Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
24UNDANGAN MAKAN SIANG NAJWA


__ADS_3

Hanna tersadar dari lamunannya. Kejadian dimana dia dan Parto ketemu sudah sangat lama, namun dia masih mengingat setiap detailnya.


Hanna membasuh lagi wajahnya dengan air dingin kemudian mengambil sikat gigi. Menggosok gigi sambil becermin.


Usai sikat gigi hanna mandi. Walaupun tidak ada kegiatan pagi ini, setidaknya ia dalam keadaan bersih dan wangi.


Setelah berbenah, hanna turun untuk sarapan.


Waktu sudah tidak pagi ketika Hanna turun ke bawah, dia terlalu santai hari ini. Saking santainya dia melewatkan sarapan bersama orang tuanya. Rasa rindu menyelimuti hati Hanna, dia lupa kapan terakhir sarapan bersama ayah dan ibunya.


Pengurus rumah segera memanaskan lauk ketika melihat Hanna memuruni tangga.


Hanna duduk di meja makan sendirian, melihat punggung pelayan yang sibuk dengan pekerjaannya.


" Pama mama berangkat jam berapa bi? " Hanna sebenarnya hanya ingin mencari teman bicara. Menjadi anak tunggal membuatnya lebih mandiri, tidak ada saudara untuk diajak diskusi, tidak ada saudara yang diajak bercanda.


" Mereka berangkat pagi-pagi. Belakang ini mereka tampak sibuk. " pengurus rumah sambil menata menu di hadapan Hanna.


Hanna memandang sekilas hidangan di depannya, dia berharap ada Parto menemani saat ini.


Hanna membalik piring kemudian mulai makan. Di meja makan hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu, itupun sangat pelan.


Suasana hening, apalagi Hanna memiliki pembawaan yang tenang. Rumah sebesar itu terasa sepi.


Hanna naik ke atas setelah selesai sarapan. Sampai di kamar, ia duduk di sofa dengan malas kemudian mengambil ponselnya. Hal pertama yang dilakukan Hanna adalah


mencari berita tentang perusahaan Munaf. Pagi ini saham perusahaan Munaf stabil. Hanna bahagia, dia merasa lega sekarang. Saat ini Hanna bisa fokus dengan pameran lukisan miliknya .


Baru ingin menghubungi Lisa, ponsel Hanna berbunyi, dan itu panggilan dari orang yang ia temui di restoran seafood.


" Ada apa? " Hanna


Dia ingat kemarin waktu di perjamuan, wanita itu tidak mengenalnya, bahkan ia melewati dirinya saat berpapasan di tangga. Tapi sekarang wanita itu malah menghubungi dirinya. Keluhanya semalam berubah menjadi rasa kesal.

__ADS_1


" Nyonya CEO berkenan menghubungi orang kecil seperti saya. Apa dunia mulai terbalik ?" Hanna menyindir setelah beberapa saat tidak ada suara di balik telepon. Hanna ingat gaun malam yang dikenakan Amora merupakan edisi terbatas, dan tas hermes yang ditenteng senilai ratusan juta. Keseluruhan visualnya menunjukkan status sosial tinggi.


" Kakak baik ini aku. "


Hanna yang tadinya duduk malas di sofa, kini duduk tegap. Dia mengenal suara anak kecil di telepon.


" Najwa? Ada apa? " nada suara Hanna berubah lembut mengingat wajah imut Najwa.


" Aku ingin mengundang kakak makan siang. Kakak ada waktu? " Najwa menjawab pertanyaan dari Hanna. Sesekali ia melirik pada sosok besar dihadapannya yang menjulang seperti patung liberty. Sosok itu sedang melihatnya dengan pandangan dingin.


Amora memperhatikan Najwa dengan seksama. Dia belum pernah bertemu dengan anak kecil yang suka menempel padanya. Orang dewasa saja takut padanya apalagi anak kecil.


Sedangkan anak kecil satu ini seperti parasit yang menempel kemanapun ia berada hanya untuk bisa berbicara dengan Hanna.


Najwa tidak merengek ataupun menangis seperti anak kecil lainnya saat minta sesuatu. Najwa hanya mengucapkan sekali tapi cara dia mendapatkan apa yang diinginkan lebih ngeselin dari pada anak yang menangis.


Amora di ruang tamu, najwa menyusulnya ke ruang tamu. Amora ke ruang kerja, Najwa membantu merapikan meja kerjanya. Anak sekecil itu dapat melakukan pekerjaan orang dewasa.


