Cinta Pelampiasan

Cinta Pelampiasan
DIA TERLIHAT FAMILIAR.


__ADS_3

Dari kejauhan,Parto melihat Lusy dan si plontos sedang berbicara, hanya saja ia tidak mendengar dengan jelas percakapan mereka.


Akhirnya hati nurani Parto terpanggil, dia tidak bisa melihat penindasan di depan matanya. Pasti mendekati Lusy, bagaimanapun juga lusy adalah temannya, ia tidak akan membiarkan seorang teman ditindas di depan matanya.


" Lusy! Ku antar kau pulang. Serahkan kunci motornya! " Parto mengulurkan tangannya di hadapan Lusy.


Pria itu melihat parto dengan tidak senang. Seorang sok jagoan yang mengganggu pekerjanya. Dia ingin menghajar Parto sampai babak belur, biar Parto jera


" Nona Lusy akan pulang bersama saya. " Si plontos menyela percakapan Parto dan Lusy.


Parto menoleh pada si plontos dengan berbagai pertanyaan di benaknya.


Orang itu mengenal lusy, nyatanya dia mengetahui nama Lusy, bahkan sampai mau menjemput Lusy pulang tapi disisi lain Lusy tidak ingin bersama mereka.


" Mereka keluargamu? " tanya Parto, satu hubungan ini yang terlintas di benaknya, keluarga.


" Bukan. " suara Lusy tenang namun pasti.


Parto mengangguk percaya, Lusy menjawab dengan cepat tanpa berfikir. Bisa dipastikan jawabannya benar.


" Temanmu? " lanjut Parto


" Bukan. " Lusy dengan Yakin. Pada kenyatannya dia tidak berteman dengan Darren, dia hanya mengenalnya.


Parto mengangguk, ada keyakinan kalau orang ini hanya ingin mengambil keuntungan dari Lusy. Lagipula dia lebih mengenal Lusy ketimbang si plontos secara otomatis dia tetap memihak pada Lusy.


" Dia tidak mau. Jangan dipaksa !" Parto berdiri berhadapan dengan si plontos, menyembunyikan Lusy di balik punggungnya.


" Minggir! Aku tidak ada urusan dengan kamu! " pria plontos itu mendorong tubuh Parto.


Parto lebih tinggi dari si plontos, namun si plontos memiliki badan yang lebih besar dari Parto. Di dorong oleh orang yang lebih besar darinya membuat Parto mundur selangkah.


Si plontos sudah geram dengan Parto, keinginan untuk memukul Parto sudah mencapai ubun-ubun. Tampang sangar dan postur garang menunjukkan kesiapannya bertarung.


" Dia tidak mau! " Parto menggertakkan giginya, tidak terpengaruh dengan ancaman si plontos.

__ADS_1


Si pelontos itu menyeringai, gayanya arogan. Kebetulan dari tadi dia menahan diri saat berhadapan dengan Lusy sekarang dia mendapatkan pelampiasan.


Tanpa basa-basi si plontos melayangkan tinju ke arah wajah Parto.


Parto menghindar dengan mencondongkan tubuh ke samping. Kemudian tangan kanannya meninju bagian perut si plontos. Pukulan Parto membuat si plontos membungkuk. Belum sempat berdiri, tendangan Parto mendarat di wajah si plontos, membuat si plontos tehuyun.


Gerakan Parto sangat cepat sehingga tidak memberi kesempatan untuk si plontos menyerang balik. Walaupun dia kalah ukuran badan namun setiap gerakannya tertuju pada bagian fital.


Dengan beberapa pukulan Parto menjatuhkan si plontos, sedangkan ia mendapat dua tinju di perut dan wajah.


Merasa tidak dapat mengalahkan Parto, si plontos juga menyerah. Keadaan tidak menguntungkan sehingga dia segera meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi dia bilang " Aku mengingatmu" sambil menunjuk pada Parto.


Lusy tidak bersuara, juga tidak beranjak dari tempatnya. Tangannya mengepal sampai kelihatan urat biru. Tanpa ekspresi sehingga tidak dapat dibedakan antara takut dan tidak.


" Mana kunci motormu? " Parto berbicara agak lembut. Tatapannya yang tajam saat bertarung sirna saat dia melihat Lusy masih diam di tempatnya.


