
Semua tempat telah di datangni oleh Hanna tapi tidak menemukan Kuncoro. Hanna memutuskan untuk mengistirahatkan kakinya yang pegal.
Di dekat pohon cemara samping gedung, Hanna duduk di kursi sambil menikmati udara malan. Angin sepoi menerpa wajahnya, mengoyangkan ujung rambutnya. Hanna melihat jam analog di layar ponsel, waktu menunjukkan pukul delapan malam.
Hanna mendongak melihat langit malam yang berupa hamparan kelam dengan titik-titik cahaya.
Bintang bertaburan di angkasa saling bergerombol sedangkan Hanna duduk sendirian.
Hanna menertawakan dirinya sendiri.
Dalam satu gedung saja dia tidak dapat menemukan satu orang, dia merasa payah.
Hanna memainkan ponsel di tangannya dengan gerakan memutar. Beberapa saat kemudian Ia menyadari kebodohannya. Membawa ponsel kesana kemari tapi tidak menggunakannya.
Hanna mengetik pesan kemudian di kirim pada Kuncoro.
Hana menunggu balasan dari Kuncoro dengan duduk santai sambil bersandar.
Gerakan santai Hanna terlihat malas, tapi bagi segelintir orang, Hanna terlihat manis, dia terlihat seperti seorang yang bebas tanpa kekangan.
Lima menit, sepuluh menit, Hanna menghitung waktu. Kalau bukan karena menjaga wajah Kuncoro dia sudah pergi meninggalkan tempat ini naik taxi.
Belum sepenuhnya bersantai, Hanna dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan. Dia tidak mengenalnya, bahkan merasa asing.
Seorang perempuan muda mengenakan gaun berwarna peach, dengan potongan dada rendah. Rambut pirangnya teruarai dengan ujung bergelombang. Wajahnya tidak begitu cantik, hanya terlihat imut dengan bibir merah cery.
" Kenalkan, aku Sesil. Tadi aku melihatmu bersama dengan Kuncoro. Apa kamu pacarnya? " gadis itu mengulurkan tangan
Hanna membalas uluran tangan Sesil, dia tidak menerima juga tidak menolak kehadiran Sesil.
" Aku Hanna. " Karena Sesil sudah menyebut nama maka Hanna juga menyebutkan namanya.
" Hubunganmu dengan Kuncoro? " Sesil mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab oleh Hanna.
" Untuk masalah itu kamu bisa tanya sendiri padanya. " Hanna menjawab
Hanna takut Salah jawab makanya menyuruh Sesil bertanya pada Kuncoro sendiri. Masa iya dia bilang bahwa dia kacung Kuncoro yang bebas disuruh apa aja.
Sesil merasa tidak senang dengan jawaban Hanna yang tidak relevan.
" Kuncoro sangat menyukai Stella. Tiba-tiba dia bersama denganmu takutnya dia hanya mempermainkan kamu saja. " Sesil masih dengan senyum menawan disertai keangkuhan.
Hanna mencemooh ucapan Sesil dalam hati. Sayang sekali, gadis imut seperti dia punya kebiasaan ikut campur urusan orang lain.
" Nona Sesil ternyata sangat mengangur sampai mengurusi urusan orang lain. " Hanna mengoreksi.
" Aku hanya mengingatkan kamu. " Sesil masih dengan senyum menawan disertai keangkuhan.
" Tidak perlu bertengkar disini. Alangkah baiknya kalau berteman! "
Hanna dan Sesil menoleh bersamaan ke asal suara. Seorang gadis cantik melenggang ke arah mereka.
Gadis itu Membawa dua gelas minuman dingin kemudian disodorkan kepada Hamba.
__ADS_1
" Kamu siapa? Aku tidak mengenalmu? " tanya Sesil dengan ketus.
Gadis itu tertawa pelan
" Perkenalkan saya Tere " ucap Tere dengan sopan, kemudian memastikan Hanna menerima gelas yang dia bawa untuk Hanna.
