Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
MEMBERIKAN PERTUNJUKAN PADA ANAK KECIL


__ADS_3

Hanna baru saja dari toilet ketika melihat anak kecil celingukan dengan wajah bingung. Dia yang awalnya ingin pulang setelah makan mengurungkan niatnya.


Hanna melangkah mendekati anak kecil itu.


" Ada yang bisa dibantu? " suara Hanna menarik perhatian.


Anak itu menoleh kemudian mengangguk tanpa sungkan.


" Siapa namamu? " Hanna


" Najwa " jawab anak itu dengan senyum ringan.


" Apa yang bisa kakak bantu? " Hanna sedikit membungkuk supaya bisa melihat wajah Najwa dengan jelas.


" Aku ingin ke toilet. Kakak bisa bantu tunjukkan tempatnya? " Najwa


Hanna melihat wajah cantik Najwa tanpa berkedip. Najwa juga memiliki penampilan menarik, membuat orang tidak bisa mengabaikannya.


" Ayo ikut kakak! " Hanna membimbing Najwa ke toilet, dia membiarkan Najwa masuk sendiri.


Melihat punggung Najwa menghilang di balik pintu, Hanna berbalik dengan ragu, dia berfikir Najwa akan kebingungan jika dia tinggalkan.


Di luar, di samping pintu, Hanna menunggu Najwa.


Sambil menunggu Hanna merenung, dia tidak habis pikir kenapa orang tua anak itu tega membiarkan Najwa berkeliaran sendiri.


Najwa keluar dari toilet, alangkah terkejutnya dia ketika melihat Hanna berdiri bersandar di dinding samping pintu.


" Sudah selesai? Tau jalan kembali? " suara Hanna memecah keterkejutan Najwa


" Sudah" Najwa


" Kamu baru pertama kali kesini? " Hanna


Najwa mengangguk dengan penuh keyakinan kemudian tersenyum manis pada Hanna. Selama berada di lingkungan baru dia merasa kepercayaan dirinya menghilang. Sekarang ada seorang bersikap baik padanya membuat ia merasa lebih nyaman.


" Kakak siapa nama mu? " Najwa mengulurkan tangannya.


Hanna menyambut uluran tangan Najwa dengan keterkejutan, tadi anak ini terlihat takut dan bingung sekarang lerlihat percaya diri.


" Rihanna Putri Munaf "


" Kak Rihanna? " Najwa


" Hanna! " Hanna mengoreksi panggilan yang di sebutkan oleh Najwa


Hanna mengelus rambut Najwa dengan pelan. Ia merasa anak ini sangat manis dan juga ramah


" Biarkan kakak mengantarmu, takutnya kamu tersesat seperti tadi " Hanna sekalian ingin melihat orang tua Najwa.


Najwa mengangguk mengiyakan walaupun sebenarnya ia ingat meja tempat ia makan. Ingatan Najwa tidak buruk, ia bisa mengingat dengan sekali lihat. Hanya saja ia tertarik dengan kakak satu ini. Kadang ia tidak bisa menghilangkan rasa penasaran terhadap sesuatu yang ditemuinya.


Najwa menyebutkan no mejanya, kemudian tangannya yang kecil digandeng oleh Hanna membuat Najwa tertegun.


Hanna melewati lorong dan barisan meja untuk sampai di meja yang disebutkan oleh Najwa.


Dari kejauhan Hanna melihat seorang wanita duduk bersandar di kursi dengan malas, posturnya yang sexy menarik perhatian orang yang lewat.

__ADS_1


Setelah melihat lebih dekat, tidak dipungkiri bahwa wanita itu sangat cantik, bahkan dia yang perempuan saja terpesona.


Tapi bagi Hanna, mau cantik, mau anggun, kalau menelantarkan anak tetap harus tetap ditegur.


Merasa ada yang mendekat, Amora memutar kursinya. Dia mengerutkan kening melihat Najwa kembali dengan bertambah satu orang yang tampak tidak bersahabat.