Pasti peduli dengan Lusy, melihatnya Lusy mengingatkan dirinya pada Hanna. Satu hal yang selalu dia tanamkam dalam hati, untuk berbuat baik pada yang lemah.


" Aku akan pulang sendiri. " Lusy menolak bantuan Parto.


" Baiklah. Terserah kamu saja." Parto tidak memaksa kemudian balik badan. Dia juga lelah hari ini, apalagi dengan beberapa pukulan yang di terimanya. Harusnya segera di kompres supaya tidak bengkak.


Lusy memandang Parto yang berjalan menjauh darinya. Hanya saja dia merasa orang ini familiar. Parto berbeda dari yang lain, apakah ini hanya ilusinya, Parto memiliki sedikit kemiripan dengan Darren.


Lusy masih berada di tempatnya, terdengar ponselnya berdering. Lusy mengeluarkan ponselnya, melihat Id orang yang memanggil kemudian mengangkatnya. Dia mendekatkan ponsel ke telinga tanpa bersuara.


" Lusy Amora! " teriakan memekakkan telinga dari sebrang membuat Lusy naik darah. Dia langsung memutus panggilan, berbalik menghampiri motornya.


Dengan mengendarai motor matiknya Lusy pulang ke rumahnya. Begitu sampai dia langsung menuju ruang pribadinya, menyalakan laptop kemudian membuka beberapa file yang masuk. Pekerjaan rumahnya sangat banyak, dia harus mengerjakan dengan cepat tapi teliti dan tidak membuat kesalahan. Tapi malam ini dia tidak bisa fokus dengan pekerjaan rumahnya.


Lusy menyenderkan badannya, kejadian tadi masih tefikirkan olehnya. Parto, ia merasa perlu tenaga tambahan untuk menggali informasi tentang orang ini. Lusy memijat pelipisnya dengan pelan sambil menutup mata.


Suara dering telfone menyadarkan Lusy.


Di layar terpampang nama nicky

__ADS_1


" Kalau tidak ada hal penting tidak usah menghubungiku! " Lusy berkata malas


Di seberang sana Nicky langsung mengerutkan Alis. " Beginikah cara orang berterimakasih setelah minta tolong. Begitu buka mulut langsung bikin bad mood" batin Nicky. Tentu saja dia tidak berani mengungkapkan secara langsung.


" Informasi yang kamu inginkan sudah aku kirim ke email mu. Kamu berhutang terimakasih padaku, aku akan menagihnya nanti. " Nicky


" Ini bagian dari pekerjaan mu. Gajimu masih kurangkah? " Lusy


" Aku bekerja sangat keras, sampe turun tangan sendiri. Begini perlakuanmu padaku? " keluh Nicky


" Mau makan apa tinggal pesan nanti aku yang bayar. " Lusy berkata sambil membaca file yang dikirim oleh Nicky.


Nicky mengambil nafas panjang, punya teman yang ngeselin memang sudah pilihannya. Sebenarnya dia tidak kekurangan uang untuk makan enak di restauran kelas atas, yang dia inginkan adalah ucapan terimakasih dari Lusy.


" Kamu udah buka mulut, jangan kaget kalau bill kamu membengkak" Nicky mulai kesal


" Hati-hati tersedak! " Balas lusy dengan enteng.


Nicky batuk pelan seperti berdehen, bisa-bisanya dia disumpahi tersedak padahal belum makan.


" Tersedak juga tidak apa-apa yang penting bisa menghabiskan uangmu. " Nicky berkata dengan kesal.


" Sudah selesai? " Lusy tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop


" Kejadian di depan toko... "


" Kamu menyelidiki ku?! " Lusy dengan nada tidak senang. Peristiwa juga baru saja terjadi tapi Nicky sudah tahu, informasinya lebih cepat dari angin topan.


" Tuan besar sudah tau. " Nicky mengingatkan dengan nada rendah.


" Baiklah. Kamu urus urusanmu. Keinginan tuan besar kita tidak usah ikut campur " pupus Lusy


Tempramen tuan besar, Lusy sudah hafal, dia tidak akan bisa dicegah dalam melakukan suatu hal. Apalagi baru saja dia dibentak oleh tuan besar. Dia sendiri juga tidak ambil pusing dengan semua itu. Untuk sementara dia tidak ingin bersingungan dengan tuan besar.


Informasi yang dikirim Nicky, Lusy tidak melewatkan apapun.

__ADS_1


__ADS_2