
Meilan memperhatikan dirinya sendiri dari pantulan cermin. Rasanya baru kemarin dia mengenal Devan. Tapi beberapa jam yang lalu, dia sudah resmi menjadi istrinya.
Dia selalu tersenyum sendiri kalau ingat bagaimana ketegangan di rumah Devan saat itu. Yang berujung tuntutan untuk segera menikah.
"Papi dan mami hanya tidak ingin kalian melewati batas, nak. Karena itu kami menginginkan pernikahan sesegera mungkin."
Itulah kalimat yang diucapkan mami Siska saat Meilan membantunya menyiapkan makanan di dapur.
Sudah tidak terdengar lagi suara air di kamar mandi. Tandanya Devan sudah menyelesaikan aktivitasnya di dalam. Devan terlihat keluar dari sana dengan kimono handuk yang membalut tubuhnya.
"Kenapa belum istirahat?" Devan mendekati Meilan yang masih menyisir rambutnya. "Nanti malam akan lebih banyak tamu. Sebaiknya kamu tidur sebentar." Devan mengusap pundak Meilan.
"Aku keringkan dulu rambutmu." Meilan berdiri agar Devan bisa duduk di tempatnya.
Devan terus memperhatikan pergerakan istrinya hingga aktivitas mengeringkan rambut itu selesai. Setelah istrinya meletakkan kembali hairdryer di tempatnya, Devan menarik pinggangnya hingga jatuh di pangkuannya.
Deg... Deg... Deg... Deg...
"Kenapa kamu memperlakukanku seperti bayi hah? Kamu pikir aku tidak bisa melakukan itu sendiri?" Devan menaruh dagunya di pundak sang istri.
"Kamu nggak suka. Baiklah aku nggak akan membantumu lagi." balas Meilan.
"Eh." Devan terkejut dengan reaksi istrinya, padahal dia hanya bercanda.
"Aku bercanda, sayang..." katanya.
"Bercandanya udahan dulu, kita harus istirahat." Meilan beranjak dari pangkuan Devan.
Mereka beristirahat sejenak untuk menyiapkan diri pada pesta nanti malam. Itu adalah saran kedua ibunya, karena mereka akan sangat merasa lelah saat menerima para undangan yang hadir.
"Dev..." Meilan menoleh ke samping.
"Apa, hem??" kini mereka berhadapan.
"Jujur aku nggak suka ada pesta seperti ini." ujar Meilan.
"Kenapa? Bukannya semua perempuan menginginkan momen seperti ini?" Devan tampak sedikit heran.
"Dulu iya. Tapi setelah aku bertemu om-om saat kita ke pesta waktu itu. Aku jadi berubah pikiran. Aku nggak suka dengan cara mereka menatapku seperti itu."
"Kamu harus terbiasa, karena om-om itu rekan bisnis suamimu." Devan tersenyum.
"Oh, gitu!" Meilan mengubah posisinya jadi menghadap ke langit-langit kamar. "Baiklah, kalau kamu menyukai hal itu. Aku akan lebih ramah lagi sama mereka."
Devan senang sekali melihat istrinya ngambek seperti itu. Devan mendekat dan memeluk istrinya.
"Mereka hanya mengagumimu. Karena kamu satu-satu perempuan yang bisa mendampingiku." katanya dengan suara yang sangat lembut.
"Jangan khawatir, suamimu ini tidak akan tinggal diam kalau ada yang berani macam-macam sama kamu."
Meilan tersenyum mendengarnya.
"Jangan tersenyum seperti ini pada orang lain kecuali aku. Oke?"
"Kenapa?"
"Karena kamu sekarang milikku. Aku tidak rela mereka melihat senyuman manis kamu."
"Belajar dari mana dia gombalan seperti itu?"
Suasana semakin hening, kedua mempelai itu kini sudah terlelap.
Malam tiba...
__ADS_1
Pesta pun digelar dengan sangat meriah. Undangan berasal dari berbagai kalangan. Mereka berbaur menjadi satu, turut merayakan kebahagiaan kedua mempelai dan keluarga.
"Harus ya secantik ini?" bisik Devan pada Meilan. "Mereka melihatmu seperti itu." gumamnya kesal.
"Aku udah peringatkan sebelumnya." balas Meilan dengan berbisik juga.
"Kamu yang memilih semua ini untukku, barang kali kamu melupakannya." Meilan menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terlihat kalau dia sedang menertawakan suaminya.
Devan menarik nafas panjang. Dia sangat frustasi. Mungkin karena terlalu excited dengan pernikahannya, dia ikut turun tangan memilih apa-apa yang harus Meilan kenakan. Penampilan istimewa seorang Meilan di pesta malam ini semua adalah rekomendasi Devan. Bahkan para stylish yang Devan panggil sangat takjub, sekaligus tidak menyangka kalau Devan memiliki selera fashion yang luar biasa. Sehingga istrinya yang aslinya sudah cantik menjadi makin cantik dan begitu menawan.
"Ini pertama kalinya aku menyesali pilihanku." gerutu Devan.
"Aku akan menutup wajahku." balas Meilan sambil tersenyum menggoda suaminya.
