
Roy mengenal Hanna sejak Hanna duduk di bangku sekolah menegah pertama. Sebuah kebetulan tapi membekas dihatinya.
Dia masih ingat ketika Hanna melompati pagar sekolah setinggi dua setengah meter. Hanna masih mengenakan seragam sekolah tingkat pertama. Rambutnya diikat ekor kuda dengan tas dipugungnya.
Roy terkejut dengan penampakan Hanna yang tiba-tiba. Seorang siswi sekolah elite bolos sekolah dengan melompat pagar. Gadis itu cukup berani dan berbakat.
Roy yang dari tadi berdiri di ujung gang tertegun sampai tidak bisa mengabaikan Kehadiran Hanna.
Roy melihat lutut gadis itu terbentur aspal, kakinya yang putih ternoda merah darah. Hanna tidak menangis ataupun mengeluh, dia langsung berdiri tegak melihat ke arahnya.
Hanya minta tolong padanya untuk membantu mencari kakak perempuannya.
Waktu itu dia juga sedang mencari seseorang makanya dia mengabaikan Hanna.
Tapi Hanna tidak peduli, dia terus mengikuti Roy, membuat Roy sakit kepala.
Alosia, nama orang yang dicari Hanna, namanya sama seperti orang yang sedang dia cari, ciri-cirinya juga sama.
Roy tidak punya pilihan lain, dia membiarkan Hanna setiap hari mengekor padanya ketika mencari Aloysia
Kuncoro mengetahui apa yang dia kerjakan kemudian mengancam akan memberitahu ayahnya bahwa ia mencari perempuan miskin. Dengan karakter ayahnya yang tegas dan kejam dia bisa mendapat masalah besar. Bukan hanya dia yang akan kena masalah, Alosia dan Hanna bisa terseret dalam masalah.
Demi keamanan Hanna dan Aloysia, Roy menjauh dari Hanna dan mencari Aloysia secara diam-diam.
" Pimpinan Sinar mas tidak bisa menjaga pasangan kencannya tapi malah asyik sama calon Ipar. Menurutmu mana yang lebih menarik? " Roy tahu bahwa Stella merupakan pacar Kuncoro. Berita yang merugikan Stella, Kuncoro tidak akan membiarkannya.
" Berapa kali kamu meminta Stella untuk meninggalkanku? Berapa kali kamu ditolak. Sudah jelas posisi kamu di matanya " Roy melanjutkan ucapannya sambil menyeringai
" Kamu yang mengancamnya bukan? " Kuncoro
Dari tadi dia dalam suasana hati buruk karena Hanna. Sekarang Roy juga mencari masalah dengannya.
Rupanya dia harus memberi pengertian kepada Hanna tentang mana orang yang bisa disentuh dan mana yang tidak bisa disentuh.
" Tidak ada paksaan dan tidak ada ancaman. Terserah kamu percaya atau tidak " Roy dengan nada acuh
" Kirimkan alamatnya sekarang! Kamu segera jemput Stella. " Kuncoro
Roy menutup panggilan. Kemudian mengirim alamat pada Kuncoro.
Kuncoro dengan emosi meninggalkan Hotel Starlight.
Di depan toko Daina colection, Hanna mengibaskan bajunya yang basah terkena air hujan. Walaupun tidak sampai basah kuyup tetap saja tidak nyaman. Hanna mendorong pintu toko, baru saja masuk ponselnya berdering.
" Hallo. " sapa Hanna dengan ceria
" Kamu dimana? " Parto di ujung telepon
" Diana colection. " Hanna
__ADS_1
" Yang ada di jalan Patimura? " Parto mengisap ringan rokoknya kemudian menghembuskan ke udara, asap putih mengaburkan ekspresi wajahnya.
" Iya. Kamu ada di sekitar sini? " Hanna menghentikan aktivitasnya. Kalau memang Parto di sekitar sini bisa jadi dia melihatnya turun dari mobil Roy
" Iya " Parto juga tidak menyangkal
" Aku menghadiri perjamuan tapi mendapat kejadian tidak menyenangkan sehingga perlu pulang awal. Kebetulan kak Roy mau mengantar pulang. Aku meminta dia mengantar sampai sini karena aku berencana menemuimu. " Hanna menjelaskan
Parto mengisap rokoknya dalam
kemudian memuntahkan kepulan asap ke udara. Tidak tau apa yang sedang dia pikirkan. Sikapnya tenang seolah tidak tergoyahkan.
" Sudah selesai? " Parto
Hanna mengambil sebuah longdress berlengan panjang. Membawanya ke kasir lalu membayarnya.
" Aku lagi mau membayar. Kamu bisa kesini kapan saja" Hanna
" Baiklah" Parto
Hanna menutup panggilan kemudian mengambil paperbag dari tangan kasir. Setelah itu dia menganti bajunya yang basah dengan baju yang baru.
Dia memasukkan baju lama ke dalam paperbag kemudian membawanya keluar toko.
Hujan sudah reda ketika ia keluar, menyisakan genangan air. Udara dingin menerpa wajahnya namun ia tetap tersenyum ketika mendapati Parto berdiri tidak jauh darinya.
Perasaan senang seperti ini selalu ia dapatkan ketika bersama dengan Parto. Ia akan menjadi pribadi yang bebas.
Kaki Hanna menginjak genangan air menciptakan cipratan kecil dan mengotori sepatunya.
Hanna mengulurkan tangannya, memeluk pinggang Parto kemudian mendongak menatap wajah tampan Parto.
