Cinta Pertamanya

Cinta Pertamanya
Cinta yang sebenarnya


__ADS_3

Seperti malam-malam sebelumnya, baby Brian terbangun dan menangis. Devan beranjak dari kasurnya begitupun dengan Meilan.


"Oh jagoannya papa bangun ya..." Devan mengangkat baby Brian, lalu menaruhnya di pangkuan Meilan.


Devan duduk di samping Meilan, memperhatikan istrinya yang sedang menyusui. Pandangannya beralih pada anaknya yang sangat lucu.


"Masih tidak mau pakai botol ya?" tanya Devan.


"Dia tidak mau." Meilan merapikan baju anaknya. "Jadi percuma kalau pompa, nggak diminum juga. Kan sayang asinya."


"Kalau seperti ini kan kasihan kamu, sayang. Coba kalau mau pakai botol, kan aku bisa ganti nyusui." tangan Devan terulur untuk mengusap rambut istrinya.


"Aku sama sekali tidak keberatan, sayang." balas Meilan sepenuh hati.


"Kamu memang seorang ibu yang baik." puji Devan. "Pasti lapar, mau diambilkan sesuatu?" tanya Devan.


"Boleh, buah saja ya. Aku nggak mau gendut." cetus Meilan.


"Aku tidak keberatan kamu gendut." sahut Devan.


"Halaaah..., omong doang." balas Meilan.


"Lucu tau..., jadi rindu kamu hamil lagi. Menggemaskan." ujar Devan sambil beranjak dari duduknya.


"Deeev...!!!" Meilan menggeram.


"Aku akan mengagendakan mega proyek berikutnya." Devan cekikikan sambil berjalan menuju keluar kamar.


"Mega proyek..." gerutu Meilan.


Devan tersenyum sendiri sambil menuju dapur.


"Bibi belum tidur, atau sudah bangun?" tanya Devan saat melihat bibinya di dapur.


"Bibi baru terbangun, den. Ambil minum. Lupa kalau air di paviliun habis." jawabnya.


"Bibi bantu kupas, den." ujar bibi lagi setelah melihat Devan mengeluarkan buah melon dari dalam kulkas.


"Biar aku saja, bi. Bibi kembali istirahat saja." balas Devan dengan nada yang sangat sopan.


Begitulah Devan, sejak menikah dengan Meilan dia mulai terbiasa melakukan apapun sendiri. Terlebih setelah istrinya melahirkan. Devan akan melakukan apapun untuk memberikan servis terbaik buat sang istri dan anaknya.


Dia merasakan sebuah rasa yang lebih, dari yang pernah dia rasakan saat jatuh cinta pada Meilan pertama kalinya.


"Sudah tidur? Kenapa cepat sekali?" kata Devan yang baru masuk dengan membawa sepiring melon.


"Iya, sayang." Meilan menyelimuti baby Brian hingga sebatas dada.


"Sekarang kamu duduk manis di sini, dan makan buahnya. Sini, aku suapin kamu ya." ujar Devan.


"Aku bisa makan sendiri, sayang..." balas Meilan.


"Memang lebih bagus kamu hamil secepatnya." celetuk Devan kemudian.


"Kenapa begitu?!" Meilan heran melihat ekspresi suaminya.


Devan kemudian memeluk istrinya dari samping. Menyandarkan dagunya dengan nyaman di pundak Meilan.


"Aku lebih suka kamu manja seperti waktu hamil kemarin, sayang." gumam Devan. "Aku merasa benar-benar kamu butuhkan waktu itu. Sekarang tidak lagi."


Meilan tergerak mengusap rambut suaminya.


"Baiklah." kata Meilan. "Nih, suapi aku ya, suamiku..." ujar Meilan dengan nada manja sambil memberikan piringnya pada Devan.


Cup


Devan mengambil piring itu sambil memberi sedikit kecupan di pipi Meilan.


"Dengan senang hati istriku..."


