
Hanna melewati banyak orang untuk mencari Kuncoro. Kemudian dia naik ke lantai atas, saat nenaiki tangga dia berpapasan dengan dua orang perempuan yang sedang asyik berbincang. Hanna bergeserkiri untuk memberi jalan pada kebuanya. Namun belum sempat dia begerak, orang didepannya lebih dulu menyenggol tubuhnya. Hanya tidak berpegangan apapun, dia juga mengenakan sepatu hak tinggi, disenggol hampir separo badan membuatnya hilang keseimbangan. Tangannya terulur berusaha meraih pegangan tangga namun tidak keburu. Seketika otaknya kosong, jantungnya berdegub kencang. Dia memejamkan mata bersiap menerima sakit dan malu karena jatuh terguling.
Detik berikutnya dia merasa sebuah tangan besar menopang tubuhnya. Sakit yang dia tunggu tidak datang, Hanna membuka matanya perlahan. Seorang pria tampan memeluknya. Hanna buru-buru berusaha melepaskan diri. Pria tampan itu merasa tidak enak dengan sikap Hanna. Dengan canggung dia melepaskan pelukannya.
" Maaf. Saya hanya bermaksud membantu tidak lebih. " katanya sopan
" Terimakasih banyak. Kalau bukan karena bantuan anda, saya pasti sudah jatuh. " ucap Hanna dengan malu.
Pria itu mengangguk, kemudian keduanya diam.
Keributan di tangga menarik perhatian banyak orang. Yang dilantai atas dan di lantai bawah berkerumun untuk menonton. Hanna pikir mereka memperhatikan dirinya, namun ternyata dia salah. Tatapan mereka tertuju di kaki tangga.
Hanna melihat dua orang perempuan jatuh di tangga dengan Posisi yang ga enak dilihat. Perempuan itu jatuh tengkurap dengan rambut berantakan, gaun yang dikenakan juga tersingkap memperlihatkan pahanya yang putih.
Hanna mengenali perempuan yang terjatuh di kaki tangga dari baju yang mereka kenakan, mereka adalah perempuan yang baru saja menabraknya.
" Dia bagaimana bisa jatuh? " Hanna bertanya pada Rendy
Pria itu mengangkat kedua bahunya dengan acuh, memberi isyarat bahwa dia tidak ingin banyak komentar.
Pada kenyataannya, tadi sewaktu pria itu barlari ke arah Hanna tanpa sengaja kaki pria itu mengenai sepatu hak tinggi perempuan berbaju biru. Perempuan itu tidak punya persiapan sehingga oleng dan meluncur bebas di tangga. Naasnya, posisi jatuhnya ga enak dilihat dan hampir menimpa tamu kehormatan yang tak lain adalah pemilik Good of tec.
Untungnya perempuan berbaju merah yang ada di samping tamu kehormatan segera memegang pundak tamu kehormatan.
Pemilik Good of Tec merespon dengan cepat, ia berhenti tepat waktu dan hasilnya, wanita berbaju biru jatuh tersungkur di depan kakinya.
Penyelenggara acara tidak lain adalah pemimpin Bio Tec cabang bernama Robert. Robert tidak senang dengan kejadian ini, fia segera menyuruh orang untuk membereskan dua wanita bermasalah itu kemudian menghadap tamu istimewanya untuk meminta maaf.
Dua perempuan itu meronta saat ditarik paksa oleh petugas. Keanggunan mereka hilang diantara teriakan dan rengekan. Perempuan berbaju biru mengatan tidak sengaja membuat masalah, mereka adalah korban, Dia jatuh dari tangga seharusnya di tolong bukan diseret. Disela keributan yang mereka buat, mereka memandang Hanna dengan penuh kebencian. Kalau saja Asisten Rendi tidak ikut campur, rencana mereka pasti berhasil. Mereka tidak menyangka asisten Rendy mau keluar untuk membantu Hanna, padahal setahu mereka Asisten Rendy tidak tertarik dengan hal semacam ini.
Perempuan berbaju biru mengutuk dan mengucap sumpah serapah dalam hati.
Dua perempuan itu minta tolong pada orang yang hadir namun tidak ada yang membantu. Intinya, mereka yang hadir tidak berani menyinggung Bio Tec. Ketika dua orang itu telah pergi perjamuan dilanjutkan. Suara gunjingan di belakang tidak dapat dihindari, ada yang menyalahkan dua perempuan itu namun ada juga yang kasian. Kejadian itu merupakan kecelakaan, mereka merupakan korban.
__ADS_1
Ada juga yang membicarakan Hanna, bergosip tentang hubungannya dengan asisten Rendy, padahal dia datang bersama dengan direktur PT, Sinar Mas.
Berbagai asumsi bermunculan tidak terkendali, seperti bola biliar, sekali pukul bola begerak liar.
Bio Tec dan Good of Tec adalah dua perusahaan raksasa. Bio Tec mengundang Good of Tec dalam acara perjamuan ini sebagai bentuk persahabatan kedua pemiliknya. Hal ini menjadi pemandangan yang luar biasa bagi dunia bisnis.
