
" Aku lapar! " ucap Hanna pelan masih dalam pelukan Parto ketika tangisnya mereda. Seharian kemarin dia tidak makan karena sibuk dengan lukisan yang dia buat. Kemudian bersiskusi lama dengan Lisa mengenai pameran yang akan dia selenggarakan. terus malamnya dikerjai Kuncoro habis-habisan.
Parto mendengar suara Hanna, dia mengurai pelan pelukannya. Memegang kedua bahu Hanna, tatapannya menelusuri wajah Hanna. Mata merah Hanna tampak sembab, ujung hidung merah juga alisnya berwarna merah samar, penampilan Hanna menusuk mata, membuatnya sakit hati.
Pernyataan cintanya membuat penampilan Hanna berantakan, kalau tahu begini dia tidak akan mengatakan perasaannya, lebih baik menjaganya dalam diam.
Parto cukup tahu diri, dia dan Hanna berbeda, Hanna anak orang kaya sedangkan dia anak yang dibesarkan di panti asuhan. keadaan yang membuat dia membiarkan Hanna berada disisinya tanpa memberikan harapan pada Hanna.
Sekarang dia telah bekerja, menjabat sebagai manajer, walaupun tidak bisa mengimbangi kekayaan keluarga Hanna, setidaknya dia mampu menghidupi Hanna dengan layak. Makanya dia memberanikan diri untuk memulai hubungan dengan Hanna, langkah awal berpacaran dulu.
Mengajak Hanna berpacaran juga membutuhkan keberanian besar, semalaman Parto tidak bisa tidur memikirkan apa yang akan dikatakan, beberapa aspek seperti kesenjangan sosial yang mengacu pada restu orang tua Hanna. Parto biasanya cuek, mudah dalam mengambil keputusan yang benar walaupun itu dalam keadaan sulit atau tekanan, namun untuk mengajak Hanna berpacaran mampu menghabiskan waktunya.
" Mau makan apa? " Parto
" Apa aja. Aku tidak pilih makanan. " Hanna
" Wajahmu kacau. Kamu punya kepercayaan diri untuk dilihat orang lain? " Parto
Hanna melihat Parto dengan mengedipkan mata, reflek dengan bibir manyun.
" Kamu malu berjalan dengan ku? " Hanna
" Hei bukan begitu! Aku udah bilang terima kamu entah itu baik atau buruk. Aku akan sakit hati kalau mereka mengatai kamu. " Parto
Hanna tersenyum ringan, sangat ringan sampai bisa terhempas angin dan masuk ke dalam hati Parto. Terpesona, kata itu yang pas menggambarkan perasaan Parto.
" Ucapanmu terdengar sedang menggombaliku. " Hanna masih dengan senyumnya. Bersama dengan Parto membuatnya mudah tersenyum, selalu dalam suasana hati baik. Walaupun sering diabaikan namun selalu merasa aman.
" Ah tidak juga. Aku masih perlu banyak belajar soal menggombali perempuan. " Ucap Parto ringan.
" Katakan sekali lagi! " Jiwa posesif Hanna dalam mode on mengingat sekarang dia telah menjadi pacar Parto.
Parto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dengan senyum mengembang dia melihat Hanna.
Sosok Parto yang bermandikan sinar matahari menghangatkan hati Hanna.
" Bukankah kamu perempuan. Aku perlu banyak belajar supaya bisa membujuk ketika kamu marah. Salah satunya dengan mengombalimu. " Parto
" Ya memang aku perempuan. Tapi bukan berarti mudah digombalin. " Hanna melebarkan matanya, pura-pura marah.
" Aku tahu, kamu tidak mudah digombalin Aku lebih tahu dari siapapun. " Ucap Parto sambil mengusap ringan ujung kepala Hanna dengan perasaan mendalam.
" Kita cari tempat makan sekarang. " Lanjut Parto tidak ingin menggoda Hanna lebih lama, meskipun itu seru.
Setelah berbincang sebentar, keadaan Hanna menjadi lebih baik, bebannya lebih ringan, bahkan dia tersenyum lebih sering.
Perubahan Hanna dapat dirasakan oleh Parto membuat Parto tersenyum puas.
" Ayo! " Hanna
Parto menhgandeng Hanna, jari-jari mereka saling terpaut. Hanna melihat tangannya yang digandeng oleh Parto kemudian tatapannya beralih ke wajah Parto. Ada keterkejutan di hati Hanna, Parto berinisiatif memegang tangannya, setelah sekian tahun, betapa bahagianya dia.
" Kenapa? Tidak boleh? " Parto memperhatikan gerakan Hanna dari tadi.
" Siapa bilang. Ayo. " Hanna melangkah duluan karena malu.
Meskipun melangkah duluan dia tidak bisa jauh dari Parto yang menggenggam tangannya.
Disebuah warung bakso, di seberang taman, Parto membawa Hanna kesanna.