Malam itu mereka menghabiskan waktu hingga berjam-jam. Sambil menatap langit malam dari jendela kamar yang tirainya terbuka.


"Masa depan baby Brian masih sangat panjang. Kita bisa memikirkannya lagi sambil jalan. Sekarang saatnya untuk istirahat." Devan menoel hidung istrinya.


"Em." Meilan mengangguk.


"Sayang..." panggil Meilan.


"Kenapa lagi, hah?" sahut Devan yang sudah berdiri lebih dulu.

__ADS_1


"Gendong..."


Devan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Memang harus menunggu aku protes dulu ya, baru mau manja-manja seperti ini. Iya..?" kata Devan sambil mengangkat tubuh istrinya.


Sementara Meilan menyembunyikan wajahnya di dada sang suami karena dia merasa sangat malu.


Setelah membaringkan istrinya dengan hati-hati, Devan ikut menyusul berbaring di sampingnya.


"Belum boleh ya?" bisik Devan setelah menarik selimutnya. Meilan menggelengkan kepalanya.


"Apa masih lama?" tanya Devan lagi.


"Seminggu, maybe." balas Meilan.


"Harus selama itu lagi..." Devan mendengus pasrah. "Kangen tau..." Devan memeluk pinggang istrinya.


"Nggak pa-pa lama, biar kangennya nambah terus." Meilan mencubit gemas hidung suaminya.


"Awas kamu yaaa..." Devan membalas dengan melakukan hal yang sama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Fero dan Luna datang menjenguk keponakan mereka yang baru launching. Aneka mainan Fero bawakan khusus untuk baby Brian.


"Setelah membawa satu kardus besar jambu, sekarang membawa satu toko mainan." begitu reaksi Meilan.


"Aku curiga besok kalau kalian punya anak, kak Fero akan membeli mallnya." sahut Vivian yang sibuk melihat berbagai mainan baby Brian.


"Awas kalau rusak ya!" Fero memberi peringatan.


Sementara Fero sibuk berdebat dengan Vivian, Luna sedang asyik menggoda baby Brian.


"Kenapa bisa pas banget kombinasinya ya, Mei?" ujar Luna.


"Karena takarannya pas." sahut mami Siska asal.


"Ada takarannya juga ya, tan. Kayak bikin adonan aja." timpal Luna.


"Makanya kamu juga kudu pinter nakar ya." gurau mami Siska.


"Hahahaaaa..." tawa mereka begitu renyah.


Malam pun tiba, Luna menemani Meilan dan baby Brian setelah makan malam bersama.


"Kamu tau kalau Sintia keluar dari yayasan?" tanya Luna.


"Oh ya? Sejak kapan?" tanya Meilan.


"Baru-baru ini sih." ujar Luna sambil memainkan kaki baby Brian yang sedang menyusu mamanya.


"Fero bilang, dia akan menikah. Dan pacarnya minta dia berhenti kerja di yayasan." katanya lagi.


"Syukurlah kalau dia sudah menikah. Biar berhenti menghalui suami orang." celetuk Meilan sambil menidurkan bayinya di boks.


"Sekesel itu ya?" Luna menahan tawanya.


"Ya kesellah. Kamu nggak tau aja gimana rasanya. Iiihhh...!!" Meilan selalu geregetan kalau teringat ulah si Sintia waktu itu.


"Aku akui Devan itu luar biasa besar cintanya sama kamu, Mei." sahut Luna. "Sintia yang nggak jelek-jelek amat aja nggak dilirik sama dia."


"Aku sama sekali nggak menyangkal soal itu, Na. Karena itu aku sangat bersyukur memiliki Devan." kata Meilan.


"Menurutku, cinta pertama yang sempurna hanya berlaku pada Devan. Iya nggak sih..." Luna tersenyum.


"Bagaimana dengan Fero?" tanya Meilan tiba-tiba.


"Kamu tau kan sebelum nikah, aku dan Fero itu sama-sama tipe yang mudah tertarik dengan yang lebih waow." kata Luna.