Hanna yang masih berada di tangga berusaha mencerna kejadian barusan. Bisa dibilang kejadian barusan merupakan kejadian beruntun.
Kalau diingat lagi, tadi dia sempat menghindar cuma perempuan itu tidak melepaskannya. Dia merasa beruntung dapat bantuan tepat waktu dan perempuan itu menuai karma secara kilat.
" Saya Hanna. Siapa nama anda? " Hanna memperkenalkan diri. Dia tidak mungkin mengabaikan penolongnya.
" Rendy. Berhati hatilah di lain waktu! " ucap asisten Rendi kemudian kembali pada rombongannya.
Hanna melihat asisten Rendy berbincang dengan sekelompok orang dibawah. Dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas setelah Rendy selesai bicara sekelompok orang itu di bimbing oleh tuan Robert menuju privat room di lantai atas.
Hanna masih berada di tangga ketika rombongan orang penting itu naik. Dia menepi sampai bersandar pada pegangan tangga.
Yang membuatnya terkejut adalah perempuan berbaju merah yang berada di depan Rendy. Bukannya dia perempuan yang waktu itu dia temui di restoran seafood
Amora mengabaikan dirinya seolah mereka tidak pernah betemu. Wajah tenang Amora terlihat acuh.
Hanna meralat pemikirannya, dia tidak kenal juga tidak tau namanya, hanya pernah bertemu sekali. Apalagi pertemuannya dengan Amora dalam situasi yang tidak baik.
Hanna menaiki tangga setelah rombongan itu telah menghilang. Dia melanjutkan mencari Kuncoro.
Kejadian barusan menjadi perbincangan hangat di kalangan para tamu.
Di sebuah sudut, Kuncoro sedang berbincang dengan Stella. Dia baru berpisah dari rekan kerjanya kemudian bertemu dengan Stella. Melihat Stella ia teringat dengan perlakuan manisnya pada Roy. Hanna yang membawanya pergi dari pertemuan tidak menyenangkan itu.
Hubungannya dengan Stella sekarang menjadi rumit.
" Kamu marah sama aku? " Stella memandang fitur wajah Kuncoro yang tampan. Kalau saja Kuncoro pulang lebih awal, dia tidak akan terjerat dengan Roy. Muncul penyesalan di hatinya.
__ADS_1
Kuncoro melihat Stella dengan tatapan tajam. Iris matanya hitam seperti pusaran tak berdasar membuat Stella sedikit gugup.
Dulu setiap dia bicara, Kuncoro selalu mendengakan. Tidak peduli suka atau tidak, kepentingan dia yang diutamakan.
" Atas dasar apa aku marah? " Kuncoro bersikap tenang. Tidak terlihat apa yang sedang ia rasakan.
Stella memasang wajah sedih, ia tidak rela melepaskan Kuncoro, tapi juga tidak bisa meninggalkan Roy.
" Maafkan aku. " jawab Stella pelan
Kuncoro tersenyum tidak menunjukkan ekspresi apapun mendengar ucapan Stella.
" Kamu maunya apa? " Kuncoro dengan tatapan menyelidik
" Aku tidak bermaksud menyakitimu. " Stella
" Jelas-jelas kamu menyakitiku. Kalau kamu mau aku memaafkanmu maka tinggalkan Roy sekarang juga " Kuncoro dengan tegas. Melihat Stella mengandeng Roy membuat emosinya memuncak.
Stella tergagap, dia tidak bisa mengatakan pada Kuncoro kenapa dia tidak bisa meninggalkan Roy. Selain investasi pada perusahaan ayahnya ada satu hal lagi yang tidak bisa ia ungkap.
" Aku mohon, jangan menyulitkanku. Aku mau tidak ada kebencian diantara kita. " Stella
Kuncoro belum memberikan jawaban. Ia mengedarkan pandangannya, sepintas ia melihat bayangan Hanna. Ketika ia menoleh ke arah tangga, ia melihat Hanna sedang berjalan Naik dan dua perempuan berjalan turun.
Melihat Hanna hatinya merasa tidak nyaman. Benar saja seorang menabrak Hanna sampai kehilangan keseimbangan. Hati Kuncoro mencelos karena panik. Ia segera bergerak tapi lengannya di tahan oleh Stella.
" Dia sudah aman" Stella mengarahkan pandangan ke arah tangga.
Kuncoro menoleh, ia melihat Hanna berada di pelukan pria lain. Asisten pribadi pimpinan Bio Tec, Rendy. Kuncoro menggertakan gigi ingin segera menghampiri Hanna lalu menyeretnya pulang.
" Dia terlalu cantik sampai asisten Rendi tertarik untuk menolongnya. " Stella kecantikan Hamba. Tapi kata tertarik dalam ucapannya membangun persepsi lain di pikiran Kuncoro.
Kuncoro menepis tangan Stella kemudian melangkah pergi dari sana. Ia meningalkan kerumunan yang menonton pertunjukan.
__ADS_1
Stella segera menyusul Kuncoro.
Kuncoro tidak tahu kalau insiden itu terjadi karena Hanna mencari dirinya. Hatinya telah tersulut api, dia butuh waktu untuk meredakannya.