
Setelah momen di danau hari itu hubungan Devan dan Meilan menjadi canggung. Tidak sehangat sebelumnya.
"Terimakasih sudah membantuku." kata Devan setelah menerima dokumen dari Meilan.
"Sama-sama." balas Meilan. Hanya senyuman tipis yang tergambar di wajah cantik Meilan.
"Mei..."
"Aku masih meninggalkan banyak pekerjaan. Maaf, aku harus segera kembali." potong Meilan.
Meilan kembali ke ruangannya. Sementara Devan hanya bisa menatap nanar kepergian pujaan hatinya.
"Aku akan menunggumu."
Devan pun melenggang seorang diri keluar gedung. Sebelum benar-benar pergi, Devan menemui resepsionis Luna.
"Ada yang bisa saya bantu pak Devan?" Luna berucap sangat ramah. Apalagi dia tahu kalau Devanlah yang menemani Meilan datang ke pesta sang mantan.
"Saya tahu kamu adalah teman terdekat Meilan." Devan mengambil sesuatu dari dompetnya.
"Mau apa dia?"
Luna terus memperhatikan pergerakan Devan, sampai sebuah kartu mendarat di mejanya.
"Pastikan dia baik-baik saja. Hubungi saya kalau terjadi sesuatu padanya." ujar Devan.
"Baik." Luna menerima kartu nama Devan.
"Disia-siakan Nando, dapatnya ATM hidup kayak pak Devan. Ganteng lagi. Haaah..., pengen banget kayak Meilan...!!"
Luna mendekap kartu kecil itu di dadanya sambil sedikit menghalu. Alangkah bahagianya jika dia berada di posisi Meilan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meilan melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal siapa pemiliknya. Itu Vivian bersama si pria besar, Fadil.
"Kamu hanya ingin menghindari Devan, Meilan. Tolong tetaplah bersikap baik pada Vivian. Jangan libatkan dia."
Meilan tersenyum dan membalas lambaian tangan gadis yang kini sudah mendekatinya.
"Udah kuduga kakak pasti pulang jam segini. Makanya aku langsung kemari sepulang les." cicitnya setelah memeluk Meilan.
Luna tahu siapa gadis yang sedang bicara dengan Meilan. Luna pun memilih diam, dan hanya memperhatikan kedekatan mereka.
"Beruntung sekali si Meilan."
"Udah bilang kakakmu kalau kamu ke sini?" tanya Meilan.
"Udah dong. Kakak temani aku beli kado buat mami ya." pinta Vivian.
Meilan menoleh ke arah Luna yang sedari tadi diam.
"Pergilah. Hati-hati."
Vivian bercerita pada Meilan, karena nilai ujiannya bagus dia akan terbang ke Australia untuk bertemu orang tuanya.
"Kakak senang, akhirnya kamu mau kesana." ujar Meilan.
"Aku memikirkan ucapan kak Meilan waktu itu. Nggak ada orang tua yang nggak merindukan anaknya. Mami dan papiku pasti merindukan aku juga. Dan mungkin ada alasan yang nggak bisa mereka katakan. Jadi sebaiknya aku yang kesana menemui mereka."
"Apa..., kak Devan ikut bersamamu?" sedikit ada keraguan saat Meilan menanyakan hal itu.
"Nggak. Kakak sepertinya sedang banyak pekerjaan. Belakangan ini kakak terlihat murung. Dan aku sangat khawatir." wajah Vivian berubah sendu.
"Apa gara-gara aku?"
"Mungkin ada masalah dengan pekerjaan. Dia banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya." tambahnya.
"Pantas wajahnya terlihat sangat lelah."
__ADS_1
Vivian kemudian mengajak Meilan memasuki sebuah toko tas.
"Mami suka mengoleksi tas. Bantu aku memilih ya kak." Vivian sangat bersemangat.
Saat Vivian sibuk mencari tas yang cocok dari rak satu ke rak yang lainnya. Meilan mendekati pegawai di sana.
"Bisa desain juga di sini?" tanya Meilan pada penjaga tokonya.
"Bisa kak, silakan."
"Berapa lama?" tanya Meilan lagi.
"Tergantung polanya kakak."
"Kalau hanya ukiran nama?"
"Tidak sampai satu jam."
"Terimakasih." Meilan kemudian menghampiri Vivian.
"Pilih yang cocok buat mami kamu, terus nanti kita ukir namanya di tas itu." ujar Meilan.
"Bisa?"
"Bisa. Kakak udah tanya barusan."
Sambil menunggu tasnya jadi, Meilan mengajak Vivian makan es krim.
"Andai saja kak Devan bisa menikah sama kakak." celetuk Vivian.
Meilan menghentikan aktivitas makannya dan fokus mendengarkan Vivian.
"Pasti seneng ya, kita tiap hari bersama dan jalan bareng." dia tersenyum.
"Iih..." Meilan gemas dan memites hidung mancung gadis di hadapannya. "Pikirannyaaa..."
"Aku serius kak..." sahut Vivian. "Sayangnya susah sekali membuat kakakku yang gila kerja itu jatuh cinta. Entahlah, cewek seperti apa yang dia mau." Vivian terus membeo.
Meilan merenung sesaat. Dia teringat ucapan Devan waktu mereka berada di tepi danau hari itu.
"Kamu satu-satu yang selalu memenuhi pikiranku, Meilan."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Suatu hati Meilan dan Luna pergi taman kota. Hanya sekedar duduk, ngobrol, dan makan. Karena mereka sedang libur kerja.
"Jadi dia udah nembak kamu?!" Luna terkejut.