Ada kilatan tidak suka di mata Sesil ketika Hanna menerima gelas itu.
" Jawab dulu pertanyaanku! " desak Sesil sambil menarik gelas yang ada di tangan Hanna dengan pandangan permusuhan.
Hanna tidak menyukai tindakan Sesil. Nona kaya satu ini memang tidak punya aturan, membuatnya sakit kepala.
Hanna menarik kembali gelasnya namun masih ditahan oleh Sesil. Hanna tidak bisa bersabar lagi, dia menarik kembali gelas itu.
Tapi karena tarikkannya terlalu keras, minuman itu tumpah mengenai gaunnya. Hanna mundur dengan sedikit membungkuk, memeriksa bagian yang terkena tumpahan minuman.
Hanna mendengus kesal. Minuman dingin mengenai dadanya, membuatnya tidak nyaman. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya.
" Gara-gara kamu bajuku kotor. Sekarang carikan baju ganti! " Hanna melihat ke arah sesil. Sekarang dia harus bagaimana? Akan memalukan bila harus bergabung dengan gaun basah.
Sesil mengengam gelas Hanna yang masih berisi sedikit minuman. Dia tersenyum pada Hanna, membuat Hanna semakin kesal dengannya.
" Kamu sendiri yang berebut denganku." ucapnya tanpa rasa bersalah kemudian menoleh pada Tere
" Dan kamu Tere, aku akan mengingatmu! " kata Sesil sambil menggoyangkan gelas didepan wajah Tere.
Selesai berkata Sesil meninggalkan mereka berdua. Gelas masih ditangannya ketika dia memasuki ruang perjamuan. Dia sempat berpapasan dengan asisten Rendy, menganguk sebagai tanda sapaan kemudian naik ke lantai atas dan bertemu dengan Amora. Dia memberi salam dengan hormat kemudian meletakkan gelas yang ada di tangannya pada nampan kosong seorang pelayan yang lewat.
Di taman, Tere mundur satu langkah mendengar perkataan Sesil. Dia tidak suka diingat oleh Sesil. Kata-kata Sesil seperti sebuah ancaman untuknya.
" Aku tau. " Hanna menjawab acuh sambil mengelap bajunya mengunakan saputangan.
Bajunya basah, dia tidak bisa kemana-mana sekarang. Dia berharap Kuncoro membaca pesannya kemudian datang menjemputnya. .
Di dalam acara sudah dimulai. Pembawa acara mulai mengatur jalannya pesta.
" Aku masuk dulu, acara sudah dimulai " Tere segera meninggalkan Hanna.
Hanna sudah tidak ada mood untuk mengikuti pesta sampai selesai. Dia kembali duduk sambil mengelap gaunnya menggunakan saputangan. Sekeras apapun usahanya tetap saja tidak bisa menghilang jejak basah digaunnya.
" Aku ingin pulang. Dalam sepuluh menit kamu tidak datang ke taman samping, aku pulang sendiri. " Hanna mengirim pesan pada Kuncoro
Para tamu berkumpul di dalam untuk memeriahkan perjamuan. Sambutan dari petinggi Bio Tec terdengar sangat inspiratif.
Sepuluh menit berlalu, dua puluh menit berlalu tapi orang yang ditunggu tidak datang.
Hanna beranjak dari duduknya, setelah menunggu hampir satu jam. Di dunia ini tidak ada yang namanya pangeran berkuda putih. Tidak perlu menjaga muka kuncoro lagi, toh dia tidak peduli dengan dirinya, bahkan membalas pesannya saja tidak.
Ketika harapannya pupus, Hanna mendengar langkah kaki. Dalam cahaya temaram sosok tinggi besar berbalut jas warna hitam berjalan ke ayahnya.
" Kak Roy. " Hanna berguman dalam hati setelah melihat dengan jelas orang yang menghampiri dirinya.
" Apa yang terjadi padamu? " Roy setelah melihat penampilan Hanna yang berantakan.