" Sudah puas melihatnya? " Parto melepaskan pelukan Hanna. Ia tidak ingin orang lain berfikir yang buruk tentang gadis di depannya ini. Melihat ini adalah tempat umum, banyak orang yang lewat dan melihat.
Ketulusan Hanna padanya ia sangat faham. Tidak ada yang lebih tau dari dirinya. Dia menjaga Hanna seperti menjaga permata, merawatnya dengan hati-hati supaya tidak rusak. Permata itu miliknya tidak ingin dimiliki orang lain.
"Tidak akan puas" Hanna menggeleng seperti anak kecil. Sangat imut dan mengemaskan.
Parto tertawa puas kemudian mengandeng Hanna menyusuri trotoar. Tidak ada saat yang lebih indah dari saat ini.
" Sudah siap hidup bersamaku dalam keadaan apapun? " Parto berbicara pada Hanna sambil menggenggam erat tangannya.
Ia sangat yakin Hanna tidak akan menolaknya, tapi tetap saja ia merasa gugup.
Hanna tersenyum manis padanya. Sikap Hanna malah membuatnya semakin gugup.
" Hidup bersamamu dalam keadaan apapun?....." Hana mengerutkan dahi membuat Parto semakin gugup dengan pertanyaan balik dari Hanna. Akankah dia di tolak? Hatinya mencelos takut.
".... Aku sudah siap dari dulu. Kenapa baru mengatakan sekarang? Kamu sangat lambat! " Hanna melanjutkan kalimatnya. Ada keluhan, ketidakpuasan juga gembira dalam hatinya. Namun bagaimana bisa ia bicara jujur pada Parto. Bagaimana juga ia bisa menghadapi Parto kedepannya.
__ADS_1
Yang bisa di lakukan sekarang adalah menikmati setiap momen bersama dengan orang ini. Sebelum semuanya berjalan ke titik paling buruk.
" Baikalah aku yang salah. " Parto berhenti dan memeluk Hanna dalam diam. Membelai rambut Hanna dengan penuh perasaan.
Hanna melepaskan pelukan Parto. Mengajaknya berkeliling sebentar sambil bercerita tentang berbagai hal. Juga tentang pameran yang akan dia lakukan.
Parto mengoreksi beberapa perencanaan yang telah dibuat oleh Hanna dalam pamerannya. Memberinya sedikit saran untuk mempermudah pelaksanaan.
Mereka mengobrol seru, mungkin karena nyaman makanya betah berlama-lama.
Parto bukan pria yang tidak memiliki toleran, semakin dia sayang maka akan semakin toleran.
" Aku akan mengantar kamu pulang. " Parto mengengam tangan Hanna lalu menariknya berdiri.
Dengan enggan Hanna beranjak dari duduknya. Berdiri patuh disamping Parto. Sesekali memandang pria di sampingnya dengan tatapan sayang.
Perasaannya sudah tumbuh lama, bukannya memudar tapi malah tumbuh semakin dalam.
" Kalau kamu memandangku seperti itu terus jangan salahkan aku bila tidak sungkan lagi. " Parto
Parto merupakan pria normal seperti pada umumnya, dipandang seperti itu oleh orang yang dia sukai membuat hasratnya bisa tumbuh kapan saja. Bukan berarti dia pria mesum yang dengan gampang tergugah hasratnya. Dia masih punya pengendalian diri yang baik.
Hanna tersenyum malu mendengarnya. Kalau saja pria ini memakannya lebih dulu dia rela memberikan hidupnya. Dia merasa hidupnya memang ironis.
" Kamu berani? " Hanna menunjuk dada Parto dengan jari telunjuknya. Gerakan Hanna seperti mengetuk hati Parto.
" Kalau kamu bersikap seperti ini...." Parto menahan perasaan liar dalam hatinya. Dia menarik nafas dalam kemudian menghentikan taxi.
" Kita pergi sekarang " Parto
" Kemana? " Hanna menggoda parto dengan pandangan matanya.
Parto melihatnya seperti sedang mendapatkan ujian berat. Penampilan seperti dia saat ini mengingatkan dirinya pada sebuah film yang pernah dia lihat.
" Ke hotel" Parto memejamkan matanya sebentar kemudian mendorong Hanna dengan pelan untuk masuk taxi.
Mana mungkin dia membawa Hanna ke hotel. Menciumnya saja dia tidak pernah. Bukanya dia tidak berani, tapi lebih pada menjaganya.
Di dalam taxi dia menyebutkan alamat rumah keluarga Munaf kemudian dia bersandar di kursi dan memejamkan mata.
Mengontrol hati dan fikiran, itu yang dilakukannya sekarang.
Hanna menahan tawanya dengan senyum -senyum sendiri melihat tingkah Parto. Ini kali pertama Parto berani berkata fulgar dihadapannya. Dia tidak pernah membayangkan sebelumnya. Memikirkannya membuat wajahnya berubah menjadi merah karena malu.
Di depan rumah keluarga Munaf taxi berhenti. Pemandangan yang sama setiap kali Parto mengantar Hanna pulang, pagar besi bercat putih, halaman luas dan rumah megah
Parto tidak pernah membayangkan akan tinggal di rumah ini. Nanti ketika ia menikah dengan Hanna, dia akan mencari rumah sendiri.
" Masukklah, istirahat lebih awal. "pesan Parto
__ADS_1
Belakangan ini Hanna banyak kegiatan, untuk menjaga kesehatan dia butuh istirahat yang cukup.
Hanna menganguk mengiyakan. Nanti setelah sampai kamar dia ingin segera tidur. Tadi siang tidurnya terganggu sekarang dia berniat melunasi hutang tidurnya. .