya, sedang Kuncoro merasa tidak seepenuhnya bersalah karena dia dalam pengaruh alkohol.


Parto melampiaskan kemarahannya kepada Kuncoro dengan memukulinya.


Perkelahian itu terjadi di dalam ruangan, orang yang di luar tidak akan tahu.

__ADS_1


Kuncoro jatuh ke lantai setelah dipukul oleh Parto beberapa kali. Dia sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan.


Parto berdiri disamping Kuncoro, dia yang biasanya hangat memperlihatkan sisi lain dari dirinya. Tapapan Parto tajam melihat Kuncoro dibawah kakinya, aura membunuh keluar dari dalam dirinya.


__ADS_2