Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
25 KEDEKATAN AMORA DAN NAJWA


__ADS_3

Melihat senyum Amora yang meremehkan, Najwa ingat sesuatu, tangannya merogoh saku bajunya kemudian mengeluarkan kantong kain berwarna hijau toska. Najwa menarik nafas dalam-dalam saat menaruh kantong kain dihadapkan Amora seolah menyerahkan semua harta yang dia miliki.


Najwa membuka pengait kantong, membukanya dengan kesusahan. tangan Najwa memegang bagian bawah kantong kemudian membaliknya. Semua isi kantong tumpah di atas meja, ada dua lintingan uang kertas dan sisanya uang koin.


" Kakak cantik, apakah uang ini cukup untuk membayar makanan di restoran yang waktu itu? " Najwa tidak bisa menyebutkan nama restoran yang kemarin dia datangi.


Amora memperhatikan uang di atas meja kerjanya, baru kali ini dia melihat uang dalam jumlah kecil. Dalam tumpukan uang itu dia melihat uang yang pernah diberikannya pada Najwa, uang itu masih utuh.


" Kurang banyak. " jawab Amora singkat


Majwa panik, ia sudah mengundang orang dan uangnya kurang. Dia menyesali kebodohannya, harusnya ia bertanya pada kakak cantik sebelum mengundang orang. Dia hanya mementingkan keinginannya tanpa memperhatikan kemampuan.


Waktu di panti uang yang dia punya termasuk banyak, dia bisa mentraktir makan sepuluh orang temannya tanpa merasa khawatir di warung bakso dekat sekolah.


" Kalau hanya satu porsi cukup? " Najwa bertanya dengan khawatir.


Amora bisa menebak arah pembicaraan Najwa. Bila uang itu cukup untuk membayar satu porsi maka akan memberikan satu porsi itu pada tamu undangannya sedangkan dia tidak makan.


" Tidak cukup. " Amora


Najwa tercengang, uang sebanyak itu masih belum cukup.


" Orang kaya apakah begitu boros sampai makan saja menghabiskan uang jutaan rupiah? " tanya Najwa dengan polosnya.


" Tidak punya uang masih berani mengundang orang?! " Amora balik bertanya dengan datar, namun Najwa bisa merasakan tekanan dalam kalimatnya.


Dia sebenarnya tidak terima dibilang tidak punya uang. Di atas meja itu kalau bukan uangnya, terus milik siapa lagi.


Najwa mengerucutkan bibirnya. Dia mengumpulkan uang itu dalam waktu yang lama. Tinggal di panti diajarkan untuk mebabung.


" Aku bosan. " Najwa menjawab dengan pelan. Dia memang miskin, dikatakan tidak memiliki uang juga tidak masalah. Yang pasti ia merasa bosan.


Amora mendengar jawaban Najwa rasanya ingin muntah darah. Dia membawa Najwa kesini untuk melindunginya tapi Najwa malah bilang bosan. Wajah Amora berubah muram.


" Sekarang aku adalah seorang pengangguran. Tidak ada pekerjaan juga tidak sekolah. Aku benar-benar menganggur. Sangat membosankan. " Najwa memiliki pemikiran sendiri. Dia terbiasa hidup mandiri, mengandalkan diri sendiri. Sekarang tiba-tiba tinngal di rumah mewah, ada banyak pelayan yang siap melayani kapan saja. Dia tidak terbiasa.


Amora menahan amarahnya dengan menggertakkan gigi. Anak ini baru sepuluh tahun sudah menginginkan pekerjaan, ingin sekolah dan tugas. Padahal dia sudah memiliki rencana jangka panjang untuk Najwa.

__ADS_1


" Aku akan mengantarmu jalan - jalan! " Amora membuang nafas kasar.


Najwa mengangguk beberapa kali kemudian tersenyum lebar dan matanya berbinar. Kakak cantik sudah memutuskan jadi dia hanya mengikuti saja.


" Segera ganti pakaian, dua puluh menit lagi kita berangkat! " Amora memerintahkan


Wajah ceria Najwa tertangkap oleh Amora, ia menyukai ekspresi Najwa. Tanpa sadar Amora ikut tersenyum, sedetik kemudian wajahnya kembali dingin.


Najwa terlalu bahagia sehingga dia tidak memperhatikan senyuman Amora. Dia hanya menggangguk kemudian pamit keluar.


Setelah menutup pintu, Najwa diam sebentar sambil memperhatikan baju yang dipakainya saat ini. Padahal baju yang dipakainya masih bagus tapi masih disuruh ganti, dia menggeleng pelan namun tetap menurut.


Di ruang kerjanya, Amora berdiri di belakang jendela. Dia baru saja menelphone Rendy, menyuruh Rendy menggantikan dirinya meeting dengan Robert selaku penanggung jawab pengembangan mobil Rulle garapan Bio tec di negara ini.


Untuk beberapa lama Amora tidak beranjak, ia mengingat informasi yang diberikan oleh Rendy sebelum menutup panggilan. Rendy mengatakan bahwa minuman yang dibawa Sesil tempo hari mengandung obat.


Pandangan Amora menyapu semua yang ada di depannya, seolah sedang meperhitungkan sesuatu yang terlihat dan tidak terlihat.