Warung bakso bang Kumis selalu ramai oleh pelanggan, selain tempatnya bersih dan luas, rasanya juga enak.
__ADS_1
Di meja paling pojok, Hanna dan Parto duduk saling berhadapan.
Hanna menoleh kakanan dan kekiri dengan gelisah sedang Parto duduk tenang, bersandar di kursi sambil melihat Hanna.
" Kamu kenapa? " Parto
" Tidak apa-apa. " jawab Hanna sekenanya.
" Lalu kenapa gelisah? " Parto tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Hanna.
Hanna mendesah sebelum menjawab, " Kamu melihatku seperti itu, membuatku canggung. "
" Bukankah selama ini kamu ingin aku memperhatikanmu? " Parto berkata datar
Hanna membuang nafas kasar, perkataan Parto seratus persen benar, tapi bukan berarti dia bisa seenaknya membuli dirinya.
" Tidak lucu. " Hanna ingin protes panjang lebar namun dua kata itu yang keluar dari mulutnya.
" Menurutku kamu lucu. " Parto suka mengisengi Hanna, memberikan kepuasan tersendiri untuknya.
" Aku tidak lucu tapi cantik. " Hanna menolak pemikiran Parto. Dia bukan badut, bukan mainan, bukan peliharaan, mana ada kata lucu.
Parto langsung tertawa sampai beberapa pengunjung menoleh padanya, namun dia mengabaikan tatapan semua orang.
" Dapat kepercayaan diri darimana kamu? " Tanya Parto setelah tawanya mereda.
" Kenyataannya memang aku cantik. Walaupun tidak populer tapi aku memiliki pesona tersendiri. " Hanna mengibaskan rambutnya dengan gaya menyombongkan diri.
" Benarkah? " Parto
" Aku bicara fakta. Teman kuliahku ada yang bilang begitu. " Hanna teringat pada dua teman laki-lakinya yang pernah menyatakan cinta padanya, meskipun dia tahu bahwa mereka dalam keadaan bercanda waktu itu.
" Laki-laki atau perempuan? " Parto
" Peristiwa sudah berlalu, aku tidak akan perhitungan denganmu. " Parto tampak berlapang dada namun dalam hati dia tidak akan memberikan celah untuk pria lain menggoda Hanna.
Hanna tersenyum melihat Parto dengan ekspresi tidak percaya, meragukan ucapan Parto bahwa dia tidak terpengaruh.
" Jangan coba-coba memikirkan laki-laki selain aku! " Parto berkata datar namun syarat akan makna. Dia tidak suka Hanna membicarakan pria lain saat bersama dengannya.
Hanna semakin melebarkan senyumnya, sikap Parto termasuk posesif, katanya pria yang posesif berarti sangat mencintai kita.
Namun permintaan Parto dia tidak bisa memenuhi, dalam hidupnya sampai sekarang, ada dua pria yang selalu ada dalam pikirannya, Parto dan Tuan Munaf. Dia tidak akan bisa kalau disuruh memilih salah satu.
" Mana bisa begitu. Jangan lupa dalam hidupku ada pak Munaf. Selain kamu, laki-laki lain yang aku pikirkan adalah dia. Tidak ada dia, maka tidak ada aku saat ini. " Hanna
Parto melihat Hanna Tajam, perempuan didepannya memang tidak bisa diajak bicara, dia mengatakan dengan jelas, Tapi pikiran Hanna menyimpang.
" Kenapa melihatku seperti itu? Kamu tampak menakutkan. " Hanna
" Kamu berani... "
" Mbak, mas, ini pesanan anda. " Parto belum selesai ngomong sudah disela oleh pelayanan yang mengantar pesanan.
Parto mengangguk mempersilahkan pelayan meletakkan pesanan di meja.
Hanna melihat mangkok didepannya dengan mata berbinar. Dia semakin lapar, tidak tahan untuk segera menghabiskan bakso didepannya yang masih mengepul asap putih tanda masih panas.
Hanna menambahkan saus, kecap, dan sambal kemudian mengaduk sampai rata. Menggunakan garpu untuk mengambil mie, sedikit digatung lalu ditiup sebentar kemudian dimakan dalam keadaan hangat, cara makan bakso seperti ini sangat nikmat. Hanna menikmati setiap suapan yang dia buat.
" Aku tidak main-main dengan ucapanku. Jangan coba-coba berhubungan atau kabur dengan laki-laki lain. Meski ke ujung dunia aku akan menemukanmu! " Parto sambil membubuhkan saos, kecap, dan sambal kedalam baksonya kemudian mengaduk pelan.
__ADS_1
" Aku tahu. " Hanna menjawab sambil menunduk memakan baksonya.
Parto mengamati gerakan makan Hanna sambil mengerutkan dahi, Hanna makan dengan lahap, baru beberapa menit mangkuk Hanna berkurang setengah.