"Tapi aku berharap ini akan jadi yang terakhir, Mei. Semakin hari aku semakin mencintainya." wajah Luna memerah saat mengutarakan isi hatinya.


"Ciieeehh..., tersipuuu..." goda Meilan.


"Tapi, Mei..." tiba-tiba Luna terlihat gelisah.


"Why??!" Meilan pun penasaran.


"Terkadang masih ada cewek yang suka menggodanya." adunya.

__ADS_1


"Tapi dia tidak merespon kan?"


"Enggak sih, tapi kalau pas ketemu di mana gitu cewek-cewek itu memandangku sinis banget." kesalnya.


"Sinisin balik, dong. Mana Lunaku yang dulu, yang suka bar-bar nanggepin pelakor..." canda Meilan.


"Tau nih, aku jadi selembut tepung sejak menikah." Luna memasang mode kecewa pada dirinya sendiri.


"Nggak ada apa perumpamaan yang lebih aesthetic, masa iya tepung..." gurau Meilan.


"Aku rasa sekarang kamu butuh bergaul dengan Vivian." kata Meilan kemudian.


"Iih..., serius dikit napa, Mei..." protes Luna.


"Ooh..., tayang..., tayang..." Meilan memeluk sahabat yang sekarang menjadi saudara iparnya itu.


Tok... Tok... Tok...


Devan membuka pintu kamarnya. Di belakangnya ada Fero.


"Ternyata masih di sini." kata Fero. "Sebaiknya kita kembali ke kamar. Mereka sudah rindu ingin memadu kasih." Fero mengedipkan matanya pada Luna.


"Ngomongin diri sendiri..." sahut Meilan.


"Aku istirahat dulu ya." Luna menepuk paha Meilan pelan.


"Em." Meilan mengangguk.


Setelah Fero dan Luna keluar, Devan menutup pintu dan menguncinya.


"Seru sekali obrolannya, yaaa..." cibir Devan, karena mereka hingga larut malam.


"Tetap lebih seru kalau ngobrol sama kamu." balas Meilan.


"Yakiiin...??" Devan menatap tajam istri.


"Kenapa selalu meragukan aku...?" Meilan pura-pura ngambek.


Cup


"Deeeevv...!!" Meilan terkejut saat Devan mencium bibirnya.


"Ngambek lagi coba, aku akan bikin kamu tidak bisa tidur malam ini kalau masih ngambek-ngambek seperti tadi." bisiknya.


"Apa siiih..." wajah Meilan merona karena malu.


"Apanya yang apaaaa??" goda Devan.


"Udah, aaah..." Meilan semakin salting dibuatnya.


"Boleh minta quality time malam ini?" ujar Devan dengan manja.


"Kalau Brian bangun?" balas Meilan sedikit ragu.


Devan melihat jam di atas nakas.


"Belum waktunya dia bangun. Sebentar saja, sayang..." bujuk Devan.


Akhirnya setelah sekian lama, mereka kembali menikmati quality time yang indah.


"Jika baby Brian punya adik lebih cepat bagaimana?" tanya Devan setelah mengakhiri aktivitas intimnya.


"Aku tidak akan pernah menyesalinya. Selama ada kamu di sisiku." balas Meilan.


"Kamu tidak keberatan jika aku menginginkan dua baby lagi?" tanya Devan lagi.


"Tidak." jawab Meilan tanpa ragu sedikitpun.


"Terimakasih, sayang... Aku mencintaimu, sangat mencintaimu..." Devan mempererat pelukannya sambil mencium kening istrinya.


"Aku juga mencintaimu, sayang..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


..."Si pemilik hati tempat pertamamu melabuhkan cinta, bisa jadi hanya sebuah kesalahan. Dan kesalahan itulah yang akan membawamu pada cinta yang sebenar-benarnya. Cinta yang apa adanya, tak menuntut syarat apapun. Cinta yang setiap detiknya terus bertambah tiada henti-hentinya."...


..._Meilan_...


..._SELESAI_...

__ADS_1


__ADS_2