
Pintu terbuka, asisten Rey segera mendorong Parto yang hendak menginjak Kuncoro. Dia Dia merasa tidak rela, bosnya yang biasanya bersinar kini tampak menyedihkan. Bajunya kusut, wajahnya lebam, sekarang malah terkapar di lantai dalam keadaan mabuk.
Dan lagi orang yang memukulinya adalah Parto, sahabatnya sendiri. Untung dia datang tepat waktu, telat sedetik saja tidak bisa dibayangkan akibatnya.
Asisten Rey berusaha menyanga badan Kuncoro.
" Pak Parto bisa jelaskan kejadian hari ini? " asisten Rendy dengan nada sinis.
" Ingin penjelasan?! Tanya pada bosmu sendiri! " Parto dengan tatapan menyeramkan
Asisten Rendy pada hari biasa bukan orang yang mudah ditindas. Dia melakukan pekerjaan dengan baik. Menyelesaikan kekacauan dengan cepat.
Sebagai asisten, dia juga tahu hubungan antara bosnya dan Parto.
Kuncoro menghormati Parto melebihi rasa hormatnya pada kakak maupun orang tuanya.
Sekarang terjadi perkelahian antara keduanya pasti permasalahannya sangat besar. Hubungan persahabatan mereka dia tidak bisa ikut campur.
Asisten Rey memiliki pemikiran tentang pokok masalah kedunya, perkelahian mereka berhubungan dengan nona Hanna dari keluarga Munaf.
Dia menggeleng pelan meninggalkan ruangan itu sambil memapah Kuncoro.
" Tunggu! " Parto memanggil asisten Rey sebelum dia memegang gagang pintu.
" Jangan lupa bayar tagihannya! " ucap Parto ketika Rey berbalik.
Rey mengganguk pelan, dia ingin tertawa, dari sekian banyak teman bosnya, hanya satu orang ini yang miskin.
Kemarahan Parto barusan sangat menakutkan, tapi masih minta dibayarin tagihan. Konyol memang.
Parto mengibaskan tangannya setelah mendapat jawaban dari Rey. Dia tidak sanggup membayar tagihan sebanyak itu. Lagian semua minuman itu Kuncoro yang minum.
Setelah Kuncoro dibawa pergi oleh asisten Rey, Parto juga meninggalkan ruangan itu. Dia pindah ke bar yang lebih murah, yang sesuai dengan kantongnya.
Dia memesan beberapa botol bir dan meminumnya sendiri. Dia jarang minum, kemampuannya terhadap alkohol sangat sedikit. Tidak lama kemudian dia mulai pusing. Wajahnya merah, dia mabuk berat.
Dengan langkah sempoyongan, parto meninggalkan bar. Sepanjang perjalanan dia meracau tidak jelas dan mengatakan kata - kata kasar. Kadang-kadang memprovokasi orang yang lewat didekatnya.
Dua kali Parto hampir berkelahi dengan orang di jalanan.
Akhirnya Parto memanggil taxi. Jarang ada taxi yang mau membawa penumpang mabuk, karena orang mabuk akan bertindak diluar kendali. Tindakan itu akan membuat supir taxi kewalahan.
Di depan rumah sesuai alamat yang disebutkan oleh Parto taxi berhenti. Parto mengambil uang dari saku celana untuk membayar taxi. Agak lama untuk mengeluarkan uang dari saku karena terkadang tangannya meleset ketika ingin merogoh saku.
" Kalau tidak punya uang tidak usah naik taxi! " supir berbicara dengan nada sinis.
__ADS_1
Parto mengerutkan kening, tidak peduli sopir itu berbicara apa. Kepalanya terasa berat. Setelah menyerahkan uang ongkos ia berjalan sempoyongan menuju rumahnya.
Hari sudah larut , tidak ada seorang pun yang ia temui.
Sampai di rumah, parto membuka pintu dengan kesusahan. Hampir sepuluh menit dia baru bisa nemasukkan anak kunci ke pintu. Dengan susah payah dia mutar kunci baru pintu bisa dibuka.
Parto masuk kemudian mengunci pintu lagi. Dia mabuk tapi masih punya sedikit kesadaran. Dia berjalan ke sofa kemudian menjatuhkan diri disana. Tak lama kemudian dia sudah tertidur.
Untuk malam ini dia bisa melupakan semua masalah dengan minum alkohol.
Keesokan harinya, Parto bangun dengan kepala pusing. Dia tidak minum obat pereda mabuk.
Parto mengelus pelipisnya namun rasa pusingnya tidak hilang. Dia bangkit untuk mengambil air minum.
Berdiri disamping dispenser sambil berpegangan pada ujung meja. Dia masih mengenakan Baju kemarin, rambut acak-acakan ditambah wajahnya kusut. Beda jauh dengan Parto yang biasa energik.
Parto menegak minumannya dengan sekali teguk.
Setelah minum ia segera mandi, habis itu pergi bekerja. Sebelum berangkat bekerja ia mengirim pesan pada Hanna.
Hanna terbangun karena bunyi ponsel miliknya. Setengah sadar ia membuka pesan di ponsel miliknya. Beberapa pesan dari Lisa, ada juga dari Roy dan Parto. Yang dia buka pertama kali adalah pesan dari Parto yang memintanya untuk menjemputnya ketika dia pulang kerja.
Hanna langsung membalas "ok".