Dua puluh menit berlalu, Najwa sudah selesai ganti pakaian dari tadi. Dia menunggu kakak cantik di depan pintu ruang kerjanya. Bersandar di dinding sambil memainkan satu kakinya. Di antuk-antukan ujung sepatunya ke lantai. Sedang pandangannya mengarah pada langit-langit rumah dari ujung ke ujung. Tidak pernah terbayang olehnya bahwa dia akan menjadi bagian dari kemewahan ini.


Sosok kecil yang sedang bersandar kelihatan malas, namun tidak meninggalkan keceriaan dalam dirinya.


Dia tidak menduga bahwa Najwa sangat antusias hanya dengan ajakan jalan.


Mata Najwa langsung berbinar dengan kemunculan Amora. Akhirnya yang ditunggu keluar juga.


" Ayo berangkat! " Amora melewati Najwa


Najwa mengikuti langkah Amora, berjalan menuruni tangga. Satu di depan satu di belakang, kebiasaan yang tidak bisa ditinggalkan oleh Najwa.


" Jalan di samping! " Amora ingat Najwa punya kebiasaan mengekor dibelakannya, dia ke kanan Najwa ke kanan, dia ke kiri Najwa ke kiri. Amora tidak menyukai kebiasaan Najwa makanya dia meminta Najwa berjalan di sampingnya. Nada meminta ini terdengar seperti memerintah.


Dengan senang hati Najwa menuruti perintah Amora.


Berdua mereka menuju garasi mobil. Kebiasaan baru buat Najwa, dia suka memperhatikan Amora. Apalagi saat ini ketika Amora berdiri di samping mobil, menyuruhnya untuk masuk, Najwa memandang sebentar waktu Amora bicara.


Buat Najwa, Amora sangat tinggi seperti patung dewi yunani.

__ADS_1


Amora menunduk memperhatikan Najwa secara seksama. Anak ini seperti kelinci kecil putih berbulu halus, tidak memiliki cakar terlihat tidak berbahaya dan penuh semangat.


Najwa bukan tipe anak yang selalu menuruti keinginan orang, dia punya pemikiran sendiri.


" Kakak cantik. " Najwa memanggil Amora tapi Amora tidak memberikan jawaban.


" Masuk! " perintah Amora kemudian ia memutari badan mobil, membuka pintu kemudian duduk di belakang kemudi.


Najwa sudah duduk manis dengan sabuk pengaman terpasang.


Mobil bergerak pelan meninggalkan halaman rumah. Sampai di jalanan utama, Amora meningkatkan kecepatan, hanya saja ia tahu batas karena penumpangnya adalah anak kecil.


Menuju restoran seafoot, Najwa tidak tahu jalan jadi dia mengamati sekitar melalui kaca mobil. Dia membaca tulisan yang ada di pinggir jalan. Otaknya berkerja cepat, melihat kemudian mengingat. Hal yang mudah baginya. Sepanjang jalan dia tidak ribut.


Amora tidak banyak bicara, dia yang biasanya suka ketenangan merasa aneh dengan kesunyian di dalam mobil.


Baru beberapa hari bersama dengan Najwa, dia terbiasa dengan kebiasaan Najwa yang berisik. Berbicara sepanjang jalan, bertanya ini dan itu. Sekarang anak itu tidak bersuara, hanya memperhatikan keadaan sekitar.


" Setelah makan aku akan antar kamu ke taman bermain. " Amora membuka suara.


Mata Najwa berbinar mendengar taman bermain. Pastinya banyak permainan keren yang bisa ia mainkan seperti waktu berada di pasar malam. Begitu mengingat kantong kain miliknya dia menjadi murung. Makan saja butuh uang jutaan apalagi bermain di taman bermain.


" Uangnya tidak cukup. " Najwa mengerucutkan bibirnya.


Amona yang tadinya fokus menyetir kini menoleh pada Najwa. Dia memiliki banyak uang, untuk membeli taman bermain saja sanggup. Mengajak Najwa memainkan semua wahana tidak berpengaruh baginya.


" Aku yang mengajakmu. " Amora memainkan kata-kata.


Najwa yang tadinya murung menjadi gembira lagi. Kalau kakak cantik yang sudah bicara seperti itu, dia tidak perlu khawatir soal uang. Bukannya dia tidak menghargai uang, hanya saja dia punya keyakinan bahwa kakak cantik orang yang beruang. Mengajaknya bermain tidak akan membuatnya miskin. Anggap saja kakak cantik sedang bersedekah padanya.


" Baiklah. Aku terima ajakan kakak cantik " Najwa bersemangat.


Amora mengerutkan kening mendengar jawaban dari Najwa. Dia berkata seperti itu tidak membutuhkan persetujuan dari Najwa. Dan anak ini menganggap dirinya penting.


Amora tidak menyadari bahwa dia mulai peduli dengan Najwa.


Didepan restoran seafood, Amora memarkirkan mobilnya. Dia menyuruh Najwa turun. Dia sendiri memperhatikan sekeliling. Mereka tiba lebih awal.

__ADS_1


Ia memilih tempat terbuka, sengaja tidak memesan ruang VIP karena tidak cocok untuk Najwa. Berada di ruangan tertutup akan membuat Najwa bosan.


__ADS_2