"Tidak lucu..." geram Devan. Dan ekspresi Devan itu justru sangat lucu menurut Meilan.
Semakin banyak tamu yang datang membuat Meilan semakin merasa tidak nyaman. Beruntung acara akan segera berakhir, Meilan sudah tidak sabar untuk kembali ke kamar dan tidur.
"Kamu capek ya? Diamlah di sini, biar aku yang mengantar mereka." ujar Devan.
"Aku nggak pa-pa." kata Meilan.
"Yakin?" Devan sangat khawatir pada istrinya.
"Em." Meilan mengangguk.
Hanya tinggal keluarga dekat, Meilan pikir tidak masalah. Dia bisa menahannya.
"Jangan lupa main ke tempat kami ya." tante Merry memeluk Meilan.
"Iya, tante."
"Ya sudah, kami pamit. Kalian juga harus istirahat." kata tante Merry.
"Mainnya yang kalem." bisik om Farid pada Devan.
Devan hanya menggelengkan kepalanya sambil sedikit menyunggingkan senyuman.
Setelah semua pergi, tinggallah kedua orang tua dan saudara di hotel itu.
"Kalian istirahatlah, pasti lelah." kata bu Nadin.
"Baik, bu." balas Devan.
"Raka dan Vivian mana?" Meilan baru menyadari kalau adik-adiknya tidak ada di sana.
"Mereka sudah masuk kamar dari tadi." sahut mami Siska.
Raka dan Vivian memutuskan untuk pergi ke kamar mereka ketika melihat tamu semakin banyak. Dan dipenuhi orang dewasa.
"Ini bukan zona kita. Ayo tidur aja!" ajak Raka.
"Kamu benar..." Vivian terlihat kesal.
Itulah yang membuat Raka dan Vivian meninggalkan pesta di tengah acara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meilan membuka matanya, dia tersenyum ketika mendapati seseorang tidur di sampingnya. Siapa lagi kalau bukan Devan, lelaki yang tiba-tiba menjadi suaminya.
"Pagi..." suara berat itu mengejutnya Meilan.
Devan menggeliat, lalu menarik tubuh Meilan untuk dipeluknya.
__ADS_1
"Bangun, Dev..." kata Meilan. "Ini udah siang banget."
"Ngantuk, sayang. Tidur saja ya..." ujar Devan masih dengan mata tertutup.
"Tidurlah, aku akan mandi dan memesan sarapan." Meilan menyingkirkan tangan Devan dari tubuhnya.
"Ayolah, sayang...!! Apa kamu tidak merasa lelah?" Devan merajuk.
"Huuuft...!!!" Meilan menghembuskan nafasnya dengan malas. Lalu dia kembali menemani suaminya tidur. Hanya tidur ya. Catat..!!😄😄
Tok... Tok... Tok...
"Ya ampuuun..., apa aku tidak boleh tidur dengan tenang...?!!!"
Devan mengeluh karena baru saja dia tidur, suara ketukan pintu membangunkannya.
"Biar aku lihat." Meilan mengabaikan suaminya yang terus menggerutu.
Ternyata yang datang adalah maminya. Dia membawa beberapa makanan untuk mereka.
"Iya, mam..."
"Apa Devan belum bangun?" tanya mami.
"Nanti akan aku bangunkan, mam." jawab Meilan.
"Ya sudah. Mami dan ibu khawatir karena kalian tidak datang untuk sarapan. Bahkan ini sudah sangat siang." mami Siska menyerahkan makanan yang dia bawa.
"Terimakasih, mam. Maaf jadi menyusahkan." Meilan jadi sungkan pada mertuanya.
"Mami mengerti. Kalian nikmati saja." si mami kemudian meninggalkan kamar Meilan.
Saat kembali, Meilan tidak menemukan suaminya di kasur.
"Pasti sedang mandi. Syukurlah."
Meilan menata makanannya di atas meja. Setelahnya dia menyiapkan pakaian untuknya dan juga suaminya.
"Sayaaang..." kepala Devan muncul dari balik pintu kamar mandi.
"Iya??"
"Handuknya jatuh, tolong ambilkan handuk di koperku." katanya.
Meilan pun mengambil handuk pribadi milik Devan. Lalu memberikan padanya.
Setelah keduanya rapi, mereka segera menyantap makanan yang sudah dibawakan oleh mami Siska.
"Aku ingin makan masakanmu." Devan memasukan roti ke dalam mulutnya.
"Nanti setelah kita pulang." balas Meilan. "Jadi pulang sore ini?" tanya Meilan kemudian.
"Em." Devan mengangguk.
Tiba-tiba Devan meraih tangan istrinya, dan menggenggamnya dengan erat.
"Kamu benar tidak marah kalau besok aku harus pergi?" Devan masih merasa tidak enak karena harus meninggalkan istrinya ke luar kota besok.
"Enggaklah. Asal kamu baik-baik di sana. Papi juga udah bilang, kalau hanya kamu yang bisa mengatasinya." Meilan tersenyum.
"Terimakasih sayang." Devan mencium punggung tangan Meilan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1