
Nyonya Munaf duduk di kursinya masih dengan pemikiran tentang Hanna yang tiba-tiba datang ke perusahaan dengan menanyakan kondisi perusahaan saat ini.
Dia senang Hanna mulai peduli dengan perusahaan meskipun agak terlambat, karena Hanna datang pada saat perusahaan mengalami masalah.
" Aku dengar ada investor yang meninggalkan perusahaan kita. Apakah itu benar ma ? " Hanna
Nyonya Munaf mengangguk pelan mengiyakan.
" Perusahaan dalam keadaan stabil kemudian beberapa investor meninggalkan kita. Aku curiga ada orang yang sengaja menargetkan perusahaan kita. " Hanna mengambil kesimpulan dari apa yang pernah dikatakan oleh Kuncoro padanya.
Ny.Munaf juga merasa janggal dengan kejadian ini. Dunia bisnis memang ada saat dimana yang kuat memakan yang lemah. Tapi di kota ini dia tidak berselisih dengan siapapun. Lalu siapa yang ingin menghancurkan perusahaan Munaf?. Siapapun mereka adalah orang dengan kemampuan diatas perusahaan Munaf.
" Mama akan mencari tahu tentang apa yang kamu katakan. Tapi saat ini kita butuh investor secepatnya. ." Nyonya Munaf beranjak dari kursinya. Ia menuju jendela di samping kiri. Memandang langit yang terbentang luas, tiada ujung dan tepi, seperti permasalahan yang sedang dihadapinya yang belum ada solusi.
Dengan harga saham saat ini, untuk mendapatkan investor pasti sulit. Suaminya sedang berusaha mencari jalan keluar. Sedangkan dia berada di perusahaan untuk menangani masalah intern perusahaan supaya isu diluar tidak berdampak terlalu parah dengan operasional.
Perhitungannya tidak pernah meleset, hanya untuk saat ini dia tidak punya bayangan tentang musuh yang dihadapi.
Hanna berfikir sejenak, dia masih ingat percakapan dengan Kuncoro. Kuncoro bersedia membantu perusahaan Munaf dengan syarat dia membantu Kuncoro memisahkan Stella dan kakaknya. Hanna tidak ingin memiliki hubungan lagi dengan Kuncoro, namun saat ini Kuncoro merupakan harapan perusahaan Munaf. Hanna memejamkan matanya sebentar menimbang semua hal tentang dampak baik dan buruk pada dirinya. Waktu terus berjalan, dia tidak bisa menunda terlalu lama, atau perusahaan Munaf runtuh.
Dia menarik nafas panjang untuk melepaskan beban.
" Berapa dana yang dibutuhkan? " Hanna
Nyonya Munaf membalikkan badan. Diamati putrinya dengan seksama. Menurut Ny. Munaf kepedulian Hanna sudah cukup mengurangi beban pikiran. Tapi masalah perusahaan tetap harus diselesaikan.
Hanna sudah bertanya, nyonya Munaf akan terbuka, dia menyebutkan sejumlah angka. Nominal yang cukup besar buat Hanna yang tidak pernah berurusan dengan perusahaan.
__ADS_1
" Kalau usaha papamu mendapatkan investor gagal, kemungkinan terburuk adalah jatuhnya perusahaan Munaf. " Nyonya Munaf
" Ma. Aku tidak akan membiarkan kerja keras papa hancur begitu saja. " Hanna sudah bertekad.
Nyonya Munaf memandang putrinya. Keteguhan Hanna saat ini dan bayang-bayang Hanna sewaktu habis kecelakaan bermain dibenaknya.
Hanna masih berusia sebelas tahun sewaktu mengalami kecelakaan. Hanna mengalami cidera yang menyebabkan dia kehilangan indra penglihatan. Tak lama setelah itu Hanna beserta lima anak yang lain diculik. Masih beruntung, dari lima anak yang diculik Hanna bisa selamat. Sebuah mukjizat yang dia terima meskipun Hanna kehilangan ingatan karena trauma yang mengakibatkan depresi. Perjuangan panjang untuk menyembuhkan depresi yang dialami oleh Hanna.
Karena alasan ini dia lebih ketat menjaga Hanna, dia takut kehilangan Hanna.
Sekian tahun berlalu, Hanna tumbuh jadi anak yang cantik. Ada bagusnya Hanna kehilangan ingatan, setidaknya dia bisa hidup normal.
Keadaan Hanna hanya diketahui oleh dia dan keluarga, sengaja dirahasiakan untuk kebaikan Hanna.