Akhirnya dengan berbagai pertimbangan Amora menghapiri Najwa. Berdiri di sebelah Najwa untuk mendengar apa yang ingin dikatakan Najwa pada Hanna.


" Kalau siang bisa. Tapi tidak bisa berlama-lama soalnya nanti sore kakak ada urusan. " Hanna sambil menggosok hidungnya yang gatal. Tadi mau bersin tapi tidak bisa, dan rasanya tidak nyaman.


" Makan siang saja kok." Najwa menjawab. Tatapannya yang tadinya berbinar berubah murung. Najwa sedikit kecewa karena Hanna tidak bisa menemani dia lama. Padahal dia sudah berusaha keras untuk bisa berbicara dengannya menggunakan ponsel kakak cantik.


Baru berapa hari tinggal di rumah kakak cantik Najwa merasa bosan. Tidak ada teman diajak bercanda, tidak sekolah. Lama -lama dia bisa mati bosan. Di rumah ini, semua orang memperlakukan dirinya dengan baik tapi tidak ada yang mau bermain dengan dirinya.


Apalagi kalau kakak cantik pergi, semua orang sibuk dengan pekerjaan mereka, seolah mereka akan dihukum bila tidak mengerjakan sesuatu.


Sebagai satu satunya anak kecil di rumah ini dia hanya bisa mengelilingi halaman, tidak bisa keluar karena pagarnya terlalu tinggi. Di gerbang juga ada penjaga, tidak pernah mengizinkannya keluar.


Amora berdehem, tanpa sadar Najwa meliriknya. Tatapan yang sama, menakutkan, batin Najwa. Kakak cantik jarang tersenyum, sekali tersenyum bukannya cantik malah terlihat menakutkan seperti iblis cantik yang menargetkanmu.


Walaupun menakutkan tapi dia tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya pada kakak cantik. Dia ingin hebat seperti dirinya.

__ADS_1


" Dimana kita bertemu? " Hanna


Najwa bingung, dia memang mengundang Hanna tapi tidak terpikirkan olehnya tempatnya. Lagipula dia tidak mengenal daerah sini. Dia diam beberapa saat dalam kebinggungan.


" Kamu belum menentukan tempatnya? " Hanna mengusap pelipisnya setelah lama tidak ada jawaban. Kalau tidak mengingat tampang imut Najwa dia akan menolak sekarang juga.


" Kakak saja yang pilih " Najwa


" Di tempat kemarin kita bertemu saja. Oke? " Hanna


" Baiklah. " Najwa berkata


" Kakak tutup telphonenya. Bye" Hanna berniat mengakhiri telepon.


" Tunggu! " Najwa buru-buru menghentikan Hanna.


" Bisakah kakak menjemputku? " Najwa berbicara dengan pelan.


Sekali lagi Hanna mengelus pelipisnya. Diundang untuk makan sekalian disuruh menjemputnya, dia baru pertama kali ini mengalami. Tapi apa boleh buat mengingat ibu Najwa orangnya cuek, pasti Najwa mengalami banyak kesulitan.


Katakan di mana alamat rumahmu? " Hanna


" Aku.... " Najwa dibuat bingung lagi. Ternyata mengundang orang lebih susah daripada mengerjakan PR dari sekolah.


Najwa melirik Amora yang berada di sampingnya, Amora tidak bergerak sedikitpun. Begitu ingin bertanya, Najwa malah dibuat tercengang dengan ucapan Amora.


" Aku akan mengantarmu" Amora kemudian berbalik menuju kursi kerjanya. Dia kembali fokus dengan tumpukan dokumen yang dikirim Rendy ke rumahnya .


Najwa tersenyum lebar, bukannya baik kalau kakak cantik ikut pergi.


" Kakak baik kita langsung ketemu disana saja. Jangan lupa jam makan siang. Bye" Najwa menutup panggilan. Sekarang ia bersemangat.


Ia berjalan menghampiri Amora dengan wajah berbinar. Dengan senyum khas anak-anak, Najwa mengembalikan ponsel milik Amora. Ia mengucapkan terimakasih dengan tulus.

__ADS_1


Amora memandang wajah Najwa yang bahagia. Anak yang baru keluar dari panti ingin mengundang makan direstoran seafood. Nampaknya ia akan melihat pertunjukan bagus.


Amora menerima ponsel miliknya sambil menyeringai.


__ADS_2