Amora tidak ambil pusing dengan sikap Hanna, dia tidak akan membuang waktu untuk hal sepele.


" Anda masih bisa bersantai di sini sedang anak anda tersesat? " Hanna terus terang tentang rasa tidak sukanya pada sikap Amora.


Najwa jadi tidak tenang dengan ucapan Hanna, ia ingin mengatakan sesuatu tapi tidak jadi karena di lihat oleh Amora dengan tatapan tajam. Dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari dua orang dihadapannya. Yang satu telah membantunya dan yang satu orang tua angkatnya. Kesalah pahaman ini terjadi karena dirinya.


" Dia hanya ke toilet " Amora dengan nada santai sambil melihat mata coklat tua milik Hanna.


Hanna mencibir tidak habis pikir kok ada orang tua sesantai ini terhadap anak sendiri.


" Dia baru pertama kali ke sini! Aku melihatnya kebingungan, sedang anda malah duduk santai disini. " Hanna kesal dengan sikap Amora


" Dia cukup pintar untuk mengurus dirinya sendiri " Amora melihat Hanna dengan sebuah keinginan.


Hanna dibuat geleng kepala oleh ibu satu ini. Dia menganggap tinggi anaknya atau karena tidak peduli.


" Sepintar-pintarnya dia, dia tetap anak anda. Harus didampingi, apalagi di tempat umum. " Hanna


Amora tersenyum sinis, bila orang lain yang berbicara seperti itu, mungkin sudah dia ***** sampai habis.


Amora menatap tajam ke mata Hanna. Sepasang mata yang jernih, tampak lebih hidup dan berani.


Tapi menyinggung orang juga harus mengerti kedudukan. Tidakkah Hanna mengerti hal dasar seperti ini.


" Dia baik - baik saja. Kamu ga perlu berisik " Amora


Kadang ia menggeleng pelan dengan sikap keduanya, kenapa orang dewasa bersikap rumit.


Najwa duduk di kursinya semula sambil melihat keduanya, dia merasa seperti menonton sebuah pertunjukan.


" Aku curiga anda bukan ibu kandungnya " ucap Hanna sambil menggertakkan gigi.


Amora tersenyum, senyum misterius. Dia dalam suasana hati yang baik saat ini, perkataan Hanna tidak membuatnya marah. Ucapnya terdengar seperti lelucon.


" Nona......? "


" Namanya Hanna " Najwa memberitahu nama kakak yang telah membantunya. Dia tersenyum senang ketika kakak cantik tidak mencari masalah dengan penolongnya. Dia tidak perlu merasa bersalah.


" ... Hanna, karena kamu sudah membantu Najwa, secara pribadi saya mengundang anda makan. " Amora mengakhiri perdebatannya.


Hanna tidak terpengaruh. Dia tidak bilang membantu Najwa, dia kesini untuk menegur orang tua Najwa yang tidak peduli pada anaknya. Eh ga taunya, endingnya dapat undangan makan.


" Tujuan saya ke sini memang untuk makan tapi saya sudah selesai. " Hanna dengan ketus, jelas kalau dia menolak.


Amora selalu memandang Hanna, tidak pernah lepas dari matanya, ada kerinduan samar yang dia tunjukkan dari sikapnya pada Hanna. Pedebatannya dengan Hanna mampu mengobati kekosongan jiwanya. Sikap Hanna yang dia anggap konyol mampu membuat dia tersenyum.


Dari semua yang ada pada diri Hanna, Amora paling menyukai mata Hanna, tidak ada niatan untuk melepaskannya.


" Saya bukan orang bodoh. Anda kesini untuk makan, saya tau. Undangan saya berlaku untuk lain hari. " Amora menjawab dengan enteng.


Seperti disiram air, cessss hati hanna mendingin. Orang ini memang pandai bicara, emosi yang stabil. Mungkin kalau dia seorang pria, dia adalah pria ganteng, cool, maskulin.

__ADS_1


Hanna menggelengkan kepala untuk menghilangkan pemikiran barusan. Tapi buat Amora, tindakan menggeleng Hanna adalah sebuah penolakan.