__ADS_1
" Terkena tumpahan minuman. "Hanna menceritakan kejadian yang dialami barusan kepada Roy
" Aku antar kamu pulang sekarang! " Roy tanpa pikir panjang
Hanna mengangguk kemudian mengikuti Roy.
" Bagaimana dengan Stella? " Hanna
" Setelah mengantarmu aku akan menjemputnya. Tenang saja, Stella bukan orang yang tidak masuk akal. Aku akan mengirim pesan padanya supaya tidak menimbulkan salah paham. " Roy melihat keraguan Hanna.
Hanna menimbang sejenak, kemudian mengangguk.
Seorang petugas mengambil mobil milik Roy dari tempat parkir. Mobil berhenti di depan Roy. Petugas itu menyerahkan kunci mobil pada Roy setelah tugasnya selesai.
" Aku akan mengantarmu mencari baju ganti setelah itu mengantarmu pulang. " Roy mengemudikan mobilnya keluar dari Hotel Starlight
" Antar sampai toko pakaian saja, nanti aku akan pulang naik taxi. Kalau kelamaan kasian Stella. " ucap Hanna
Roy diam sejenak, bagaimana mungkin dia meninngalkan Hanna sendirian.
" Aku akan menghubungi Kuncoro untuk menjemputmu. " suara Roy
" Beneran tidak perlu. Lagian aku masih ada urusan lain. " Hanna tidak ingin berharap pada Kuncoro, lagian dia terbiasa bepergian sendiri, jadi tidak masalah untuknya .
" Biar dia tau. Tidak seharusnya dia meninggalkan kamu. Apakah kalian sedang bertengkar? " Roy sudah memutuskan dan Hanna hanya bisa mengiyakan. Hanna yakin walaupun diberitau oleh Roy pada akhirnya Kuncoro tidak akan datang. Tadi saja dia menunggu lama Kuncoro juga tidak muncul.
Toko Dania colection, Hanna meminta Roy memberhentikan mobil di depannya. Ia membuka sabuk penngaman kemudian bersiap turun. Sebelum membuka pintu mobil dia mengucapkan terima kasih pada Roy karena telah mengantarnya.
Baru menginjakkan kaki, hujan turun sangat lebat. Hanna langsung berlari, tas kecil yang tadi ia bawa digunakan untuk menutup kepala. Roy mengeluarkan ponsel miliknya untuk memotret Hanna.
Roy berhenti disana sampai melihat punggung Hanna menghilang di balik pintu.
Di dalam mobil suasana sunyi, hanya suara wiper yang terdengar. Roy mengetik pesan untuk Kuncoro.
" Aku mengantar Hanna beli baju. " Roy mengirim pesan pada Kuncoro dan tidak lupa mengirim foto Hanna di depan toko Baju.
Tak lama kemudian ponsel milik Roy berbunyi. Roy melihat Id panggilan, nama Kuncoro terpampang di layar ponselnya.
" Kamu ada dimana? " Kuncoro dengan nada tinggi
" Di toko baju Daina colection. " Roy sambil membaca papan depan toko yang dihiasi lampu
" Kamu kembali sekarang atau jangan pernah muncul dihadapkan Stella lagi! " Kuncoro
Roy menarik ujung bibirnya membentuk senyuman mendengar ucapan Kuncoro.
" Apa hak mu melarangku? " Roy dengan nada santai.
" ohh... Walaupun kamu mekarangku, dia sendiri yang akan muncul dihadapanku. Aku ingatkan sekali lagi kalau aku dan dia akan segera melangsungkan pesta pernikahan. " Roy
" Sudah mau menikah masih pergi bersama dengan perempuan lain. Kalau berita ini tercium media, bagaimana menurutmu? " Kuncoro
Roy bersandar di kursi memandang air hujan yang menimpa kaca mobil. Dia belum memberitahu Kuncoro bahwa dia dan Stella sebenarnya sudah menikah.
__ADS_1
Awalnya dia tidak berencana menggelar pesta pernikahan, tapi Stella dan orang tuanya sudah mengatur pesta pernikahan, jadi dia hanya bisa mengikuti saja.