" Aku sempat marah atas tindakan mama membatasi pertemananku. Aku hanya ingin mandiri, itu yang aku pikirkan. Tapi aku tidak pernah membenci mama. Apapun yang terjadi aku tetap anak mama dan papa. Aku tidak akan meninggalkan kalian. " hubungan Hanna dan orangtuanya renggang karena Hanna merasa orangtuanya sering mengatur dan tidak memberikan kebebasan padanya. Tindakan mereka lebih pada overprotektif. Dia tidak bisa melakukan aktivitas layaknya anak lainnya, dan saat itulah jiwa pemberontaknya muncul.
" Aku akan menemui seseorang. Setelah urusanku selesai, aku akan menghubungi mama. " Hanna
Nyonya Munaf mengiyakan perkataan putrinya. Mengenai urusan Hanna, dia tidak ingin bertanya lebih lanjut, dia akan mencari tahu nanti mengingat hubungannya dengan Hanna baru saja membaik.
" Ma...." Hanna memandang ibunya. Sudah lama ia tidak berbincang dengan ibunya. Sekedar mengucapkan aku sayang mama terasa canggung. Ditelan kembali kata-kata yang sudah ada di tenggorokan.
" Tunggu kabar dariku! " akhirnya kata yang keluar dari mulut Hanna sebelum dia keluar dari kantor ibunya.
Nyonya Munaf mengantar kepergian Hanna dengan pandangan. Dalam tatapannya dia berharap Hanna seperti anak pada umumnya, dekat dengan ibunya. Entah kapan harapannya akan terkabulkan.
Hanna keluar dari gedung perusahaan Munaf menuju tempat parkir bawah tanah. Menghampiri mobil agya lalu bersandar di sisi samping. Ia mengambil ponsel kemudian membuka kontak yang telah diblokir, Nama Kuncoro tertera di layar. Jari Hanna berhenti di atas layar ponsel, dia masih ragu. Setengah menit kemudian Hanna menekan tombol buka blokir. Sekarang dia membutuhkan Kuncoro, untuk apalagi banyak berfikir.
__ADS_1
Tanpa ragu ia menelphone Kuncoro. Telepon terhubung setelah dering ketiga.
Kuncoro diam meskipun telepon terhubung.
Hanna memijit pelipisnya dengan pelan. Dia sadar Kuncoro tidak akan berbicara sebelum dia berbicara. Dia yang menelphone berarti dia yang butuh. Orang ini mengesalkan, tau caranya memanfaatkan kelemahan orang lain.
" Aku ingin bicara denganmu. Aku tunggu di tempat kemarin." Hanna mengutarakan maksudnya.
" Hari ini aku sangat sibuk. " sikap acuh Kuncoro tergambar dari suaranya.
Hanna diam sejenak. Suara maskulin yang ia dengar tidak mengurangi tekanan dalam kalimatnya, menolak dengan tegas.
" Tawaran yang kamu berikan padaku kemarin...."sebelum Hanna menyelesaikan ucapnya sudah dipotong oleh Kuncoro.
" Datang ke kantorku! " Kuncoro tidak memiliki banyak waktu luang. Dia mengangkat telepon Hanna sambil memeriksa dokumen, untuk menghemat waktu, dia memerintahkan Hanna untuk datang ke kantornya kemudian menutup telepon.
Hanna memandangi layar ponselnya yang menghitam. Belum selesai ia bicara, telepon sudah diputus sepihak. Yang paling mengesalkan adalah dia di suruh datang ke kantor Kuncoro padahal dia tidak tahu dimana Kuncoro bekerja. Bukankah ini sama saja mencari jarum di tumpukan jerami.
Hanna berfikir untuk bertanya pada Parto, tapi dia tidak tahu alasan yang tepat untuk bertanya. Takutnya Parto balik bertanya macam-macam padanya dan itu akan membuatnya bingung menjelaskan.
Di sela dilema yang dia hadapi, masuk pesan dari Kuncoro yang berisi sharelok perusahaan miliknya.
Alamat sudah didapatkan, Hanna langsung menjalankan mobil menuju ke lokasi. Sekitar dua puluh menit berkendara dia tiba di gedung PT. Sinar Mas.Hanna baru tahu bahwa Kuncoro bekerja di perusahaan nomor satu di negara ini.
Hanna memandang bangunan di depannya untuk beberapa saat, dia sedih karena harus merendahkan diri di depan Kuncoro, orang yang telah menghancurkan hidupnya.
Hanna melangkah pelan memasuki PT Sinar Mas.
__ADS_1