Hanna melempar selimut yang menutupi tubuhnya. Dia turun dari ranjang kemudian menuju kamar mandi. Hanna berdiri di depan wastafel, bercermin sambil cuci tangan. Wajahnya masih lusuh, rambutnya berantakan, tapi satu hal yang membuatnya tetap melihat wajahnya di cermin, dia juga tidak jelek.
Mengaruk kepala bagian belakang, hanna larut dalam pemikirannya tentang Parto. Pria itu telah mengisi hidupnya selama sembilan tahun.
Sekarang usianya dua puluh tiga tahun, dan perasaannya masih sama seperti waktu pertama bertemu.
Dia ingat waktu itu ia berniat mencari Aloysia ke daerah pinggiran kota dimana Aloysia tinggal. Dengan berbekal alamat yang diberikan teman Aloysia, ia berangkat sendiri dengan naik bus umum. Pertama kali ia naik bus, tidak tau arah dan hanya bisa bertanya pada penumpang yang lain.
Desa tanjung jauh dari jalan raya. Untuk mencapai desa itu harus turun di perempatan Dempet terus naik kendaraan lagi.
Turun di perempatan, Hanna bingung mau ke arah mana. Tadi ia lupa menanyakan arah.
Ketika dia kebingungan, ia melihat seorang pemuda turun dari bus. Penampilannya biasa saja. Kaos putih dengan luaran kemeja biru muda tidak di kancin, celana jeans biru docker dipadukan dengan sepatu hitam. Dia membawa tas punggung hitam. Di tangannya satu kantong plastik buah jeruk.
Hanna mendekatinya kemudian menanyakan alamat yang ia cari. Pemuda itu melihatnya dari atas sampai bawah sambil mengerutkan kening. Detik berikutnya, pemuda itu menatapnya tajam, entah apa yang dipikirkannya.
Kemudian Hanna bilang ingin mencari Aloysia.
Yang mengejutkan adalah, pemuda itu akan mengantarnya ke kantor polisi terdekat supaya diantar pulang.
Dia menjelaskan bahwa kedatangannya kesini untuk mencari orang.
__ADS_1
Pemuda itu bilang bahwa di desa Tanjung tidak ada yang bernama Aloysia. Kemungkinan besar Hanna tersesat.
Sebelum sampai tujuan dia tidak akan menyerah, itu tekadnya ketika berangkat.
Hanna bertanya apakah pemuda itu berasal dari sanana? Dan dijawab dengan anggukan.
Hanna mempersilakan pemuda itu untuk jalan dan dia tidak akan menggangunya.
Pemuda itu berjalan ke arah kiri. Jalannya pelan, rambutnya sedikit panjang berkibar kibar tertiup angin.
Hanna mengikutinya dengan pelan. Kendaraan umum telah lewat, pemuda itu tidak menghentikannya. Ia terus berjalan sampai jauh. Hanna mengikutinya sampai lelah namun pemuda itu tidak ada niatan untuk berhenti.
Pemuda itu berbalik melihat Hanna, dia bilang kalau seratus meter lagi ada kantor polisi.
Hanna terbengong. Berarti pemuda itu menyadari kalau ia mengikutinya. Dia memang berniat mengantarnya ke kantor polisi.
Hanna menepuk keningnya pelan menyadari kebodohannya.
Dia menjelaskan kalau tidak ada niat lain selain mengikuti sampai desa Tanjung.
Pemuda itu marah, mengatainya bodoh. Mengikuti orang asing di tempat asing, ia kalau orang itu baik, kalau jahat?. Dia akan di habisi.
Hanna diam, yang dia lihat dari orang ini adalah sisi baiknya. Kalau dia jahat tidak akan mengantarnya ke kantor polisi.
Hanna bilang tidak mau ke kantor polisi, dia akan mengikutinya sampai desa Tanjung. Tidak peduli pemuda itu setuju atau tidak, dia akan mengikutinya.
Pemuda itu mengerucutkan bibirnya, dengan terpaksa ia membawa Hanna ke desa Tanjung, tempat dimana dia dibesarkan.
Naik bus umum sekitar setengah jam. Mereka turun di depan sebuah panti asuhan. Hanna membaca papan nama " panti asuhan cahaya "
Hanna mengikuti langkah pemuda itu memasuki halaman Panti. Tak lama kemudian seorang anak yang sedang bermain meneriakkan nama pemuda itu
" Kak Parto datang! " suara mereka dengan pandangan berbinar
Hanna mundur selangkah, memberi ruang buat anak-anak yang mengerumuni parto.
Parto menyuruh anak-anak itu kembali, nanti setelah urusannya selesai ia akan menemui mereka.
Setelah anak-anak itu bubar, Parto membawa Hanna menemui kepala Panti.
Parto bilang kalau Hanna mencari orang dan tersesat.
Orang yang dicari Hanna tinggal di desa Tanjung, namanya Aloysia.
Kepala panti mengingat beberapa nama di desa Tanjung, namun sepengetahuannya tidak ada yang bernama Aloysia.
__ADS_1
Hanna tinggal di panti selama satu malam. Dalam satu malam itu dia melihat kepribadian Parto, dia juga tahu kalau Parto dibesarkan di panti ini. Sekarang Parto tinggal di kota, kebetulan satu kota dengan Hanna.
Mulai saat itu Hanna mulai suka dengan Parto. Hanna menyukai wajah tampan Parto, menyukai sifatnya, dan juga cara berpakaian Parto. Menurut Hanna keseluruhan diri Parto terlihat energik.