"Tapi aku tolak."
"Whaaatt??!!" Luna tak habis pikir, bagaimana temannya itu menolak asset berharga seperti Devan.
"Asal kamu tau ya. Semua cewek di belahan bumi ini yang mengenal dan tau siapa Devan, pasti nggak akan nolak. Bahkan mereka bersedia menyerahkan diri dengan sukarela. Lah kamu..." Luna berulang kali menepuk jidatnya karena memiliki teman yang aneh.
"Aku nggak ingin menjalin hubungan lagi." celetuk Meilan.
"Sampai kapan? Coba katakan!" Luna menantang Meilan. "Menunggu sampai Nando menduda, iya?!" cibir Luna.
"Tidak dengan Nando atau siapapun." gumam Meilan.
"Katakan padaku!" Luna menatap mata Meilan.
"Sungguh kamu nggak tertarik dengan Devan? Nggak ada perasaan sama dia? Bahkan rasa peduli sedikitpun?"
Meilan diam.
"Kenapa diam? Atau jangan-jangan kamu memiliki perasaan yang sama. Tapi kamu takut menerima kenyataan, kalau kamu masih bisa jatuh cinta setelah pengkhianatan yang Nando lakukan?!" ucapan Luna seolah menampar hati Meilan.
Air mata Meilan pun mengalir di ujung mata indahnya.
__ADS_1
"Aku bingung, Naaa." gumam Meilan.
"Aku berusaha nggak jatuh cinta lagi. Karena cinta pertamaku berakhir dengan rasa sakit. Berlahan aku mulai menyukai Devan, perhatiannya, sikapnya. Tapi aku ragu dengan perasaanku. Aku takut kalau ternyata itu hanya rasa sesaat karena hatiku sedang hancur. Aku takut membuat Devan kecewa." Meilan mengungkap isi hati yang selama ini terpendam.
"Aku semakin takut kalau ternyata benar aku mencintainya. Dan di kemudian hari dia mengkhianatiku seperti Nando. Nando aja bisa melakukannya. Apalagi Devan yang jelas-jelas memiliki segalanya. Bahkan melebihi Nando." Meilan mengakhiri curhatannya.
Luna merangkul Meilan. Dia tidak menyangka ternyata selama ini dia mengalami konflik batin yang begitu rumit.
"Aku pikir Nando dan Devan sangatlah berbeda, Meilan." tutur Luna pelan-pelan.
"Aku memang tidak kenal baik dengan Devan. Tapi hampir semua orang tau, kalau Devan tidak pernah memanfaatkan uang dan kekuasaannya untuk bermain dengan perempuan. Kamu ingat kejadian di pesta itu? Semua tau, itu adalah kali pertama Devan membawa perempuan selain saudaranya." terang Luna.
Meilan tidak menyangkal hal itu, karena dia juga mendengarnya secara langsung.
"Apa yang harus aku lakukan, Naa?"
"Kamu hanya perlu berdamai dengan keadaan dan perasaan kamu. Pahami apa yang sebenarnya kamu rasakan." ujar Luna.
"Aku nggak yakin bisa melakukannya." Meilan kembali berputus asa.
Tiba-tiba Luna menurunkan tangannya.
"Yang dibahas siapa..., yang nongol siapa..." Luna mendengus kesal.
Meilan menoleh ke belakang. Reaksi yang sama terjadi pada Meilan.
"Ya ampun, kalian di sini berduaan..." Raisa mendekati mereka.
"Orang kalau berduaan, yang datang ketiga itu setan!" balas Luna. Meilan menahan tawanya.
"Maksudmu aku setan?!" bentak Raisa.
"Mana aku tau kamu klan mana?" cicit si Luna masa bodoh.
Meilan dan Luna melihat Nando berjalan ke arah mereka juga.
"Cariin suamimu tuh." ujar Luna.
"Sayang..." Raisa tersenyum, lalu menarik lengan suaminya agar mendekat. "Udah futsalnya?" Nando hanya mengangguk.
"Kalian kok bisa ada di sini semua?" tanya Nando, tak lupa sejenak melirik Meilan.
"Matamu tak lagi sama seperti dulu, Meilan."
"Kalau gitu, bagaimana kalau kita makan bersama."
Mata Raisa melotot saat mendengar ucapan suaminya.
"Nggak mau!" sahut Raisa ketus.
"Sayang..., kamu kenapa sih akhir-akhir ini mudah sekali naik darah." kata Nando. "Apa salahnya kalau cuma mengundang mereka makan sama kita."
"Salahnya banyak." ujar Raisa.
"Tidak usah berdebat. Kita juga nggak mau. Sorry ya, kita bukan cewek yang mauan diajak makan sama suami orang!" balasan yang sangat monohok keluar dari mulut pedasnya si Luna.
"Udah, Naa. Ayo kita pergi!" ajak Meilan sambil menarik tangan Luna.
"Bisa tidak kamu bersikap lebih baik dengan orang lain?" Nando menegur sang istri setelah Meilan dan Luna menjauh.
"Dengan Meilan kan maksudmu?!" balas Raisa.
"Ya, terutama dia dan mamaku. Mereka orang baik, tapi kamu selalu tersulut emosi saat bersama mereka." kata Nando.
"Oooh..., jadi sekarang kamu seperti mamamu. Berpihak pada Meilan. Iya?!" teriak Raisa.
"Semua gara-gara Meilan." geramnya. Raisa pergi dari hadapan suaminya.
"Raisa, mau kemana? Tunggu!!" Nando mengejar istrinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...