Kalau dia yang kelaparan itu wajar, mengingat dirinya kalau ga berusaha ga dapat makan. Tapi Hanna kan berbeda, apakah dia tidak dikasih makan oleh orang rumahnya?.
Parto tidak bergeming melihat Hanna makan dengan khusyuk, meskipun sesekali Hanna mendongak melihatnya.
" Enak? " Pertanyaan Parto membuat Hanna mengangkat wajahnya. Menjawab Parto dengan anggukan karena masih ada sebutir bakso dimulutnya.
Parto menarik nafas panjang kemudian membuangnya dengan kasar. Gerakan sederhana Parto menarik perhatian Hanna, dia berfikir sebentar sambil melihat ke arah Parto. yang tampak tidak senang, " apakah dia melakukan kesalahan? " batinnya.
Parto menarik mangkuk Hanna dan menggantinya dengan mangkuknya yang masih utuh. Gerakannya tidak disadari oleh Hanna, karena dia melakukannya dengan hati-hati, saat Hanna teralihkan perhatiannya.
" Cepat makan! kenapa masih bengong? " Parto
Hanna tersadar dengan ucapan Parto Kemudian dia melanjutkan makannya dengan tidak fokus.
" Tentang jawabanku tadi. Kamu marah padaku? " Hanna mengingat urutan percakapan mereka, lalu dia menyimpulkan ada satu poin yang perlu diluruskan.
" Tidak juga. " Parto
" Lalu kenapa mukanya seperti itu? " Hanna menunjuk wajah Parto dari jarak jauh sambil makan.
Parto menarik nafas panjang dengan ekspresi tidak berubah, Hanna memang selalu sensitif, gerakan sederhanapun dia memperhatikan.
" Kamu selalu perhatian pada semua orang? " Parto
" Hah apa? Tidak juga, cuma kadang melihat secara tidak sengaja. Tidak berniat memperhatikan. Aku hanya berfikir lebih mudah membaur ketika kita mengetahui situasi. " Hanna mengatakan dengan ringan tentang bagaimana dia bersosialisasi dengan lingkungan baru.
" Bukan itu yang aku maksud! Jagalah jarak dengan teman Laki-laki, katakan pada mereka kalau kamu sudah punya pacar. " Parto tidak bisa mengendalikan rasa posesifnya. Sifat Hanna sederhana, pengertian, welcome, membuat orang betah bersama dengannya, hal ini yang membuat Parto khawatir. Kekhawatirannya membuatnya menjadi konyol, dan serasa gila.
" Aku tahu maksudmu. Kamu sering meledekku karena sering menempel padamu. Tidakkah kamu melihat ketulusanku? Hentikan pemikiran burukmu padaku. Aku tahu kamu sedang cemburu. Tidak enak bukan rasanya? " Hanna menyimpulkan apa yang dirasakan oleh Parto sedari tadi dari semua pertanyaan dan tindakannya yang absurd.
Parto tersenyum ringan, perkataan Hanna ada benarnya. Dia menjadi tidak masuk akal gara-gara ada teman kuliah Hanna yang mengatakan Hanna cantik, bahkan dia belum tahu bahwa yang mengatakan itu laki-laki atau perempuan. Meskipun dia sangat yakin bahwa yang mengatakan adalah seorang laki-laki.
" Aku tidak. Aku memiliki pemikiran yang logis. " Parto kembali ke dirinya semula setelah Hanna menyadarkannya. Pemikiran buruk akan merusak segalanya, dan Hanna, dia percaya padanya.
Dengan pemikiran positif, Parto tersenyum cerah, apalagi melihat Hanna telah menghabiskan mangkok keduanya.
" Sudah kenyang? " Tanya Parto ketika Hanna mengelap bibirnya dengan tisu.
" Sudah. " Hanna berkata polos kemudian melihat dua mangkok yang ada dihadapkannya.
" Ya dua mangkuk. " Parto
" oh.. iya dua mangkuk. " Hanna tidak membantah.
Parto menghabiskan minumannya, sambil melihat Hanna, pacarnya memang selalu bersikap apa adanya.
Mengetahui Hanna sudah kenyang membuat Parto puas.
" Ada yang ingin aku katakan padamu. " Hanna perlu meluruskan apa yang tadi mengganjal pikiran.
Parto mengedikan dagu sebagai tanda mempersilakan.
" Dikemudian hari, Jangan suruh aku memilih antara kamu dan Pak Munaf. Aku tidak bisa melakukannya. " Hanna menyadari dalam hubungannya dengan Parto tidak akan lepas dari campur tangan Pak Munaf.
Parto tidak langsung menjawab, wajahnya berubah muram. Yang dia pikirkan semalam juga tentang hal ini, Tuan Munaf, ayah dari Hanna, dia sudah mengumpulkan banyak informasi tentangnya.
Sedangkan untuk permintaan Hanna....
__ADS_1
" Aku akan berusaha. " Jawab Parto