" Saya orang sibuk, tidak ada lain hari. " Hanna


" Benarkah? " Amora memicingkan matanya. Jelas dia tidak percaya.


Hanna memang bukan pekerja kantoran, kuliah juga baru saja kelar. Belum pernah membantu bisnis orang tuanya. Dia bukan orang yang sibuk.


" Saya sibuk dengan urusan saya sendiri " Hanna melanjutkan. Seharusnya dia tidak memakai alasan sibuk, menolak ya menolak saja kenapa harus pakai alasan. Tapi kata sudah diucapkan, tidak bisa ditarik kembali.


" Anda tidak bisa menolak" Amora


" Saya ga mau! Tidak ada kewajiban buat saya untuk menuruti anda " Hanna dengan tegas


Amora melipat kedua tangannya, mengamati Hanna secara menyeluruh. Keras kepala, lebih terus terang, dua hal yang ia tangkap.


" Saya tidak memaksa " Amora memutar kembali kursinya menghadap ke meja makan, mengabaikan Hanna.


Undangannya sangat berharga buat orang lain, tapi Hanna menolaknya. Perempuan ini bodoh atau tidak tahu situasi dan kondisi.


Pandangan Amora beralih pada Najwa, dia baru sadar kalau dari tadi dilihat oleh anak kecil, ia mengerutkan alisnya, terlihat tampak serius. Anak sekecil ini melihat drama barusan pasti membuatnya bingung. Dia ingin mengatakan sesuatu tapi Najwa mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Najwa memiliki pemikiran sendiri.


" Kak Hanna, kedepannya aku mungkin sendirian. Kalau Kak Hanna ada waktu.... Kita bisa makan bersama " Awalnya Najwa berkata sedikit takut, kemudian dia berkata dengan manja, membuat Hanna tidak bisa mengabaikannya.


" Kamu tidak sendiri, ada mamamu" Hanna berkata lembut pada Najwa.


" Banyak hal yang aku kerjakan. " Amora langsung menyahut dengan nada biasa tapi terdengar ketus buat orang lain.


Hanna menarik nafas dalam, dalam hati menyuruhnya untuk mengabaikan orang ini.


" Berapa no ponselmu? " Hanna mengeluarkan telepon genggam dari dalam tas sambil menarik nafas dalam-dalam.


"Dia tidak punya ponsel " Amora menjawab pertanyaan Hanna untuk kesekian kalinya.


Hanna mengerutkan alis, anak orang kaya mana mungkin tidak memiliki ponsel.


" Besok baru beli ponsel " Amora menyahut.


Hari ini ia mengadopsi Najwa, makan saja baru sempat sekarang, mana ada waktu untuk beli ponsel.


" Dasar! " Hanna menggerutu. Dia meraba-raba dalam tas, tapi tidak menemukan kertas dan bolpoin. Dia berniat menulis no ponselnya supaya besok kalau sudah punya ponsel, Najwa bisa langsung menelphonenya.


Hanna berfikir sejenak.


" Mana ponsel mu! " Hanna pada Amora.


Amora pura-pura tidak mengerti. Dia tidak terbiasa bermain ponsel di tempat umum, seperti biasanya ponsel tidak keluar dari dalam tas.


" Mana ponsel mu! " sekali lagi Hanna minta


Amora tersenyum menanggapi. Memang tidak tau malu, setelah marah tidak jelas, masih berani minta ponsel.


Amora mengambil ponsel nya dari dalam tas hermes, dengan malas menyerahkan ponsel kepada Hanna.


Ponsel keluaran terbatas dengan harga tinggi. Hanna mencibir dalam hati, sorang ibu dengan gaya mewah tapi anaknya tidak punya apa-apa.

__ADS_1


Hanna mengetik sederet angka kemudian melakukan panggilan. Tak lama kemudian ponsel nya bergetar, sudah terhubung. Dia mematikan panggilan kemudian mengembalikan ponsel pada Amora.


__ADS_2